
Permainan sambung kata masih berlanjut dalam bus itu. Namun satu orang sudah lolos ke alam mimpi, iyap Akira. Baru saja Ratara menyelesaikan gilirannya menyambung kata, kini semua orang menunggu giliran Akira yang hanya terdiam.
Ryan menoleh untuk memanggilnya, namun Akira menutup matanya dengan kepala menempel di jendela mobil bus.
"Guys Akira beneran ketiduran, kita lanjut aja tanpa dia ya! Selanjutnya langsung Dila yaa!" Ucap sang ketua kelas.
Tiba saja sebuah goncangan akibat jalan yang tidak rata membuat kepala gadis yang tertidur itu kembali terantuk, namunĀ tidak membangunkan-nya. Ratara kembali menoleh saat mendengar suara dentuman itu.
Bus kembali terguncang, sepertinya benjolan akan tumbuh di ubun-ubun Akira, namun kali ini sebuah tangan mencegahnya terjadi. Entah rahmat ilahi mana yang menimpanya, Ratara kini malah menggeser kepala Akira ke senderan belakang kursi nya agar tak terantuk jendela.
Namun sopir malah melakukan rem dadakan, tubuh Akira terhempas lalu kepalanya malah terjatuh ke bahu Ratara. Pemuda yang dijadikan bantal itupun menoleh ke arah gadis itu.
"Ni orang kebo atau apa? Kok nggak bangun-bangun sih?" Batin Ratara. Anehnya, pemuda tampan itu hanya diam saja tak melakukan apapun.
Setelah beberapa menit, permainan pun di akhiri, namun Ryan menyadari Akira sedang tertidur menyender pada Ratara.
"Kalo loe nggak nyaman, mau gantian tempat duduk sama gua?" Tanya Ryan pada pemuda di sampingnya itu.
"Kenapa?" Tanya Ratara.
"Yaa karna tanggung jawab gua sebagai ketua kelas, kalo loe nggak nyaman kita bisa gantian. Atau bisa bangunkan aja Akira nya!" Sahut Ryan.
"Biarin aja dia tidur! Lagian bentar lagi sampe juga!" Ucap Ratara.
...
Sesampainya di tempat tujuan, para remaja itu tampak tertib dan kompak mendengarkan ketua mereka. Mereka turun dari bus lalu mendengar arahan Ryan.
"Guys! Kalian bebas mau naik wahana apa aja, main apa aja, asal satu! Pastikan tetap hati-hati! Keselamatan yang utama ya!"
"Okeh pak ketua!" Sahut salah satu dari mereka.
"Oya! Nanti jam makan siang kita langsung kumpul di kantin ya! Gua akan pesen buat lapak kita biar kita bisa makan bareng, okey?" Umum Ryan lagi.
"Okey siap!" Sahut para remaja itu.
Usai breefing bersama ketua kelas, kini para remaja itu mulai mencari kesenangan masing-masing. Mereka mulai membentuk kelompok atau geng masing-masing, tak terkecuali Akira yang mengekor saja pada Erika.
"Aki, loe bisa berenang nggak?" Tanya Ryan yang tiba saja sudah berjalan masuk di samping Akira.
"Bisa sih, cuman nggak lihai!" Sahut Akira sembari melirik sekeliling yang dipenuhi wahana bermain air.
"Aki loe pengen naik yang mana nih?" Tanya Erika yang berdiri di samping lain Akira.
"Mmm... gua ikut loe aja deh!" Jawab Akira yang tidak bisa memutuskan.
"Yaudah! Sekarang kita ganti baju dulu yuk! Loe bawa baju ganti kan?" Ucap Erika dan Akira hanya mengangguk untuk pertanyaan si cantik.
...
Mereka mulai dengan turun ke kolam renang untuk pemanasan sebelum melakukan ritual terjun dari ketinggian. Percikan air membuat nyata liburan mereka telah dimulai. Sebuah ember yang menyiramkan air dari atas tempat khusus itu, membuat Akira dan Erika basah kuyup dan saling menertawakan karena tidak menduga akan basah secepat itu.
"Naik seluncuran yuk!" Ajak Erika sambil mendongak ke arah seluncuran dan mendapati beberapa rekan kelas mereka sedang mengantri.
"Panjang ya antriannya? Apa kita keliling aja dulu? Gimana Rik?" Saran Akira.
Seperti katanya, kedua gadis itu berkeliling dan menemukan banyak hal menarik. Akira tampak sangat menikmati liburannya kali ini. Tanpa sengaja mereka menemukan Ryan dan Ratara di salah satu tempat di sana.
"Ki, kita ke sana yuk! Ada Ryan sama Tara!" Ajak Erika.
Akira yang sebenarnya malas karena ada Ratara, namun tetap ikut setidaknya ada Ryan.
"Eh seger deh panas-panas gini ngemil es! Kalian mau es krim nggak?" Tanya Ryan begitu melihat kedua gadis itu dan kebetulan mereka di dekat tempat es krim.
"Boleh! Gua satu ya! Yang rasa coklat favorit gua!" Sahut Erika antusias sekaligus memberikan kode pada Ryan bahwa dirinya suka makanan coklat. Namun yang memperhatikan dan mendengarkan adalah Ratara.
"Mau gua beliin?" Tanya Ratara.
Erika melirik Ryan yang tak menanyakan lagi, lalu menjawab, "boleh deh! Beli buat Aki juga ya!" Gadis ini sedikit kehilangan rasa antusiasnya.
"Gua beli sendiri aja nanti!" Sahut Akira datar.
Namun, Ratara menuju tempat Es Krim dan memilih beberapa es krim dengan rasa coklat dalam beberapa varian. Tak lama pemuda itu kembali dengan kantunb plastik penuh es krim.
"Loh! Banyak banget kok loe belinya?" Tanya Erika dengan bola mata melebar.
"Gua nggak tau, merek apa yang paling loe suka, jadi beli semua aja yang penting coklat kan? Buat loe aja semua!" Ucap si paling act of money.
"Jangan semua buat gua juga! Nanti tinggal gusi doang gua kebanyakan es krim gigi gua bisa copot semua! Gua bagi-bagi aja ya!" Tanya Erika dan oknum yang ditanya menjawab dengan anggukan.
Erika menatap Ratara yang tampan dan perhatian itu seketika jantungnya berdebar namun tak bertahan lama.
"Ni buat loe Tara! Buat Ryan, dan Aki bestie gua!" Erika membagi-bagikan es krim bahkan ke teman kelas yang lain karena tak mungkin menghabiskan sebanyak itu sendirian.
Akira tampak lahap memakan es krim miliknya, saat Erika menghilang membagi-bagikan es krim. Sedangkan Akira tertinggal bersama kedua pemuda itu.
Tiba saja, ada anak kecil yang berlari tanpa melihat ke depan, dan Akira yang selalu was-was di manapun, gadis ini yakin anak itu akan menabrak pemuda ini.
"Ryan awas!" Ucap Akira sembari meraih dan menarik tangan Ryan agar berpindah tempat. Dengan cepat Ryan bergeser ke sisi lain Akira lalu berkata,
"Thanks ya Ki!" Pemuda tampam itu tersenyum ke arah Akira, begitupun Akira yang mengangguk dan membalas senyum itu. Kini posisi Akira berada di tengah, antara Ryan dan Ratara walau agak berjauhan.
Namun, tiba saja tubuh Akira terhempas ke arah sebaliknya akibat tarikan kuat. Seseorang menarik tangannya dan tubuhnya seolah terlempar ke peluk seorang pemuda tampan.
Akira mendongak lalu mendapati sosok yang tak asing baginya, "Tara?"
Dengan segera Akira melepaskan diri dan Ratara pun langsung melepas gadis itu usai keempat mata itu bertemu.
"Loe gimana sih? Nolongin orang tapi ceroboh!" ucap Ratara agak canggung. Bagaimana tidak, tadinya seorang anak lain yang berlari ugal-ugalan hampir menabrak Akira.
"Tara nolongin gua?" Batin Akira.
.
.
.
Tbc