FIGURAN

FIGURAN
Circle Pertemanan



Tiba saja derai air hujan berhenti menyentuh tubuh Akira, gadis itu mendongak mendapati seorang pemuda tinggi berkulit putih yang memegangi payung untuknya.


"Loe nggak waras atau memang loe pengen mandi hujan sih?" Tanya pemuda itu.


"Aki! Nyokap loe nelpon nyokap gua dan nyokap gua nelpon gua buat nanyain loe! Kenapa loe nggak pulang aja sih? Gara-gara loe gua harus nyariin loe sampe sini, padahal gua masih pengen di sekolah!" Oceh pemuda tampan itu.


"Eh Ryan si paling sibuk! Kenapa nggak bilang aja gua bareng loe di sekolah? Kelar kan masalahnya? Loe nggak perlu ke sini dan lanjutin aktivitas loe!" Sahut Akira lalu menundukkan kepalanya.


"Loe bener juga ya!" Pemuda itu lalu tersenyum kecil.


"Loe tuh kadang-kadang kadang-kadang ya! Tapi makasih ya udah jauh-jauh ke sini hanya karna omelan nyokap loe! Khamsahammida! Loe boleh pergi kok! Lanjutin keseharian loe!" Akira hanya merengut dalam diam.


"Loe harus pulang dulu! Gimanapun karna loe udah gua temuin, gua bertanggung jawab sekarang!" Ucap Ryan lagi.


"Aneh loe! Stop Ryan! Berhenti terlalu baik sama orang lain!" Akira merasa frustasi.


"Tapi loe bukan orang lain!" Bantah pemuda itu yang membuat Akira kembali mendongak menatap pemuda di depannya itu.


"Sekarang bangun dan pulang! Loe nggak boleh sakit, setidaknya sampe besok!" Ryan beralasan.


"Kenapa?" Akira melancarkan kalimat tanya karena curiga.


"Besok gua tanding basket! Gantian loe harus datang dukung gua! Gua kan udah dukung loe tadi! Sekarang yok pulang gua antar deh!" Kata Ryan lalu tersenyum dan ia pun berhasil membuat gadis itu bangkit dari duduknya itu.


Di sisi lain, Ratara yang melewati jalan bagian taman itu tanpa sengaja melirik kedua remaja itu, di mana Akira dengan tampilan pengemis baru bangun dari kursi itu dan ikut di bawah payung Ryan.


"Apaan nih? Kok Ryan bareng si pengemis sih? Mereka mau ke mana?" Batin Ryan sambil melewati tempat itu dengan mobil.


...


Pagi cerah kembali menyapa, sekolah tampak sibuk. Kehidupan remaja yang terlihat menyenangkan jika dipandang dari kejauhan, walau jika dilihat lebih dekat tak akan se-bahagia itu.


Lapangan basket sudah dipenuhi para siswa, baik dari peserta maupun penonton maupun panitia yang bertugas. Breafing untuk menjelaskan kembali rules permainan sebelum pertandingan dimulai. Setelahnya, para peserta bersiap dengan melakukan pemanasan.


Ryan yang berseragam pemain basket tampak menyorot sekeliling penonton mencari seseorang. Tampak Erika yang melambai di bangku penonton dengan semangat. Pemuda tinggi nan tampan itu memamerkan senyum ke arah si gadis. Kemudian Ryanmengangkat kedua tangannya seolah bertanya di mana bestienya. Erika tersenyum lalu menunjuk ke belakangnnya dengan jempolnya dan jari lain di lipat.


Dari belakang si cantik muncul Akira yang memiringkan tubuhnya agar terlihat. Lalu gadis yang menggunakan hoodie dia atas seragam sekolahnya dan kepalanya di tutupi oleh tudung hoodi itu, ia mengepalkan tangannya lalu mengangkat-angkat tangannya itu untuk menyemangati Ryan namun dengan gerakan yang tampak lesu.


Kini pemuda yang ada di tengah lapangan itu memamerkan sederet gigi rapi akibat lengkungan bibirnya. Ryan tampak gemas dengan kelakuan kedua gadis itu lalu mengangkat jempolnya ke arah kedua gadis itu.


Dari arah samping agak jauh dari Ryan, Ratara sedari tadi memantau ketiga remaja yang sibuk dengan dunia mereka. Dari sudut pandang Ratara, ada sebuah dinding yang membatasi garis pertahanan pertemanan ketiga oknum itu.


"Kenapa gua nggak bisa masuk ke circle mereka?" Batin Ratara dengan sorot mata mengarah pada Erika.


...


Permainan di mulai, kedua tim juga tampak sudah siap. Ryan seperti biasa menunjukkan bakat dan pesonanya yang menawan. Pemuda itu beberapa kali mencetak skor dan mendapatkan perhatian dalam permainannya.


Di balik semua itu, ada Ratara yang merupakan rekan se-tim-nya. Pemuda ini merasa tertinggal dan bertekad ia juga harus memamerkan kebolehannya, agar Erika pun akan tertarik padanya. Ratara pun mampu mendominasi dan mencetak banyak skor untuk timnya. Hingga tim mereka berhasil memenangkan babak pertama.


Babak kedua dimulai, permainan berlangsung sengit dan tim Ryan beroperasi dengan kompak dan kerja sama yang luar biasa. Seakan semua orang punya kesempatan untuk bersinar. Hingga tibalah pada skor akhir penentuan dan tim Ryan berhasil memenangkan pertandingan hanya dengan dua babak permainan.


...


Usai pertandingan basket, Erika pergi ke tengah lapangan bersama Ratara dan Ryan. Gadis itu menjadi sangat tertarik pada basket dan ingin segera mempelajarinya.


"Mudah kok! Nih ambil bolanya dulu!" Sahut Ryan yang mendekati Erika lalu melempar pelan bola di tangan nya.


"Sini gua ajarin! Loe pegang bolanya dengan tangan gini! Lalu shoot! Ayo loe coba!" Ucap Tara yang berdiri tepat di sebelah Erika sambil memperagakan tangannya.


"Gini ya!" Ucap Erika lalu mencoba lemparan pertamanya yang gagal. "Gimana sih kok bolanya nggak masuk ke ring sih!"


"Gini loh! Pengang bolanya gini!" Sahut Ratara usai mengambil bola lalu membantu Erika memposisikan tangan dengan benar.


"Sebelum lempar, kaki loe agak jongkok dikit, lalu lempar sambil agak lompat!" Ryan menambahkan komentarnya.


"Oke! Jongkok dikit, lalu lompat, and shoot!" Erika mempraktikkan ajaran kedua pemuda itu dan berhasil memasukkan bola basket itu ke dalam ring. "Wuuuaaah! Gua berhasil!!" Gadis itu melompat-lompat gembira dan kembali mencobanya.


Di sisi lain, Akira masih di bangku penonton tadi, masih dengan hoodie-nya dan tudung hoodie menutupi kepalanya. Gadis itu hanya duduk melipat tangan dan menyilangkan kakinya sambil menyaksikan tutorial bermain basket dati tiga remaja di lapangan itu.


"Aki!" Panggilan itu membuat gadis itu menoleh ke sampingnya.


"Loe bawa seragam olahraga nggak?" Tanya Laili yang baru datang dan duduk di samping Akira.


"Nggak! Baju gua basah kena hujan kemaren, kenapa emang?" Sahut Akira.


"Tadinya gua mau ajak loe ikutan main tarik tambang! Yaudah deh! Loe kayak kurang fit juga ya?" Sahut Laili lagi.


"Begitulah!" Akira menjawab lalu tersenyum lebar ke arah gadis di sampingnya.


"AKI!!! SINII!!" Panggil Erika dari tengah lapangan lalu mengisyaratkan tangannya agar Akira ikut bersama mereka.


Akira hanya membalas dengan menyilangkan tangan di depan wajahnya sebagai jawaban ia tidak ingin ke sana.


"Kenapa loe nggak ikut aja bareng mereka?" Tanya Laili lagi.


Akira tersenyum lalu menjawab, "gua nggak bisa rusak momen para tokoh utama! Kehadiran gua cuman bakal buat suasana-nya berubah!"


"Tapi loe kan deket sama mereka!" Sambung Laili.


"Loe salah! Gua cuman deket sama satu orang dari mereka, dan bukan berarti gua bisa masuk ke circle itu, karna kastanya berbeda walau gua ada di sana pun nggak ada artinya dan nggak ada yang berubah!" Jelas Akira.


"Kenapa loe sampe mikir gitu?" Laili tampak terbawa suasana.


Akira hanya membalas dengan senyuman lalu membatin, "karna gua hanyalah figuran!"


Ratara melirik bangku penonton lalu menemukan Akira yang bangkit dari kursinya dirangkul Laili lalu pergi. Tampak gadis yang menggunakan hoodie itu lemas dan agak menunduk.


"Tuh cewe kenapa lagi? Nggak bisa berhenti apa buat masalah?" Batin Ratara lalu mengalihkan pandangannya.


.


.


.


Tbc