
Seperti yang diharapkan, Erika dengan bandnya tampil memukau, penonton heboh berteriak dan memberikan tepukan tangan meriah. Gadis itu sukses menjadi trending topik di sekolah. Begitulah bagaimana pemeran utama menerima pengakuan banyak orang.
Di sisi lain, Akira ikut bangga dengan kemampuan temannya. Namun, saat ini bukan dirinya yang dibutuhkan Erika, maka Akira selalu menghilang setelah menonton gadis itu.
...
Setelah segala kehebohan, Ratara kembali dari kantin menuju panggung utama yang dibangun di lapangan. Dalam perjalanannya ia melewati taman sekolah. Namun tiba saja dua orang siswa lain menyeret tubuhnya ke arah taman.
"Apaan nih? Kalian siapa? Lepasin gua!" Ucap Ratara sembari melawan-lawan agar tubuhnya terlepas dari pegangan kedua oknum itu.
"Loe penasaran siapa gua?" Pemuda lainnya muncul dengan raut tajam.
"Lepasin gua! Kalian apaan sih?" Bentak Ratara.
"Gua Roi! Calon pacar Erika, loe nggak usah deketin Erika! Dia milik gua!" Sahut pemuda itu.
"Suka-suka gua dong! Lagian Erika nyaman-nyaman aja sama gua. Lepasin gua!" Sahut Ratara.
"Loe memang harus diajarin!" Ucap Roi sang preman sekolah lalu melancarkan serangan pertama pada wajah Ratara. Ia tidak tinggal diam, ia melanjutkan dengan menyerang Ratara berkali-kali dan kedua remaja lain masih memegang erat tubuh Ratara.
Akira yang baru saja mengambil tas nya dari kelas lalu menuju halte bus untuk pulang. Namun entah bagaimana ia tanpa sengaja melirik dan menemukan Ratara yang terlihat babak belur saat melewati taman sekolah. Pemuda itu terlihat berusaha bangkit karena terjatuh di rumput itu.
Keempat manik itu saling bertemu pula, Akira langsung mengalihkan wajahnya karena tidak ingin menolong dan berusaha mengabaikan dengan pergi.
"Apa Aki se-benci itu sama gua?" Batin Ratara yang tertatih itu.
Tak lama, tampak Erika berlari dari kejauhan menuju taman itu. Dengan segera gadis itu membantu Ratara. Walau tampak panik, Erika dengan sigap memapah pemuda itu lalu membawanya le UKS.
"Ayo, loe bisa jalan kan?" Ucap gadis itu dan Ratara hanya mengangguk.
...
Di UKS
Karena petugas UKS sedang makan siang, jadi Erika langsung mengambil P3K dan membantu membersihkan dan mengobati luka pemuda itu.
"Loe kok bisa sampe babak belur gini sih?" Tanya Erika di mana tangannya sedang mengoleskan salep pada luka di dekat bibir pemuda tampan itu.
"Biasalah urusan cowo!" Sahut pemuda yang duduk di ranjang tu lalu sedikit mendesis. "Aww!"
"Tahan dikit, perih memang!" Ucap Erika yang kembali fokus mengobati luka pemuda itu.
Menatap gadis cantik sedekat itu membuat jantung siapapun tidak akan santai. Itu pula yang dirasakan Ratara saat ini. Sorot mata Ratara terlihat hangat dan hanya fokus pada gadis itu.
Begitupun Erika yang kemudian menatap pemuda di depannya dengan senyuman usai menyelesaikan tugasnya.
Tiba saja, Ryan masuk ke UKS dengan tergesa-gesa tanpa tau ia akan merusak momen sepasang remaja di dalam sedang saling menatap.
"Loe ngak apa kan?" Tanya Ryan yang membuat Erika bangkit dan merapikan peralatan P3K, dan Ratara menoleh ke arah sang ketua kelas itu.
"Yah, seperti yang loe lihat!" Sahut Ratara.
"Syukurlah!" Ryan merasa lega. Bagaimana tidak, pemuda itu selalu merasa bertanggung jawab akan apa yang terjadi pada anggota kelas yang ia ketuai itu.
"Kok loe tau sih gua di sini? Erika, loe ngabarin dia ya?" Tanya Ratara.
"Aki hubungin gua! Katanya loe perlu bantuan di taman, dan karna gua lagi sibuk banget tadi nggak bisa gua tinggal, gua minta bantuan Erik untuk bantuin loe!" Jelas Ryan.
Ratara bingung saat mendengar kalimat Ryan itu, lalu menoleh ke arah Erika untuk memastikan. Gadis itu mengangguk meyakinkan Ratara.
"Nggak ada cedera kan loe?" Tanya Ryan lada Ratara.
"Aman kok Ryan!" Sahut Erika.
...
Sore yang agak mendung, Akira dengan setelan kaos oversize dan Topi serta kaca mata hitamnya, ia kembali duduk di taman itu seperti biasa.
Ia hanya fokus pada hp-nya lalu menyimpan hp-nya dan duduk diam menikmati keindahan semesta.
"Gua harus apa ya? Rasanya hidup gua membosankan banget! Yang ada gua selalu terlibat masalah." Batin gadis itu.
Tak lama, gadis itu bangkit dari duduknya lalu menuju warung terdekat. Setelah jajan di sana, gadis itu kembali ke taman namun kali ini ia menemukan pemuda yang ia kenal itu sudah duduk di sana.
Gadis itu langsung berbalik arah dan hendak pulang saja. Namun pemuda itu menyadari seorang gadis berambut pendek dengan topi dan gerak-gerik yang terlihat seperti Akira dari belakang. Ia langsung menghampiri gadis itu.
"Akira tunggu!" Panggil pemuda itu yang membuat langkah Akira berhenti tanpa sadar.
Kini pemuda itu sudah di depan Akira.
"Aki.. loee.. gua.." pemuda ini hanya bergumam tak jelas.
"Tara loe mau bilang apa sih? Gua lagi nggak pengen ngobrol sama loe! Jadi cepetan!" Sahut Akira.
"Kenapa?" Tanya Ratara.
Akira hanya bisa tersenyum tak habis pikir, menanggapi pemuda ini selalu tidak semudah itu.
"Nggak apa-apa kok!" Sahut Akira yang kehilangan senyumnya lalu kembali pergi. Namun entah apa yang membuat Akira lagi-lagi berbalik dan berkata,
"Mau loe sebenarnya apa sih? Kenapa loe gangguin gua terus?"
"Kenapa loe nyuruh Ryan sama Erika buat nolongin gua tadi? Padahal loe nggak punya kaitan apapun untuk harus melakukan itu, kenapa loe peduli sama gua?" Kalimat yang penuh tanda tanya dari pemuda itu.
"Iya juga ya? Kenapa menurut loe?" Akira yang sebenarnya sangat malas jika disodorkan banyak pertanyaan.
Pemuda itu hanya diam saja dengan wajah datar.
"Hati nurani! Gua nggak tega lihatnya! Padahal hidup gua lebih buruk, tapi kenapa gua harus baik sama loe? Kadang gua juga mikir gitu, tapi loe tenang aja... mulai sekarang gua bakal jaga jarak dari loe! Lakuin apapun mau loe, asal jangan libatin gua di dalamnya, gua capek! Capek banget! Biasanya gua nggak perlu ungkapin semua ini, gua harap loe bisa mengerti ya!" Jelas Akira panjang lebar dengan emosi naik turun.
Kini gadis itu mengangkat langkahnya untuk pulang. Namun Ratara meraih tangan gadis itu untuk menghentikannya.
"Jangan pergi! Bisa nggak loe tetap jadi Aki pengemis buat gua?" Ucap Tara.
Akira menyorotkan bola matanya ke arah pemuda itu, entah bagaimana tatap pemuda tampak sendu dan sangat berbeda dari biasanya.
"Gua butuh loe saat ini!" sambung pemuda itu, namun Akira kebingungan dengan kondisi tak terduga ini.
Ratara mendekati Akira lalu meletakkan kepalanya di bahu gadis itu.
.
.
.
Tbc