
Akira merasa tidak enak badan, makanya ia menggunakan hoodie karna agak kedinginan, dan kali ini ia mencari obat gratis ke UKS. Setelah mendapatkan obat, Akira keluar dari pintu UKS hendak menuju kantin. Karena ia harus makan dulu sebelum minum obat.
Usai menutup kembali pintu UKS, gadis yang sedang memasukkan obat ke dalam saku depan hoodinya itu mendapati Ratara dari arah berlawanan. Ia melanjutkan jalannya dan sempat saling melempar tatap selama 2 detik dan saling mengabaikan seolah tidak mengenal satu sama lain.
Sebelum ke kantin, Akira mencari-cari Erika namun tak kunjung menemukan gadis itu. Saat menuju aula tempat Erika biasa latihan ia malah kembali menemukan Ratara yang sudah duluan masuk ke aula di depan gadis itu.
"Kalo gua ke sana... males ah! Ada tuh cowo! Bawaannya gua marah terus tiap ketemu tuh orang!" Batin Akira lalu berbalik arah.
Tiba saja, Ratara malah melewati gadis itu berjalan. Entah karena tidak ada Erika atau bagaimana, yang pasti Akira hanya menatap punggung lebar pemuda yang berjalan di depannya. Namun, tiba saja pemuda itu berbalik arah lagi lalu berdiri di depan Akira untuk menghentikan langkah gadis itu.
Akira yang perjalanannya ke kantin terhalang, sedikit belok kiri namun pemuda itu malah ikutan, begitupun ketika Akira belok kanan, pemuda itu tetap menghalangi jalan gadis itu. Kini Akira hanya berdiri dan menghela berat nafasnya.
Walaupun Akira sudah tidak bergeming di tempatnya, pemuda itu tak kunjung juga melanjutkan langkahnya. Kini Akira mengarahkan sorot matanya pada pemuda itu dan dalam hatinya bertanya.
"Loe ngapain sih huh? Apa tujuan loe? Bilang! Ngomong! Biar gua paham!"
"Loe dicariin Erika!" Ucap Ratara datar.
"Gitu dong ngomong! Eh tapi bukan berarti gua udah berhenti marah sama loe!" Batin Akira dengan wajah datar.
"Erika di aula!" Sambung Ratara masih datar.
Akira langsung berbalik tanpa menjawab sepatah katapun. Gadis itu memasuki aula dan menemukan Erika yang sibuk latihan dengan tim-nya. Akira mendekati Erika lalu berbisik.
"Gua mau ke kantin, loe nggak bisa ikut kan? Kalo gitu gua duluan ya!"
"Guys kita ke kantin dulu yok! Nanti lanjut latihan lagi!" Ucap Erika pada teman-temannya yang lain dan semua setuju. Akhirnya Akira terjebak sebagai orang asing dalam kelompok ini.
Di kantin, ternyata Ratara juga ikut makan bersama tim band Erika.
"Erik, loe nggak ada rencana untuk tampil di special performance?" Tanya seorang pemuda di tim itu.
"Huh? Maksud loe apa?" Tanya gadis yang bertugas memainkan piano di band itu.
"Gua denger-denger ada special performance gitu, untuk acara penutupan. Kan kalo loe tampil bareng Ryan duet gitu kan seru tuh!" Sahut pemuda pemain drum itu lagi.
"Iya juga ya! Kalian kan ikon sekolah kita! Tapi bakal bagus lagi kalo Ryan juga ikutan nyanyi, jadi the real duet gitu!" Sahut si pemuda pemain bass.
"Tapi Ryan nggak pernah nyanyi sebelumnya! Emang beneran ada acara penutupannya?" Sahut Erika sembari menikmati makanan mereka.
"Tara loe bisa nyanyi nggak?" Tanya si gadis pemain piano tadi.
"Loe tau nama gua?" Tanya Ratara datar.
"Yaiyalah! Loe nggak nyadar semua orang di sekolah ini tau nama loe? Buktinya lihat aja meja sebelah pada lirik-lirikan!" Sahut gadis itu.
Erika tersenyum mendengar lelucon temannya itu, bagaimana tidak, memang benar hampir semua meja yang ada cewe-nya sibuk mencuri pandang ke arah Ratara.
"Aura bintang loe itu terlalu bersinar! Gimana loe bisa nyanyi nggak? Gua bakal ngusulin loe buat tampil bareng Erika, kalo Ryan juga bisa ikut bakal sempurna nih hehe!" Sahut gadis itu lalu tersenyum dan yang lain terlihat setuju.
Di sisi lain, hanya satu orang yang berwajah datar sedari tadi, iyap Akira yang merasa tidak sesuai berada di sana. Walau sebenarnya di kelompok mana pun ia berada ia hanya anggota pasif yang berperan sebagai seorang listener (pendengar).
"Padahal gua juga pengen tampil, tapi nggak ada yang nanyain gua!" Batin Akira.
...
Gadis itu kembali ke kelasnya untuk mengambil tasnya. Ia melirik jam di dinding yang menunjukkan sudah jam 2 sore. Karena teringat tentang perbincangab tentang menyanyi tadi, Akira tanpa sadar mengeluarkan suara emasnya dengan nyanyian merdu yang sering ia pendam. Apalagi ruang kelas sedang kosong dan kelas lain pun sepi.
Entah bagaimana Ratara pun menuju kelas dan tanpa sengaja mendengar nyanyian Akira. Suara merdu itu dengan sopan menerobos telinganya. Pemuda itu semakin mendekat lalu terhenti langkahnya saat Ryan lebih dulu memasuki kelas mereka.
"Loe mau pulang bareng gua? Nyokap gua khawatir nya berlebihan gua capek diceramahin mulu, ikut gua aja ya hari ini!" Ucap Ryan yang juga mengambil tasnya usai mengganti seragamnya.
"Nggak! Kalo yang lain lihat gimana? Mereka pasti bakal bilang gua caper lah, ini lah, itu lah! Repot banget gua nanti! Nasib gua juga nggak seberuntung orang-orang!" Sahut Akira.
"Heh Aki-Aki! Berhenti sugesti diri loe dengan hal negative gitu! Positif thinking sesekali ayo! Pokoknya hari ini loe ikut gua!" Tegas pemuda itu.
Di sisi lain Ratara melangkah mendekat dan mendengar percakapan kedua oknum di dalam kelas.
"Tapi gua harus ke taman dulu, nggak langsung pulang! Gua harus balikin itu dulu!" Kalimat Akira terdengar sendu.
"Yaudah kalian janjiannya jam berapa? Biar gua tungguin loe nanti!" Sambung Ryan.
"Nggak tau! Gua bakal nungguin kapanpun dia datang, gua nggak bisa tahan lebih lama lagi!" Sahut gadis itu lalu menggunakan topinya yang kemudian di tutupi oleh tudung hoodie itu.
"Kenapa loe harus nungguin orang lain ketika loe lagi nggak sehat gitu!" Batin Ryan sambil melirik Akira.
Ratara lalu memasuki kelas itu untuk mengambil tas nya juga. Akira langsung keluar dari kelas dan diikuti Ryan yang juga ikut keluar.
"Mereka sedekat itu?" Gumam Ratara.
...
Di taman, Ryan seperti katanya mengantarkan gadis itu ke taman itu.
"Loe nungguin siapa sih?" Tanya pemuda itu penasaran.
"Loe pulang aja! Dan bilang sama tante gua udah sampe rumah dengan selamat!" Sahut Akira mengalihkan pembicaraan.
Pemuda itu melirik langit di mana awan-awan hitam berkumpul membuat bumi tampak redup. Ia tidak bisa meninggalkan Akira dengan kondisi kurang sehat apalagi akan hujan. Akhirnya Ryan ikut duduk di kursi taman itu.
Setelah hampir 30 menit, tibalah seseorang yang udah mereka tunggu. Ratara menyorot Akira dengan tampilan kaca mata hitam dan topi bersama Ryan. Rasa penasaran pemuda itu meningkat dan tidak bisa menahan diri.
Selain itu, Ratara seolah mulai memahami sesuatu. Ia merasa aneh karena pernah melihat pakaian persis seperti yang dipakai pengemis itu. Apalagi gadis itu bersama Ryan.
"Apa jangan-jangan si cewe pengemis itu A.." Batin Ratara lalu turun dari mobilnya dan menghampiri kedua oknum itu.
"Siapa loe sebenarnya?" Tanya Ryan begitu tiba di sana dan berdiri tepat di depan Akira.
.
.
.
Tbc