FIGURAN

FIGURAN
Friendship



Akira dikerumuni oleh teman-teman setia. Setelah diperiksa oleh dokter indah petugas UKS, entah bagaimana pandangan ketiga remaja itu terpaku padanya.


"Semua gara-gara Tara! Coba aja dia nolongin Aki tadi!" Ucap Ravi yang agak kesal.


"Loh? Emang ada apa?" Tanya Erika yang penasaran.


"Dia apain loe?" Tanya Ryan.


"Nggak gitu loeh! ..." Akira menceritakan detail saat ia terjatuh karena tersenggol teman yang lain, yang menjadi penyebab utama kakinya sakit.


"Jadi.. itu salah gua karna nggak hati-hati! Nasib gua aja yang sial! Mau gua bilang gua benci Ratara pun, nggak mengubah apapun! Nggak ada yang salah, hanya gua aja yang kurang beruntung." Akira bahkan sangat pasrah dengan takdirnya.


"Tapi kan kalo dia nolongin loe nggak perlu sakit gini!" Ucap Ravi.


"Udahlah! Gua udah nggak apa-apa juga, tinggal istirahat bentar sembuh!" Sahut Akira.


"Tapi kok kesannya loe belain Tara sih?" Tanya Ryan dengan wajah datar.


"Nggak kok! Untuk apa gua belain dia?" Sahut Akira yang tanpa sadar melirik Erika. Sebenarnya ia tidak ingin Erika berfikir buruk tentang Ratara, dirinya bisa terkena masalah lain lagi hanya karena salah bicara.


"Yaudah! Loe istirahat aja! Kami harus balik ke lapangan! Btw selamat ya! Tim loe menang!" Sahut Ryan lalu keluar dari ruangan itu.


"Nanti gua balik lagi!" Ucap Erika sambil meng-ekor di belakang Ryan.


"Kalo loe bilang kaki loe sakit dari awal, gua bisa merangkap kok, loe nggak perlu main!" Ucap Ravi sambil cemberut.


"Hei hei! Kita menang loh! Sana balik lapangan!" Ucap Akira yang tersenyum karena tingkah random rekan se-tim nya. Pemuda itu pun ikut pergi keluar.


Dari balik tembok, Ratara menyembunyikan tubuhnya lalu keluar sambil melirik sekeliling. Pemuda itu sedari tadi mendengarkan percakapan orang di dalam dari balik dinding UKS. Karena ia datang belakangan jadi langkahnya terhenti saat mendengar mereka membicarakan dirinya.


Kali ini, gilirannya masuk ke ruang UKS untuk menghampiri gadis berambut pendek yang hendak berbaring di ranjang itu.


"Ekhem!" Deham Ratara yang membuat Akira tidak jadi merebahkan tubuhnya di kasur itu. Gadis itu melirik pemuda yang sedang berdiri di depannya itu.


Tatapan tanpa kata itu bahkan tidak membuat keduanya canggung, di mana Ratara hanya memasang wajah datar, dan Akira yang menunggu respon apa akan ia dapat.


"Apa?" Tanya Akira yang sudah tidak sabar karena tak kunjung adanya percakapan.


"Ekhem..! Loe ... nggak apa-apa kan?" Tanya Ratara dengan mengurangi sedikit rasa gengsi-nya.


"Iya, gua kenapa-napa! Loe nggak lihat kaki gua sakit?" Sahut gadis yang di panggil Aki itu. Namun Ratara kembali hanya mematung dengan tatapnya.


"Kalo memang nggak ada yang mau loe bicarakan, mendingan loe balik ke lapangan! Loe kan bintang utamanya!" Ucap Akira, namun Ratara masih menatapnya.


"Gua juga mau istirahat bentar! Please banget tinggalin gua sendiri ya!" Akira menyatukan kedua tangan di depan wajahnya dan memohon.


Pemuda itupun pergi tanpa sepatah katapun. "Kenapa dia belain gua?" Batin Ratara sambil menuju lapangan.


Begitu tiba di lapangan, memang benar sang tokoh utama itu mendapat respon meriah karena kemenagan tim nya.


"Jadi, nilai tertinggi jatuh pada Tim Ravi, Ratara dan ... siapa tadi?" Pak Ilham berusaha mengingat.


"Akira pak!" Sahut Ravi.


"Iya Akira! Ini juga jadi pelajaran bagi semua kalau kalian merasa ada yang salah dan sakit, langsung laporkan jangan sampai kalian cedera ya!" Kemudian guru itu melanjutkan katanya.


"Untuk pemenang kedua, nilainya hanya satu poin di bawah pemenang utama dan begitu seterusnya, tenang aja nilai kalian akan tinggi semua, yang penting kalian rajin dan semangat! Saya suka murid yang antusias dan berusaha keras! Jadi sampai sini ujian praktik, sampai jumpa di mata pelajaran yang sama di semester berikutnya!" Kalimat panjang Pak Ilham lalu meninggalkan para siswa itu di lapangan.


...


Erika langsung berlari ke kelas untuk membereskan barangnya dan sekalian untuk mengambil barang teman sebangkunya untuk di bawa ke UKS. Ratara si paling peka langsung mengikuti di belakang Erika.


Saat Erika membawa tas Akira di bahu kanannya dan tas miliknya di bahu kiri, Ratar langsung mengambil salah satu tas agar Erika tidak perlu mengangkat terlalu banyak barang.


"Thanks ya!" Ucap Erika yang hanya di balas senyum oleh pemuda tampan itu.


Ryan baru masuk kelas langsung bertanya, "tas Akira mana? Barangnya udah loe ambil semua?"


"Sini biar gua bawa aja!" Ucap Ryan lalu menghampiri Ratara.


"Biar gua aja! Dia anggota tim gua!" Sahut Ratara lalu pergi keluar kelas.


"Kita mau nyusul Aki juga kok! Hayuk sekalian!" Sahut Erika lagi.


...


Di UKS, para remaja tadi sudah sampai dan membahas bagaimana Akira akan pulang.


"Gua nggak bawa motor hari ini, maunya bisa gua anterin!" Ucap Erika memasang wajah cemberut nan imut.


Ryan tersenyum melirik Erika lalu berkata, "bareng gua aja! Gua bisa anterin Aki sampe rumah kok!"


Akira yang sibuk membaca situasi dan berada di keadaan yang serba salah, "kalo gua ikut Ryan, Erika bakal cemburu nanti gimana? Dia bakal mikir macam-macam tentang gua! Kalo gua nggak ikut, ini si Ratara bakal mikir gua sok-sok-an lagi! Duh capek banget kenapa gua selalu mikir sisi buruk nya sih?" Batin Akira.


"Ekhem..! Kalo gitu ikut mobil gua aja!" Sahut si pria yang cosplay jadi patung sejak tadi dengan canggung.


"Emang boleh?" Tanya Erika dengan bola mata yang berbinar.


"Iya dong! Sekalian gua juga bakal anterin loe (Erika) pulang!" Sahut Ratara.


"Gua pulang sendiri aja deh! Gua udah telpon mama gua juga buat jemput!" Sahut Akira lalu tersenyum kecil.


"Serius loe? Telpon balik cepet! Bilang nggak usah jemput aja! Kita pulang bareng Tara aja!" Ucap Erika.


"Nggak apa kok! Loe ikut aja dia! Mama gua udah berangkat tadi kok!" Akira dengan alasannya.


"Yaudah kalo gitu, gua bakal nungguin loe!" Sahut Erika lagi.


"Jangan! Loe pulang duluan aja! Tadi kan loe bilang ada acara keluarga nanti sore, loe bisa telat!" Alasan lainnya yang membantu Akira.


"Yaudah kalian duluan aja! Gua bakal temenin Aki, sekalian gua ada rapat juga bentar!" Sahut Ryan.


"Yaudah deh! Gua pulang duluan ya Aki!" Ucap Erika yang tampak tidak tega dan ragu untuk pergi, namun tetap harus pergi.


Setelah mereka pergi, kali ini Akira mencari alasan agar Ryan juga pergi.


"Ryan loe..." kalimat gadis itu langsung dihentikan pemuda itu.


"Mamah loe nggak jemput kan?" Ganya Ryan dengan wajah datar.


"Huh?" Bola mata Akira melebar dengan pertanyaan itu.


"Gua tau mamah loe nggak akan bisa jemput kalo jam segini!"


"Sok tau loe!" Sahut gadis itu.


"Gua udah kenal loe dan keluarga loe selama 10 tahun! Apa sih yang sembunyiin sebenarnya?" Sahut pemuda itu.


"Kehidupan udah berubah kali! Dan gua juga akan berubah, gua nggak bisa trus bergantung sama loe!" Sahut gadis manis itu.


"Dan loe jangan terang-terangan gitu bantuin gua! Nanti yang lain pada tau kalo kita udah temenan lama!" Sambung Akira.


"Emang kenapa sih? Gua heran banget sama pemikiran loe!" Ryan tampak frustasi.


.


.


.


Tbc