
Kalya Pov
Nguinggg~
Melihat benda penyedot ini bekerja dengan sangat cepat membersihkan sofa gue membuat gue tersenyum puas.
"Kalya kan? ada paket buat kamu."
Untung kang resepsioni lihat gue saat melewatinya, jadi gue bisa langsung mencoba barang pemberian dari Samuel sekarang.
Lagian, "gue bener-bener gak nyangka Samuel akan ngasih gue benda beginian," ucap gue sembari tertawa kecil.
Penyedot debu guys.
Tiba-tiba saja disela kegiatan membersihkan sofa, gue teringat kejadian dihalte bus tadi siang.
"Arghhhh gila malu banget gue!!"
Tahu gitu, gue gak akan membahas masalah malam itu, yang tadinya Aidan gak tahu jadi tahu karena perbuatan gue sendiri.
Gue berjongkok kemudian menutup wajah gue dengan kedua telapak tangan gue, "bukannya dia buka mata ya sebelum gue menjauh? Kok bisa dia gak tahu."
Jangan bilang itu cuma mengigau doang.
"Taruh dimana muka ini."
Aman, gue dan Aidan tidak berada di fakultas yang sama, kemungkinan ketemu dia bakal sedikit banget.
"Dari semua cowok, kenapa harus teman Rery sih, bagaiman kalau dia cerita ke Rery, terus Rery cerita ke lain."
Seketika sebuah bayangan ketika orang menatap gue aneh membuat tubuh gue merinding.
"Pasti gue akan dikira orang mesum!!!"
Woof
Woof
Gue berbalik dan mendapat Ollie yang menggoyang-goyangkan ekornya imutnya.
Arghhh... Kenapa Ollie imut banget.
Gue berjongkok dan mengelus Ollie, "Ollie sayang, kangen mami ya? Kangen ya? Owhhh... Kangen mami."
Seandainya gue bisa membawa anjing ke kampus, gue akan memamerkannya ke seluruh seisi kampus kalo gue punya anjing seimut ini.
Tiba-tiba gue terdiam saat satu memori melewati otak gue.
Bayangan senyum orang yang membuat gue malu setengah mati ini.
Kenapa dia tidak berpindah secentipun setelah gue masuk bus, lebih parahnya lagi dia menunggu bus itu hilang dari pandangannya dengan tangan melambai kearah gue, senyumnya terukir manis di wajah yang biasanya tidak berekspresi
itu.
Dan lagi.
"Gue baru tau Bunglon bisa menciptakan senyum semanis itu pada wajahnya yang biasanya mirip papan setrikaan," gumam gue dengan pipi nempel pada dinding dingin.
Ketika gue mulai merasa pipi gue memanas, gue segera menepuk pipi gue dengan kedua tangan.
"Cukup Kalya."
Drhtttt~
Tiba-tiba gue mendengar suara getaran hp yang masih terhubung dengan kabel di atas meja.
Gue berdiri dan melihat layar hp.
Begitu melihat nama Bunglon terpampang di hp, lagi-lagi gue betapa malunya gue dibuatnya.
"Anjirlah kenapa Lo pake hubungin gue, urusan kita udah selesai," rengek gue.
Gue memejamkan mata erat dengan harapan agar telpon tersebut cepat mati.
Mati.
Mati.
Mati.
Begitu gak suara deringan tersebut hilang, pelan-pelan gue membuka sebelah mata gue. Sudah mati kan? Sudah?
Huh akhirnya.
Drhttt~
Lagi?
TOLONG BERHENTILAHHHHH...
Gue segera meraih hp dan menekan tombol hijau, "HALO!!!"
"Astaga Kalya, sambutan meriah apa ini?"
Mata gue berkedip berkali-kali kemudian gue menjauhkan layar hp dari telinga. Nama Angga terpampang disana.
"Gue pikir Bunglon yang nelpon, makanya tadi..." Gue menarik napas dan memijit pelipis kepala gue, "sudahlah lupakan, kenapa Lo nelpon gue?" Lanjut gue.
"Apa gue perlu alasan hanya sekedar menelpon bestie gue?"
Seketika tubuh gue merinding, "geli Njir."
"Hahahaha... Ngomong-ngomong siapa Bunglon? Gue harap itu bukan Bunglon beneran," Oh iya, gue gak pernah cerita soal Aidan sedikitpun kepada Angga.
"Ha-hanya teman beda fakultas," balas gue sembari berjongkok dan mengelus kepala anjing manis gue si Ollie.
"Dia kenal Rery kan?" Oke, Angga benar-benar mirip bapak gue yang kedua.
"Yah, dia teman satu apart Rery," ucap gue santai, tiba-tiba gue membeku. Kalo gue bilang teman satu apart Rery, berarti tanpa gue sadari gue telah ngasih petunjuk kalau Bunglon adalah cowok.
Mampus, padahal gue pengen diam-diam aja soal Aidan.
"Good, kalau sedekat itu dengan Rery, gue bisa dengan mudah menemukannya kalo nyakitin Lo."
"Anggaa!!"
Tut ...Tut ... Tut...
Wahh gue terjebak, lagi-lagi gue terjebak dengan permainan katanya.
Helep:')
Drhttt~
Pada akhirnya gue menekan tombol hijau tersebut:').
Ayo akhiri dengan cepat dan jangan berhubungan dengannya lagi.
"Halo?"
"Halo Kal, lo sudah sampai rumah kan?"
Gue mengedipkan mata berkali-kali, serius Aidan nelpon nanyain ini, "sudah setengah jam berlalu, tentu saja gue sudah sampai, aneh lo," balas gue.
"..."
Nah lo diem.
"Ba-bagaimana keadaan Rery, Lon?" Tanya gue membuka pembicaraan.
"Sebenarnya sebelum tunangan dan pacarnya datang dia sehat sejahtera, kalo sekarang sih--"
"Gue tau, jangan dilanjutkan," ucap gue nyetop Aidan.
Pasti Rery babak belur
"Udah ya, gue tadi nelpon cuman mastiin Lo sampai rumah aja, takutnya malah kayak beberapa hari yang lalu."
Syukurlah Aidan gak menciptakan topik baru.
"Santai, gue rada takut pas hari itu karena habis nonton film psikopat."
"Kurang-kurangin deh nonton film begituan, gak cocok dengan genre hidup Lo."
Tut... Tut... Tut...
Lah... Main mati aja, ucap salam dulu kek.
Gue menghirup udara lalu menghembuskannya dengan kasar. Makin kesini perasaan gue makin gak karuan.
Lagian, nih muka Napa panas plus merah mulu kalo keinget Aidan.
Tiba-tiba badan gue mematung saat mengingat kejadian saat gue masih smp.
"Gue gak suka dengan lo sedikitpun, gue memacari elo terus selingkuh biar sahabat lo Binta tau gimana rasanya saat melihat sahabat sendiri disakiti gebetan."
Kepalan ditangan gue mengerat.
Gue... harus menelpon Angga.
***
Aidan Pov
Tut...tut...tut...
"Apasih." Balas gue.
"Ini mah fix apa yang gue katain tadi, Lo suka sama Kalya," ucap Aby sembari mengangkat kepalanya bangga.
Berasa baru saja jadi spesialis percintaan nih orang, lagian aneh banget alasan gue suka Kalya.
Karena dipukul? Ini ceritanya love language gue physical attack gitu?
Namun, ketika gue membayangkan perkataan Kalya di halte tadi, senyum gue langsung mereka.
Dia memerhatikan wajah gue dari dekat hingga ketika gue membuka mata, dia merasa malu bahkan takut mengira dia ingin mencium gue. Lebih parahnya mungkin gue akan menggodanya terus hingga membuatnya pengen lenyap dari dunia.
Gue gak tahu hal itu terjadi, mungkin saja gue hanya mengigau saat membuka mata kemudian tidur kembali.
Perlahan tangan gue meraba tahi lalat dibawah mata gue.
Ternyata tahi lalat ini bisa menarik perhatian seseorang.
Lupakan.
"Aby, bagaimana kabar gebetan lo waktu Sd?" Tanya Gue dengan muka santai.
Buk~
Aby melempar bantal kearah gue, namun dengan cekatan gue menepisnya.
"Cih.. kenapa di ingetin sih," ucap Aby dengan wajah kesal.
"Dia pacaran lagi kan?" Tanya gue sembari menaikan sebelah alis, Aby menggeram kesal tapi tidak bisa membantahnya karena yang gue katakan emang benar adanya.
Clak~
Rery keluar dari wc, "parah, kayaknya mereka(para mantan) renkarnasi hulk dah, badan gue memar-memar karena dipukulin," ucap Rery sembari mengancing baju pasiennya satu persatu.
"Jatuh cinta kok di pacarin, kek seseorang dong di pendem ampe goblok," cibir Aby sembari menatap gue, dih nih anak.
Saat Rery datang, wajah Aby tiba-tiba cerah, "Lo tau gak, pas denger mantan Lo pada mau ngumpul, Aidan dan Kalya kabur ninggalin gue dan Rana disini," gue ngambil bantal yang dilempar Aby tadi lalu melempar kearah Aby, namun keduluan Rery menepis bantal itu.
Damn.
Dan apa-apaan pemandangan ini, melihat Rery yang dengan seksama mendengar Aby bercerita sembari tersenyum lembut membuat gue geli.
Woy... Lo gak berencana membuat Aby seperti korban-korban Lo seperti sebelumnya kan?
Namun, mengingat orang yang dituju adalah Aby, gue sedikit merasa lega, mana mungkin Aby memberi hatinya semudah itu pada seorang pria modelan Rery.
"Mantan Lo gila semua ya, bukan, Lo yang gila anjir," ucap Aby dengan nada mencibir.
Aby menoleh kearah gue, "Lo pakai acara kabur sih Ai, kalo enggak badan gue gak ikut kelempar pas menghalau."
"Menghalau dari Rery?"
"Kagak lah, gue lindungin Rana aja, Rery mah biarin jadi santapan."
"Oh gini toh kilas baliknya," balas Rery sembari memeluk perutnya yang sakit.
Ting
Gue lihat layar hp dan terdapat chat dari Kalya.
Kalya Sastra: [Bunglon, lo masih dirumah sakit kan?]
Me:[Ya]
Gue gak terlalu cuek kan?
"Jarang gue lihat Lo jalan dengan Rana, bukannya kalian dekat banget?" tanya Rery kepo.
"Rana hobi makan-makan diluar, mana mahal-mahal," Aby mengeluarkan hpnya kemudian menekan sesuatu disana.
"Sekarang aja dia bikin story makan sushi, makan beginian habis 200k dia. Gue lihat juga sesekali dia ajak Kalya, keknya hobi mereka sama aja suka makan."
"Kecian, pasti Lo mau juga diajak," ucap Rery dengan muka sok sedih.
"Gak minta dikasihani, suwer."
"Cailon," gue mendongak, "berdiri lo, gue mau rebahan di ranjang," ucap Rery dengan nada ngusir.
Gue menatap Rery lama, setelah itu gue menunduk sembari membuka aplikasi ketik berkas.
"Dasar anak kunti," cibir Rery sembari mendekat pada Aby lalu duduk di sofa bersamanya, "siapa yang sakit, siapa yang rebahan, huh," Rery kalo kesal, pasti mulutnya gak henti-henti nyinggung orang.
Ting
Kalya Sastra: [Lo ada lihat tas gue gak dikursi lorong dekat ruang rawat Rery?]
"Aby, Lo ada lihat tas dikursi luar gak?" Tanya gue sembari melirik kearah Aby.
"Iya, itu tas Kalya kan, tuh gue taruh disamping kasur," ucap Aby sembari menunjuk dengan bibirnya.
Gue melihat kearah bawah kasur dan mendapatkan sebuah tas gendong berwarna krim.
Tasnya lucu karena banyak bros pin imut dengan karakter kartun berbahan silicon.
Me: [tas Lo ada disini]
Kalya Sastra: [Tolong, kasih ke Rery aja, nanti dia kasih ke gue.]
"By, menurut lo Kalya cantik gak?" Tanya Rery asal.
Entah kenapa telinga gue langsung mencoba mendengarkan pembicaraan mereka dengan seksama.
"Dia cantik, manis, tinggi, yang pasti gak cocok untuk modelan kayak Aidan," balas dari Aby dapat persetujuan juga dari gue.
"Seberapa tinggi, By?" Lo ngapain nanya, lo kan satu kelas dengan Kalya.
"Setinggi gue."
"Elah, kalo sama dengan elo berarti pendek, Kuntiiiii," owhhh niat Rery buat ngejek Aby ternyata.
Plaak~
Tanpa gue lihat pun gue sudah tau, Aby tipe orang yang bakal nabok pundak atau paha orang ketika kesal.
Gak Aby aja sih, perasaan semua cewek hobi banget nabok orang, apalagi pas ketawa.
Haha... Gua tadi teringat saat Kalya tertawa sembari nabok lengan gue karena gue mengerjai Shila di mall.
Saat itu, dia terlihat sangat manis, gue akui meskipun dia rada ngeselin.
"Gue pendek karena elo nya aja yang ketinggian, mana pula lo cowok."
"Dia juga cewek, tapi tingginya sama dengan gue," setelah mendengar nama Dia, jari gue yang sibuk mengetik laporan di aplikasi langsung terhenti.
Dia.
"Kalo elo berencana mati, barengan ya, biar couplean tanggal mati kita."
"CAI!!" Gue langsung tersadar dari lamunan ketika mendengar Rery memanggil dengan nada tinggi pada gue.
Tanpa sadar momen gue dengan dia langsung terputar di otak layaknya film rool.
"Woyyy, lo denger gak sih yang gue tadi omongin?" Tanya Rery.
Gue memijat pelipis, "maaf, bisa lo ulangin, gue tadi gak dengar."
Rery menyengir, "dia tinggi kan Cai, padahal dia cewek juga," ucap Rery dengan nada bangga.
"Woahhh.. tinggi lo berapa Cai, tinggi gue 167, tapi saat berdiri dengan lo, gue hanya sebatas hidung lo"
Gue tertawa hambar, ada apa dengan hari ini, kenapa dalam satu hari banyak hal terjadi. Dari semua itu, cuma bagian dia yang gue kurang suka.
Namun saat mereka membahas dia didepan gue, entah kenapa gue gak sensitif berlebihan seperti sebelumnya.
Sejak kapan pikiran gue seanteng ini jika berhubungan dia?
Sudut bibir gue tertarik, "Kalo keluarga dia ngumpul, udah kayak kumpulan Titan keknya," ucap gue dengan nada meledek.
Disaat Rery dan Aby kembali berdebat, gue merenung. Ada apa ini, biasanya gue selalu mencoba mengganti topik jika Rery membahas dia.
Apakah ada yang berubah dalam diri gue?
"Nah kan, Cai aja mengakui, dia tinggi." Rery mengeluarkan lidahnya meledek Aby habis-habisan.
"Huh, awas lo nanti," ujar Aby sembari mengdengus.
Kalau dipikir-pikir lagi, gak banyak hal baru yang terjadi pada gue, hanya saja ada satu yang benar-benar mencolok.
Keberadaan Kalya di dalam hidup gue.
Tiba-tiba saja gue dapat ide tentang Kalya.
Gue segera menghubungi Kalya dan menempelkan hp ke telinga, menunggu Kalya mengangkat telpon.
Gue beranjak dari ranjang hingga membuat Aby dan Rery melirik.
"Kemana, Ai?" Tanya Aby.
"Toilet," singkat gue.