
Kalya Pov
Nyes~
"Hahahahaha..."
Gue memasang muka masam, hobi bener Angga ngetawain alur hidup gue, untung aja sekarang kami berbicara lewat telpon, kalau ditempat sudah gue tendang tulang keringnya.
"Lucu?" Tanya gue dengan nada nyolot.
Dengan perlahan gue memasukan satu persatu kulit buah cempedak yang sudah ditaburi beberapa bumbu dapur kedalam wajan.
Dengan minyak yang sudah panas tentunya.
Nyess~
Sesekali gue menjauhkan diri dari wajan karena takut minyak goreng tiba-tiba meletus mengenai diri gue.
Sumpah ini bukan pertama kalinya gue masak, hanya saja beberapa hari yang lalu gur ngide masak telor ceplok, langsung dimasukin kewajan.
Tau kan bagaimana akhirnya? Ya meletup lah.
Maklum, biasanya gue masak telor dadar, gak ada tuh cosplay petasan.
"Iyalah, gue masih ingat kata-kata bokap lo. ANAK GOBLOK, BAPAK SAMPE DATANG KE DUKUN TAKUT KAMU DICULIK SETAN!!" Ucap Angga niruin logat bokap gue.
Yap, begitulah. Gue dimarahin habis-habisan karena gak ngabarin kalo gue baik-baik aja.
Seandainya gue masih di rumah, pasti gue di gesperin:')
Untungnya, karena cepat menghubungi Angga, akhirnya dia cancel tiket pesawat setelah tau gue baik-baik aja. Nih anak sok-sokan mau nyusul, padahal dia sendiri kerja mati-matian buat modal usaha, mana tiket pesawat lumayan mahal.
"Eh balik tuh, nanti gosong Mandai nya," gue mengikuti arahan Angga dan membalik kulit cimpedak.
Kata Angga, di kalimantan dia sering beli ini. Karena dia pengen gue ikut nyoba, akhirnya dia kirim dalam bentukan toples.
Seperti di bacem.
"Ngomong-ngomong, banyak juga duit Lo sampai bisa beliin gue Ollie," ucap gue sembari menoleh kearah Ollie yang tertidur di kasur.
Arghhh... Imut banget Ollie ku.
"Oli? Kapan gue beliin Lo oli motor?" Wajah sumringah gue saat melihat Ollie yang tertidur langung masam mendengar ucapan Angga.
"Ollie Angga, O-L-L-I-E, Itu nama anjing yang Lo kasih ke gue," eja gue dengan penekanan tentunya.
"Owhh anjing yang itu toh, ganti aja kek namanya, kalo kasih nama hewan peliharaannya tuh yang bener."
Enak aja ganti-ganti, gue sampai gak tidur mikirin nama yang cocok buat Ollie, eh dia malah minta ganti, "Itu sudah bagus, Anggaaaaa. Gue sebisa mungkin buat namanya aestetic aestetic."
"Terserah Lo deh," akhirnya Angga menyerah.
Gue menggeleng lelah.
Dengan santai gue ambil piring dan mengangkat kulit cempedak yang sudah matang.
Gue merasakan air liur gue menetes, dari harumnya enak sih.
"Sebenarnya, kalo dikata gue beli tuh Oli sih salah. Beberapa bulan yang lalu bos gue menawarkan gue anjing untuk untuk gue pelihara sendiri, nahhh karena gue gak punya banyak waktu dikos dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan bekerja, akhirnya gak gue terima. Tiba-tiba aja Lo bilang kesepian karena gak ada gue atau Binta di jakarta, jadi gue memikirkan kembali tawaran bos gue."
"Jadi bisa dibilang itu anjing dikasih bos Lo?" Dengan piring berisikan kulit cempedak yang sudah digoreng, gue berbalik dan berjalan kearah meja makan.
"Benar sekaleh."
Gue terhenti dan menelan saliva, apakah selama ini Angga selalu memikirkan ucapan yang keluar dari mulut gue yang bahkan gue sendiri menganggap itu bagai angin.
"....terima kasih Angga, pasti Lo capek dengar keluh gue yang kesepian disini, padahal gue cerita biar kita ada topik dan lainnya," gue memiringkan kepala sembari memejamkan mata, "enggak, bohong kalo gue ngomong gitu, gue terlalu terbiasa dengan keberadaan kalian berdua, jadi gue merasakan ada yang kosong disaat gak ada kalian."
"Sans, gue juga minta maaf karena gak bisa janji kapan gue ke jakarta, sebagai gantinya gue beri Lo Oli biar Lo gak kesepian," terharu gue kali aku Ga.
"Eh Kal, gimana kabar pekerjaan lo?"
"Gue berhenti dung."
"Owhh... gaji aman kan? Gak ada potong-potongan?"
"Ya enggak lah."
"Bagus deh kalo gitu, gue takutnya karena lo berhenti tiba-tiba, gaji lo malah hangus."
"Hahahaha... kek tempat kerja lo sebelumnya, untung saat itu lo ngotot minta gaji tetap cair, kalo enggak, gaji lo kerja gak dikasih full. Eh lo tau gak, gue dipuji manajer loh."
"Dipuji apa?"
"Ya karena gue rajin, profesional, tetap menjaga sopan santun meskipun di keadaan yang tidak diinginkan."
"Heleh, baru dipuji segitu, udah terbang ke langit ketujuh, lebay."
"Yakan gue kekurangan asupan pujian, lo sih ngatain gue bego mulu."
"Kok jadi salah gue sih, sono gih cari pacar, terus minta dia puji lo sampe mampus."
"Lo kira nyari pacar semudah nyari semut di jalanan apa?"
"....Lo gak lesbi kan?"
"Kok pertanyaannya mengarah kesana, YA ENGGAK LAH BABI."
"Wow-wow santai neng, jaga image."
"Najis."
Angga tertawa di sebrang telpon sama, "habisnya, dalam ingatan gue, lo gak pernah atraksi dengan cowok lain selain gue."
"Atraksi, interaksi kali, lo kira gue mau akrobat ape. Anying emang lo."
"Heiiii siapa yang ngajarin Kalya ngomong kasar, setelah lama di jakarta, vocab kata kasar lo nambah."
"Lu kira bahasa inggris apa, vocab vocab."
Drhttt~
Gue melihat kearah handphone yang berada dimeja kemudian menyempitkan mata.
"Rana?"
"Kenapa Kal?" Tanya Angga begitu menyadari gue terdiam beberapa saat.
"Ini Ga, Rana telpon gue."
"Tambahin aja Kal, ada yang mau tanyain soalnya dari dia," Tumben?
Gue memencet tombol pojok kanan ponsel kemudian mencari nama Rana.
Setelah menambahkannya, gue kembali melanjutkan kegiatan gue.
"SAMLEKOM KALYA- eh! Ada Angga?"
"Iya nih Ran, bagaimana kabarnya Rana?" Halah... Sok manis Lo Angga.
Cocok aja kalian berdua, sama-sama pencitraan.
"Baik kakak, ngomong-ngomong ini dari tadi kalian sedang telponan? maaf ya jadi ganggu nih, tau gitu tidak Rana telpon Kalyanya."
Gue hanya mengangguk-angguk mendengarkan omongan mereka. Dirasa semua sudah beres, gue berjalan kearah kulkas kemudian mengambil jus jeruk kemasan didalam sana.
Posisi hp berada diatas meja, namun gue masih bisa mendengar suara mereka karena low spiker.
"Tidak apa-apa kok, sebenarnya ada yang gue mau tanyai dari Rana soal Kalya," Tubuh gue membeku saat Angga melibatkan gue dalam pembicaraannya.
"Tanya aja kak, apa saja." Hei... Sepertinya gue tau kemana arah pembicaraan mereka.
"Gimana kabar matkul Kalya yang gak lulus kemarin?"
"Dia menyerah ngerjain tugas kelompoknya karena gak suka sama satu orang dikelompok."
Mata gue langsung melotot sembari menoleh kearah hp yang ada diatas meja, sepertinya bola mata gue mau keluar dibuatnya.
"RAN!!"
"Oke, terima kasih atas kejujurannya, gue matiin ya telponnya,"
Disaat itu juga Angga keluar dari grup telpon dan membiarkan gue dan Rana berdua.
"Rana...."
"Apa sayang," sahut Rana manja.
"Lo tau? Lo baru saja mendeklarasikan perang dengan gue, Rana," ucap gue sembari meremas kotak jus jeruk itu.
Untung sudah habis.
"Bukan salah gue dong, siapa suruh Lo gak lulus, gue Kan jujur," teman setan.
Gue berjalan kearah sofa kemudian merebahkan diri disana, "ampun, gula darah gue, arghhhh gula darah gue naik." Keluh gue sembari berteriak.
"KALYA, JANGAN MATI SEKARANG...," Ini gara-gara Lo ya setan, "kenapa Lo gak berbaikan saja dengan Aidan kemudian ngerjain tugas kelompok itu?"
Tiba-tiba saja dari jarak radius setengah kilo meter, gue mendengar suara khas.
"BABANG ES KRIM!!"
"Astagfirullah Kal, budek telinga gue denger Lo teriak," Keluh Rana masih dibalik telepon tersebut.
Gue mengambil hp gue, "gue matiin ya Ran, mau beli es krim."
"Kenapa gak beli di mart terdekat aja, kan gak perlu buru-buru atau hanya untuk mendapatkan tukang es krim keliling."
"Gue malas," balas gue singkat.
"Dasar perilaku malas Lo itu bikin ngesel-" didetik berikutnya gue mematikan telpon kemudian berdiri dari sofa dan mengambil uang asal diatas meja.
Males ambil dompet ke kamar.
Gue berjalan kearah Pintu, tidak lupa melepaskan sendal rumahan kemudian memasang sendal lainnya dengan asal.
Es krim, sudah lama gue gak beli es krim.
Gue keluar dari apartemen kemudian berlari kearah lift dan memencet tombol disamping pintu lift. Begitu lift tersebut terbuka, gue masuk dan memencet tombol angka 2.
Ayo-ayo, semoga ada orang yang beli sehingga bapak es krimnya berhenti.
Kalau pamannya jalan terus, keberuntungan gue dalam mendapatkan es krim yang dekat jadi menipis.
Beberapa saat kemudian, pintu terbuka dan gue berlari keluar secepat mungkin.
Suaranya, makin keras.
Ternyata bapaknya belum pergi.
Namun tubuh gue terhenti dengan napas yang terenggah-enggah saat mengetahui siapa yang membuat bapak es krim jadi harus berhenti lebih dulu.
"Bunglon?"
Orang yang gue sebut namanya nampak menolehkan kepalanya pelan tanpa menjauhkan es krim yang berbentuk jagung dari mulutnya.
Gue berjalan kearah Aidan yang juga masih berada didepan bapak es krim itu, "bukannya Lo tinggal di jalan beringin, kok bisa Lo ada disini?" Tanya gue sembari memberi isyarat pada bapak es krim agar membuka peti es krimnya.
Agar gue bisa memilih.
"Gue kebetulan jogging disekitar sini, itu doang," balas Aidan sembari mengendikkan pundak nya.
Ahh begitu toh.
Eh ada es krim cornetta silverraja, tapi pasti tuh es krim mahal.
Gue menatap kearah tangan gue menggenggam uang, 5 ribu aja.
Tiba-tiba mata gue terarah pada es krim yg ditangan Aidan, corn nya berbentuk jagung dengan warna kuning pucat.
Sepertinya enak.
Aidan memberikan uang berwarna biru pada bapak jual es krim, "nih pak, sekalian sama punya dia," mendengar itu membuat gue spontan menatap kearah Aidan dengan mata siming shimery.
Ia mundur selangkah, "gue membayar hutang, bukannya traktir," jawabnya santai sembari mengunyah corn pada es krim berbentuk jagung itu.
Seketika muka gue masam, hutang kemarin toh, kirain dia traktir beneran, mau sungkem padahal tadi.
"Iya dehhhh..." Gue mengambil es krim disana dan mendapatkan es krim yang sama dengan Aidan.
Cobain ah.
"Kembaliannya," Ucap bapak tersebut sembari memberikan uang kembalian. Aidan mengambilnya kemudian tersenyum tipis pada bapak tersebut.
Bisa senyum juga nih orang ternyata.
Begitu bapak itu pergi membawa dagangannya, Aidan menoleh kearah gue, "utang gue, Lo maunya tuh utang dilunasi sekarang atau nanti aja?," Tanya Aidan sembari menggoyangkan duit yang ada ditangannya.
Gue meraba celana gue kanan kiri, mencoba mengecek apakah ada kantong disana. Tapi tidak ada satupun bahkan sekarang hp gue tidak menggunakan case hp sehingga tidak ada satupun tempat yang cocok menaruh uang.
Percayalah, dari tadi gue hanya menggenggam uang ditangan.
Jika dia membayar sekarang, pagi gue akan terlihat seperti anak ingusan yang kemana-mana membawa uang digenggaman.
"Nanti aja, gue gak pakai celana yang mempunyai kantong nih," ucap gue sembari menepuk setiap sisi kanan kiri celana gue.
Aidan memasukan uang tersebut pada kantong celananya, "Bagus deh, soalnya nih uang mau gue pakai buat beli paket Kouta sama pulsa."
"Lo gak pakai WiFi?"
"Punya, tapi yang bisa dibawa kemana-mana, sistem charger bukan colok listrik," Aidan merogok kantong celana lainnya kemudian mengeluarkan sebuah benda berbentuk kotak pipih dan ukurannya jauh lebih kecil dari pada dompet.
Gue sempat kagum karena tidak tahu hal itu, sorry aja nih gue kurang update pada barang elektronik dan canggih lainnya.
Yang gue buka setiap hari di hp hanya Au ditwitter dan juga ngefangirl. Aman, gue ngefangirl masih tahap normal, tidak obses.
"Baru tau gue WiFi bisa dibawah kemana-mana."
"Gak semua WiFi colok listrik, Kalya."
"Sorry-sorry."
Gue memerhatikan benda tersebut Lamat, "mahal nih?" Tanya gue.
"Cuma 699,000 kok, masih murah lah."
Kepalamu murah:').
Saat mau melahap es krim, tangan gue membeku begitu ingat saat ini gue sedang berdiri.
Gak boleh makan sambil berdiri, duduk Kalya.
Gue berjalan kearah trotoar jalan dan duduk berjongkok disana, karena tatapan Aidan yang nampak bingung akan kegiatan gue membuat gue spontan memberi jawaban, "kata bapak gue, gak boleh makan sambil berdiri," ucap gue sembari mengangkat sedikit es krim memberi isyarat apa yang dimakan.
Mendengar hal itu membuat Aidan juga berjalan kearah trotoar dan duduk disana, jarak kami mungkin sekitar 5 meter.
Kami memakan es krim tersebut dalam diam, sesekali gue menjilat es krim yang menetes pada jari dan mengulumnya.
Ting
Gue menatap layar hp gue.
Angga Jamet: [kalau Lo gak berencana ngerjain tugas kelompok sampai deadlinenya, gue bakal aduin bapak Lo biar disuruh pulang aja]
Arghhh... Gara-gara Rana tadi sih.
Sudah 4 hari berlalu dan tugas tersebut akan dikumpul pada hari Senin. Besok sudah Minggu dan gue tidak mengerjakannya sedikitpun.
Gue menoleh kearah Aidan dan memerhatikan dirinya yang memakan es krim rasa jagung tersebut langsung digigit.
Gila, gak ngilu apa?
"Ada yang mau Lo omongin?" Tanya Aidan membuat gue membeku saat dia melirik kearah gue.
Kenapa Lo diam Kalya, bukankah ini kesempatan gue membahas soal tugas kelompok.
Ayo Kalya, AYO!!
"Bunglon, soal tugas kelomp-"
Whuss~
Tiba-tiba angin bertiup dari arah belakang Aidan, berbeda dengan gue yang menoleh kearah Aidan otomatis mengenai angin tersebut.
Sialnya angin tersebut berbekal pasir sehingga pasir tersebut mengenai mata gue.
Merasakan gatal dan perih dimata, spontan gue menutup mata kemudian menggosoknya, namun semakin gatal.
"Woy... Lo gak apa-apa, Kal?" Tanya Aidan entah memasang ekspresi seperti apa, tapi dari suaranya sih terdengar khawatir.
Gue membuka mata perlahan, Aidan nampak mematung melihat gue, "Tugas kelompok matkul mtk, gue baru sadar kalau gue membutuhkan nilai tersebut. Gue minta maaf karena bilang tidak membutuhkan Lo, ayo kerjakan bersama setelah itu gue gak akan mengganggu Lo," air mata gue jatuh.
Pasti akibat pasir tadi, mana gue gosok lagi nih mata, jadi berair dan tumpah begitu banyaknya.
Kesannya jadi nangis.
"Woy, Lo gak usah nangis pun gue tolong," ia mencari sesuatu dari sakunya kemudian keluarlah tisu yang bergumpal.
"Gue gak nangis ya Setan, kena pasir tadi," pungkas gue sembari mengambil tisu ditangan Aidan kemudian menempelkannya pada mata, "arghhhh mata gue."
"Kapan kita mengerjakannya, besok?" Tanya dia sembari mencoba memerhatikan wajah gue seksama.
Gue menjauhkan tisu dari kelopak mata gue kemudian menatap Aidan dengan mata menyempit, "perpustakaan daerah," ucap gue dalam mode rajin nih.
Bayangan bapak gue marah karena gue kuliah gak bener membuat gue merinding, gak ada kata santai lagi kalo sudah ulang matkul.
Aidan mengangguk, "oke, besok sore ya."
"Btw, tisu yang menggumpal di kantong celana Lo, ini bukan tisu bekas ingus Lo kan?"
"Rencananya sih begitu, tapi gue kasih tisu yang bersih kok ke Lo."
"Heh anjing Lo emang."