
Pertandingan badminton di lanjutkan, Akira kembali bertanding dan menang hingga berhasil masuk ke babak 4 besar. Siapa sangka gadis itu ternyata lebih lihai dari pada yang terlihat. Kali ini ia lawannya adalah seorang atlet andalan sekolah. Seorang gadis yang selalu mewakili sekolah tiap ada pertandingan antar sekolah.
Tentu saja walau sudah berusaha keras, Akira belum bisa memenangi babak kali ini. Walau skor keduanya tidak terlalu jauh, namun atlet yang sudah banyak latihan dengan atlet dadakan sangat terasa perbedaan kelincahannya.
Namun gadis berambut sebahu itu masih memiliki kesempatan untuk memperebutkan tempat ketiga dengan melawan peserta yang kalah pada tim yang satunya lagi. Kali ini lawannya seorang atlet pemula. Permainan semakin sengit dan tenaga yang semakin terkuras serta pertandingan yang berlanjut tanpa sempat beristirahat.
Erika harus meninggalkan lapangan, karena jadwal latihannya untuk lomba hiburan.
"Tara! Gua harus latihan sekarang, loe tolong dukung Aki yaa! Nanti sekalian loe kasih tasnya Aki juga! Gua pergi dulu!" Gadis cantik itu langsung berlari usai melirik jam tangan branded pemberian Ratara melalui Akira di tangannya itu.
"Jam tangan itu harusnya bukan buat Erik, tapi buat dia!" Batin Pemuda itu dengan sorot mata berpaku pada Akira yang sedang berjuang tanpa ia sadari.
"Pprrrriiiiiiiiitt...!!!" Suara peluit dibunyikan wasit saat pukulan terakhir yang menentukan pemenang di saksikan.
"Akira menang!" Pengumuman wasit yang membuat gadis itu melompat gembira di tengah lapangan. Akira berlari ke arah seorang pemuda yang berada di pinggir lapangan itu dengan senyum menghiasi wajah itu.
Di sisi lain, Ratara yang masih menatap Akira lalu membatin, "dia kenapa lari ke arah gua?" Setelah memeriksa Erika tidak ada di sampingnya. Namun perlahan pemuda yang di panggil Tara itu membuka tangannya seolah akan menyambut Akira.
Pada kenyataannya, Akira berlari ke arah Ryan yang melambai dengan semangat. Karena terlalu senang Akira langsung memeluk Ryan lalu melepasnya sambil melompat-lompat memegangi kedua tangan Ryan sembari mengangkatnya ke atas.
"Gua menang! Gua nggak percaya! Waaahh!" Ucap Akira sambil berputar bersama ketua kelas itu. Namun tiba saja kenyataan menyadarkannya, Akira dengan segera melepas tangan Ryan lalu melirik kanan-kiri saat ia teringat Erika akan melihat mereka.
Namun yang terlihat hanyalah Ratara yang menatap tajam dirinya.
"Selamat ya Aki! Loe dapet juara ketiga!" Ucap Ryan lalu tersenyum.
"Ah iya! Gua masih nggak nyangka! Oiya tas gua mana?" Tanya Akira.
"Tadi sama Erika!" Sahut Ryan.
"Erik mana?"
"Itu si Tara, coba loe tanya dia! Gua harus pergi nyiapin set pertandingan final dulu ya!" Sahut Ryan lalu berlari pada kesibukannya.
Dengan enggan nan terpaksa, Akira menghampiri Ratara yang terlihat menakutkan itu.
"Erika man..." belum sempat menyelesaikan kalimatnya, gadis itu di sodorkan tas miliknya yang dilempar ke arahnya.
"Itu Erik yang nitip!" Ucap pemuda tampan itu dengan wajah datar lalu berbalik hendak pergi.
"Makasih ya!" Kata Akira yang membuat Ratara menghentikan langkahnya. "Di dalam tas gua, ada barang berharga yang harus gua balikin ke orangnya, walau gua belum tau siapa orangnya, makasih karna nggak loe telantarin!" Akira langsung pergi ke arah sebaliknya usai menyelesaikan kalimatnya, namun Ratara malah menoleh menatap punggung Akira.
...
Saat sedang berjalan menuju toilet, Akira kembali menemukan sang petugas kebersihan. Tentu ia masih memiliki keraguan dan kembali bertanya.
"Pak, masalah amplop yang saya tanya hari itu, apa benar bukan punya bapak?"
"Coba kamu tanya teman kamu! Seorang pemuda ganteng, putih, tinggi, dia juga pakek jam tangan bagus! Dia yang hari itu bantuin saya bersihin meja!" Sahut petugas itu lalu langsung pergi.
...
Pertandingan final usai, akhirnya para panitia dapat beristirahat sebentar dan berkeliaran. Dan para penonton pun menghilang satu per satu.
Di depan ruang lab menuju ruang aula tempat Erika latihan, Dua pemuda populer di sekolah itu tampak berbincang serius.
"Gua bakal to the point! Apa bener loe yang naruh amplop duit di laci Aki di hari valentine?" Tanya Ryan dengan raut serius.
"Apa? Amplop? Kenapa?" Ratara menanggapi dengan datar.
"Loe jujur aja gua punya bukti dan saksi! Untuk apa loe naruh amplop itu?" Ryan dengan keyakinannya.
"Tugas ketua kelas banyak banget ya! Loe sampe harus jadi detektif juga!" Sahut Ratara mengalihkan pembicaraan.
"Gua bakal rahasiain ini dari Aki. Dan gua akan tanya untuk yang terakhir kali, kenapa loe naruh duit di laci Aki, apa tujuan loe?" Ryan sangat serius.
"Iya memang gua yang naruh duit itu! Gua tiba-tiba kasian, dia kerja keras banget untuk ngembaliin kado-kado yang gua buang! Gua nggak tau itu pencitraan atau apa, tapi yang gua tau... nggak ada yang gratis di dunia ini kan?" Sahut Ratara dengan wajah datar.
Tanpa mereka sadari, ternyata Akira mendengar semuanya. Sebenarnya tadinya Akira sedang menuju Aula untuk menemui Erika latihan. Namun langkahnya terhenti saat mendengar namanya muncul di percakapan kedua pemuda itu.
Namun, sekali lagi hatinya terluka akibat kalimat terakhir yang ia dengar dari mulut Ratara. Gadis itu langsung berbalik dan pergi menjauh dengan bola mata berkaca.
"Akira bukan orang yang kayak gitu! Jangan menilai orang lain sesuka loe!" Sahut Ryan yang tak habis pikir dengan yang barusan ia dengar.
"Loe juga nggak perlu sok baik! Gua nggak tau di mana loe turunin tuh cewe tadi pagi, tapi yang gua lihat dia berangkat bareng loe dan sampe di sekolah malah telat, tapi duluan loe nyampe! Kok bisa?" Ratara lalu mengeluarkan senyuman sinis lalu melanjutkan langkahnya menuju ruang aula.
Ryan hanya diam saja, namun sorot matanya tampak sedih. Yang ia bisa saat ini bukanlah mengungkap semuanya, namun melanjutkan aktivitasnya.
...
Sorenya setelah turun dari halte bus, Akira dengan seragam olahraga sekolah malah mampir ke taman tempat biasa ia menyendiri. Tak lupa mengenakan topi dan kaca mata hitam miliknya. Dari balik wajah datar, gadis itu mengharapkan pemuda itu akan datang menemui-nya hari ini.
Setelah menunggu sekitaran satu jam, bukannya pemuda yang ia tunggu, namun tangisan semesta yang mengunjunginya. Gadis itu tetap tak bergeming saat hujan itu mengguyur tubuhnya.
"Oke kalo gitu! Bukan hari ini tapi besok! Akan gua kembaliin semuanya!" Gumam Akira.
Tiba saja derai air hujan berhenti menyentuh tubuh Akira, gadis itu mendongak mendapati seorang pemuda tinggi berkulit putih yang memegangi payung untuknya.
"Loe nggak waras atau memang loe pengen mandi hujan sih?" Tanya pemuda itu.
.
.
.
Tbc