
Pagi-pagi Akira berangkat lebih awal ke sekolah karena dirinya harus breafing lagi sebelum mengikuti pertandingan badminton hari ini. Tampak gadis dengan seragam olahraga dan memikul tas di punggungnya berjalan santai menuju halte bus.
"Teet teet!!" Suara klakson mobil yang mengejutkan gadis itu. Akira terperanjak semakin ke pinggir dan tangannya reflek memegang dada dan wajahnya mengekspresikan dirinya terkejut parah lalu menoleh ke sisi tengah jalan dan menemukan sebuah mobil berhenti di sampingnya.
Kaca jendela mobil terbuka dan ia mendapati seorang pria paruh baya yang rapi dengan setelan jas-nya.
"Nak! Mau ke sekolah kan? Mau ikut bareng saya sekalian?" Tanya Hendra dengan sikap ramahnya.
"Saya..." baru hendak menjawab dan merasa tidak enak, tiba-tiba muncul kepala Ratara dari belakang ayahnya itu membuat sekali lagi Akira terperanjak karena terkejut. Tentu kemunculan Ratara membuat dirinya tak hanya tidak enakan namun tidak nyaman.
"Saya..." Akira masih mengulur waktu untuk menjawab sembari memikirkan alasan untuk tidak ikut mereka. Dan sebuah cahaya penolong muncul di tengah krisis itu.
"Ryan sini! Sini!" Teriak Akira sembari melambai dan melompat. Sang ketua kelas penolong yang tanpa naskah muncul dengan motornya untuk berangkat sekolah juga.
"Pak, saya ikut Ryan aja ya! Terima kasih banyak atas tawarannya pak! Saya sangat menghargainya!" Ucap Akira dengan senyum lega dan alasan terbaik.
Ryan tiba dan menghentikan motornya, Akira langsung naik dan merekapun berangkat.
Di sisi lain, Ratara merasa tidak senang ayahnya ingin mengajak Akira bersama mereka tadi.
"Pah, ngapain ajak dia sih tadi?" Tanya Akira sembari mobil itu kembali melaju dan melewati motor Ryan di jalanan itu.
"Papah ke-ingat Tari adik kamu, tiap lihat anak itu papah ngerasa dia mirip Tari!" Sahut Hendra.
"Pah, dia sama sekali nggak mirip Tari! Erika lebih mirip Tari pah! Dia cantik, baik, lemah lembut, beda banget sama Akira!" Sahut Ratara.
"Ohya? Lain kali papah harus traktir teman kelas Tara lagi, biar papah bisa lihat Tari versi Erika!" Sahut Hendra.
"Kenapa papah harus ngajak semuanya? Papah bisa ajak Erika aja bareng aku!"
.
.
...
Sekolah sudah ramai pagi ini, pemain dan penonton sudah banyak yang standby di tempat mereka. Erika yang ingin men-support temannya sudah setia di pinggir lapangan. Selain itu ia juga mencari kesempatan untuk menatap Ryan yang tampil cool dengan segala kesibukannya.
Ratara pun muncul menuju lapangan badminton, satu-satunya tujuan pemuda itu adalah bersama Erika. Namun tiba saja perhatiannya teralih ke arah Akira yang baru sampai di sekolah dengan berlari ke arah lapangan juga.
"Loh! Tadi kan Akira berangkat bareng Ryan, kok bisa Ryan duluan sampe, harusnya kan barengan!" Batin Ratara yang memantau dari jauh.
Begitu tiba, Akira langsung bertemu Ryan.
"Sorry gua telat! Gua harus ke mana sekarang?" Tanya Akira dengan nafas terengah.
"Sini tas loe! Ke sana gih!" Sahut Ryan sambil mengambil tas Akira lalu menunjuk sekumpulan siswa yang berkumpul mendengar arahan wasit. Dan Akira pun langsung berlari ke sana.
Erika mendapat kesempatannya, gadis itu menghampiri Ryan lalu berkata, "Ryan! Biar gua aja yang nyimpan tas nya Akira! Loe pasti sibuk kan?"
"Ah Erika! Loe pengertian banget!" Ucap Ryan lalu memberika tas itu dan Erika mengambilnya.
"Oya Erik, gimana persiapan lomba hiburan loe? Semua lancar?" Tanya Ryan dengan ramah.
"Iya lancar kok! Tapi lebih seru lagi kalo loe juga ikutan sih hehe!" Erika memamerkan senyum berliannya.
"Gua pengen ikut juga, tapi nggak adil dong! Gua gak akan sempat latihan juga hehe!" Balas Ryan.
Tiba saja ada seseorang yang memanggil Si paling sibuk Ryan. "Gua pergi dulu ya!" Ucap Ryan dengan senyum tampannya.
Setelah Ryan pergi, Ratara mendekati Erika.
"Huh?" Erika masih nge-lag.
"Tas nya biar gua aja yang bawain!" Ratara langsung mengambil tas Akira dan memakainya di tangan kirinya.
...
Setelah para pemain pertama untuk babak pertama mendominasi permainan badminton dengan sengit. Permainan kedua pun dilanjutkan. Kali ini Akira mendapat gilirannya melawan penantang yang non atlet juga untuk babak ini.
Di pinggir lapangan Erika berteriak histeris menyemangati temannya itu. Dan Ratara yang menatap seorang Erika yang ceria itu.
Akira tampak gugup dan serius. Bagaimana pun ini adalah pertandingan resmi pertamanya. Biasanya ia hanya bermain melawan Erika ataupun Ryan.
Keseriusan yang dilengkapi karisma, seolah apa yang ia lakukan memang cocok untuknya. Begitulah tampilan Akira memainkan permainan badminton yang membuat semua orang fokus pada setiap pukulan dan kock yang melambung. Pertandingan sengit dan panas kembali mendominasi.
Tanpa sadar, Ratara pun ikut fokus dan dalam hatinya mendukung Akira agar menang. Pesona Akira membuat banyak yang mengira dirinya memang seorang atlet namun tidak atletis.
Permainan pertama berhasil di menangi Akira dengan segala upaya dan kerja keras, kini tinggal skor Akhir di permainan kedua untuk menentukan siapa yang memenangi babak pertama agar bisa kembali bertanding di babak selanjutnya.
"Kakinya!" Kata Ratara yang tidak jelas namun terdengar oleh Erika.
"Huh?" Erika merespon dan melirik Ratara.
"Bolanya!" Ratara mendapati kock badminton yang mengarah ke arah penonton akibat pukulan kuat dari pemain lawan Akira untuk menentukan poin terakhir yang seri.
Pemuda itu dengan sigap menggunakan tas Akira untuk menghalau kock yang terbang tepat ke arah Erika. Semua pandangan menuju ke arah mereka. Aksi heroik Ratara membuat pemuda itu semakin bersinar.
Tak hanya itu, kini pemuda tampan itu berhasil membuat jantung Erika berdetak kencang saat gadis itu mendongak saling tatap dengan Ratara.
"Loe nggak apa kan?" Tanya Ratara membuat dirinya semakin keren di mata Erika.
"Babak ini di menangi oleh Kelas Xi Mia 2! Selamat Akira masuk ke babak selanjutnya!" Pengumuman dari sang wasit membuat Akira melompat kegirangan.
Akira langsung berlari menuju ke arah Erika.
"Akiiiiiii... selamat!!!" Ucap Erika lalu langsung memeluk Akira dan saling melompat gembira.
"Loe nggak apa kan tadi? Bola nya nggak kena kan? Nggak ada yang lecet kan?" Tanya Akira yang tampak khawatir.
"Iya gua okey kok! Untung ada Tara!" Sahut Erika sambil tersenyum.
"Nih atlet kita minum dulu!" Ryan tiba saja sudah berada di sana bersama rekan sekelasnya yang lain sambil menyerahkan minuman untuk Akira.
"Thanks ya!" Akira meraih botol itu lalu meminumnya dengan lahap.
"Babak berikutnya, loe harus pastiin serangan lawan dan perkuat pertahanan!" Ucap Ryan menjelaskan dan Akira hanya mengangguk.
Di sisi lain, entah bagaimana fokus sorot mata Ratara saat ini mengarah pada Akira. Pertama kali, ia melihat seorang Akira yang serius dan tampak berbeda dari biasanya. Sorot mata gadis itu tampak nyata dan bersemangat, tidak seperti hari-hari di mana bola matanya hanya menjelaskan kekosongan dalam dirinya.
"Kenapa gua merasa dia memang mirip Tari?" Batin Ratara.
.
.
.
Tbc