FourG

FourG
Chapter 21



"Kalya," gue yang tadinya menatap bayang diri gue di cermin seketika beralih melihat kearah suara tersebut


Disana terdapat Rana yang sesegukan bahkan sesekali menghapus air matanya yang terus saja turun tanpa henti.


"Zero selingkuh dari gue, bahkan sekarang dia menyombongkan wanita tersebut diseluruh kampus."


Tanpa sadar gue meremas kotak susu uht ditangan gue sembari tersenyum dipaksa.


Padahal gue sedang berduka karena kehilangan Ollie, sekarang masalah apalagi yang bakal hinggap disekitar gue.


Beberapa jam yang lalu sebelum kejadian...



Clang~


Buku-buku ini.


Gue angkat tangan kearah loker yang telah dibuka dan mulai merapikan isi loker tersebut yang sudah gak karuan.


Jika berserakan, buku yang ingin gue masuki bakal menambah ketidaksukaan gue pada isi loker tersebut buat dipandang.


Gue mendongakkan kepala dan menutup mata sembari menghelang napas.


Ngampus.


Setelah beberapa hari demam akhirnya gue kembali kekampus, gue gak bisa menjamin energi gue sudah full seperti sedia kala.


Satu hal yang masih menganggu gue, gue gak menelpon Angga lebih dulu karena entah kenapa jika gue mendengar suara Angga, gue jadi ingin menangis karena telah membuat Ollie pergi dalam hitungan hari.


Anjing pemberian Angga.


Angga pasti kecewa.


Saat dia menghubungi gue, gue selalu mematikannya, tentu saja dia menanyakan hal tersebut melalui chat, dan balasan gue yang gak bisa dia bantah hanya satu.


Gue pengen fokus belajar karena sebentar lagi masa ujian semester.


Alasan yang sama seperti Binta, setelah itu dia gak menghubungi gue pakai telpon, dan hanya lewat chat.


Syukur lah.


"DHAR!!" Gue menoleh kesamping dengan lemah dan disana ada Rery dengan muka konyolnya.


Dia cemberut, "gue kecewa Lo gak kaget."


Gue mengambil buku yang ada ditas gue kemudian pandangan gue mengarah pada loker didepan, "haha... gue pengen melontarkan candaan, hanya saja sekarang gue gak memiliki energi sebanyak itu," ucap gue sembari mengendikkan pundak, gue memasukan buku tersebut kedalam loker.


"Maaf," kemudian, kepala gue kembali pusing dan rasanya gue mau mual dibuatnya.


Berhenti coba.


"Lo kelihatan gak baik-baik aja deh Kal, pulang gih nanti gue bantu tipsen," ucap Rery sembari membalikan badan gue kearah lorong keluar fakultas dan mencoba mendorong gue.


Perlahan gue raih tangannya dan menggenggamnya, "Lo taukan hari ini ada kegiatan healing seluruh organisasi, gue sudah bayar 130 ribu, masa gue sia-siain hanya karena gak mood, lagian gue sudah baikan kok," ucap gue meyakinkan Rery.


Ya meskipun sakit kepala masih menyerang, tapi gue sudah bisa dibilang sehat banget.


Rery tersenyum kemudian mengelus punggung tangan gue menggunakan ibu jarinya, "iya sih, mana Lo lagi kere, rugi kalo gak ikut."


"Sumpah Ry, pengen gue pukul Lo sebenarnya."


"Jangan lah, gue habis ke tukang pijet kemarin, masa Lo buat gue babak belur."


"Dasar bapak-bapak panti jompo."


Gue gak bisa terus menerus berduka, ini akan mengganggu kehidupan sehari-hari.


Ayo, mulai hidup seperti gak ada Ollie sebelumnya.


Gue melepaskan tangan Rery, kemudian menutup loker gue, "mau bareng kekelas?" Tanya gue kemudian menoleh kearahnya.


"Ayok, akhir-akhir ini kita jarang ketemu setelah Lo berhenti bekerja dicafe, padahal biasanya gue akan jemput Lo terus nganter Lo pulang."


"Perasaan kita ketemu terus dikelas."


"Heii... Kalo pertemuan dikelas gak kehitung lah."


"Iya deh."


Ollie, maapin mami, tapi mami juga harus hidup dengan normal.


***


"Gue gak sanggup," itulah kata yang pertama gue ucapkan begitu melihat wajah gue yang terpantul melalui cermin diruang toilet.


Gak ada satupun pembelajaran yang masuk kedalam otak saat gue mengikuti kelas hari ini.


Dan satu hal yang bikin gue keganggu.


"Rana kemana sih, kok dia gak masuk kelas, biasanya dia paling rajin masuk kelas diantara gue dan Rery."


Yang paling penting, semua bawaan gue termasuk koper, itu semua berada pada Rana, karena Rana memilih bawa mobil bersama beberapa rekan organisasi dia juga.


Gue mengecek jam diponsel dan sudah jam setengah 3 sore. Sebentar lagi seluruh organisasi ngumpul ditempat yang dijanjikan, namun sampai sekarang gak ada sedikitpun kabar dari Rana.


"Lo kemana, setannnn,"


"Kalya," gue yang tadinya menatap bayang diri gue di cermin seketika beralih melihat kearah suara tersebut


Disana terdapat Rana yang sesegukan bahkan sesekali menghapus air matanya yang terus saja turun tanpa henti.


"Zero selingkuh dari gue, bahkan sekarang dia menyombongkan wanita tersebut diseluruh kampus."


Tanpa sadar gue meremas kotak susu uht ditangan gue sembari tersenyum dipaksa.


Padahal gue sedang berduka karena kehilangan Ollie, sekarang masalah apalagi yang bakal hinggap disekitar gue.


***


Aidan POV


"Kok Rery lama bener dah, tau gitu gue gak nyamperin dia tadi," geruntu gue sembari membuka bagasi dan menarik satu persatu koper yang tentu saja pemiliki koper tersebut adalah Kalya dan Rana.


Sebelumnya, Rery berencana menurunkan koper dari sebuah mobil, namun tiba-tiba saja dia mendapat sebuah telpon dan ketika gue nyamperin dia, Rery memberikan gue kunci mobil Rana dan meminta agar menurunkan koper Rana dan Kalya.


Gue meminta penjelasannya, namun dia pergi dengan sangat cepat dan meninggalkan gue dalam keadaan bingung.


Hadeh.


Tiba-tiba gue teringat dengan Kalya.


Melihat kopernya berada disini, berarti Kalya ikut juga dong?


"Gue harap dia sudah baikan," gumam gue sembari mengelus koper Kalya yang masih berada di dalam bagasi mobil.


"WOY AIDAN, KOK LO DISINI!?" Gue berbalik dan disana terdapat Aby yang berlari kecil kearah gue.


Aneh banget pertanyaan Aby.


"Gak gitu, maksud gue cewek Lo ngamuk di fakultas kita, kok Lo masih disini sih nggak tau," ucap Aby dengan tampak panik.


Blam~


Didetik berikutnya gue menutup bagasi mobil Rana kemudian berlari dengan kecepatan yang berlari secepat yang gue bisa.


"AIIII, LO MAU KEMANA!!!!???"


Gue menoleh kebelakang tanpa mengehentikan lari gue sedikitpun, "TENTU SAJA NYAMPERIN KALYA."


Ya itulah yang gue pikirkan begitu tau Kalya ngamuk, dia baru saja sembuh, tapi dia sudah ngamuk?


Karena hal ini, gue jadi teringat dia saat kami masih SMA. Setiap dia demam, pasti dia melakukan hal yang tidak pernah dia lakukan bahkan sesekali mengacau tanpa dia sadari.


Seperti orang mabuk.


"Apakah semua perempuan begitu disaat sakit?"


"KOPER SIAPA INI WOY LO TINGGAL, MASUKI DULU PUNYA ORANG WOY!!" Teriak Aby.


Gue melupakan koper Rana.


***


Kalya POV


BRAAKK~


"Kyaaaaa!!"


Zero terlempar dan menghantup meja setelah gue menendang dengan telapak kaki layaknya dia hanyalah tempat sampah besi yang ringan.


Zero mencoba berdiri perlahan dari lantai namun tidak bisa, "BANGSAT, SIAPA YANG NENDANG GUE" hamuknya.


Plakk~


Bola mata Zero membulat begitu menyadari panasnya dan sakitnya ketika gue menampar pipinya, di detik berikutnya gue mencengkram kerah bajunya, "gue yang nendang, kenapa? Mau balas?" Gue ambil ikat pinggang Zero dalam sekali tarikan dan memukuli Zero pakai benda panjang tersebut.


Ptass~


Ptass~


Suara kencang seperti cambukan benar-benar terdengar hingga seisi kelas. Hanya suara itu juga yang menjelaskan betapa marahnya, kesalnya, kecewanya gue pada Zero.


Gue baru menyadari kenapa Rana akhir-akhir ini nampak berbeda, bahkan saat dia merawat gue, gue melihat bukan hanya kantong mata dibawah mata Rana, tapi juga mata yang bengkak.


Dia membuat Rana menangis.


Lagipun, gue percaya banget sama Zero buat jagain Rana temen gue, gue bahkan bantu dia buat ngasih suprise dan nembak Rana, eh dianya modelan setan.


Salah gue kasih bantuan pada Zero buat berpacaran dengan Rana, jadi gue juga yang harus tanggung jawab.


"Lo gak kasihan dengan Rana hah!! Dia jual motornya demi biaya kuliah elo, dan lo nya selingkuh. Mati aja lo Babi," gue kembali memukuli Zero bahkan sesekali menendang perut nya karena super duper kesal.


"Ta-tapi dia kan kaya, jadi gak papa dong dia menghadiahkan gu-ARGHHHH..." Lihat wajah dia yang mengatakan kalimat tersebut, tidak ada rasa bersalahnya sama sekali. Yang ada hanya kepercayaan dirinya yang seakan hal itu wajar-wajar saja.


"HAHAHA... YANG GUE PERMASALAHKAN DISINI GAK MOTORNYA, TAPI HATI NURANI LO YANG TELAH DIKASIH PERTOLONGAN ITU KEMANA? DITELAN EGO?"


Gue gak peduli apa tanggapan orang, gue gak peduli tatapan semua orang, yang penting gue harus kasih pelajaran sama nih cowok gak punya akal sehat.


DAH GILA NIH COWOK.


Tiba-tiba ada yang merangkul kedua tangan gue dari belakang, "woy-woy tahan Kal, tahan, mati anak orang," ternyata itu Rery.


"BODO!!" Teriak gue sembari menginjak kepala Zero.


"Kal, cu-kup Kal, sakit," ucap Zero sembari melingkuk melindungi wajahnya, hanya itulah tameng dia melindungi diri.


Lucu sekali melihat dia meringkuk seperti orang yang paling tersakiti. Tapi maaf, gue gak sebaik itu.


"DASAR GAK PUNYA OTAK!! MUKA SEPERTI DAKI LUTUT!! MISKIN!!! SELINGKUH PULA, BERASA CAKEP LO!?" umpat gue sembari ngos-ngosan.


"KALYA!!" Gue menoleh kearah pintu masuk kelas dan menemukan Rana, dia menggeleng agar gue stop nyiksa Zero.


Tatapan gue melembut saat menyadari Rana meminta gue berhenti, namun ketika gue menoleh kearah Zero yang masih meringkuk menutupi wajahnya. Emosi gue kembali naik.


Bruk~


"AKH!"


Gue menendang kearah perutnya dan tersenyum puas.


Dia kira gue akan berhenti karena permintaan Rana, makanya dia menurunkan kakinya yang melipat melindungi perutnya.


Merasa ada yang menaruh tangannya dipundak gue, gue berbalik dan mendapat Rery yang dari tadi mencoba menahan gue dari belakang, "sudah cukup, anak orang udah babak belur gitu masih mau lo pukulin?" Tanya Rery sembari menatap kebawah dan meringis karena keadaan Zero yang memprihatinkan.


"SAKITTTTT!!!" Teriak Zero.


Gue menatap setiap senti tubuh Zero, mencari tau pemicu dia berteriak.


Begitu ketemu, gue tertawa hambar.


Rery, Lo mencoba menghentikan gue layaknya tim aman damai, tapi Lo sendiri juga malah ikut nyiksa Ry:v


Nginjak kakinya.


Gue menghelang napas lalu melempar ikat pinggang itu asal, "denger ya Zero, kalo sampai gue denger lo deketin Rana lagi? gue kebiri lo," setelah itu gue berjalan meninggalkan Zero yang tergeletak dilantai, tentu saja dengan semua keheningan para mahasiswa yang menonton pertunjukan tersebut.


Ahhhhhh.... Tiba-tiba gue tidak merasakan kesedihan ditinggal Ollie karena kejadian ini.


Gue gak tau apakah ini baik untuk gue atau buruk.


***


Aidan POV


Rencana gue begitu tau Kalya ngamuk di fakultas gue ialah membawa dia ketempat sunyi kemudian menenangkannya.


Nyatanya, bahkan sekarang gue gak bisa masuk ke kelas dimana Kalya membuat kekacauan dan hanya mematung menonton Kalya yang memukuli pria yang merupakan mantan Rana.


"Ai, ternyata gini ya tipe Lo," Aby yang berada disebelah gue menoleh, "tipe cewek gila," ucap Aby sembari tertawa kecil.


Gue gak tau maksud dia tertawa itu apa, tertawa puas karena Kalya memukuli mantan Rana? Atau meremehkan Kalya yang bertindak seperti orang gila.


"Ehem... dia membela temannya, itulah alasannya," balas gue cepat sembari berdehem.


Aby tertawa kecil, "benarkah?" Kemudian ia kembali menatap kearah depan dan memperhatikan kekacauan disana layaknya sebuah pertunjukan sirkus.


"Saat awal bertemu, gue pikir dia tipe cewek yang dewasa, ternyata hanyalah seorang bocah barbar. Mengetahui hal itu membuat gue menjadi tenang sekarang," Aby berjalan melewati kerumunan dan pergi menjauh.


"ABY, LO MAU KEMANA?!" Tanya gue.


"KERUANG DOSEN," Balas dia sembari melambai tanpa berbalik.