
Holyday pun di mulai, pagi cerah di mana langit biru sempurna dan burung-burung bersembunyi di dahan pohong menghindari panas matahari.
"Cuacanya cerah pas banget buat travelling dan healing, yaah ... gua malah berakhir sama kain-kain basah ini!" Sebuah helaan terdengar jernih.
Gadis yang melantunkan kalimat di atas sedang meratapi nasibnya, saat melihat jalanan di mana orang-orang yang sibuk berpergian dengan keluarga ataupun teman-teman mereka. Namun, Akira hanya terjebak dengan cucian dan jemuran yang saat ini sedang ia lakukan.
"Akii! Kalo udah siap jemurnya, ambil lagi nih! Jangan lama-lama! Lebih cepat lebih baik! Makin cepat keringnya!" Teriak Miranda yang baru saja menguras air cucian yang masih basah dan berair.
"Iya iya! Kalo buru-buru banget nyuruh Ica aja mah! Jam segini dia enak-enakan masih tidur! Nggak adil banget!" Ucap Akira yang tangannya sibuk menjemur pakaian.
Usai menjemur semua pakaian, Aki kembali masuk ke kamarnya dan melihat adiknya masih tertidur. Ia menatap sinis dan kesal lalu mengambil bantal yang di tindih kepala Ica itu. Aki menarik bantal itu membuat Ica terganggu.
"Apaan sih kak? Ini yang kekanak-kanakan kok malah kakak sih bukan adeknya!" Sahut Ica lalu menggeliat di kasurnya.
"Loe enak-enak tidur! Sedangkan gua harus membabu! Sadar diri dong jangan cuma numpang hidup, bantuin dikit kek!" Akira tampak kesal.
"Iya iya! Entar gua rapiin!" Sahut gadis yang masih terbaring itu.
"Heh! Kita cuma beda dua tahun, kasta hidup loe lebih tinggi dari gua ya! Bagus banget!" Ucap Akira yang selalu merasa tidak adil.
"Apaan sih kalian berantem mulu! Nggak malu kamu di denger tetangga?" Ucap Miranda untuk melerai perdebatan kedua anaknya.
"Mamah belain terus dia! Nggak usah disuruh apa-apa, suruh tidur aja! Tuan putri kan gitu!" Sahut Akira lalu keluar kamar.
Tak lama, usai sarapan, Akira menghampiri mamanya lagi yang sedang di ruang tamu kecil itu.
"Mah! Minta jajan dong! Nanti sore Kira mau jalan-jalan sama temen!" Ucap Gadis itu.
"Nggak ada duit! Minta sama ayah kamu dong! Jangan sama mama! Lagian kamu mau ke mana? Bukannya duduk tidur aja dirumah, nggak usah ke mana-mana!" Sahut Miranda yang cerewet.
"Tumben nyuruh Kira tetap di rumah! Maah.. beneran nggak ada duitnya?" Akira masih berharap.
"Nggak ada! Makanya kamu yang hemat, nabung gitu!" Sahut wanita paruh baya itu.
Akira yang sebenarnya juga sangat tau kondisi keuangan orang tuanya, gadis itu tidak ingin terlalu menuntut. Namun sadis nya saat ia melihat sendiri beberapa saat usai dirinya keluar dari rumah itu, Miranda memberikan jajan pada anaknya yang kedua itu, namun mengabaikan permintaan Akira.
Walau melihatnya dengan jelas, Akira sudah lelah berdebat. Kasih sayang ibunya jelas terlihat berbeda. Gadis itu hanya pergi menyusuri jalanan hingga tiba di taman itu. Ia bertedih di bawah pohon tempat biasa, tak lupa topi dan kaca matanya.
Hp-nya bergetar dua kali, tanda notifikasi chat masuk. Grup WhatsApp kelasnya sedang ribut dengan ajakan liburan. Namun sebagai anggota pasif, Akira hanya membacanya tanpa bisa merespon. Selain tak punya kuasa, gadis itu juga tidak punya biaya untuk ikut.
Walau ia punya sedikit tabungan dan uang amplop milik Tara, namun jika menggunakan uang itu, maka jika nantinya ia perlu membayar SPP, ia akan kesulitan jika orang tuanya tidak punya biaya nantinya.
"Eh! Akira ya?" Suara seorang pria terdengar jelas.
"Eh? Pak Hendra?" Sahut Akira saat mendapati pria itu berada di depannya.
"Kamu sendirian aja? Mau ikut joging bareng saya?" Tanya Hendra.
"Nggak apa pak! Saya di sini aja!" Sahut gadis itu agak canggung.
Namun, malah pria paruh baya itu yang duduk di samping Akira untuk beristirahat. Setelah mengobrol beberapa hal, kini pria itu bertanya tentang anaknya.
"Tara gimana di sekolah? Nakal nggak? Atau dia sering gangguin kamu?"
"Mmm..." Akira tampak berpikir, apakah ia harus mengatakan yang sebenarnya atau berbohong saja. "Mmm.. iya lumayan pak! Baik juga kadang nakal, anak muda biasa gitu kan pak!" Jawaban paling bijak yang terpikirkan baginya.
"Pah! Kenapa sih suka bangeg ngilang?" Suara yang dikenal itu tiba-tiba muncul dari belakang mereka.
"Pah! Ada tamu loh! Papah yakin nggak mau pulang dulu?" Ucap Ratara.
"Udahlah! Kenapa mereka selalu gangguin hari libur papah!"
Di tengah semua itu, Akira kini merasa canggung berada di samping bapak dan anaknya.
"Gimana caranya pergi dari sini ya? Kok bisa-bisanya gua kejebak di sini sih?" Batin Akira sembari mengernyitkan dahinya.
"Oya papah dengar kelas kalian ada pergi liburan ya? Emang ke mana?" Tanya Hendra.
"Katanya mau ke pantai sih! Sekalian refreshing tapi belum jelas juga, opsi kedua ke waterboom biar seru-seruan katanya!" Sahut Ratara menjelaskan pada ayahnya.
"Akira bakal milih opsi yang mana?" Tanya Hendra lagi.
"Huh? Saya nggak ikut pak!" Sahut Akira.
"Loh kenapa? Ikut aja, kan seru bisa main sama-sama, menikmati masa muda! Kalo kamu udah tua seperti saya nggak akan bisa ngulangin moment muda itu lagi loh!" Jelas pria itu.
"Iya pak!" Akira hanya merespon untuk menghormati, agar tidak muncul pertanyaan lagi. Ia tidak mungkin mengungkap bahwa dirinya tidak bisa ikut karena tak punya uang.
...
Setelah beberapa lama, Hendra juga sudah pergi, Akira kini juga bangkit dari kursi itu untuk pulang. Di jalan, Akira berjalan pelan dan larut dalam pikirannya. Namun ia tetap tak sengaja menatap pemuda yang berjalan kaki juga dari arah berlawanan darinya.
"Gua udah tau semuanya!" Kalimat yang menghentikan langkah gadis itu.
"Gudah udah tau, kalo sebenarnya bukan loe dalang yang gebukin gua hari itu! Itu murni perbuatan si preman sekolah sama teman-temannya! Ryan udah ngasih tau gua kebenarannya." Ucap Ratara yang berdiri di depan Akira.
Akira hanya diam saja tanpa menanggapinya, namun Ratara terlihat seolah menunggu jawaban.
"Terus?" Ucap Akira cuek.
"Huh?" Ratara bingung dengan respon gadis itu.
"Terus gua harus apa? Ber-terima kasih? Atau minta maaf? Itu bukan urusan gua sih sebenarnya! Itu urusan loe sama pemikiran loe sendiri!" Tegas Akira.
"Kok loe yang jadi ketus gitu sih?" Tanya Ratara.
"Bukan urusan loe! Lagi pula kenapa gua harus ramah sama loe? Saat ke-ramahan gua nggak ada nilai nya bagi loe!" Akira menjadi seseorang yang sangat berbeda.
"Loe..." kalimat Ratara langsung terpotong oleh gadis itu.
"Gua bukan Akira yang loe kenal! Tapi gua Aki si pengemis yang mengutarakan pendapatnya secara lugas!"
"What?"
"Gua punya saran buat loe! Jalanin hidup loe di bagian loe! Jangan mempengaruhi hidup orang lain! Karna loe nggak tau, hidup seperti apa yang loe renggut dari mereka!"
.
.
.
Tbc