
Bus sudah terparkir rapi di depan sekolah, karena sekolah merupakan tempat pertengahan agar semua jarak rumah adil. Beberapa di antaranya sedang memasukkan barang mereka ke dalam mobil jumbo itu. Di sisi lain ada beberapa dari mereka yang masih dalam perjalanan.
Pagi indah bersama cuaca cerah yang cocok untuk berlibur, secara ajaib semua siswa kelas itu ikut hadir untuk menikmati masa muda mereka.
"Ryan mana Erik? Kata loe, ketua kelas kita ikut juga!" Ucap Ayna sambil melirik sekitar dan mendapati Akira yang baru tiba.
"Nggak pas masuk kelas, pas liburan loe juga telat ya Ki!" Ucap Ayna pada Akira.
"Syukurlah loe paham kondisi gua!" Sahut Akira dengan raut wajah senyum paksa yang ia sengaja agar Ayna kesal.
Erika tersenyum lalu bertanya, "Ryan mana?"
"Sebenarnya Ryan..." kini Akira memasang wajah serius.
"Jangan bilang Ryan nggak ikut!" Sahut Ayna lagi.
"Nih Ryan bareng gua!" Sahut Ratara yang baru tiba bersama Ryan. Dan oknum yang dicari itupun hanya melambai dalam senyumnya.
...
Dua hari yang lalu
Permainan badminton berlangsung sengit, di mana Ryan masih memimpin skor saat bertanding untuk taruhannya bersama Erika dan Akira. Namun, tim gadis itu juga tidak tertinggal terlalu jauh.
Permainan sudah berlangsung selama 15 dengan pertahanan luar biasa. Tatap Ryan seketika berubah yang tadinya sangat serius. Ujung bibirnya dengan nakal naik dengan pandangan lurus ke arah kedua gadis itu.
"Poin bertambah untuk Ryan! Skor saat ini 19:16!" Seru sang wasit tampan, iyap Ratara.
"Apa nih? Kayaknya gua bisa santai nggak perlu ikut (liburan)!" Bahkan kata-kata pemuda itu terdengar nakal.
"Yaudah loe nggak perlu pergi kalo loe mau! Tapi ini tentang harga ini, gua nggak boleh kalah dari loe!" Ucap Akira yang sangat serius.
Erika hanya tersenyum lalu mengangguk bersama rekan tim nya. Namun skor-nya berhasil dikejar oleh tim para gadis. Entah bagaimana kini skor ada di angka 19:19. Kegembiraan jelas tergambar di wajah kedua gadis itu saat berhasil mencetak angka.
Dan memang benar Ryan masih tak tinggal diam untuk mengambil angka berikutnya menjadi 20:19. Dan tim para gadis kembali mengejar hingga saat ini hanya tersisa poin terakhir yang menentukan pemenangnya. Suasana lapangan pun menjadi lebih tegang. Bahkan angin yang berhembus pun terdengar bunyi-nya.
Perlawanan sengit kembali bertumpu, namun kali ini Ryan sangat berhati-hati pada pukulannya. Bukan karena ingin menang, namun ia ingin memberikan momentum yang tepat dan benar untuk dikalahkan tanpa diketahui lawan bahwa sebenarnya ia mengalah. Dan tentu saja kegembiraan melanda saat kedua gadis itu berhasil menang.
Dengan girang, dua remaja itu melompat-lompat, bahkan mengajak Ratara untuk ikut ceremony bersama dengan membuat lingkaran dan melompat. Di sisi lain, ada pemuda yang tersenyum bangga dan ikut bahagia dengan apa yang terjadi.
Akira, gadis itu masih menjaga jarak dari Ratara, walau melakukan Ceremony singkat itu, namun Akira dengan segera melepasnya saat dirasa usai. Ia melakukannya hanya untuk menghargai perasaan Erika agar tidak sedih.
Dan fakta lainnya, bahwa Ratara mengetahui trik Ryan yang sengaja kalah.
"Ryan selalu berhasil mengambil hati siapapun dengan mudah, bahkan kali ini satu pukulan meleset untuk membuat lawannya bahagia! Kalo gini terus gua bisa kalah!" Batin Ratara.
..
Kembali ke masa kini
Semua orang sudah duduk di dalam bus, tak terkecuali sopir yang mengendarainya. Entah bagaimana Akira mendapat tempat duduk belakang bersama Ryan dan Ratara dan Ravi, mereka adalah orang-orang yang datang terlambat dari pada yang lain. Dan Akira bersebelahan dengan Ratara walau keduanya enggan, karena Ryan yang mengatur farmasi duduk agar adil. Dan Ryan duduk di samping Ratara dan Ravi.
"Ini urutannya sesuai siapa yang duluan datang! Semua setuju kan?" Tegas sang ketua kelas itu.
"Iya!" Sahut para remaja itu.
...
Bus berangkat dengan damai. Namun terasa agak sepi karena diam saja. Tiba saja seseorang dari mereka mengajukan untuk memain permainan. Dengan begitu mereka juga bisa membuat kenangan lainnya di dalam bus.
"Ide bagus tuh din!" Sahut Ravi yang antusias.
"Truh or dare aja! Tapi nentuinnya dengan cara permainan sambung kata, tapi syarat sambung katanya harus masuk akal, dan tiap pemain wajib mengulang kalimat dari awal gimana? Hukumannya bisa pilih mau truh or dare!" Ide berlian dari Ravi si paling antusias.
"Semua setuju nih?" Tanya Ayna.
Akira mengangkat tangan di sudut mobil, namun hampir tidak terlihat karena ketutupan kursi di depannya.
"Tuh ada yang angkat tangan, siapa? Oh Aki! Apa Aki?" Tanya remaja yang duduk di depan.
"Gua nggak ikut ya! Gua ngantuk mau tidur bentar!" Sahut Akira.
"Gak boleh dong! Harus ikut semua biar seru!" Sahut Ravi lagi.
"Tapi gua ngantuk beneran loh!" Ucap Aikira lagi.
"Nggak ada alesan! Loe harus ikut!" Teman-teman yang lain memaksa hingga gadis itu hanya bisa pasrah.
Walau giliran Akira lama karena di mulai dari bangku depan, babak pertama Akira lolos dan beberapa teman lain ada yang sudah mendapat hukuman. Permainan terus berlanjut, namun kantuk Akira tak tertahankan. Hal tersebut di karenakan semalam gadis itu tidak bisa tidur tenang karena terlalu exited. Bagaimanapun ini adalah liburan pertamanya dengan teman sekolahnya.
Setelah lolos putaran permainan yang kedua, putaran ketiga Akira tidak bisa fokus lagi. Kali ini Erika membuat kesalahan.
"Okeh! Mau pilih truh or dare Erika?" Tanya Ryan sebagai sang pemimpin permainan.
"Kalo dare agak takut gua, karna otak kalian di luar nalar semua! Gua pilih truth aja deh!" Sahut si cantik Erika.
"Biar gua yang nanya sama Erika! Gua penasaran banget, kan yang suka dan ngejar-ngejar loe banyak tuh kan rik, sebenarnya yang loe suka ada di sini nggak sih?" Ayna berhasil membuat pertanyaan brilian, di mana semua orang penasaran akan hal yang sama.
"Mmm...boleh gua ganti jadi dare aja nggak sih? Hahah!" Sahut Erika yang malu-malu menjawab pertanyaan rumit itu.
"Nggak boleh dong! Loe harus jawab! Ada atau nggak?" Sahut Dila yang duduk di sebelah Erika. Dan bus tiba saja hening, perhatian semua orang menunggu jawaban Erika.
"Ada!" Kata Erika yang sukses membuat semua orang histeris. Begitupun Ratara dan Ryan yang menatap gadis itu ikut tersenyum.
Di sisi lain, Akira yang sudah hampir tertidur malah terantuk dengan jendela bus karena terkejut akibat kegaduhan yang baru saja timbul. Pemuda di sisi Akira menoleh ke sisi gadis itu, bagaimanapun suara ter-antuk itu jernih di telinganya. Ratara melirik Akira yang mengernyitkan dahi dan mengelus-elus kan kepalanya.
Gadis dengan topi itu membuka paksa matanya lebar untuk melanjutkan permainan. Namun kali ini ia gagal menjawab dan memilih truth dengan santai.
"Aki, gimana sih cara loe bisa deket sama trio populer di kelas kita?" Tanya Laili.
"Oh iya! Yang itu gua juga penasaran!" Sahut Ayna.
"Trio? Jujurly gua cuman deket sama duo aja sih! Alasannya simpel! Karna gua sebangku sama Erika dan Ryan ... " kalimat Akira terhenti sebentar.
Ryan menoleh ke arah Akira menunggu jawaban jujur, dan Ratara juga menunggu jawaban walau terlihat tak acuh.
"Ryan teman satu SD!" Fakta baru membuat semua orang syok termasuk Erika.
"Tapi gua sama Ryan nggak sedekat yang kalian kira kok! Hanya saling kenal aja? Iya kan Ryan?" Akira mengoper pertanyaannya ke arah Ryan, kini orang-orang menunggu jawaban Ryan.
"Karna bukan jatah gua yang salah, gua nggak perlu jawab kan?" Senyum nakal itu membuat semua orang tertawa, namun hanya satu orang yang menyadari ada hal yang disembunyikan Ryan.
"Kenapa nggak loe jawab aja?" Batin orang itu.
.
.
.
Tbc