FourG

FourG
Chapter 13



Aidan Pov


"Hah... hah..."


Pada akhirnya kami berdua berakhir kecapean dengan napas masih tersengal-sengal.


Seharusnya gue tau hal ini akan terjadi suatu hari nanti, maksud gue soal Rery, tapi kenapa disaat gue berhasil bertemu Kalya setelah pelariannya beberapa hari ini.


Oh iya, Kalya.


Gue menatap Kalya yang berjongkok dengan napas tersengal-sengal, sesekali Kalya menghapus keringan di keningnya menggunakan punggung tangannya.


Tanpa sadar gue menyeret Kalya ikut gue berlari, bagusnya Kalya ikut gue sih, dari pada dia ikut keributan diruang igd.


Yang ada syuting dadakan azab di igd.


"Kal, lo tidak apa-apa?" Tanya gue khawatir karena nih anak dari tadi tidak henti-hentinya tersengal.


Gue takutnya dia ternyata punya penyakit asma kronis dan sebagainya, gue jadi makin merasa bersalah kalo beneran.


Cuma ke Kalya doang gue bisa merasa bersalah.


Kalya menatap gue lemah lalu...


BUUKK~


"Astagfirullah"


"Heh kunyuk, lo ngapain seret gue pergi bersama lo?" Ucap Kalya setelah berhasil nonjok pundak gue keras.


Sakit kagak, kaget iya.


"Gue bawa lo ikut kabur biar lo gak ikutan tertimpa problem Rery," ucap gue mencoba menjelaskan pelan-pelan.


Kalya beroh ria.


Gue gak tau dia paham kagak nya, tapi ya sudah lah, gue udah jelasin, problem paham kagaknya belakangan.


Kalya menatap kearah luar rumah sakit dan memicing kan matanya, "aihhhh kenapa sih hujan gak berhenti," erang Kalya kesal setelah melihat keadaan langit yang masih menjatuhkan beningan kilap air.


Kalya keluarin hpnya lalu menelpon seseorang.


"Halo, kenapa Kal"


"HEH MONYET!"


Gue mengelus dada karena kaget, bagaimana tidak, Kalya tiba-tiba berteriak pada seseorang yang ada dibalik telpon tersebut.


"KOK LAMA BANGET LO MAKE MOTORNYA, HUJANNYA MAKIN LEBAT NIH," teriak Kalya ditelpon, gue gak tau siapa yang dia telpon dan kenapa Kalya menyalahkan pria itu.


"Baru aja gue nyampe hotel, bentar lagi juga berhenti hujannya."


"Awas lo bohong, kalo kita ketemu, kaki lo akan gue patahin satu-satu biar gak bisa pakai motor lagi"


Tut...tut...tut...


Setelah itu Kalya memencet tombol merah dengan kasar alias sambil emosi. Di detik berikutnya dia menarik napas panjang dan membuang napas.


Kalya menatap kembali kearah luar.


"Bunglon."


"Hm?"


"Makan yuk, laper."


_


Kalya Pov


"Btw, yang lo telpon tadi siapa?" Tangan gue terhenti saat mau memasukan pecel lele.


"Itu kakak kelas gue waktu sekolah smk," Balas gue.


"Owhhh kakel," gumam Aidan mangut.


"Lo tau gak," gue memajukan kursi agar lebih dekat dengan meja, "entah kenapa setiap kali dia bepergian pakai motor pasti akan berakhir hujan, sebenarnya gue gak percaya akan hal-hal kek diluar nalar, tapi ya begitu adanya setiap dia bepergian pakai motor pasti saja hujan. makanya tadi gue marah-marah ke dia karena dia menggunakan motor," ucap gue sembari memasukan satu suapan pecel lele beserta nasinya.


"Owhhh jadi setiap dia makai motor, jadi hujan, gitu?" Tanya Aidan.


"Hooh, sumpah gue selalu mewanti-wanti dia agar gak pakai motor, karena itulah dia jarang pakai motor," ungkap gue sembari tertawa kecil menceritakan tentang Angga.


Tiba-tiba gue sadar apa yang gue ceritakan dari tadi, "aneh ya?" Tanya gue.


Aidan yang tadinya menyesap es tehnya jadi terhenti, kemudian menoleh kearah gue, "apanya?" Tanya dia balik.


"Ya menceritakan hal beginian, mungkin bagi Lo aneh aja gitu," ungkap gue sembari meraih sedotan dan memutarnya pada gelas.


Aidan meneguk es tehnya kembali kemudian membuka mulutnya, "gak kok, emang bener adanya begitu, gue juga kalo setelah mimpi hal yang gak gue suka, seluruh hari gue jadi kacau, mungkin karena gue memulai hari dengan mood yang jelek."


Ha ... Hahahaha, syukurlah kalau begitu.


Aidan tersenyum tipis, "btw, kalian deket ya."


"Siapa?"


"Lo dengan teman Lo yang ditelpon tadi."


Gue mendongak, "gak juga sih, kalo ketemu kami lebih banyak bertengkar dari pada berteman nya, dia sering ngatain gue bego, terus-terus hobi ngeledekin gue pendek dan gendut, padahal gue udah susah payah diet masih aja dikatain gen-"


Perkataan gue terhenti saat melihat piring Aidan udah bersih, "lah sudah habis lo?"


"Iyalah," dia beranjak dan memberikan hpnya kepada gue, "pegangin, gue mau ketoilet," ucapnya sembari berbalik dan melangkah menjauh.


"Lah, bawa aja kali," ucap gue sembari menyodorkan kembali hpnya.


Namun terlambat, punggung Aidan sudah menghilang dari pandangan gue.


"Gue buang hpnya, baru tau rasa," geruntu gue sembari menonjok udara.


Seketika suasananya sepi, mungkin karena sekarang lagi hujan dan jam makan siang udah lewat makanya sepi.


Gue tatap punggung Aidan yang menjauh, "cepetan kembali Bunglon," gumam gue sembari menyerup teh hangat.


"Kalyaaaa~" "ASTAGFIRULLAH MAMAK!!" Gue berbalik lalu mau memukul anak itu keras, tapi terhenti saat tau siapa yang memanggil gue tersebut.


"Sisil?"


"Yups, Sisil, sahabat lo," ucap Jessy sembari berpose jari membentuk V.


Dih, ngaku-ngaku sahabat gue.


"Setan lo emang Sil."


"Heh jangan gitu Kal, cowok gak suka cewek yang ngomong kasar," balas Sisil sembari bersiap mau duduk, namun keduluan gue menarik kursi dan menaruh kaki disana.


Biar dia gak duduk.


"Ck... padahal gue mau ngomong santai sama lo."


"Gak butuh, pergi lo sono."


Sisil tersenyum, "btw, lo masih sahabatan kan dengan Binta?" Gue sama sekali tidak merespon ucapan Sisil.


Mencegah pembicaraan yang berkepanjangan.


Sisil mendekat ke telinga gue, "melihat foto-foto kalian beberapa tahun ini, ya pasti lah kalian masih berteman. Tapi Lo tidak lupa kan kejadian saat kita smp?"


Seketika tubuh gue membeku, "hati-hati ya Kal, takutnya kejadian waktu smp terulang lagi. Sebenarnya kalau Lo masih tahan dikhianati dia, gue gak masalah, hanya saja gue khawatir dia akan melakukan hal yang lebih parah," bisik Sisil.


Owhhh maksud Sisil cowok gue itu Aidan toh.


"Haha ... Gue gak akan ke doktrin ucapan lo lagi, Pergi sana, makin lama liat muka lo, makin punyeng gue,," ucap gue sembari beranjak dari kursi.


"Wih, style ngomong lo sekarang sebelas dua belas dengan Binta ya," ucap Sisil sembari tertawa kecil.


Seperti meledek.


"Ya ya ya, bacot lo."


Senyum Sisil yang tadinya manis, berubah jadi seringai. Di detik berikutnya ia menarik lengan gue hingga membuat gue berdiri.


Dapat kekuatan dari mana nih anak, "Lo tau, setiap kami semua reuni dan tidak ada kehadiran kalian, mereka semua selalu saja membahas betapa lengketnya kalian sekarang kemudian menertawakan kalian karena mengingat kalian dulu bertengkar."


Tidak, kami tidak bertengkar, Binta selalu berusaha berbicara dengan gue, sedangkan gue tidak menghiraukannya.


"Mereka mengkasiahani Lo yang merupakan korban, dan Binta pelakunya. Tidak peduli siapapun yang salah, Binta akan selalu jadi pelaku, dan Lo tidak bisa membersihkan namanya."


Gue diam seribu bahasa, gue tidak tahu harus merespon ucapan Sisil bagaimana lagi.


Gue tidak tahu hal ini, kemana saja gue hingga gue tidak mengetahui hal ini?


Jika berhubungan Binta, gue akan lemah.


"Binta, Lo nanti datang gak di acara Reuni SMP kita?"


Dia tersenyum tipis, "gak deh, lebih baik membaca komik dan diam dikamar. Bagaimana dengan Lo? Lo mau datang? Gue harap Lo gak datang sih, omongan mereka semua gak bermutu."


Gue mendengus, "cih, padahal gue mau pergi, tapi kalau Lo gak pergi, gue enggak juga deh."


Gue meneguk Saliva kemudian mengangkat kepala gue percaya diri, "terus kenapa? Haha ... Betapa lucunya ketika gue mendengar sesuatu yang sudah gue tahu dari mulut Lo. Binta tidak peduli akan hal itu, sama halnya dengan gue," bohong gue.


Semua itu adalah kebohongan, gue baru saja mendengar hal ini dari Sisil.


Gue yakin Binta tahu hal ini, dia pandai memahami sekitarnya, berbeda dengan gue yang tidak peka.


Apa inilah alasan Binta selalu absen saat Reuni SMP diadakan.


"Oke deh, gue pikir akan mendapat reaksi yang yang memuaskan, ternyata biasa saja. Gue pergi dulu ya, I love you," ucap Sisil sembari berjalan tanpa berbalik sedikit pun.


Braakk~


Gue memukul meja kantin keras, "Sinting!!" Dengan tangan gemetar, gue menyatukan kedua tangan gue kemudian menunduk.


Kenapa, kenapa Binta menyembunyikan hal ini, kenapa? Seandainya gue mengetahui ini lebih awal, mungkin gue akan mencoba menjelaskan kesemua orang kalau Binta tidak bersalah.


Sialan Lo Sisil, Lo mendoktrin otak gue tapi Lo juga menyebarkan kalau penyebab gue begini adalah karena Binta.


"Kalya," spontan gue mengangkat kepala dan mendapat Aidan yang berdiri disamping gue dengan tangan menyentuh pundak gue.


"Lo tidak apa-apa?"


_


Aidan Pov


Kalya memegang tangan gue, "gue tidak ap- tidak, gue mengalami suatu hal yang membuat gue frustasi, bohong jika gue bilang tidak terjadi apapun," jujur Kalya sembari meremas lengan gue.


Gue tidak tahu apa yang harus gue lakukan sekarang, Kalya nampak tidak baik-baik saja.


Bukan seperti orang yang sakit, namun terdapat air diwajahnya dan dia terlihat tidak tenang.


Tiba-tiba ucapan Aby saat kami berada di ruangannya membuat gue merenung.


"Lo tahu, menurut penelitian pria dua kali lebih banyak meninggal karena bunuh diri dibandingkan wanita. Tahu kenapa? Pria cendrung memendam ketika mengalami masalah, berbanding terbalik dengan wanita yang akan bercerita agar bisa meringankan beban."


"Aby, kenapa Lo tiba-tiba membicarakan hal beginian, gue gak suka."


Aby yang tadinya berada didepan jendela melihat kearah luar, sekarang dia melirik kearah gue, "dibully, nilai masuk kampus yang rendah, kehidupan kantor yang kacau, masalah tiap masalah terus saja datang dan menumpuk seperti sebuah air keran yang mengisi tandon besar tanpa diawasi. Lo tau endingnya akan berakhir seperti apa."


Aby berjalan mendekati gue kemudian menepuk pundak gue, "next time, gue harap Lo menceritakan masalah Lo, gue tahu Lo tidak bisa mempercayai Masa lalu Lo pada Rery, jadi mungkin gue bisa. Sedari SMA, gue lihat Lo mengalami banyak tragedi. Aidan, cukup 3 orang yang menghilang dari hidup gue, Lo jangan. Gue sangat berharap Lo panjang umur."


Tidak Aby, gue malah lebih khawatir dengan Lo yang kehilangan satu persatu teman Lo, bagaimana jika Lo jadi salah satu dari mereka juga.


Sekarang, ada satu orang yang mengalami hal yang sulit disini, dan itu membuat gue ingin membantunya.


"Kalya, Lo tenangin diri Lo terlebih dahulu, kemudian Lo cerita ke gue."


Kalya mendongak, "cerita? Gue boleh nih cerita ke elo?" Dan Gue menanggapinya dengan anggukan.


"Gue sudah terlanjur mengetahui keadaan Lo, jadi Lo cerita aja ke gue, sekalian minta pendapat gue."


Kalya menampilkan wajah yang heran, "gue tidak tahu Lo tipe cowok begini."


"Tipe apa dulu nih? Kepoan atau bagaimana dalam otak Lo."


"Ck, mau dengerin cerita orang lain lah."


Gue mengendikan pundak, "gue juga baru mengetahuinya hari ini."


Kalya mencerna setiap kata yang keluar dari mulut gue kemudian mengangguk, "oke."


Gue melihat kearah luar dan butiran air mulai berjatuhan disana.


Kenapa disaat seperti ini hujan, "gue akan menunggu diluar, jika Lo sudah mendingan, Lo bisa keluar," gue berbalik kemudian mengambil satu langkah, namun langkah gue terhenti karena Kalya menyekal lengan gue.


Gue menoleh kemudian memerhatikan lengan gue, "disini aja, gue akan langsung cerita," ucap Kalya.


Beberapa saat gue diam ditempat kemudian berbalik, "oke, mari kita dengarkan," ucap gue menarik kursi Kalua agar menghadap pada gue kemudian dia berjongkok.


"Full atau intinya aja nih?"


"Gue harap Lo menceritakan fullnya, kalau setengah-setengah gue tidak akan paham."


Kalya menarik napas sedalam mungkin kemudian menghembuskannya, "gue gak tahu harus mulai dari mana, tapi gue rasa gue akan cerita bagaimana sahabat gue ini."


"Lo punya sahabat selain Rana?"


"Ada lah, Rana teman gue pas kuliah, kalau yang ini sudah dari SMP."


"Oke, lanjut-lanjut."


"Gue punya sahabat satu sekolah saat itu, kita sebut aja Bibi namanya, dia cantik, pintar, dan menawan. Dengan semua yang dimilikinya itu tentu saja dia populer, banyak pernyataan cinta yang didapatkannya, namun dia menolak semuanya. Selain itu dia memiliki kepribadian tertutup sehingga cowok-cowok tidak memiliki kesempatan agar dekat dengannya lewat jalur manapun seperti menjadi seorang teman," cerita Kalya.


"Suatu hari ada cowok yang deketin gue, dia baik, perhatian, dan lembut. Dia nyatain perasaannya ke gue lewat chat, and gue nerima dia," owhhh Kalya dulu pernah pacaran toh.


Gue pikir cewek modelan dia gak pernah pacaran, ternyata pernah.


"Tiba-tiba besoknya gue denger kabar pacar gue itu pacaran dengan anak kelas sebelah, saat itu hati gue benar-benar sakit bagai dihimpit cinta dan juga kenyataan," disaat itu juga bola mata gue membesar, gue terkejut namun Kalya tetap berekspresi santai.


Rasa sakit itu emang pernah menerpa hatinya, tapi yang namanya juga sudah berlalu, ya rasa sakit nya juga sudah lalu.


"Tunggu, cowok lo gak pacaran dengan sahabat lo itu kan?" Tanya gue menduga-duga.


Kalo beneran, mereka berdua jahat banget sih.


Kalya menggeleng, "saat itu bahkan sahabat gue tidak memacari satupun cowok," seketika kepalan tangan gue melemah.


Hampir saja gue memberikan umpat serapah kepada sahabat Kalya.


Kalo aja sahabat Kalya yang memacari pacar Kalya, sumpah hari ini juga bakal gue cari tuh orang berdua.


Kek why lo mengkhianati cewek sebaik Kalya, kalo beneran ada di dunia ini, please mereka bukan manusia lagi, hewan udah.


"Malam harinya gue chat pacar gue itu dan menanyakan kenapa dia memacari orang lain sedangkan dia sendiri memacari gue, dan lo tau apa jawabannya. Dia bilang karena Bibi menyakiti hati sahabatnya dan itu membuatnya kesal. But, why me? yang nyakitin sahabat dia itu Bibi, bukan gue nya," yang dikatakan Kalya ada benarnya, tuh orang salah sasaran.


"Dia bilang biar Bibi ngerasain sakitnya ketika sahabat sendiri disakitin orang, makanya dia lakuin hal itu ke gue. **** dan saat itu gue memohon-mohon agar dia kembali," Kalya menunduk lalu menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.


Gue membuang muka dan mengelus kepala Kalya.


"... jadi lo dan sahabat lo itu bertengkar karena masalah ini?" Tanya gue tentu sembari mengeluarkan sapu tangan.


Sumpah nih sapu tangan dikantong gue cuman kebetulan, hadiah dari kondangan orang ini.


Kalya mengambil sapu tangan dari tangan gue lalu menghapus air matanya, "*********," segala ngeluarin ingus di sana.


Oke deh, buat lo aja sapu tangannya, jangan di balikin.


"Dulu kami semua memiliki geng berlima, dan gue menceritakan hal tersebut kepada mereka tanpa adanya Bibi disana. Mereka marah setelah mendengar cerita gue dan menyuruh gue menjauhi Bibi, gue setuju dengan saran mereka menjauhi Bibi lagipun gue juga marah karena kesalahannya, masalah gue yang menanggung. Kami yang biasanya selalu berdua kemana-mana kemudian tiba-tiba menjauh tentu membuat anak-anak dikelas sadar hal tersebut."


"Namun wanita tadi, Sisil yang merupakan salah satu anggota geng gue tadi bilang kalau selama gue dan Bibi bertengkar, tersebar rumor kalau penyebab gue dikhianati adalah karena Bibi. Jadi cerita aslinya mantan gue yang bajingan itu tertutup."


Kalya tidak ada bilang cerita ke orang lain selain ke bertiga, jadi kemungkinan besar ya mereka-mereka juga yang nyebarin.


"Ini tidak adil, disatu sisi gue merasa sangat bersalah karena tidak mengetahuinya hingga sekarang, namun disisi lain gue juga tidak salah karena teman gue tidak cerita, seandainya dia cerita mungkin gue akan mencoba membelanya."


Kalya yang menjauh pada sahabatnya tentu tidak tahu apa yang terjadi dan hanya fokus pada pemulihan hatinya, namun bagaimana dengan sahabat Kalya.


Pasti dia dikucilkan.


Gue menghembuskan napas, "orang hanya ingin mendengarkan apa yang mereka inginkan, dan point dimana sahabat Lo yang sempurna itu bisa tercoreng membuat mereka senang. Mungkin inilah yang sahabat Lo pikirkan alasan dia tidak cerita," gue menepuk punggung Kalya agar dia duduk tegak, "jadi, kalian berbaikan?"


Kalya membenarkan posisinya, "Saat hari kelulusan, Bibi menemui gue dan berbicara 4 mata dengan gue. Gue menerimanya dengan cepat tanpa berpikir karena gue pikif itu adalah kesempatan gue mengeluarkan unek-unek yang selama ini gue pendam dan tidak gue tanyakan padanya," Kalya mengangkat tanganny sekedar menghapus air mata, "namun, bukannya kelegaan yang gue dapatkan, gue malah mendapatkan jawaban yang membuat gue merasa bersalah dengannya. Dia menceritakan apa yang terjadi antara dia dan teman dari mantan gue itu, dia hanya menolak orang tersebut saat dia ditembak kemudian selesai, berbeda dengan apa yang gue pikirkan."


"Haha ... Lo berpikir Bibi berpacaran, selingkuh, kemudian putus seperti apa yang mantan Lo lakuin."


"Bener, gue pikir begitu karena kata mantan gue dia ingi-"


Tiba-tiba saja Kalya terdiam, berpikir banyak hingga keningnya mengetut, apa yang Lo pikirkan hingga sekeras itu.


Didetik berikutnya dia mengangkat tangan gue kemudian ...


Plak


"Kalya!" teriak gue sembari menggenggam lengannya saat tamparan kedua siap melayang kepipinta.


"Lo bodoh, Kalya, Bodoh, Bodoh, Bodoh," ucap Kalya berulang-ulang kali, "gue baru sadar kalau mantan gue tidak bilang kalau dia melakukan hal yang sama dengan Bibi lakukan," ucap Kalya dengan air mata kembali berderai dengan deras.


"Bisa dibilang Lo sendiri yang mengambil kesimpulan cepat," ucap gue sembari melepaskan lengannya ketika dia sudah tidak bersikeras untuk melayangkan tamparan lagi.


"Bagaimana ini Bunglon, bukannya lega, gue malah makin merasa bersalah karena kebodohan gue, ketidak pekaan gue, gue yang terburuk."


Oke, ternyata keadaan menjadi lebih buruk.


Tidak, ada satu hal ini.


"Kalya, bagaimana kalau Lo meminta maaf saja pada Bibi itu," saran gue membuat Kalya yang tadinya panik jadi terdiam.


Apakah bekerja?


"Hal itu sudah terjadi lama, apakah tidak masalah gue meminta maaf sekarang? Gue sudah minta maaf juga dulunya tapi sekarang gue mengetahui karena gue lah dia dikucilkan."


"Tidak ada kata terlambat untuk minta maaf, selagi Lo sadar kalau Lo salah, why not untuk meminta maaf?" Balas gue.


Kalya lagi-lagi diam, eskpresinya yang serius namun hidungnya yang merah membuat gue ingin ketawa.


Tidak, jangan tertawa sekarang.


"Gue akan menunggu diluar, jika Lo sudah tenang, temui gue diluar," setelah itu gue berdiri dan berjalan menjauh kearah pintu keluar rumah sakit.


Tanpa sedikitpun menoleh padanya.


Dikepala gue, ada suatu Bayangi seorang wanita yang berbalik dan tersenyum kearah gue.


"Dengerin curhat orang itu capek, mereka membuang energi negatif mereka kemudian kembali fresh dan lega, lalu bagaimana dengan kita? Bagaimana dengan kita yang menerima energi negatif itu?"


Begitu sudah diluar, gue menarik napas kemudian menghembuskannya, "ternyata mendengarkan curhat orang lain melelahkan juga."


Ikut lelah secara mental.


Ah ... Gue melupakan persoalan Rery, tanya kabar ke Aby deh, mana tau udah pada bubar.


Aidan Cailon Smith: [Ketua pedobrak putri|]


Aidan Cailon Smith: [gimana keadaan di sana, ketua?]


Aby 12-ipa: [perasaan udah lama deh kita lulus, masih aja lo pake embel-embel ketua-ketua.]


Aidan Cailon Smith: [Sesekali nostalgia masa pramuka]


Aby 12-ipa: [ciahh... oknum yang kabur tidak berhak menanyakan kabar disini]


Aby 12-ipa: [sekian, terima gaji🙏]


Aby 12-ipa: [Btw, jangan menciptakan skinship dengan Kalya sedikitpun sebelum Lo selesaikan rumor Lo dan Shila. Gue takutnya akan tercipta rumor yang tidak-tidak pada Kalya karena Lo.]


Gue hanya membaca chat dari Abu kemudian memasukan hp kembali kedalam kantong celana.


Perlahan gue mundur dan bersandar pada tembok rumah sakit.


Rumor gue dan Shila, apakah separah itu sehingga gue tidak boleh dengan cewek manapun?


Shila, dia sudah lama tidak menganggu gue tapi dia malah menciptakan rumor sehingga orang-orang berpikir kalau kami pacaran. Kalau gue langsung datang pada Shila, maka akan menjadi aneh karena Shila bahkan tidak menyebut nama gue.


Cukup, kalau tidak dihiraukan pasti rumornya akan berhenti.


Benar, biarkan saja.


Tiba-tiba gue penasaran apa yang dilakukan Kalya hingga sangat lama, gue berbalik dan melihat Kalya melalui kaca bening rumah sakit.


Kalya, dia berderai air mata sembari menempelkan hpnya pada telinga.


Sepertinya dia sedang meminta maaf.


"Oke, setidaknya energi yang telah gue buang menjadi tidak sia-sia."