FIGURAN

FIGURAN
Senyum tanpa Rasa



Langit yang sendu dan burung-burung yang kembali ke sarang, tampaknya rintikan tetes bening akan menyapa bumi lagi hari ini. Oleh karena itu, Akira tiba sedikit lebih awal kali ini, karena terakhir kali ia ketinggalan bus.


Gadis berwajah datar itu baru saja turun dari bus lalu masuk ke dalam gerbang sekolah langsung menuju kelasnya. Kehidupan biasa dengan rutinitas tanpa makna, itulah rasanya. Ketika melakukan segala hal, namun orang lain yang menuai hasil. Namun kala itu masih belum bisa mengerti, hanya pasrah dengan apa yang terjadi, walau hanya sebagai figuran tetap saja yang penting untuk saat ini adalah hidup.


Mungkin suatu hari nanti adakalanya ia akan jadi pemeran utama dalam hidupnya. Harapan tanpa makna itu pula selalu menghantui, hal itu pula yang membuat semua orang bertahan.


Ketika Akira hampir sampai di pintu kelas, tiba saja seseorang menyapanya.


"Aki! Ikut gua bentar!" Ucap pemuda itu yang tak sabar memberitahukan informasi yang baru ia temukan.


"Ada apa Ryan?" Tanya Akira setelah mereka menjauh beberapa langkah dari pintu kelas.


"Tadi, gua kebetulan ketemu sama bapak yang bukain kelas tiap pagi. Gua udah tanya masalah amplop uang itu, kata beliau memang benar petugas kebersihan yang sering bersihin laci meja juga! Jadi ada kemungkinan uang itu milik petugas kebersihan." Kata Ryan.


"Berarti kita tinggal tunggu petugas nya masuk kerja lagi!" Sahut gadis yang sering dipanggil Aki itu.


"Petugasnya bakal masuk kerja lagi dalam seminggu sih!" Sahut sabg ketua kelas tampan itu.


"Kok loe bisa tau sih?" Akira tampak penasaran.


"Iya dong! Mmm.. bapak itu juga bilang lihat Tara bantuin petugas kebersihan hari itu sih, apa kita tanya Tara juga?" Ryan tampak ragu.


"Huh? Jangan! Nggak usah lah! Gua males sama dia, lagian nggak mungkin dia yang taruh uangnya juga, untuk apa? Kalo pun itu beneran uang dia, harusnya dia sadar uangnya hilang, ya kan?" Jelas gadis itu.


"Loe ada benernya!"


...


Ujian berlalu dengan santai tanpa masalah apapun. Beberapa pertanyaan sulit terlangkahi begitu saja walau dalam prosesnya sangat memeras isi kepala. Begitulah kehidupan, kekhawatiran yang muncul akan berlalu ketika waktunya berakhir. Mungkin itulah makna yang tersirat dalam tiap ujian, hanya saja tidak pernah ada yang menyadarinya.


Jam istirahat hanya selama 20 menit, tak cukup waktu untuk mengingat ulang pelajaran yang dipelajari dalam satu semester, namun banyak siswa yang mengambil kesempatan itu untuk menghafal materi yang mereka duga akan muncul di ujian.


Tak terkecuali Akira yang sibuk dengan bukunya, tampak ia berusaha keras menghafal lalu setelah mencapai batasnya ia akan berkata,


"Yaudahlah! Gua pasrah aja!" Kalimat lazim dari beberapa siswa lainnya juga.


"Iya loe bener! Nggak masuk ke kepala gua padahal cuman teori bukan matematika loh!" Sahut Laili lalu menjatuhkan bukunya dengan pasrah di mejanya.


"Besok ujian bahasa inggris kan? Mampus gua paling nggak bisa bahasa inggris lagi!" Sahut Ravi yang kemudian di sahut oleh Ayna dengan berkata,


"Loe yang bener aja nggak bisa? Nilai kelompok bahasa inggris loe tinggi kok!"


"Itukan karna hari itu loe lempar Aki ke grup gua! Akhirnya kami punya tempat bergantung, makanya nilainya tinggi! Lagian nggak setinggi nilai loe juga!" Sahut Ravi lagi.


"Aki! Loe punya kisi-kisi soal nggak? Seingat gua loe ada nyatat deh!" Tanya Erika pada teman di sampingnya.


"Itu tuh di belakang buku catatan gua!" Sahut Akira lalu menjatuhkan kepalanya di atas meja dan berkata,


"Kalian belajar aja ya! Gua nyerah! Nanti saling share jawaban yaa!"


Di tengah diskusi dalam keributan itu, ada satu orang yang terus menatap targetnya dengan sorot tajam.


"Di mulut nyerah, tapi tangan tetap megang dan mata lihat buku! Tujuannya apa ngomong gitu? Kalo bukan munafik! Omongan nggak sesuai dengan tindakan!" Batin Ratara yang tanpa sadar terus menatap Akira akibat rasa bersalah yang belum ia sadari juga.


Pemuda itu duduk di samping Ratara dengan santai tak seperti yang lain sibuk belajar.


"Kenapa loe lihatin Aki terus? Atau Erika ya?" Tanya Ryan. Pertanyaan tersebut membuat Ratara menoleh menatap Ryan.


"Aki... dia memang kelihatannya nggak peduli, dan hidup sesuka dia. Tapi sebenarnya dia sangat peduli pada dirinya dan orang lain. Hanya karena dia senyum setiap hari bukan berarti dia nggak pernah terluka! Jadi gua harap loe juga bisa akrab sama Aki kalo memang mau ngejar Erika!" Nasehat random pula dari ketua kelas.


"Kenapa loe bilang itu ke gua?" Tanya Ratara.


"Gua cuman pengen kelas yang gua pimpin damai! Dan loe orang baru juga di sini kan? Jadi mohon kerja samanya ya!" Ucap Ryan lalu tersenyum dan kemudian mengambil hpnya dan fokus pada tujuannya.


...


Pulang sekolah, dalam perjalanan kembali ke rumah, Akira mampir ke taman di tempat biasa ia duduk merenung. Gadis itu tampak lesu dan bola matanya seolah mengatakan ia sedang tidak baik-baik saja.


Kata yang mengatakan bahwa dirinya munafik terus terngiang di kepalanya saat ia sendirian.


"Apa gua beneran munafik ya? Apa salah gua sih? Gua nggak tau apa-apa tapi kenapa? Kenapa jahat banget sih?" Gadis itu menghela berat.


"Kenapa? Kenapa gua harus sesedih ini hanya karna orang yang nggak kenal gua?" Sambung Akira dalam batinnya.


"Loe baru kenal gua dua bulan, berani banget loe nilai hidup gua selama 17 tahun!" Ucap Akira karena kesal.


Tak lama setelah kalimat terakhir Akira, seorang pemuda mendekati tempat itu. Iyap Ratara menuju kursi di mana Akira sedang duduk itu. Begitu tiba di depan Akira, pemuda itu langsung berkata,


"Ini tempat gua sama teman gua (Akira sebagai pengemis)! Pindah loe!" Pemuda itu terlihat menyebalkan tanpa tahu apapun. Dan kebetulan Akira saat ini tidak memakai kacamata hitam ataupun topi.


"Sejak kapan ini tempat loe?" Tanya Akira.


"Sejak gua tinggal di lingkungan ini, dan berteman dengan orang baru di sini!" Sahut Ratara dengan percaya diri.


"Tapi ini tempat umum! Dan gua sering banget duduk di sini bahkan sebelum loe pindah kemari! Loe mau apa?" Sahut Akira.


"Ternyata loe keras kepala ya!" Ratara tampak memancing emosi.


"Gua seburuk apa sih di mata loe?" Tanya Akira menahan emosinya.


"Mending loe pindah aja deh sekarang, bentar lagi temen gua bakal kemari dan duduk di sini. Bukankah lebih baik kita sama-sama menghargai dari pada ribut nggak jelas gini?" Kalimat Ratara yang membuat gadis itu tak habis pikir.


"Loe bahkan nggak kenal orang yang loe bilang teman itu kan? Okeh gua pergi!" Sahut Akira yang tersenyum sinis.


"Dasar b*d*h! Kenapa gua harus jadi teman loe sebagai pengemis, di saat loe nggak bisa nerima gua yang asli!" Batin Akira yang sangat ingin mengungkap jati dirinya.


.


.


.


Tbc