
Purnama mulai sirna bersamaan muncul mentari memancarkan sinarnya. Begitupun waktu yang terus bergulir walau jarum jam tidak berdetak.
Kali ini setelah ujian mata pelajaran pertama, mata pelajaran kedua yang harus diujiankan adalah penjaskes atau olahraga untuk ujian praktik. Karena yang di nilai adalah lari estafet, maka kelas itu di bagi menjadi tiga orang per kelompok, yang dibagikan dengan memilih nama secara acak.
Sang ratu kelas Erika mendapat Ryan beserta Ayna sebagai anggota kelompok. Sedangkan Ratara malah memilih kertas dengan nomor kelompok sama dengan Akira dan Ravi, begitu pula siswa lainnya.
Ravi berada di tengah-tengah dua orang yang sedang perang saraf dengan tatap masing-masing.
"Mantap nih! Karna grup kita dua cowo, kemungkinan kita menang lebih tinggi! Gimana kita buat urutannya?" Ravi yang tampak semangat lalu melirik kiri dan kanan nya yang sunyi.
"Kalian nggak mau atur strategi atau gimana?" Ravi kembali bertanya namun hening.
"Pak Ilham! Boleh ganti kelompok nggak? Nggak bisa nih, masa cuman saya yang serius di sini!" Ravi yang mengeluh di depan gurunya yang baru tiba di depan mereka.
"Nggak bisa! Kalian belajar kerja sama dengan kelompok yang udah ada! Ravi ambil nomor peserta sana!" Ucap Pak Ilham lalu lanjut mengunjungi siswa lainnya.
"Iya pak!" Sahut Ravi lemas dan menjalankan perintah.
Tak lama, remaja itu kembali dan menyapa temannya.
"Gimana nih urutannya?" Tanya Ravi.
"Gua duluan aja! Pelari paling cepat harus yang terakhir. Loe aja gimana?" Sahut Akira.
"Eh bentar! Maksud loe gua larinya lambat, gitu?" Ratara si paling sensitif.
"Apaan sih loe? Orang lagi diskusi, gua cuman bilang pelari tercepat harus yang terakhir!" Sahut Akira.
"Iya Akira bener! Loe mau jadi pelari terakhir? Btw lawan kita regu dua, kalo kita menang bisa lawan kelompok Ryan, soalnya lawan mereka cewe semua, jadi gua yakin aja kalo Ryan bakal menang!" Ravi dengan informasinya.
"Iya! Gua bakal jadi pelari terakhir!" Sahut Ratara dengan tekad saat melirik Ryan yang satu kelompok dengan Erika.
"Tapi gua juga pengen jadi pelari terakhir!" Sahut Ravi.
"Gini aja! Kalian gantian aja! Kalo kita bisa menang, kita bakal dapat banyak kesempatan kan?" Akira hanya berpendapat.
"Okeh! Biar pas lawan Ryan, gua yang terakhir!" Sahut Ratara yang membuat pembahasan strategi tim berjalan lancar.
"Loe!" Ratara menunjuk Akira yang sedang melakukan pemanasan. "Jangan main-main! Gua harus menang kali ini!"
Akira sangat malas meladeni, ia hanya menatap pemuda itu sebentar tanpa menjawab dan memasang ekspresi pasrah. Namun tiba saja seseorang menabrak Akira saat sedang membungkuk dan membuat gadis itu kehilangan keseimbangan.
Langkah kaki yang melangkah asal sebagai pertolongan reflek tubuhnya membuatnya melangkah ke arah pemuda tampan di depannya. Dan entah bagaimana pula, ia gagal menolong dirinya karena kaki kiri tersangkut saat akan melewati kaki kanan. Saat hendak terjatuh ia melihat hanya Ratara yang ada di depannya saja yang bisa membantunya.
Takdir memang sudah ditentukan, seorang Ratara akan melakukan hal yang ia duga. Pemuda itu malah menggeser tubuhnya dan Akira pun terjatuh ke atas rumput.
"Aduh!" Desis Akira yang kemudian dibantu Ravi untuk bangkit.
"Loe okey kan? Ada luka?" Tanya Ravi yang khawatir jika temannya cedera.
"Iya iya aman!" Sahut Akira sambil mengernyitkan dahinya karena merasakan sakit.
Akira melirik sinis Ratara yang melakukan pemanasan dengan santai.
"Udahlah Ravi, kita harus kerja keras! Rekan tim lemah kayak gitu nggak ada harapan!" Mulut tajam itu selalu mencoba menyakiti.
Namun Ratara heran karena tidak ada jawaban, lalu pemuda itu melirik Akira yang sedang mengurut kakinya sambil duduk.
...
Pertandingan lari estafet di mulai, semua orang bekerja keras untuk diri masing-masing. Begitupun Regu Ravi yang anggotanya terpecah belah, namun berhasil memenangkan babak pertama.
Pemainan terus berlanjut, di mana sesuai prediksi regu Ryan juga berhasil menang.
Walau terlihat hanya sibuk dengan buku-buku, Ryan sebenarnya juga atletis. Berkat Ryan si pelari cepat, saat ini grup mereka bahkan masuk babak final.
Di sisi lain, regu penantang yang merasa tersaingi oleh ketua kelas, iya Ratara juga berusaha keras hingga berhasil membawa tim ke babak final juga. Sebenarnya seluruh tim itu bekerja keras bahkan Akira yang menyembunyikan kakinya yang agak sakit.
Babak final, di mana lima regu terakhir memperebutkan nilai tertinggi ujian praktik sudah bersiap di gadis start masing-masing.
Akira sebagai pelari pertama sudah mulai merasakan sakit yang tajam muncul di pergelangan kakinya. Suara peluit terdengar, kaki itu otomatis begerak dengan laju yang tidak santai untuk memberikan tongkat estafet ke pelari kedua yaitu Ravi.
Regu Ryan yang di mulai oleh pelari Ayna dan disambut oleh Erika. Ryan sangat fokus pada permainan, namun tiba saja ia melihat gerak lari Akira yang terlihat janggal dengan wajah yang seolah menahan sakit dan mengerang. Namun tak bertahan lama, Ryan kembali fokus pada tim-nya.
Tibalah pada pelari terakhir, Ryan menjadi yang terakhir mengambil tongkat estafet karena hanya tim-nya yang beranggota dua perempuan di babak final. Namun dengan semangat membara, Ryan berhasil mengejar bahkan saat ini mampu menyeimbangi Ratara yang memimpin pertandingan.
Semua mata tertuju pada dua pemuda tampan itu yang masih berusaha dan seimbang. Saat hampir tiba di garis finish, usaha yang dikerahkan semakin besar dan tali garis finis berhasil tersentuh.
Pertandingan berakhir dimenangi oleh tim Ravi, di mana Ratara lebih unggul karena berhasil menyentuh tali finish duluan walau langkah kaki mereka seimbang. Pemuda yang menang itu merasa puas telah menebar pesonanya lagi dengan melakukan ceremony melompat ria bersama Ravi yang berlari ke arahnya.
Namun di sisi lain, sang ketua kelas baik hati yang menjaga anggotanya, malah menyusul ke tempat Akira yang sedang duduk memeluk sebelah kakinya.
"Loe cedera?" Tanya Ryan begitu tiba.
Akira mendongak memastikan siapa yang bertanya, "kaki gua sakit banget, kayaknya terkilir deh!" Sahut Akira.
"Pak! Ada yang cedera!" Teriak Ryan yang membuat guru olahraga itu ikut memeriksa Akira.
Erika yang khawatir juga langsung menghampiri Akira.
"Kalian bawa dia ke UKS, biar langsung di tangani petugas!" Ucap guru itu.
"Baik pak!" Sahut Ryan dan Erika yang kemudian membangunkan Akira dan memapah gadis itu.
Ravi berlari mengikuti rekan tim nya yang terluka, namun Ratara seolah terpaksa pergi dan hanya berjalan di belakang.
...
Karena pergi belakangan, Ratara mendengar sesuatu yang membuat terkejut.
"Gua benci Ratara!"