FIGURAN

FIGURAN
Tuan Putri



"Siapa orang yang Erika suka?" Pertanyaan pemuda itu berhasil membuat kedua kelopak mata Akira melebar.


"Huh?" Gadis itu bingung.


"Jawab! Siapa yang sebenarnya Erika suka?" Bentak Ratara.


"Gua nggak tau!" Jawab Akira yang ketakutan karena di bentak dengan kedua tangannya berusaha melindungi wajahnya.


"Oh! Jadi loe mau main-main sama gua? Lihat aja gua bakal rebut hati Erika dari siapapun itu! Dan nggak akan biarin loe berhasil deketin orang itu ke Erika!"


"Maksud loe apa sih?" Kini Akira berdiri tegak menatap pemuda itu karena merasa tak adil dirinya dituduh sembarangan. Bertolak belakang dengan pernyataan Ratara, orang yang sebenarnya dibantu Akira agar dekat dengan Erika malah Ratara sendiri.


"Gua tau dari awal loe munafik!" Kalimat menyakitkan lainnya kembali terdengar dari balik bibir pemuda itu.


"Gua nggak munafik! Satu-satunya orang yang gua bantu itu cuma loe! Sadar diri dikit dong! Hanya karna loe berkuasa loe bisa semena-mena sama gua? Loe pikir gua se-gabut itu jodoh-jodohin orang?" Akira dengan pembelaannya.


"Munafik loe! Gua tau tiap hari loe pakek topeng senyum palsu, supaya apa? Orang-orang tertarik sama loe? Loe sok ceria pun orang-orang nggak peduli sama loe! Dasar menyedihkan!" Lagi-lagi kalimat tajam Ratara seakan lemparan tepat menyakiti bagian dalam lukanya.


Akira sangat menahan dirinya, cairan bening yang tanpa sadar membendung di kedua ujung matanya. Gadis itu hanya menatap pemuda berjarak 30 cm darinya itu. Tatap itu menjelaskan betapa gadis itu sangat terluka dengan perkataan Ratara.


Ratara yang juga menyorot gadis itu, entah bagaimana ia melihat kesungguhan dari tatapan lawannya itu. Hal itu pula yang membuatnya melepaskan tangannya dari dinding itu sehingga Akira bisa pergi.


Gadis itu langsung pergi dengan tatap kosong, namun sayangnya ia malah berakhir ketinggalan bus. Kini ia harus menunggu transportasi umum lain agar bisa pulang.


Berbeda dengan si pemuda kaya yang hanya tinggal menaiki mobil jemputan. Dari dalam mobilnya, Ratara melirik Akira yang duduk dengan tatap kosong di halte itu, lalu gadis itu menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


***


Pagi minggu, Akira sudah mencuci bajunya, mencuci piring, menyapu halaman rumah dan terakhir masuk ke kamarnya. Agak siang, gadis itu mengambil hp-nya lalu pergi dengan tampilan hoodie oversize dan celana training, serta tak lupa topi hitam dan kacamata hitam ditambah sandal jepit.


Tujuan gadis itu tak lain hanyalah taman di lingkungan itu. Tempat terdekat dan ternyaman untuk menyendiri. Bagaimana tidak, sejak kemarin setelah Ratara membentaknya, gadis itu bahkan belum tersenyum sedetikpun. Seakan kehilangan kebahagiaannya.


"Gua memang menyedihkan!" Batinnya yang terus overthinking dan tidak bisa keluar dari sana.


...


Di sisi lain, Ratara sudah membuat janji dengan Erika untuk bertemu dengan alasan tugas kelompok. Kedua remaja itu bertemu di sebuah Kafe shop dan menempati salah satu meja di sana.


"Loe pesan aja apapun yang loe suka Erika!" Ucap Ratara si tampan.


"Gua apa aja deh, samaan sama loe aja!" Sahut Erika yang melirik sekelilingnya.


Setelah memesan, beberapa menit kemudian makanan tiba. Erika merasa ada yang salah, lalu berkata,


"Oya yang lain kok belum datang ya? Kapan bisa kita mulai bahas tugasnya kalo gini!"


"Mereka nggak akan datang!" Sahut Ratara santai lalu menyeruput minumannya.


"Huh? Kenapa?" Aktivitas makan gadis itu terhenti.


"Yah sebenarnya gua larang mereka datang karena gua pengen makan berdua aja sama loe! Boleh kan?" Sahut Ratara.


"Tapi kenapa?" Gadis itu terlihat bingung.


"Loe nggak suka sama gua?" Pertanyaan random itu berhasil membuat pipi Erika merona.


"Santai aja, gua cuma bercanda kok!" Pemuda itu melempar senyumnya, lalu melanjutkan katanya, "gua bakal pelan-pelan kok, jadi loe nggak usah khawatir ya!"


"Apanya?" Tanya Erika.


"Ngerebut hati loe!" Lagi-lagi Ratara memamerkan senyum tampan itu. Erika ikut tersenyum saat mendengar kalimat singkat yang terdengar menggoda itu.


"Selamat makan! Kalo ada yang loe pengen lagi, silahkan pesan aja ya tuan putri!" Ratara memperjelas kehadirannya. Dan ia berhasil membuat Erika tersenyum lebar.


"Oya Erika, makanan favorit loe, warna favorit, boneka favorit dan apapun itu kasih tau gua aja apapun yang loe pengen, gua bakal kabulin apa aja buat loe!" pemuda itu sangat pandai memanfaatkan moment yang ia miliki.


"Tara loe mending habisin dulu deh makanan loe!" sahut Erika sambil tersenyum.


"Okey, baik tuan Putri!" sahut pemuda itu lalu kembali tersenyum.


Selesai dengan makanan mereka dan banyak mengobrol dengan Erika tampaknya Ratara menang banyak kali ini. Usai makan, pemuda itu mengajak si cantik ke bioskop untuk menonton film terbaru, namun sayangnya Erika menolak dengan alasan ada acara keluarga nanti sore. Sehingga ia harus pulang saat ini.


"Lain kali aja ya!" Kata Erika. Dan tentu saja Ratara menurut apalagi permintaan calon pacar masa depannya.


"Kalo gitu gua anterin loe pulang ya! Ini udah mulai mendung juga" Kata Ratara.


"Boleh deh!" Sahut Erika lalu tersenyum.


Usai mengantar Erika ke rumahnya dengan mobilnya yang tentu saja dikendarai sopir pribadinya, Ratara memilih pulang juga karena cuaca yang sudah mulai turun rintik hujan. Semakin lama di perjalanan pulang, intensitas hujan pun semakin naik.


...


Di sisi lain, Akira yang suasana hatinya sendu itu hanya menarik tudung hoodie untuk menutupi kepalanya di atas topi itu. Tangisan langit itu seolah melengkapi ruang penuh luka itu.


"Apa gua pulang aja? Tapi nanggung gua udah basah juga!" Batin Akira. Gadis itu duduk diam sejak ia tiba hingga saat ini, di kursi panjang di bawah pohon biasa ia tempati.


Tetes bening lolos tanpa pengawasan dari balik kaca mata hitam itu. Pada akhirnya Akira melepas tangisnya di bawah hujan itu dengan dalih air hujan untuk menutupi cairan asin yang mengalir di pipinya. Kernyitan dahi serta alis yang tertaut begitupun bibirnya mengikuti, bagaimana ia menangis namun tetap menahan suaranya dengan menyiksa diri menagis dalam diam.


Tiba saja atap berupa payung berada di atas kepala gadis itu, membuat Akira mendongak menemukan seorang pemuda yang berdiri di depannya dengan payung di tangannya.


"Terkadang fakta selalu lebih menyakitkan saat menampakkan diri." Batin Akira.


Bagaimana tidak, pemuda yang memayungi gadis itu adalah orang yang sama dengan yang menoreh luka itu.


"Eh pengemis! Loe ngapain hujan-hujanan di sini?" Pertanyaan dengan panggilan tak asing itu.


"Kenapa harus Ratara?" Batin Akira yang pada akhirnya kehilangan kontrolnya. Gadis itu menagis dengan keras mengeluarkan suara yang sedari tadi ia pendam.


"Kenapa dunia jahat banget sama guaaa..huhu...!" Akira masih menagis dengan keras.


.


.


.


Tbc