
Aidan Pov
"Setelah sekian lama kamu menghubungi papa."
Ingin rasanya gue mengumpat saat mendengar suaranya dibalik telpon itu. Tidak, bukan Itu tujuan gue menghubungi pria ini.
Gue menatap wajah Kalya yang penuh dengan keringat dan sesekali gue memeras handuk kecil kemudian menaruhnya pada jidat Kalya, "Papa, Aidan butuh dokter hewan terkemuka," ucap gue sembari beranjak dari kursi.
Takut menganggu tidur Kalya.
"... Boleh, asalkan kamu menghadiri acara pesta ulang tahun teman Papa, maka Papa akan menyiapkan dokter hewan kenalan papa."
Apa yang sedang gue coba lakukan, merawat Kalya, mencoba menyelamatkan anjingnya meskipun gagal, bahkan rela menerima syarat Papa.
"Itu mah Lo doyan Kalya, Ai." Ucapan Aby teringat dikepala gue.
Haha... Masa gue suka Kalya, kocak.
Dari tempat yang gue duduki, gue melihat ada sebuah pasangan datang berpakaian mewah, dari wajah mereka sepertinya lebih muda dari gue.
Tunggu, bukannya itu perempuan yang dibawa Azra kemarin?
Siapa namanya? Nessy?
Nessy menebar pandangan dan mata kami bertemu, dia berbisik kepada pasangannya kemudian berjalan menghampiri gue.
"Sepertinya dunia sangat sempit ya Kak Aidan," ucap Nessy sembari tersenyum manis.
Bukan, senyum bisnis.
Gue melihat pasangan Nessy kemudian melihat kearah Nessy.
"Gue gak tau kalau Lo doyan Sasimo."
"Ck... Ternyata kakak ading sama aja mulutnya. Kemarin Nessy cuma menemani Azra ke Jakarta, itu aja, lagian Azra juga memiliki pacar."
Gue beroh ria dan meminum jus yang ada di tangan gue seteguk.
"Nessy duduk disini ya."
"Gak boleh."
"Telat, udah duduk nih."
"..."
"Kita belum berkenalan secara resmi bukan? Nama gue Dynessy Fialkana, hari ini Nessy menemani Derrick hill sebagai pasangannya," Nessy mengulurkan tangannya dan gue menyambutnya.
"Aidan Cailon Smith," balas gue singkat.
Pasangannya Derrick Hill, teman Azra waktu kecil, sekarang dia sudah besar.
Anak-anak sekarang cepet banget dewasa.
"Gue gak tau ternyata Lo memiliki relasi yang luas hingga bisa menjadi pasangan mereka," maksud gue Derrick.
"Hei... Gini-gini gue anak dari keluarga perusahaan batu bara terbesar di Kalimantan," ternyata latar Nessy juga tidak main-main.
Sudah lama gue tidak menghadiri acara seperti ini, pasti Azra lah yang menggantikan gue.
"Kakak gak ngajak hts-an kakak? Kalya bukan namanya?"
Spontan gue menoleh kearah Nessy dengan wajah syok, "santai aja kali kak, ketahuan kok," lanjut Nessy sembari mengambil minuman dari pelayan yang datang membawa nampan.
Wine?
"Selama 3 hari ini Nessy berada di Jakarta, mencoba berbagai distinasi, hiburan, dan juga cafe. Beberapa hari yang lalu Kak Aidan dan Kak Kalya berada di cafe dekat campus, Nessy juga berada disana."
Pantas saja dia dengan percaya diri mengatakan kalau Kalya hts-an Ama gue.
"Hubungan kami tidak seperti itu," balas gue sembari kembali meneguk jus kemudian menaruh cangkir yang sudah kosong keatas meja.
Tanpa sadar dari tadi gue memegang cangkir ditangan gue.
"Kak, mau Nessy ramal gak, Nessy jago ngeramal loh."
"Jaman sudah modern begini masih ada peramal?"
"Ada, Nessy buktinya."
Tiba-tiba ada seseorang yang menarik kursi disebelah Nessy dan duduk disana, "hah... Susah juga lepas dari investor R," ucap pria yang bernama Derrick Hill itu sembari menarik dasinya sedikit.
"Makanya Nessy menjauh, investor R terus-terusan membicarakan anak ceweknya, mungkin mau menjodohkannya dengan Lo Der," ucap Nessy sembari menaruh tangannya ke pundak Derrick kemudian mengelus pelan.
"Lebih baik sama Lo aja, gue kenalnya Lo," balas Derrick.
Derrick melirik kearah gue kemudian mengukirkan tangan, "kak Aidan, lama gak ketemu."
Gue menyambut tangannya, "iya, makin gede aja, perasaan masih kecil dulu."
"Perkataan kak Aidan kayak om-om aja," kok sakit ya.
"Haha."
Derrick menatap mata gue lama kemudian tersenyum, "Sepupu kakak si Vian cerita beberapa hari yang lalu kakak dipukul haters nya, tidak apa-apa ka?"
Dasar sepupu gue yang satu itu, mulut gak bisa diam. Tentu saja yang diceritakan Rhei itu adalah kejadian saat kami bermain game di depan indoapril kemudian Kalya memukul kepala gue pakai tasnya.
"Yang kalian bicarakan sekarang Vian aktor kan? Dia juga ada cerita ke gue, jadi korban yang dikatakan Rhei itu kakak?" nih juga Nessy kok bisa tahu Rhei yang mana dimaksud Derrick. Apa Derrick memberitahu Nessy? Atau Vian langsung yang cerita?
Tiba-tiba ada orang mendekat kearah Nessy, "permisi," membuat gue, Derrick dan Nessy menoleh kearah suara, "Nak Nessy, bisa minta tenda tangan gak? Anak saya ngefans loh sama kamu," ucap ibu-ibu sembari nyodotin kertas.
"Tentu, siapa nama anak Ibu?" ucap Nessy sembari ambil kertas itu kemudian tanda tangan.
"Nama anak say...."
Melihat hal ini gue jadi ngerti, sepertinya Sepupu gue Vian temenan dengan Nessy kemudian bercerita kesehariannya.
Hampir suudzon Derrick ember.
Begitu Nessy selesai dengan fansnya, Derrick meraih tangan Nessy, "Lo tadi nawarin kak Aidan ramalan?" Tanya Derrick membuat Nessy menoleh kearahnya.
"Hooh, tapi nampaknya kak Aidan gak percaya," balas Nessy sembari memutar bola matanya.
Emang beneran bisa meramal?
Derrick meraih tangan gue kemudian menyatukan tangan gue dan Nessy, "percaya gak percaya, kenapa gak nyoba dulu kak?"
Dan berakhir Derrick dan Nessy menatap gue Lamat dengan wajah berseri-seri seakan berharap gue mengiyakannya.
Ngotot amat.
"Oke-oke, sekarang ramal aja."
"Yey!"
Derrick melepaskan tangannya dari gue dan Nessy kemudian membiarkan tangan kami mensentuhan.
Nessy memejamkan matanya dan terdiam.
Beneran kayak peramal.
"Kak Aidan, tidak lama lagi kak Aidan akan mengetahui suatu fakta yang akan merubah pola pikir kakak pada beberapa orang," Nessy membuka matanya kemudian melepaskan tangan gue, " biar Nessy kasih contoh, bagaimana bayangan kakak jika Nessy menyebut kata pemuka agama? Pasti orang yang taat, beriman, dan suci. Namun diluar maupun di negara kita sendiri Indonesia sedang ramai masalah pelecehan hingga belasan orang yang dilakukan pemuka agama tersebut, sebenarnya sudah ramai dari dulu hanya saja karena sekarang teknologi makin canggih, maka kasus seperti ini jadi lebih terlihat dan terdengar oleh kita."
Pola pikir yang dimaksud Nessy disini, apa yang gue pikir begini, ternyata orangnya begitu.
Oke.
Eh, gue malah memikirkan keras perkataan Nessy, cukup Aidan ini cuma mainan anak-anak.
"Gue benar-benar penasaran siapa orang itu," ucap gue sok penasaran.
"Haha... Nessy tidak tahu siapa dia, hanya itu yang bisa Nessy lihat. Bagaimana kalau Papa kak Aidan?" Ucap Nessy yang tanpa rem membuat gue langsung memasang ekspresi datar.
Beda nih alurnya.
"Becanda ka becanda, serius amat. Tapi soal ramalan gak becanda kok," balas Nessy cepat agar gue tidak marah.
Gue menghelang napas kemudian beranjak dari kursi, "sepertinya gue akan pulang sekarang."
"Sudah pulang aja kak? Derrick belum berbincang-bincang dengan kakak setelah sekian lama," terdengar suara Derrick yang kecewa.
"Lain kali aja, hari ini gue ada tempat lainnya yang mau dikunjungi. Derrick, Nessy, sampaikan salam gue pada Azra." Ucap gue tanpa berbalik melambaikan tangan pada mereka.
Gue berjalan lurus hingga keluar dan terlihat ada sopir Papa yang sadar akan kehadiran gue. Dia segera berlari kearah parkiran dan mengambil mobil.
Untung saja gue sudah menyampaikan salam pada pemilik acara sehingga gue tidak perlu lagi bertemu dengannya.
"Bagaimana ya kabar Kalya?" Gumam gue sembari mengeluarkan ponsel.
Rana teman Kalya: [Kalya sudah sehat]
Bibir gue langsung tercipta senyum.
Padahal gue baru saja ingin keindikos Kalya, namun melihat chat Rana membuat gue membatalkan niat gue.
Syukurlah.