FourG

FourG
Chapter 19



Kalya Pov


Gelap dan berkerut.


Apa yang kalian pikirkan, tentu saja dibawah mata gue.


Ada dua hal yang gue pusingkan saat ini, Aby dan juga percakapan antar keluarga Aidan. Namun tidak sepatutnya gue memusingkan masalah Aidan, lagian gue memutuskan menjauhi Aidan karena masih malu.


Tragedi apartemen sialan.


Gak tau sampai kapan malunya diri ini, pokoknya kenangan itu harus terkubur rapat. Jadi dengan ini mungkin gue akan lebih condong pada masalah Aby.


Gue ingat percakapan gue dan Rana kemarin, gue gak bisa tidur dengan tenang ketika bisa-bisanya Rana berkhianat dibelakang gue.(padahal gak ada pengkhianatan sih:v)0


Dia berteman dengan Aby sudah amat lama bahkan disaat di SMA.


"Woy Aby, sekalian aja rebut Rana biar gue gak ada teman cewek lagi, gue tau kumis Lo gatal," becanda, serius Aby gak punya kumis.


Tiba-tiba gue teringat saat Aby mengatai gue bego.


"Enak aja, gini-gini gue pernah masuk 10 besar kok waktu SMK," dari tadi gue gak henti-hentinya bergumam, kemudian menggerutu, berikutnya mengerang kesal.


Apasih yang sedang gue lakuin.


Gue tatap Ollie yang nampak semangat berjalan-jalan dengan kaki kecilnya itu meskipun gue memakaikan tali dilehernya.


"Padahal gue dengan sengaja jogging biar gak kepikiran, tapi malah makin kemana-mana pikiran," parah.


"Aby..."


Tap...tap...tap...tap...


Gue kembali mengerutkan alis, "kata siapa dia baik, ramah dan apalah itu. Untung aja gue gak satu fakultas dengan dia, yang ada gue emosi setiap lihat mukanya."


Dia asdos kan? Kasihan para mahasiswa yang masuk kelas dia.


Gue mengeluarkan hp dari saku dan menatap jam dilayar tersebut.


Sekarang jam setengah 7, apakah Angga sudah berada ditempat kerja?


Dengan cepat gue memencet tombol 1 dengan waktu yang lama, kemudian tampilannya berubah jadi telpon ke Angga.


"Halo?" Diangkat!


"Hehe... Lo lagi kerja?" Tanya gue dengan pembukaan tertawa kecil tentunya.


"Belom Kalya, aman. Btw sorry kalau berisik, gue menuju tempat kerja hanya dengan menggunakan sepeda aja nih, untung aja gue memiliki tws."


"Angga, gue mau nanya sesuatu, misal nih Lo punya rekan kerja yang dikenal baik, tapi kepada Lo dia benar-benar seperti seorang antagonis, menurut Lo apa alasannya?," gue tersenyum pada orang tua yang lewat dan nampak tersenyum lebih dulu.


Kalo gak balas senyum, dikira sombong.


"Cewek?"


"Hooh."


"Lo kali dekat Ama cowok yang dia suka, makanya dia gitu," KANNNN.


Seketika gue bersemangat, "BENAR KAN, gue juga awalnya mikir gitu, tapi kata Rana.... intinya dia gak mau pacaran lah pokonya."


"Kalya..." Gue langsung terdiam ketika Angga memanggil nama gue pelan, "ingat satu hal ini, semua orang yang kita suka gak harus kita pacari bukan? Mungkin aja kasus dia begitu. Contoh, Lo suka gak sama gue?"


"Yang lain aja Napa contohnya, kesel gue," balas gue cepat.


"Yaelah Kal, contoh aja, contoh..."


Gue menghelang napas lelah, ada-ada aja nih Angga, "iya, suka sama Lo."


"Nah... Tapi Lo ada gak keinginan menjadikan gue pacar?"


"Gak." Balas gue cepet, gak ridho gue suka sama nih bocah.


"Cepet amat Lo jawabnya, sedih gue jadinya nih."


"Basi anying."


"Hahahaha... Ya pokoknya begitulah, tapi kita juga gak bisa langsung fix kalo itu penyebabnya, coba deh Lo ngobrol sama tuh cewek."


"Dih, mimpi kali gue ngobrol sama Aby," setelah dia ngatain gue bego kemarin, seketika gue hilang respek Ama dia.


Sumpah.


"Owhhh namanya Aby toh? Btw nama itu terdengar familiar ditelinga gue," familiar?


Langkah kaki gue terhenti.


Gue pikir nama Aby sangat jarang di indonesia karena beberapa orang memanggil ayah mereka Abi, otomatis kayak aneh aja nama Aby dipake buat cewek.


Aby.


Setelah dipikir-pikir nama tersebut juga terdengar gak asing di pendengaran gue.


Aby.


"KALYA!!!"


"ALLAHUAKBAR!!!" Reflek gue menjauhkan hp gue dari telinga, tiba-tiba saja Angga berteriak memanggil nama gue di Alik hp tersebut," heh setan, Lo ngapain treak?"


"Lo sih dipanggil gak menjawab."


"Ya nyantai aja kali, gak usah kayak nangih utang."


"Matikan telpon Kal, bentar lagi gue nyampe tempat kerja ni-"


Tut...Tut...Tut...


Tanpa sapaan perpisahan, gue langsung memencet tombol merah disana.


Hem, Aby... Kenapa dia jadi menarik buat dicari Tau.


"Woy, anjing Lo ketinggalan dibelakang," spontan gue berbalik karena mendengar suara seseorang yang nampak sewot dibelakang gue.


Ah... Aidan.


Seperti kata Aidan, Ollie tertinggal dibelakang karena gue terlalu sibuk dengan pemikiran dikepala gue.


Gue segera berjongkok, "Ol-Ollie sayang, maafin mama ya," Ollie berlari dengan kaki kecilnya kearah gue.


Imutnya.


"Sejak kapan Lo punya anjing?" Tanya Aidan dengan tangan terlipat kedepan tentunya.


Gue mendongak dan memicingkan mata, sejak kapan dia sudah berada didepan gue? "lama pokoknya," kepo kau.


"Kok waktu gue ke apartemen Lo dia gak ada?"


"Groming, gue lupa jemput Ollie gara-gara kesel Lo gak datang-datang."


Tanpa sadar gue yang berniat ngasih kode agar dia menjauh, gue malah menjawab pertanyaannya.


Lagian, kok bisa kami bertemu dengan cepat setelah 2 hari, biasanya jangka kami bertemu di kampus sangat sedikit karena kami beda fakultas.


Lah ini, kami malah sering ketemu diluar.


Gue beranjak dan menarik sedikit tali yang mengikat Ollie agar dia bergerak sesuai arahan gue.


Aidan berjalan disamping gue dan mengikuti ritmik langkah, "Lo nemenin anjing Lo aja ternyata, kirain jogging juga seperti gue. gue baru baru ini mulai jogging, setelah 2 tahun berhenti," balas Aidan sembari mengendikkan pundaknya.


"Pantes endut." Nah kan, lagi-lagi gue menjawab tanpa sadar.


Ketika mulut sudah terbiasa nyerocos, jadi susah kan ngerem.


"Dari pada Lo, jalan disamping gue kayak tiang sama galon." Eh anjir.


Gue gak bisa berkutik saat dia ngatain galon, ya kalo tiang sebelah Ama galon, pendek lah.


Gue dikatain pendek.


Binta, kasih kek 5 cm tinggi badan Lo biar gue gak dikatain pendek.


"Jaad Lo, Bunglon."


"Kan Lo yang mulai, gue gak akan nyenggol kalo gak ditumbuk duluan" gitu nyenggol? Betumbuknya versi Aidan gimana ya.


Gue melipat kedua tangan gue dan mengembangkan sebelah pipi gue dengan bibir cemberut.


Awas Lo Aidan, Jimin aja bisa nambah tinggi diumur 25 tahun, gue yang 20 tahun pasti juga bisa.


"Soal Aby...," Langkah gue terhenti saat Aidan menyebut nama itu, sedangkan Aidan masih melanjutkan langkahnya, "maaf, gue gak sengaja menguping pembicaraan Lo dengan orang yang dibalik telponan," gue menoleh kearah Aidan yang beberapa didepan gue.


"Lo denger semua?" Tanya gue sembari menggenggam erat tali leher Ollie.


Aidan menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang, "hanya bagian akhir aja, saat temen Lo bilang kalau nama Aby terdengar familiar, gue rasa hal tersebut gak perlu di herankan karena Aby emang terkenal mengikuti berbagai lomba saat sma," ucap Aidan sembari memasukan tangannya pada kantong jaketnya.


"Seberapa terkenal sih namanya sampai gue yang ada dibandung jadi gak mengherankan kalau tau namanya?" Tanya gue dengan nada meledek.


SeWah itukah Aby.


Aidan menurunkan tudung Hoodie di kepalanya, "sedikit informasi, gue, Rery dan Aby tinggal di Bandung, kami ke jakarta karena kuliah."


Hah? JADI SELAMA INI KAMI BERADA DISATU KOTA DAN GAK KETEMU.


GUE DAN AIDAN MAKSUD GUE.


Spontan gue menggeleng, tenang lah Kalya, hampir aja gue mengeluarkan ekspresi berlebihan.


Lagian, kalau gue dan Aidan tinggal disatu kota emang kenapa?


Gue melihat kedua tangan gue kedepan dada, "ehem... Kayaknya Lo dekat banget dengan Aby," ucap gue sembari berdehem.


"Gak juga, hanya saja kami teman satu kelas dan juga kami berada di tim inti Pramuka yang sama," Wow... Aidan yang mageran ternyata ikut Pramuka, jangan bilang dia juga punya jabatan saat masih Pramuka.


Gue jadi penasaran, "posisi Lo dan Aby apa saat di tim Pramuka?"


"Dia ketua pendobrak putri, sedangkan gue wakil pendobrak putra." Asli sih, ini Aidan rajin banget sampai dapat posisi wakil.


Namun, setelah mendengar semua penjelasan Aidan, gue merasa mereka selalu berada disatu ruangan yang sama yang mana ada kemungkinan Aby bisa suka Aidan kan?


Bagaimana kalo gue jodohin mereka berdua? Dengan begitu Aby gak menatap gue dengan tatapan nyelekit.


Gue menarik lengan Hoodie Aidan, ia menoleh kebelakang, "Lo... Apa kalian gak pernah saling suka gitu? Kalian sering bersama saat sma, bukan? Masa diantara kalian gak ada yang memiliki perasaan?" Ayo Kalya, bantu percintaan mereka.


"Gue gak ada pikiran suka sama Aby saat sma maupun sekarang, gue orang yang sangat menghormati Aby." Menghormati dalam artian apa nih?


Menghormati...


"MICELL!!!!" Spontan gue dan Aidan melihat kearah suara dan mendapat orang yang mencoba menarik tali leher anjing besarnya agar tidak kabur, namun karena badan anjing tersebut besar, kekuatan wanita pun gak bisa menahannya.


Anjing tersebut berlari kearah kami dan langsung mengigit leher Ollie.


"OLLIE!!!" Teriak gue saat anjing tersebut menggigit leher Oolie dan menarik Ollie hingga tali yang ada ditangan gue terlepas.


Saat gue mau menangkap Ollie, Aidan segera menahan gue, "KALYA, BAHAYA!!!" Teriak Aidan sembari menahan gue.


"OLLIE GUE, AI!" Teriak gue sembari mendorong Aidan hingga jatuh dan berlari kearah Ollie dan anjing besar itu.


Namun terlambat sudah, bola mata gue membulat begitu menyaksikan Anjing besar tersebut bertingkah agresif dan mengoyak Ollie seperti sebuah boneka.


Gue... Gak bisa melakukan apapun.


"MICELL, BERHENTI!!" Bahkan pemilik anjing besar tersebut gak bisa berkutik.


Seketika semua suara di bumi ini menghilang dari pendengaran gue, setiap napas yang gue ambil begitu menyakitkan dan sesak seperti ditusuk pisau.


Perlahan mata gue mengabur.


Sebelum pandangan gue gelap, gue melihat Aidan berjalan kearah anjing-anjing tersebut, mungkin mencoba melerai anjing tersebut.


Terlambat, Ollie sudah terkoyak Ai.


Ollie, maafin mami ya...


***


Panas, tapi juga dingin.


Gue gak bisa menetapkan apa yang sedang gue rasakan, disatu sisi gue berkeringat dan merasa kepanasan, disisi lain gue merasa sangat kedinginan hingga ingin menggunakan selimut yang benar-benar tebal dengan temperatur suhu ruangan yang tinggi.


Perlahan gue membuka mata, meskipun gak sempurna namun dengan mata segaris ini akhiran gue bisa melihat seseorang disamping gue.


Bunglon alias Aidan.


Dia nampak memeras handuk kecil terdapat air yang ada di tangannya dan mengalirkannya pada wadah kecil.


Sesekali dia melihat kearah gue dan segera mendekat pada gue ketika melihat mata gue yang sedikit terbuka.


"Kalya, lo-" "Bunglon, gue merasa aneh, sangat panas, tapi juga kedinginan," ungkap gue dengan Isak tangis.


Padahal gue sama sekali gak berencana menangis, namun begitu melihat Bunglon, entah kenapa gue jadi menangis.


"Makan ya Kal, biar cepet sehat," ucap Aidan sembari beranjak dari kursi, namun lengannya gue tahan. Ia berbalik, "Kalya?"


"Hik... jangan kemana-mana, disini aja," rengek gue masih dengan tangisan.


Aidan menghelang napas lelah kemudian kembali duduk namun kini dia duduk ditepi kasur bukan kursi.


Meletakkan telapak tangannya pada jidat, "panas," gumam dia sembari menatap gue Lamat.


Tiba-tiba gue teringat pada Ollie, gue ingin menanyakan pada Aidan bagaimana kondisi Ollie, namun gue yang paling tau apa yang terjadi pada Ollie saat itu.


Badannya benar-benar terkoyak mengerikan.


"Bunglon, ceritain sesuatu dong," ucap gue acak.


"Gak mau," balas Aidan cepat.


Air mata gue kembali gugur, "gue hanya pengen ngelupain Ollie saat ini, please," benar, mungkin kalau Aidan menceritakan beberapa cerita, gue jadi melupakan Ollie walau hanya sejenak.


Gue harus bilang apa ke Angga kalau tau anjing yang dia beri malah mati.


"Bagaimana kalau dansa dengan gue?"


"Kalya, lagi demam gini mau dansa, aneh lo."


"Gue emang aneh dari awal, ayolah dansa dengan gue, gue benar-benar pengen lupain Ollie sejenak."


Aidan tertegun lama dan memerhatikan gue sejenak, sepertinya dia sedang berpikir keras apakah mengiyakan kemauan gue atau tidak.


"Oke," mendengar kata tersebut dari mulut Aidan, membuat gue spontan menatap dia dengan mata terbelalak.


Tumben.


Aidan beranjak dari kasur kemudian membantu gue agar duduk, "kalau pusing atau sebagainya bilang gue, jadi gue akan berhenti," ucap Aidan sembari mengangkat badan gue agar berdiri.


Gue tersenyum tipis saat mendengar ucapan Aidan sembari tangan memegang erat kedua lengan Aidan.


Gue benar-benar tidak habis pikir, begitu Aidan menaruh kedua kaki gue diatas punggung kakinya akhirnya gue mengerti.


Dia tetap pengen tau mengabulkan permintaan gue, namun tanpa membuat gue lebih kelelahan.


Kok Lo tiba-tiba jadi sweet sih, Lon.


Aidan mengarahkan tangan kiri gue dengan ragu pada pinggangnya, sedangkan tangan kanan gue menggenggam tangan kirinya erat.


"Eh gak nyaman kalo gue kiri, tukeran ih."


"Tapi kalo tukeran, gue yang gak nyaman, begini aja."


"Huh."


Perlahan Aidan menggerangkkan kedua kakinya pelan, tentu saja langkah gue jadi sama dengan Aidan karena berada diatas punggung kakinya, kami menarik layaknya ada musik latar yang menemani suasana canggung ini.


"Aneh gak sih kalau gak pake musik?"


"Ck.. suasananya udah bagus, gini aja."


"Oke, Bunglon."


Saat berdansa, gue baru menyadari kalau sekarang kami berada diruang tamu, jangan bilang Aidan yang memindahkan kasur ke ruang tamu.


Mungkin biar enak diakses dia, kalau dikamar agak tertutup sih.


Diluar juga lagi hujan ternyata, tumben langit ngikutin suasana hati gue, biasanya langit dan gue selalu musuhan.


Apa yang gue pikirkan, tetap fokus pada dansa saja, kasihan Aidan yang sudah mau susah-susah nurutin kemauan gue. Gue gak tau, apakah ini hanya perasaan gue aja atau karena suasana yang kami ciptakan berdua ruang tamu ini dengan cuaca masih turun hujan deras. gue seperti bisa mendengar musik meskipun tidak ada yang menghidupkan musik sedikit pun.


Entahlah, namun yang pasti langkah kami sekarang menjadi seirama.


Sebenarnya hal ini nampak menggelikan, namun jika kalian melakukannya bersama dengan orang yang kalian cintai, hal sederhana yang kalian anggap kekanak-kanakan akan berubah menjadi romantis.


"Waktu kecil gue penasaran," gue membeku saat tiba-tiba Aidan berbicara, dia cerita? "Benar, gue penasaran bayi itu dari mana, jadi gue nanya ke ayah gue," dia mengabulkan permintaan gue yang lainnya.


Aidan menyadari ekspresi gue yang terlihat bungkam setelah mendengar pembukaan ceritanya.


"Hahaha.... Terus Papa gue menjawab, bayi itu dibeli dirumah sakit dengan harga yang sangat mahal, dan gue percaya,"gue lagi-lagi terpesona dengan wajahnya yang sangat tampan ketika tertawa.


Gila, kalo gue masih aja sakit setelah dirawat oleh nih orang, keknya ada yang salah dengan badan gue.


Aidan berhenti melakukan langkah dansanya kemudian menurunkan gue pada kasur, "suatu hari, temen gue bilang pada gue kalo dia pengen punya bayi, dan Lo tau gue membalas ucapannya dengan kata apa?"


"Apa?" Tanya gue lemah sembari kembali merebahkan diri pada kasur.


Mungkin sekarang suara gue parau.


"Gue menjawab, Lo kan miskin, gak bisa punya adik," meskipun Aidan ceritanya gak terlalu expert, tapi gue ingin tertawa karena ceritanya emang lucu.


"Gak lucu ya?" Tanya dia.


"Lucu, hanya saja gue gak punya energi buat ketawa."


Mata gue semakin berat, sesekali gue menutup mata gue dan menatap Aidan lemah, dia masih berada disana dan menatap gue lembut.


"Papa Lo, dia baik ya," gumam gue dengan mata tertutup.


"Dulu, kalau sekarang..."


Aidan tidak melanjutkannya lagi.


Seketika gue kangen bapak dikampung, gue kangen makanan buatan bapak, cerita dongeng sebelum tidur, dan bermain bersamanya.


"Bunglon, apa Lo bisa memaafkan papa Lo?" Perlahan gue membuka mata dan melihat Aidan yang hanya tersenyum menanggapi ucapan gue.


Apa arti senyumannya itu.


"Tidur Kal, biar Lo cepat sehat," bukannya menjawab ucapan gue, Aidan malah mengalihkannya kelain.


Jadi dia berencana tidak memaafkan Papanya.


Ah sakit sialan.


Gue gak pernah mengalami kejadian dimana gue sakit dan ada yang menjaga gue, karena gue tipe yang jarang sakit.


Namun kali ini berbeda, gue bersyukur disaat gue tinggal dikota orang, ada yang menjaga gue saat sakit untuk pertama kalinya.


"Bunglon, terima kasih," ucap gue lemah sembari menutup mata dan terlelap tenggam pada dunia mimpi.


***


"Bunglon!!" Tubuh gue yang tadinya rebahan langsung duduk begitu mengingat Aidan menemani gue.


Didetik berikutnya, sakit kepala menyerang gue.


Gila, seperti di hantam bola besar.


"Alhamdulillah... Akhirnya Lo sadar juga," ucap seseorang menarik perhatian gue.


Gue melihat kearah suara dan menemukan seseorang didepan pintu kamar gue. Ada perasaan kecewa karena orang yang gue harapkan tidak berada disana.


Orang tersebut mendekat kearah gue dengan nampak ditangannya, "apa-apaan dengan ekspresi kecewa Lo itu?


Benar, seperti yang dikatakan Rana, gue menampilkan ekspresi kecewa. Gue benar sangat amat sadar kalau gue mengharapkan orang lain yang ada disitu.


Aidan.


Tentu saja.


"Rana, Bunglon mana?" Terobos ajalah.


"Aidan? Dia ada urusan, makanya dia minta tolong jagain Lo," owhhhh jadi kalau Aidan gak ada urusan, dia akan tetap jagain gue toh.


Dia gak bolos ngampus kan selama ini?


Tiba-tiba gue teringat saat Aidan menceritakan sebuah ceritanya saat masih kecil.


"Suatu hari, temen gue bilang pada gue kalo dia pengen punya bayi, dan Lo tau gue membalas ucapannya dengan kata apa?"


"Apa?" Tanya gue lemah.


"Gue menjawab, Lo kan miskin, gak bisa punya adik."


"Hahahahaha," akhirnya gue bisa tertawa.


Sumpah, gimana nasib temen Aidan saat dia bilang gitu


"Lo aneh, Kal."


"Emang kapan gue normal? Hehehe."


Wajah gue yang tadinya sumringah, kini kembali murung begitu mengingat Ollie.


"Ollie," gue meneguk saliva dengan susah payah dan menaruh tangan gue pada lengan Rana, "bagaimana dengan anjing gue Ollie?" Tanya gue dengan secerca harapan.


Gue harap, dia baik-baik saja.


Namun sayangnya, gelengan Rana membuat mood gue kembali jadi down, bukan ngambek atau kesal, tapi sedih kembali menerpa gue.


"Maaf, peliharaan lo-" gue membungkam mulut Rana dan menggeleng.


Apa sih yang gue harapkan, gak mungkin lah.


Hah...Ollie, gue akan merindukan peliharaan gue tersebut.