FIGURAN

FIGURAN
Si Paling Effort



Cahaya matahari yang merambat melalui jendela membangunkan Akira yang tadinya sempat tertidur di bangkunya. Entah bagaimana kali ini gadis itu datang awal hingga sendirian di kelas. Tak lama Erika datang lalu bergegas berlari ke arah teman sebangkunya.


Begitu duduk di bangkunya, gadis cantik yang bersinar itu langsung mendapati perhatian temannya.


"Kira! Gua seneng banget tau!" Ucap si cantik dengan senyum cerahnya.


"Karna kemaren loe piknik bareng Ryan?" Kalimat pertanyaan yang keluar dari balik bibir gadis berambut pendek itu dengan kedua ujung bibir itu naik.


"Iyaaa! Loe tau aja sih! Sumpah gua nggak nyangka dia bakal ngajak gua duluan buat ngerencanain piknik itu!" Gadis dengan rambut blonde panjang yang terurai itu tampak bersemangat. Namun tak sampai 5 detik setelahnya gadis ini merengut.


"Tapi kira-kira Ryan suka nggak ya sama gua? Menurut loe gimana Ki?" Kalimat tanya dari Erika.


"Hmmm... siapa sih yang nggak suka sama loe? Gua rasa Ryan juga bisa aja suka sama loe, tapi gua nggak tau juga, kan gua nggak bisa dengar suara hati orang lain!" Sahut Akira yang kerap berfikir realistis.


"Iya juga sih!"


"Coba loe nembak dia duluan aja gimana?" Ide tak terduga dari Akira.


"Apaan sih loe? Masak cewe nembak duluan? Kan biasanya cowo!" Erika merasa tak mungkin melakukannya.


"Dunia udah kebalik kali! Sekarang banyak cewe yang effort dan nembak duluan!" Sahut Akira.


"Kebanyakan nonton drakor loe! Di dunia nyata nggak akan semudah itu, kan loe tau gua juga introvert sama kayak loe!" Sambung Erika.


Seseorang memasuki kelas yang membuat kedua remaja tadi menghentikan pembahasan mereka. Begitupun kelas di masuki satu persatu siswa, hingga tibalah sang bintang utama yang begitu masuk lalu menuju meja Erika dan meletakkan kemasan susu coklat di meja gadis itu.


Tentu Erika menoleh mencari si pemilik susu, pemuda itu langsung menuju mejanya dan duduk lalu ia berpangku tangan menopang kepalanya dan menatap Erika. Eye contact antara si cantik dan si tampan membuat si cantik salah tingkah lalu mengalihkan pandangannya dan senyum-senyum sendiri ke arah Akira.


"Aki, menurut loe si Tara kenapa sih? Kok baik banget sama gua? Tau aja gua suka susu coklat!" Ucap Erika yang agak tersipu.


"Yaiyalah dia tau susu coklat, gua yang kasih tau!" Batin Akira.


"Gua bilang juga apa? Siapa yang nggak suka sama loe? Semua suka sama loe!" Sahut Akira lalu tersenyum.


"Eh tapi kalo dilihatin gitu, Tara ganteng juga ya!" Sambung Erika.


"Iya ganteng! Ganteng banget hehe!" Akira yang menyiratkan senyum paksa di wajahnya lalu membatin, "iya sih ganteng tapi akhlak minus!"


...


Jam pelajaran berlangsung semestinya, Akira yang tiba-tiba berasa jenius matematika, dapat pengakuan guru matematika dan mendapat tawaran untuk mengikuti olimpiade tahun depan. Tentu Akira menerima tawaran itu dengan senang hati, walau ada ketakutan dalam dirinya.


Jam istirahat, Ryan bangkit dari kursinya menuju bangku Erika. Erika yang sering curi pandang ke arah pemuda itu agak terkejut lalu berpura-pura sibuk dengan bukunya.


"Aki!" Panggil Ryan.


"Loh kok bukan gua?" Batin Erika.


"Huh?" Gadis yang dipanggil itu menoleh.


"Ikut gua bentar yok! Ada yang pengen gua bahas!" Sahut Ryan.


Akira reflek menatap teman sebangkunya lalu menjawab, "oke deh!" Lalu Akira bangkit dari kursi-nya dan mengikuti Ryan yang sudah berjalan duluan di depannya. Dan Erika pergi ke kantin bersama teman-teman yang lain.


...


Di ruang pengawasan sekolah, ruang di mana terdapat monitor dari cctv yang ada di lorong-lorong sekolah.


"Loh? Emangnya murid bisa masuk ke ruang ini?" Tanya Akira yang melirik ke sekeliling.


"Loe pengen tau tentang amplop uang siapa yang ada di laci loe kan? Makanya gua coba loby guru-guru dan katanya boleh cari informasi di sini asal jangan ngerusak apa-apa!" Sahut si ketua kelas itu.


"Huh? Loe bilang apa sampe di kasih izin?" Kening Akira tertaut karena masih belum bisa percaya.


"Gua bilang... Rahasia!" Ryan tersenyum puas membuat gadis yang duduk di sampingnya itu menatap sinis.


"Fokus deh! Nih lihat orang terakhir yang masuk ke kelas di hari valentine setelah loe adalah Tara, dan loe bilang ketemunya sehari setelah valentine kan? Dan di hari itu yang pertama kali masuk kelas adalah ibu yang pegang kunci dan petugas kebersihan." Jelas Ryan.


"Tapi Akira, lihat deh di sini!" Ryan menunjuk ke arah monitor di mana Tara kembali terlihat. "Itu kan Tara yang ikut bantu petugas kebersihan keluarin sampahnya."


"Lah? Kok dia mau bantuin orang gitu sih? Kalo sama gua aja..." kalimat gadis itu tiba saja terhenti.


"Emang kalo sama loe Tara gimana?" Tanya Ryan tampak penasaran.


"Enggak! Lupain aja! Berarti kita harus tanya petugas kebersihan dulu!" Kata Akira.


"Itu masalahnya! Petugas kebersihan yang itu lagi ambil cuti tahunan."


"Kok loe tau sih?" Akira tercengang dan menunggu jawaban. Namun pemuda di sampingnya malah hanya memamerkan senyum tampan nya.


"Loe nggak laper? Kantin yok!" Sahut Ryan.


...


Di sisi lain di kantin, Erika bersama teman-teman telah menghabiskan makanan yang mereka pesan dan saatnya membayar. Namun Erika dan juga teman-temannya di kejutkan saat mendengar makanan Erika sudah di bayar oleh pemuda yang duduk di bangku ujung. Iyap siapa lagi kalo bukan si paling effort, Ratara.


"Waaa loe beruntung banget sih Erika! Cowo yang diincar banyak cewe memilih loe!" Ucap salah satu gadis di meja itu.


"Gua iri banget sama loe!" Sahut gadis lainnya.


"Apaan sih kalian!" Sahut Erika lalu melirik Ratara dan sedikit kehilangan senyumnya.


"Ratara?... Eh itu Ryan! Sama Akira!" Batin Erika yang kemudian tak sengaja mendapati Ryan dan Akira yang datang dari arah Ratara duduk.


"Bro! Sendirian aja? Gua boleh duduk di sini kan?" Tanya Ryan pada Ratara.


"Iya loe boleh, tapi dia enggak!" Ratara menunjuk Akira yang berdiri di sebelah Ryan.


"Apaan sih nih orang? Siapa juga yang mau duduk bareng loe?" Akira meledak namun masih mencoba menstabilkan emosinya.


"Udahlah Aki! Loe duduk di samping gua aja sini!" Sahut Ryan.


"Ini gua duduk karna ketua kelas yang nyuruh! Bukan karna loe!" Akira menegaskan karena kesal.


Di sisi lain, Erika masih menatap lurus ke arah Ryan dan membatin, "apa ya yang Ryan mau bahas sama Aki? Mereka tadi ke mana sih sebenarnya?" Wajah sendu itu tak dapat ia sembunyikan.


Dari sisi lain lagi, Ratara mendapati Erika yang terus melirik Ryan dan bukan dirinya. Pemuda ini tampak menemukan hal lain dalam misinya kali ini. Kini bola manik Ratara menyorot tajam gadis berambut sebahu yang sedang menyeruput minuman di depan-nya.


...


Jam pulang sekolah, seperti biasa Akira yang menghindari Erika agar temannya itu terjauh dari nasib sial seperti dirinya. Akira selalu keluar lebih awal lalu menuju halte bus di depan sekolah.


Namun tiba saja seseorang meraih pergelangan tangan gadis itu, genggaman itu sangat erat dan menyeret Akira akibat tarikan kasar itu. Gadis itu berusaha melepas tangannya dengan memberontak, ia masih tidak tau siapa yang menariknya, karena hanya terlihat punggung seorang pemuda.


Sampai di belakang gedung sekolah, tangan gadis itu akhirnya di lepas. Tak disangka pemuda itu ternyata Ratara yang saat ini terus mendekati tubuhnya ke arah Akira yang hampir menempel di dinding. Ratara menghantamkan tangannya ke dinding agar Akira tidak bisa kabur.


Di sisi lain, Akira terlihat gelisah dan agak takut serta tidak tau harus bagaimana.


"Siapa orang yang Erika suka?" Pertanyaan pemuda itu berhasil membuat kedua kelopak mata Akira melebar.


"Huh?" Gadis itu bingung.


"Jawab! Siapa yang sebenarnya Erika suka?" Bentak Ratara.


.


.


.


Tbc