FIGURAN

FIGURAN
Love Hate Secret



Pagi yang agak mendung, walau burung-burung bergemerincing dari pepohonan, namun nestapa menyembunyikan rindunya.Di taman tempat biasa, gadis berambut pendek lengkap dengan topi dan kaca mata hitam namun menggunakan seragam sekolah, ia duduk di kursi itu sembari mendongakkan kepalanya menatap langit.


Sebuah mobil hitam melewati taman itu dengan perlahan. Dari dalam mobil, seorang pemuda yang menoleh ke luar jendela mobil, tatapnya berubah ketika menemukan gadis yang ia kenal sebagai pengemis berada di taman itu.


Dari sisi lain, Hendra yang juga berada dalam mobil itu, melirik ke luar karena penasaran apa yang di lihat anaknya itu.


"Oh itu teman Tara kan?" Tanya Hendra.


"Kok papah tau? Papah mata-mata-in aku lagi ya?" Ratara menyipitkan matanya karena curiga pada ayahnya.


"Nggak! Kan papah udah ketemu sama dia, namanya Aaa.. apa ya? Papah lupa tiba-tiba!" Pria paruh baya itu berusaha mengingat.


"Pokoknya, dia pasti ketinggalan bis lagi tuh! Kamu nggak ada rencana ajak dia ikut bareng kita sekalian ke sekolah?" Sambung Hendra.


"Dia itu pengemis! Dia nggak sekolah pah!" Sahut Ratara sambil menyiratkan senyum di wajahnya sesaat.


"Huh?" Hendra tampak bingung lalu tersenyum. "Tapi dia tadi pakek seragam sekolah kok! Kamu ini memang nggak tau apa-apa!"


Ratara menatap ayahnya dengan ekspresi bingung.


...


Back to Akira, memang benar tebakan ayahnya Ratara gadis itu ditinggal bus lagi kali ini. Namun karena masa ujian sudah berakhir, ia tidak terlalu khawatir akan minggu tenang. Lagipun tidak ada penilaian kehadiran, jadi ia bahkan bisa datang terlambat.


Tak lama setelah mobil hitam tadi menjauh, seorang pemuda dengan motornya berhenti di jalan dekat Akira duudk di taman itu.


"Oei! Sini cepetan!" Panggil pemuda itu yang membuat Akira menoleh dan langsung bangkit lalu berlari ke arah pemuda itu dan menaiki motor itu.


"Go Ryan! Go Ryan! Go!" Seru Akira dari belakang pemuda tampan itu.


"Ke mana dulu nih?" Tanya Ryan.


"Langsung ke sekolah dong!" Sahut Akira.


"Okeh gas!" Sesuai katanya, Ryan memutar setir motor dan melaju menuju sekolah.


"Nanti turunin gua di depan Kafe dekat sekolah aja ya! Bakal repot kalo ada yang lihat kita ke sekolah bareng!" Ucap Akira di atas motor yang melaju itu.


"Loe kenapa sih? Masih takut aja sama omongan orang-orang?" Tanya Ryan sembari menyetirkan motornya.


"Bukannya takut, gua males aja ladeninnya, energi gua habis! Lagian loe nggak takut Erika bakal cemburu kalo lihat loe sama cewe lain? Loe nggak takut kehilangan dia?" Sahut Akira.


"Gua lebih takut kehilangan loe! Kalo mamah gua tau gua turunin loe di pinggir jalan, bakal panas kuping gua kena omel seharian!" Ryan tak kalah ber-argumen.


"Makanya jangan loe kasih tau! Biarin persahabatan mama-mama kita, mereka bakal ngurusnya sendiri, nggak ada hubungan yang signifikan sama anak-anaknya!" Gadis itu memegangi topinya yang hampir terbang terbawa angin.


Akhirnya Ryan menghentikan motornya saat mereka sampai di Kafe depan sekolah, Akira turun dari motor lalu melepas kaca mata hitamnya.


"Loe tau sesuatu nggak? Hubungan signifikan akibat persahabatan mama kita pada anak mereka adalah hubungan kita yang seperti saat ini! Mana ada cowo yang mau tebengin loe ke sekolah kalo bukan gua!" Kata terakhir Ryan lalu melajukan motornya ke arah gerbang sekolah.


"Gausah loe perjelas gua juga paham!" Sahut Akira namun Ryan yang sudah jauh belum tentu bisa mendengarnya. Gadis itu kemudian melepas pula topinya dan memasukkannya ke dalam tas lalu berjalan kaki menuju gerbang sekolah.


...


Akira tiba di pintu kelas lalu langkahnya terhenti saat mendapati Ratara duduk di bangku miliknya. Di samping si cantik Erika, pemuda itu memperlihatkan love language nya yang act of service dengan menarik tirai jendela, di mana cahaya matahari pagi yang merambat masuk di sela-sela dan menyilaukan calon pacarnya itu. Pemuda tampan itu lalu duduk kembali di bangku Akira sambil berpangku tangan menopang kepalanya untuk menatap wajah Erika.


Di sisi lain sang ketua kelas menyadari Akira hanya berdiri saja di pintu kelas, ia hanya menatap gadis itu sebentar lalu mengalihkan fokusnya pada Erika dan Ratara yang duduk sebangku saat ini.


Akira menuju bangkunya lalu menatap Ratara, begitupun pemuda itu melirik gadis itu.


"Pergi sana loe ke neraka!" Ucap Ratara santai pada gadis pemilik bangku itu.


Akira yang tak menduga akan mendengar kalimat semacam itu lalu mengerutkan dahinya dengan wajah tak percaya.


"Pergi loe!" Ratara lalu melanjutkan aktivitasnya.


Erika pun tampak tak peduli dengan apa yang ia degar.


Akira tanpa pilihan lain menuju bangku kosong dan duduk. Karna kondisi minggu tenang jadi banyak siswa yang duduk di mana pun mereka suka membentuk kelompok dan mengobrol ria.


Di sisi lain, walau Akira sudah sering diabaikan dan kehilangan tempatnya, namun entah bagaimana kali ini ia merasa sangat terluka batinnya.


"Kenapa sih sejahat itu? Kalo mau usir, usir aja, kenapa harus ke neraka? Salah gua apa sama loe? (Ratara)," kini Akira hanya menjatuhkan kepala di meja itu dan berpura-pura tidur.


...


Saat sedang berkeliling kelas, Akira menemukan petugas kebersihan sedang mengunjungi beberapa kelas untuk mengangkut sampah.


"Pak! Saya mau tanya sebentar boleh?" Tanya Akira begitu menghampiri orang itu yang sengaja ia tunggu sampai jam pulang sekolah walau yang lain sudah duluan pulang.


"Pak, kira-kira bapak ada kehilangan amplop berisi uang sekitar tanggal 15 Februari?" Tanya Akira lagi.


"Loh? Tadi ada juga yang nanyain pertanyaan persis sama saya!" Sahut orang itu.


"Ohya pak? Terus jawaban bapak?" Akira menunggu jawaban.


"Saya nggak ada kehilangan uang!" Sahut orang itu.


"Kalo di hari valentine di kelas Mia 2, bapak nggak ada kehilangan juga?" Akira memastikan dan muncul teka-teki baru dalam kepalanya.


Orang itu hanya menggeleng lalu berkomentar, "coba kamu tanya teman sekelas kamu! Kayaknya ada yang bantuin saya kumpulin sampah hari itu! Bisa jadi itu punya teman mu!" Sahut orang itu lalu pergi melanjutkan tugasnya.


"Kok bisa sih?" Ucap Akira tak percaya dan mematung di tempatnya.


"Apa mungkin Ratara yang narok uang itu buat loe?" Ucap Ryan yang tiba saja muncul di belakang gadis itu.


Akira menoleh perlahan dengan wajah datar menatap Ryan.


"Nggak mungkin! Untuk apa dia yang... nggak mungkin!"


.


.


.


Tbc


Note: Kalau ada Typo atau salah ketik, mohon di maafkan ya readers.