FourG

FourG
Chapter 11



Aby POV


Gue Aby, gue merupakan salah satu orang yang mengenal Aidan dari semenjak SMA. Kami tidak dekat, namun biar begitu dia adalah semangat gue saat masa SMA


Bukan, bukan karena gue suka dengan dia atau sebagainya. Melainkan karena asupan, asupan seorang fujoshi pada 2 orang pria yang akrab.


Gue selalu menganggap kalau Aidan adalah seorang tokoh cerita bl dan gue adalah seorang karakter F yang bahkan hanya lewat.


Dan karakter F tidak boleh melewati batas selain menikmati adegan pemeran.


Semoga aja mereka menikah.


Namun semua harapan gue jadi hancur saat lawan main Aidan memiliki pacar ditambah dia bunuh diri.


"Apakah ini saatnya gue tobat."


1 tahun telah berlalu, gue juga sudah tobat dari hal berbau boy love. Disaat itu gue bertemu dengan Aidan kembali, seketika harapan agar berteman dengan karakter membuat hati gue bergejolak.


Tidak perlu menjadi pasangan, menjadi temannya saja sudah cukup.


Yah ... Untuk saat itu.


"TIDAKKKKKKK!!"


"ASTAGFIRULLAH!!"


Spontan gue menoleh kearah Aidan yang berteriak kemudian terbangun dari tidurnya, jantung gue barusan berasa adu ardenalin.


Bawa istighfar.


Beginilah, sebelumnya kami tahu kalau masing-masing dari kami ada, tapi sekarang bisa dibilang kami berteman.


"Lo kenapa sih, pagi-pagi sudah ngigau aneh, mana pake teriak lagi," ucap gue kesal sembari memasukan lada, garam, dan gula pada terong potong yang ada di wajan.


Yap ... Saat ini gue sedang masak diapartemen Aidan dan Rery.


Melihat Aidan yang mengelus kepalanya frustasi membuat gue penasaran, ada apa tuh anak.


Bodo amatlah, kehidupan gue aja sudah bikin punyeng, jangan lagi bertambah masalah hidup gue.


Gue mengambil hp gue kemudian mengganti lagu Melinda ada bayangmu.


Sesekali nostalgia lagu lama lah.


"Ada bayang mu, ada bayang mu~" gue bersenandung sesekali dan kemudian ikut bernyanyi juga mengikuti nyanyian dilagu itu.


Lagi lama emang mengkane.


PLAK~


Lagi-lagi gue dibuat kaget bahkan kali ini syok karena tingkah Aidan, dia menampar pipinya sendiri.


"FU*K!!" Umpat Aidan sembari menampar pipinya sendiri.


"STRES LO, TIBA-TIBA NAMPAR PIPI SENDIRI?" Teriak gue sembari bergedik aneh.


Nih anak kenapa dah.


"Ck.. ini semua gara-gara lo, matiin spiker itu sekarang. Kalau Lo masih ngeyel, jangan heran tuh spiker menghilang dari muka bumi," tunjuk Aidan pada spiker musik.


Loh ... Nape jadi salah gue, ini juga kenapa Aidan mendadak jadi kayak orang tempramental.


Tunggu, itu speaker baru aja gue lunasin kemarin, kalau sampai beneran hilang...


Gue berlari kearah meja lalu memeluk spiker yang seukuran lengan pria dewasa itu, "gue tau lo gila, tapi jangan lampiasin ke spiker gue anying, gue baru aja lunasin 400 ribu kemarin."


Clik~


"Sudah lah Aby, turutin aja ucapan Aidan, mana tau frustasinya mendingan," ucap Rery yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Heh ... Gue gak bisa melakukan pekerjaan apapun tanpa musik, enak bener Lo ngomong.


Aidan menghelang napas lelah, "maaf Aby, gak usah dimatiin, ganti aja lagu yang lebih manusiawi," gue hanya berekspresi seperti foto dibawah ini.


Owhhh jadi lagu gue dari tadi gak waras gitu.


"Ry, kok lo gak nanya sama gue terlebih dahulu sebelum Aby ke apart?" Tanya Aidan sembari mengacak-acak rambut.


"Aidan, gue juga pengen makan-makanan rumahan, makanya gue nyuruh Aby masakin buat kita. Lo juga bosen kan makan mie mulu, lagian lo cuma bisa masak kangkung," ungkap Rery sembari menggosok rambutnya menggunakan handuknya yang bergelantung dileher. Setelah itu Rery duduk di sofa sembari memainkan hpnya.



Awas Lo kalau masih komplen.


"Lagian, Kalian gak boleh makanan instan terus, gak sehat. Tapi kalian malah lebih parah lagi, makan mie instan tiap hari, Mau jadi apa tubuh kalian," ucap gue sembari menaruh hp kembali dan berjalan ke dapur.


Aidan menatap Rery tajam, "kesalahan tetap kesalahan, Ry, gue akan memaafkan Lo, tapi buat gue bisa bertemu Kalya terlebih dahulu."


Gue menaikan alis mendengar, "Kalya, nama yang gak asing," ucap gue sembari mikir.


Kalya, Kalya.


"Dia cewek yang sesekali gue antar jemput pulang," balas Rery.


"Gue udah jarang lihat Lo antar cewek itu, putus kalian?"


"Sudah gue bilang kami gak pacaran, lagian dia susah banget di taklukin, pawangnya juga galak amat."


"Berarti Lo ada niatan pacarin dia dong."


"Pas awal masuk kampus emang gue incer, tapi anak seru begitu sayang banget kalo dijadiin pacar, seru dijadiin temen aja."


"Kalian," gue dan Rery melihat kearah Aidan dengan perasaan was-was, hawa apa nih kok bikin merinding.


"Suwer Cai, gue gak incar dia lagi," ucap Rery sembari tersenyum kikuk.


Kenapa nih, Aidan suka dengan cewek bernama Kalya itu?


"Ya pokoknya, itu kan masalah Lo, emang bener gue teman Kalya tapi gue juga tidak berhak mencampuri urusan kalian," Rery kembali ke topik pembicaraan mereka berdua.


"Tapi gue mengijinkannya kok."


"Yakin Kalya ngijinin juga?"


Seketika Aidan bungkam.


Tunggu, seperti ada yang gue lewatkan.


"Lo gak pacaran dengan Shila?" Pertanyaan dari gue membuat kedua pria tersebut menoleh kearah gue serempak.


"Hah?"


"Mungkin karena Lo sudah lama tidak mampir ke organisasi BEM makanya Lo gak tau. Sekarang sedang menyebar rumor kalau Shila dan Aidan pacaran, benar sih Shila tidak menyebut itu elo tapi Shila memberi ciri-ciri kearah Lo," ucap gue sembari memijit pelipis.


Seketika satu ruangan hening.


Apa gue melakukan kesalahan?


"Ceritakan lebih detail, By," Aidan beranjak dari ranjangnya kemudian berjalan kearah gue.


Gue gak kena masalah kan kalau cerita ini?


"Jadi akhir-akhir ini Shila selalu berdandan dan memakai barang branded nya, dia tidak menutupi identitasnya yang merupakan anak orang kaya. Dia juga sering bilang kalau akhir-akhir ini pacarnya jadi sulit ditemui karena sedang melakukan tugas kelompok, terus soal gelang yang ditangannya, dia bilang gelang itu diberikan pacarnya agar samaan, dan yang punya gelang itu cuma Lo."


Aidan melirik gelang ditangannya kemudian menyentuhnya lembut.


"Rery, tolong cek soal rumor ini," ucap Aidan sembari menghembuskan napas lelah.


"Gue akan kasih tau detailnya begitu menemukannya," begitu lah balasan Rery sembari memainkan hpnya kembali.


"Ngomong-ngomong Aby," spontan gue menoleh kearah Aidan, "gue dan Shila gak pacaran, gue kasih tahu ini karena Lo adalah teman gue, cukup bukan dengan pengakuan gue?" Ucapan Aidan gue tanggapi dengan anggukan.


Jadi orang yang diomongin Shila dengan ciri-ciri yang mirip Aidan itu siapa? Apa cuma akal-akalan dia karena tidak bisa menaklukan Aidan.


Gue tahu Shila sering ngikutin Aidan, bahkan dia juga terang-terangan menunjukan kalau dia suka Aidan biar tidak ada yang ngincer Aidan.


"Dinovel Mariposa, kalau protagonisnya bisa, why not for me?"


Begitulah ucap Shila.


Di detik berikutnya Rery menurunkan hpnya dan merenggut rambut kepalanya, "****, gue ketahuan lagi."


"Kenapa lagi tuh," ucap gue kepo.


"Makanya kalo pacaran tuh jangan maruk, satu aja," ucap Aidan sembari tertawa hambar.


Melihat tawa Aidan membuat gue bersyukur, ternyata dia gak terlalu memikirkan rumor yang sedang menyebar sekarang.


Gue menuangkan air ke cangkir lalu memberikannya ke Rery,  "Ahh .... Pacar toh," Gue beroh ria.


Tidak heran, Rery kan punya pacar 5.


"Makasih," ucap Rery sembari tersenyum, gue hanya mengangguk lalu kembali ke dapur melanjutkan kegiatan masaknya.


"Masak apa By?" Aidan berjalan hingga kearea dapur.


"Terong balado dan ayam lalapan," balas gue.


Aidan memerhatikan kegiatan gue kemudian menatap gue, "Thanks By, sudah masakin kami makanan."


"No problem, kalo gak dibayar pun gue gak bakal mau masakin," ungkap gue sembari menyengir.


"Btw Dan," panggil gue.


"Hm?"


"Tadi lo teriak-teriak nama Kalya kenapa?" Tanya gue.


Tubuh Aidan langsung membeku ditempat.


"UHUK UHUK!!" Spontan Rery menepuk dadanya keras.


"Minum bego, bukannya nepuk dada sampe bolongan," setelah mendengar instruksi gue, Rery meminum air yang disediakan Abi tadi.


Setelah batuk Rery mereda, dia menatap Aidan jahil, "Doyan Lo sama Kalya?!."


"PALAMU."


Rery beranjak dan mendekat kearah Aidan, "btw, lo masih ingat gak pertanyaan lo pas setelah kejadian Kalya diikutin orang?" Ucap Rery sembari menaik-naikan alisnya.


Pertanyaan apa nih.


"Gue gak butuh lagi," ucap Aidan sembari membuang muka.


"Yahhhh, padahal gue udah susah payah nyari tau masa lalunya, kok lo berhenti kepo, ayok la Cai, gue akan ceritakan semua yang gue tau," ucap Rery semangat.


"Emang cerita apaan?" Tanya gue tiba-tiba yang sudah ada di samping Rery.


"Itu loh, Aidan kepo dengan masa lalu teman ceweknya. Setelah gue cari tau, dia gak memiliki satupun teman di angkatannya, ya ketiplak dikucilkan," bola mata gue membulat saat mendengar ucapan Rery.


Teman cewek.


Gue melihat kearah Aidan hingga membuat dia memasang wajah seperti mengatakan 'apa' pada gue.


"Kalya nih?" Tanya gue dengan masih kepada Aidan.


"Yups, benar sekali," jawab Rery.


Dari tadi Rery membahas Kalya, jangan-jangan yang dekat dengan Aidan saat ini Kalya bukannya Shila.


"Bahkan, saat prom night, gak ada yang ngajak dia dansa karena dia punya problme gitu."


"Hah, problem apa?"


"Jadi gin-" "Hei," gue dan Rery menoleh serempak kearah Aidan "gak baik membicarakan orang lain dari belakang, " ucap Aidan sembari berdiri dan mengacak rambutnya.


"Dan lo By, bukannya lo tobat ghibah, kok jadi nimbrung," ucapan Aidan membuat gue membeku seakan ketahuan mencuri.


Aidan ambil handuk dan mengalungkan dileher, "gue mandi dlu ya."


"Oh, oke bro, hati-hati kepleset, Lo gak ada nulis nama gue diwarisan."


"Yang bagus Napa omongan."


***


Gue bersyukur, karena dari pagi gue sudah bersama Aidan dan Rery, jadi gue pun berangkat bersama mereka.


Awalnya Aidan tidak bergabung di mobil Rery dan ingin memakai motor saja, tapi karena gue memaksa ikut mobil Rery aja, akhirnya dia nurut.


Gue takut aja kalau Aidan kenapa-kenapa karena wajah dia terpampang seperti orang habis kena musibah.


Mungkin karena mimpi buruknya beberapa hari ini lah yang membuatnya begitu.


"Eh anjir, makin kesini muka Aidan makin kusut. Keruang gue aja dulu Aidan, nyetrika muka?" Ucap gue sembari menepuk pundak Aidan.


Gue menyelipkan sedikit candaan agar Aidan tidak kaku.


"Kenapa lo khawatir banget sih, biasanya juga gak kek gini," cibir Rery sembari menggigit sedotan berisikan susu kental.


Ya karena gak enak gue sama Aidan, gue lebih memilih dengerin rumor-rumor itu dari pada langsung tanya ke Aidan.


Gue berjalan mendahului kami lalu berbalik hingga kami berhadapan, "seberat-beratnya masalah Aidan, gak pernah tuh mukanya sampe kusut begini, pasti masalahnya berat banget," ucap gue sembari menyentil jidat Aidan.


"Aduh!" Erang Aidan karena sentilan gue.


"Santai aja, kalo pingsan pun paling para fans nya yang bakal membopong," ucap Rery sembari merangkul leher Aby.


"Aduh!" Gue segera menyikut perut Rery hingga membuatnya mengaduh sakit.


Saat ini kami berjalan berjejer bertiga, sesekali orang berbisik saat kami berjalan melewati.


Emang kenapa sih kalo kami berbarengan.


Begitu ruangan yang ingin gue tuju sudah terlihat oleh mata, gue melirik kearah mereka, "hei, kalian duluan aja ke kelas. Gue mau bertemu dengan dosen dulu," ucap gue sembari mengacungkan jari jempol.


Sedikit informasi, gue adalah seorang asdos jadi ya wajar kalo gue bolak balik ruang dosen.


"Wokeh."


"Btw Ry, pegang Aidan kuat-kuat, serius dia kek zombie berjalan njir, mana mukanya kusut gitu"


"Hahahaha," Rery tertawa mendengar ucapan Abi.


Setelah itu gue meninggalkan mereka berdua.


Ya gue pikir urusan gue dengan Aidan sudah selesai disitu, ternyata ...


_


Aidan Pov


"Nih" ucap Aby sembari menaruh semangkuk es buah keatas meja.


Sebenarnya gue gak akrab dengan Aby begitu mengingat masa sma kami. Kami emang sering berada di satu kelompok, berada dikelas yang sama, organisasi Pramuka jua, Namun kami gak pernah berbicara santai layaknya teman, itulah sebabnya. Hanya saja, gue ingat perkataan seseorang yang selalu tertanam dikepala gue.


"Berbicaralah dengan Aby, dia selalu punya solusi di setiap masalah lo."


Aby duduk di kursi depan laptopnya, "gak mau cerita?" Tanya Aby sembari melahap es buahnya.


Gue tetap diam sembari menatap es buah di mangkuk itu, es batu menggumpal keatas seperti gunung dengan siraman sirup, lama kelamaan es tersebut mulai meleleh karena bersentuhan dengan suhu ruangan ini.


Sebenarnya apa sih yang gue lakuin datang ke ruang asdos, karena mengingat perkataan 'dia'?


"Soal Shila tadi ya? Begini aja, gue minta maaf karena mendengarkan perkataan mereka, sumpah gue gak ikut ngegosip, gue cuma dengerin pembicaraan mereka aja. Lo maafin gue kan Ai?"


"Gak kok, soal Shila gue tidak terlalu memikirkannya."


Kemudian Aby menunjukan ekspresi seakan mengatakan ,'Terus apa dong?'


Aby menghelang napas lelah, "Cailon. Gak, Aidan, sebenarnya gue tipe orang yang bodoh amat dengan masalah seseorang, tapi lo Aidan, paham gak sih maksud gue, seorang Aidan punya problem yang dipusingkan. Karena lo, untuk pertama kalinya gue kepo dengan masalah human lain," ucap Aby dengan nada gemas alias gregetan.


Gue menggeleng, "cuma perasaan lo aja kali," ucap gue sembari menyendok es itu lalu meniupnya.


"Nah lo, dari perilaku lo aja udah kelihatan" ucap Aby sembari nunjuk sendok berisikan beberapa potong buah, "itu es buah Ai, ngapain lo tiup anjir" setelah sadar apa yang dikatakan Aby, gue menurunkan sendok itu ke mangkok.


Tanpa sadar tadi gue menyendok es buah lalu meniupnya layaknya es itu panas.


"By, karena pagi tadi lo masakin gue makanan, bukan berarti kita bisa berbicara dari hati ke hati layaknya sahabat," ungkap gue sembari mengacak rambut gue kesal.


Benar kan, gue dan Aby gak seakrab itu sampai harus saling buka-bukaan masalah pribadi.


Rery yang jelas udah akrab dari sma aja gak pernah ngepoin masalah gue. Palingan dianya aja yang kelewat peka.


Aby mengangguk paham, "oke, maaf kalo gue membuat lo gak nyaman," ucap Aby dengan senyum lembutnya.


Gue mengangguk menerima maaf Aby lalu menyendok es buah itu.


"Yah ... Palingan juga berhubungan dengan Kalya lagi," ucap Aby seakan dia berbicara dengan nada tidak serius bahkan menatap kearah lain agar tidak bertemu mata dengan gue.


Kemudian ia melirik gue, "setidaknya Lo harus jawab ini sih Ai, Bagaimana bisa wanita bersama Kalya itu bisa terus membuat hari Lo terganggu?" Ucapnya.


Aby, salah satu wanita yang berada didaftar tidak boleh gue deketin, yang pertama karena Rery suka dengannya dan yang kedua ...


Karena dia merupakan sahabat dari pelaku yang membuat hidup gue kacau balau.


Namun entah kenapa akhir-akhir ini takdir membuat gue dan Aby bertemu seakan mendeklarasikan sebuah ucapan, gue boleh berencana namun yang di ataslah mengatur segalanya.


Dari itulah gue mulai mencoba membersihkan nama Aby yang dulu merupakan sahabat sang pelaku, gue memanipulasi otak gue sendiri kalau Aby tidak ada sangkut pautnya atas tragedi agar gue bisa menerimanya berada disekitar gue.


Aby emang tidak bersalah, namun keegoisan diri gue lah yang membuat gue harus memanipulasi diri gue sendiri.


Gokil emang.


"Ai, jawab," desak Aby dengan alis mengerut.


Hah...


Aby tidak bersalah.


Gue memejamkan mata kemudian membukanya, "Pukulannya sakit, hal itulah yang membuat gue terus mengingatnya," ucap gue sembari menatap Aby.


"Lo dipukul?"


"Iya, gue dipukul, pakai tas berisikan benda keras."


"Gue turut berduka cita atas putusnya beberapa saraf di otak Lo karena suatu pukulan."


"Kok Lo jadi mirip Rery."


Yah ... Setidaknya hubungan kami setelah ini tidak sekedar kenalan.