
Ratara seolah mulai memahami sesuatu. Ia merasa aneh karena pernah melihat pakaian persis seperti yang dipakai pengemis itu. Apalagi saat ini gadis itu bersama Ryan.
"Apa jangan-jangan si cewe pengemis itu A.." Batin Ratara lalu turun dari mobilnya dan menghampiri kedua oknum itu.
Ryan dan Akira menoleh ke arah Ratara kini ketiga remaja itu saling berhadapan, tepatnya Ratara berada di depan Akira.
"Siapa loe sebenarnya?" Tanya Ryan begitu tiba di sana dengan raut curiga.
"Gua?" Sahut Akira lalu membuka topinya dan menarik kacamata hitamnya.
"Apa maksud loe? Ini Aki!" Ryan tampak bingung dengan pertanyaan Ratara.
"Gua Akira! Dan seperti yang loe lihat juga, penampilan gua memang mirip pengemis bagi loe! Tapi..." gadis itu menghentikan kalimatnya, lalu mengeluarkan amplop berisi uang itu dari saku bajunya dan tangannya yang lain meraih salah satu tangan Ratara.
Kini gadis itu meletakkan amplop itu di tangan pemuda tinggi itu sambil berkata,
"Sorry gua nggak butuh belas kasihan loe!"
"Apaan nih!" Sahut Ratara agak marah.
"Loe yang naruh uang itu di laci gua kan? Kenapa? Harusnya kalo loe bakal kasian dan nyesal, dari awal jangan lakukan!" Sahut Akira emosi.
"Sebenarnya itu bukan sepenuhnya karna kasihan! Ini bayaran buat loe! Gua lihat loe terlalu tulus bantuin gua, dan loe juga nggak pernah sekalipun nyalahin gua. Loe diam aja padahal kalo gua di posisi loe gua bakal ngamuk! Jadi tolong terima ya!" Jelas Ratara yang entah bagaimana kepribadiannya berubah 180 derajat.
"Huh?" Akira yang tadinya emosi sekarang menjadi bingung, alisnya pun ikut tertaut.
Kini giliran Ratara yang meraih tangan gadis itu lalu meletakkan amplop itu kembali padanya.
"Ambil aja buat loe! Kalo memang dari awal gua pengen minta balik, maka nggak akan pernah gua taruh!" Sambung pemuda itu.
Ryan sedari tadi hanya menonton dan mendengarkan.
"Tapi gimana ya? Gua nggak butuh uang loe!" Akira masih menyimpan dendam emosi di mana Ratara selalu memandang remeh dirinya, ia berpikir mungkin jika menerima uang ini kali ini, Ratara akan menjadikan hal ini sebagai bahan hinaan lain untuknya.
"Terima aja Ki! Loe berhak atas uang itu! Bagaimanapun loe udah lakuin terlalu banyak buat dia! Buktinya lihat Erika sekarang sedekat apa sama dia!" Ucap Ryan dengan wajah datar namun menatap tajam ke arah Ratara.
"Nggak Ryan! Gua..." Akira mengangkat amplop itu untuk dikembalikan pada Ratara namun Ryan mengambil alih dan berkata,
"Akira! Terima aja! Bahkan uang ini nggak akan ada apa-apa nya untuk utang budi!" Kini Ryan meraih tangan Akira lalu menarik gadis itu bersamanya.
"Ayo gua antar pulang!" Ryan tampak kesal dan emosi, pemuda itu baru menyadari perlakuan semena-mena Ratara pada temannya itu.
...
Sesampainya di rumah Akira,
"Ryan loe apaan sih? Kenapa loe ikut campur banget? Sini amplopnya biar gua balikin!" Akira memasang raut cemberut dan kesal.
"Akira!" Ryan sedikit meninggikan suaranya.
"Loe bentak gua?" Akira bertanya pelan.
"Sorry! Tapi gua nggak suka loe diperlakukan semena-mena gitu! Sejak hari itu dia buat loe keliling sekolah seharian tanpa makan cuman buat balikin kado-kado itu, gua pikir sampe situ aja, tapi dia nyuruh loe buat bantuin dia deketin Akira kan? Makanya loe pernah bilang ke gua loe nggak bisa bantuin gua!" Uneg-uneg Ryan tersirat dengan sempurna.
"Udah lah Ki! Gua sering banget bilang ke elloe, jangan biarin orang lain memperbudak loe! Semua ada harganya, jadi terima uang ini untuk semua kerja keras loe! Dan jangan pernah lakuin sesuatu secara gratis lagi!" Sambung Ryan.
"Ryan... gua.." bola mata gadis itu mulai berkaca, ia merasa hatinya sendu bagaimana kata-kata Ryan menyadarkannya bahwa dirinya hanyalah people pleaser dan tidak bisa keluar dari zona itu.
"Kalo dia ancam loe atau apapun, bilang ke gua!" Ryan menegaskan kalimatnya.
"Apa loe juga bakal minta bayaran buat bantuin gua?" Ucap Akira pelan terdengar sendu.
"Ya enggak lah! Loe kan sahabat gua! Jangan pernah ngira loe sendirian lagi, ada gua sekarang! Apapun cerita aja sama gua! Ya!" Kalimat terakhir Ryan namun Akira hanya diam saja.
"Setidaknya gua punya loe Ryan! Tapi semua nggak akan semudah itu, karna gua tetaplah gua! Gua belum bisa cerita apapun saat ini, mungkin nanti saat gua udah bisa keluar dari rasa bersalah ini!" Batin Akira.
...
Saat aku berusaha keras bertahan dalam hidupku, mengapa aku harus meninggalkan zona nyaman yang dengan susah payah kubangun hanya untuk menyenangkan orang lain. Rasa bersalah itu selalu menghantui ku tanpa alasan. Aku juga ingin bebas dan hidup sesuka ku.
~Dear People Pleaser.
***
Hari lainnya menyapa, di hari sebelumnya Akira terpaksa datang karena Ryan, kini Akira datang ke sekolah untuk mendukung Erika tampil. Akira dengan tubuh lesu dan wajah tampak penuh beban sudah siap di bangku penonton yang sudah sangat ramai.
Sebenarnya dibanding pendukung lain, Akira hampir tidak terlihat dalam kumpulan orang-orang itu. Namun entah bagaimana takdir mengisahkan, Ratara berada di satu bangku selang dengan gadis lesu itu.
Erika tiba dengan seragam perform yang anggun dan bernuansa Kpop. Gadis itu langsung menyapa kedua temannya itu dan duduk di tengah-tengah mereka.
"Cantik!" Ucap Ratara saat menatap Erika di sampingnya.
"Huh? Apanya?" Erika yang tanpa sengaja mendengarnya.
"Baju loe! Ohya, teman grup loe yang lain mana?" Tanya Ratara.
"Mereka masih siap-siap! Karna kami tampilnya yang terakhir." Erika terlihat gugup namun tetap cantik.
"Gimana gua aneh nggak Kira?" Tanya Erika pada temannya itu.
Akira memiringkan kepalanya lalu menilik gadis itu dari ujung rambut hingga ujing kaki seolah mentor yang akan memberi penilaian.
"Iya! Cantik! Cantik banget! Nggak usah insecure, nggak usah gugup, Erika udah sempurna! Gua yakin loe pasti menang!" Kalimat Akira yang selalu berhasil membuat si cantik tersenyum.
"Iya iya Aki! Tapi janji ya! Loe jangan tiba-tiba ngilang nanti pas gua tampil!" Sahut Erika memasang wajah cemberut yang imut.
"Ya kalo gua kebelet gimana? Gua bakal tetep pergi ke toilet dong! Masa harus gua tahan?" Sahut Akira bercanda.
"Masa sih nggak loe tahan sebentar buat gua?" Jawab Erika lagi.
"Hmmm...gimana ya?" Akira sok berpikir dengan ekspresi senyum tipis.
Erika yang juga mengikuti permainan peran itu bersama Akira pun kembali menjawab dengan candaan, "Ayolah Akira! Ayo temenin gua, iya? iya! iya! ya!" Seolah bertingkah imut sudah bagian dari dirinya, Erika bahkan tidak terlihat aneh dengan ekspresi apapun.
Di sisi lain, Ratara yang hanya menyaksikan tingkah kedua gadis itu tanpa sadar membatin.
"Akira memang seorang pendukung terbaik! Tatapnya selalu terlihat tulus walau kadang senyuman dia itu palsu!"
...
Akira mengambil tas nya dari kelas lalu menuju halte bus untuk pulang. Namun entah bagaimana ia menemukan Ratara yang terlihat babak belur saat melewati taman sekolah. Pemuda itu terlihat berusaha bangkit karena terjatuh di rumput itu.
Keempat manik itu saling bertemu pula, Akira langsung mengalihkan wajahnya karena tidak ingin menolong dan berusaha mengabaikan dengan pergi.
"Apa Aki se-benci itu sama gua?" Batin Ratara yang tertatih itu.
.
.
.
Tbc