
Kalya Pov
Tap tap tap
Kepergian Aidan membuat pemikiran gue menjadi lebih fokus, seakan semua hal yang tadinya berputar mulai berpusat dikepala.
Semua orang bilang, apabila kita memiliki mental yang kuat, maka jika mereka berada disituasi seperti ini, mereka akan mudah melewatinya. Namun, pemikiran itu salah, tidak peduli sekuat apapun mental Lo, selemah apapun mental kalau mereka sadar telah melakukan kesalahan, ya pasti dia merasa bersalah.
Gue benci memiliki perasaan ini, jika gue sadar telah melakukan kesalahan dan itu pun disadarkan oleh orang lain bukannya gue, gue merasa kegiatan gue berikutnya tidak bisa gue kerjakan dengan senyuman.
Kalau sudah begini, biasanya gue akan mencoba mengelak agar gue terlihat tidak bersalah(gue tau gue salah, tapi gue tidak suka disadarkan oleh orang lain, cukup gue aja yang tahu).
"Kalya, satu hal yang gue gak suka dari Lo, playing victim Lo membuat orang lain merasa bersalah."
Begitulah ucapan Angga saat baru mengenal gue.
Tapi sekarang emang benar-benar telak gue salah, sehingga gue tidak bisa mengelak, tapi gue hanya mencoba terlihat sudah mengetahuinya agar gue tidak nampak bodoh.
"Sial!"
Satu fakta yang tidak bisa gue geser, karena gue, karena gue Binta dikucilkan.
Itulah pointnya.
Gue meraih hp gue yang ada diatas meja kemudian menekan lama angka 3 dan otomatis langsung melakukan panggilan kepada Binta.
Drhtt ... Drhtt ...
"Kalya, setelah gue mengangkat telpon Lo kemarin, sepertinya berikutnya Lo mulai menghubungi gue seperti ini," tanpa melihat ekspresi Binta pun gue tahu dia memasang wajah malasnya.
"Binta, gue ... Gue minta maaf karena telah membuat Lo dikucilkan," gue menggigit kuku jari gue dengan perasaan tidak mengenakan.
Bagaimana kalau Binta tidak mau berteman dengan gue setelah gue ceritakan semuanya.
"Kapan itu terjadi, Lo tau kan keadaan gue sekarang jadi gue melupakannya."
Gue memejamkan mata, ini benar-benar aneh ketika gue minta maaf pada orang yang melupakan semuanya, "waktu SMP," balas gue.
"Ahh ... Yang itu, beberapa bulan yang lalu gue bertemu dengan salah satu teman geng kita. Haha ... Ternyata dulu kita norak ya pakai geng-geng segala, oke sorry gue akan fokus pada satu topik. Ya pokoknya dia menceritakan kenapa gue dikucilkan dan sebagainya, tapi gue tidak menghiraukannya karena itu sudah berlalu, lagipun gue tidak masalah tidak berteman dengan para teman-teman kita yang SMP, mereka norak semua, mereka berada di usia sama dengan gue namun otak mereka seakan ngestuck diusia mereka SMP."
Wah ... Ternyata tidak hanya gue yang berpikir begitu, Binta juga.
"Apapun itu dimasa lalu, gue sama sekali tidak mempermasalahkannya. Lo juga jangan merasa bersalah, karena gue malah bersyukur tidak berhubungan dengan mereka, bayangin gue gabung dengan geng mereka sampe sekarang, mungkin otak gue kek mereka."
Syukurlah, ternyata Binta tidak marah. Ditelpon yang kami lakukan ini tidak hanya membuat gue lega, tapi juga membuat gue tahu, mau bagaimanapun gue dimasa lalu Binta tidak akan meninggalkan gue.
"Terima kasih, Binta, dari tadi gue benar-benar tidak tenang, tapi sekarang gue sudah mendingan."
"No problem, next time kalau Lo pengen mengobrol dengan gue, gue harap Lo melakukannya hanya sekali dalam satu bulan, karena waktu gue padat dengan semua pelajaran yang gue dapatkan. Satu lagi, chat dulu sebelum telpon."
"Iya iya, cerewet," ucap gue sembari tertawa kecil.
Didetik kemudian gue mematikan telpon.
Jadwal padat karena pembelajaran, gue benar-benar pensaran pembelajaran apa yang didapatkan Binta sehingga untuk sekedar mengangkat telpon aja susah.
"Wajar saja, dia melupakan semua yang dia pelajari dari selama 6 tahun terakhir, jadi dia harus mengulang lagi."
_
Gue bersyukur, karena orang yang gue hadapi adalah Binta, tidak peduli dulu maupun sekarang Binta selalu menaruh dirinya seakan berada disisi gue.
"Apapun itu dimasa lalu, gue sama sekali tidak mempermasalahkannya. Lo juga jangan merasa bersalah, karena gue malah bersyukur tidak berhubungan dengan mereka, bayangin gue gabung dengan geng mereka sampe sekarang, mungkin otak gue kek mereka."
Terima kasih Binta, setidaknya gue tidak menyakiti Lo yang sekarang.
Dengan langkah pelan, gue berjalan mendekati Aidan dan bersiap untuk mengagetkan dia. Namun rencana gue pupus ketika Aidan terlebih dahulu menyadari kehadiran gue dan berbalik.
Dia memegang daun telinganya, "sudah selesai?" Tanya dia.
"Selesai, sekarang gue baik-baik saja," balas gue sembari menyatukan kedua tangan pada belakang tubuh gue.
"Lo mau pulang kan, biar gue antar," ucap Aidan sembari melihat kearah langit dan tidak ada tanda-tanda hujan mereda.
"Tapi gue mager, Bunglon. Mana hujan pula," ucap gue dengan muka memelas.
Dari tadi gue sudah berlari-lari dibuatnya, bahkan gue juga ikut masuk ambulan mengantarkan Rery kerumah sakit bersama Aidan.
Banyak kegiatan yang membuat gue harus mengeluarkan energi lebih dari batas gue.
"Mau gue gendong?"
"KUYYYYYY!!"
Aidan berjongkok, sedangkan gue menaiki punggungnya dan memeluk lehernya. Dirasa sudah erat, Aidan berdiri dengan kedua tangan memegang erat kedua kaki gue.
"Btw, hujannya makin deras ya, bagaimana kita lewat?" Tanya Aidan bingung.
Gue ngeluarin sesuatu dari kantong hoodie, "noh payung."
"Kapan lo bawa payung, perasaan tadi lo gak bawa dah."
"Gue kan punya kantong dora the expoler."
"Salah server, Bego."
"Haha ... Gue membelinya tadi."
***
Saat halte sudah terlihat, "eh halte tuh."
"Gue juga lihat kali"
Beberapa menit kemudian akhirnya kami sampai di halte. Dengan perlahan Aidan menurunkan gue dari punggungnya.
Gue gak makan banyak kan tadi? Mendadak gue khawatir Aidan sakit punggung karena menggendong gue. Tapi dari pundak Aidan yang lebar ini, dia terlihat bugar.
"Makasih ya Lon, udah nganterin," ucap gue sembari menunggu Aidan berdiri setelah menurunkan gue.
Dia berdiri kemudian meregangkan badannya, heiii ... Gue tidak seberat itu kan?
"Ya," balas Aidan kemudian mengeluarkan hpnya dan mengetik sesuatu disana.
Sekilas gue melihat layar hp Aidan kemudian mengalihkan pandangan.
Dari pandangan gue tadi terlihat foto Rery dengan cengirannya, sepertinya dia selamat dari amukan para wanita-wanitanya.
Melihat kursi halte yang nganggur, gue berjalan kesana kemudian duduk, dingin ngilu meraba pantat gue ketika duduk disana.
Kursi besi, maklum aja.
Gue memejamkan mata dan mencoba menetralkan diri gue ditengah suara titisan hujan dan suhu dingin yang menerpa gue. Sesekali gue menggoyang-goyangkan kakinya yang tidak bisa mencapai lantai Karena kaki gue yang pendek.
Dirasa ada orang yang duduk disamping gue dengan jarak satu meter membuat gue membuka mata dan melihat wujud orang itu.
Ternyata Aidan, "Btw Bunglon, lo ikut pulang juga?" Tanya gue setelah Aidan selesai dengan hpnya.
"Nggak, gue harus ke rumah sakit lagi, kasihan Rery soalnya, sudah jatuh ketimpa tangga pula," benar, udah kecelakaan, kecyduk pula kalo dia selingkuh oleh keluarga besarnya.
Kasihan.
"Terus, kenapa lo masih disini?" Tanya gue lagi.
"Gue hanya nemenin elo sampai bis nya datang, kalo ada orang jahat nusuk lo, yang ada gue orang pertama yang bakal di interogasi" kepikiran aja Lo.
"Owhhh oke" angguk gue sembari ngeluarin hp.
Binta mengirim chat dan ternyata itu berisikan link yutub.
Binta Suaminya gepeng
Binta Suaminya gepeng: [ini lagu yang sering gue dengar saat ini, mana tau Lo mau denger.]
Seperti perkataannya ditelpon tadi, meskipun dia akan sangat lambat membalas chat, tapi dia akan ngabari apa yang sedang dia lakukan.
"Hah ... Tau Lo akan menghubungi gue setelah beberapa hari yang lalu gue angkat telpon Lo, gue gak angkat aja."
Mendengar suara Binta yang kesal membuat gue tertawa kecil saat mengingatnya.
Kak Samuel benar-benar membuat Binta seperti dulu lagi.
"Lo gak kesurupan kan ketawa-ketawa sendiri?" Gue yang tadinya tertawa langsung berhenti.
Gue baru ingat Aidan masih berada disamping gue. Pertama yang gue lakukan adalah menghidupkan lagu yang di kirim Binta kemudian menoleh kearah Aidan.
"Kenapa? Aneh? Gue emang aneh makanya jangan dekat-dekat nanti ikut aneh juga Lo," balas gue sembari memicingkan mata kearah Aidan.
Aidan yang tadinya melirik gue segera membuang muka kemudian menoleh kembali kearah gue.
"Pembicaraan kita yang sebelumnya belum selesai," Aidan memgacak-acak rambut depannya frustasi.
"Yang mana?"
"Sebelum Rery kecelakaan."
Wajah gue langsung membeku, gue masih berhutang minta maaf pada Aidan. Gue awalnya sudah memutuskan akan minta maaf tapi karena Rery, kami jadi sibuk membawa Rery kerumah sakit.
"Yang itu toh, bagaimana ya gue memulainya," gumam gue sembari menggaruk leher belakang gue, "begini saja, gue minta maaf, pasti Lo kaget saat bangun dari tidur tiba-tiba wajah gue berada didepan Lo-"
"Bukannya seharusnya gue ya yang minta maaf?" Potong Aidan sembari beranjak dari kursi.
Karena dia yang berdiri dan gue masih duduk di kursi, gue jadi mendongak saat menatap mata Aidan.
"Ngapain Lo minta maaf, ini murni kesalahan gue dan posisi Lo sedang tidur, oke. Jadi karena itulah gue minta maaf, gue melihat diwajah Lo ada bintik hitam didekat..."
Lama kelamaan suara gue mengecil saat melihat wajah Aidan, itu bukan debu atau sebagainya, ternyata tahi lalat.
Kapan itu ada disana?!
(Sejak lahir mbak)
"Tiba-tiba wajah Lo ada didepan gue?" Gumam Aidan sembari berpikir.
Gue meneguk Saliva susah payah dan memberi jarak antara kami dengan bergeser sedikit kearah berlawanan dengan Aidan.
Sepertinya yang gue bahas dengan yang dia bahas beda nih, lagian kok dia bingung sih pas gue minta maaf soal muka gue yang berada dekat dengannya.
Jangan bilang dia tidak tahu?
Tiba-tiba wajah Aidan yang bingung tadi langsung menatap kearah gue dan menampilkan seringainya.
Oke, gue dalam bahaya, seharusnya gue tidak membahasnya dari awal.
Gue segera menebar pandangan dan mata gue langsung bersinar saat melihat bus akhirnya datang.
"Heiii, busnya sudah datang," gue segera beranjak dari kursi dingin itu kemudian langsung menuju pintu bus tanpa menoleh kebelakang sedikit pun.
Malu malu malu gila malu banget gue simpan.
Dengan cepat gue duduk di kursi bus dan sedikitpun tidak melirik kearah Aidan, gue sudah terlanjur malu dibuatnya.
Bus yang bergetar mulai berjalan dan membuat badan gue sedikit bergoyang.
Gue gak bisa begini, dia menemani gue hingga bus tiba dan gue pergi begitu saja tanpa menatapnya.
Akhirnya gue menoleh kearahnya dengan ragu dan mata gue membulat.
Pemandangan Aidan yang masih berdiri sembari melambaikan tangannya, gue dibuat sedikit terkejut karena dia masih berada disana dan menunggu kepergian gue.
Senyumnya, gue baru tau dia bisa menciptakan senyum semanis itu.