
Masa minggu tenang belum berakhir, begitupun acara sekolah masih berlanjut, final stage untuk lomba hiburan berlangsung hari ini. Di mana akan ada dua tim yang melakukan drama musical di atas panggung dengan kreativitas dan peserta gabungan tiap kelas.
Akira si manusia paling overthinking, ia ke sekolah hari ini bukan untuk menonton drama musikal, namun hanya untuk menghilang saja dari rumahnya. Dengan menjauh dari yang namanya rumah dan kesendirian, gadis itu bisa sedikit meredakan isi pikirannya di tengah kumpulan orang-orang. Walau ia tetap akan merasa sepi, tapi cara itu efektif baginya.
Setelah menonton tim pertama drama musikal bersama Erika dan teman kelasnya yang lain, kini isi lambung gadis itu bergemuruh pelan.
"Erik, gua lapar nih! Loe mau ikut ke kantin?" Tanya Akira pada teman di sampingnya itu.
"Loh! Aki bentar lagi tim dua mau tampil loh! Loe nggak mau nonton?" Sahut gadis cantik itu.
"Tapi gua lapar banget, kalo gitu gua ke kantin sendiri aja, nanti loe ceritain aja ke gua performace nya ya!" Ucap Akira lalu bangkit dari bangku penonton itu.
"Oke deh! Tapi jangan lama-lama baliknya ya!" Ucap Erika pada gadis berambut sebahu itu.
"Okey siap kaka!" Akira lalu pergi meninggalkan tempat itu menuju ke kantin.
...
Di kantin, Akira langsung bisa menuju ibu penjual-nya tanpa harus mengantri seperti hari biasa. Apalagi kebanyakan siswa sedang menonton drama musikal saat ini.
Usai memesan, tiba saja gadis itu dikejutkan oleh sang preman sekolah, iyap Roi dan kedua bodyguard-nya.
"Heh Aki, ke mana aja loe? Kok jarang keliatan?" Tanya Roi.
"Hibernasi gua!" Sahut gadis itu malas lalu menerima makanan pesanan-nya dan menuju salah satu meja di kantin yang hampir kosong itu.
Tak lama pula, Roi kembali mengekori gadis itu dengan duduk di meja yang sama.
"Kalian kok ke sini sih? Sana di meja lain aja banyak tuh kosong!" Ucap Akira yang hanya ingin sendiri dan sebenarnya ia malas berurusan dengan para berandal sekolah.
"Gimana sih Aki? Kok ngusir sih? Padahal kita kan pengen deket sama loe! Ya nggak?" Ucap pemuda itu lalu meng-iya-kan pada kedua temannya.
"Deket sama gua bukan berarti kalian bisa deket sama Erika! Udah berapa kali gua bilangin, Erika tuh suka cowo yang gentel deketin dia langsung! Action dong langsung ke doi, jangan melalui gua!" Jelas Akira yang bahkan hampir kehilangan nafsu makan-nya.
"Tapi deketin sahabatnya dulu adalah salah satu jalan pintas menuju orang-nya langsung kan?" Sahut Roi lagi.
"Tapi kalo orang yang loe pilih gua itu sama aja buang-buang waktu! Udah! Kalian pindah meja deh sana! Kalo ada yang lihat kalian bareng gua nih, yang ada gua yang kena masalah nanti dikira masuk geng preman sekolah!" Akira tampak risih dengan ketiga oknum itu.
"Nggak apa kali! Dengan dianggap sebagai geng gua, nggak akan ada yang berani apa-apain loe!" Ucap Roi dengan tampang percaya dirinya.
"Betul tuh!" Sahut kedua bodyguard Roi.
"Tapi sayangnya, fakta mengatakan sebaliknya! Kalian harus berhenti deh gangguin anak-anak lain, coba perbaiki sifat loe, mungkin Erika bakal tertarik sama loe!" Ucap Akira.
"Kita udah berubah kok! Kita nggak gangguin anak-anak lagi kok!" Sahut Roi dengan tampang ngeselinnya.
"Akira!" Panggilan seorang pemuda yang baru tiba di sana membuat Akira menoleh.
Kelopak mata gadis itu melebar, bagaimana tidak, tiba saja Ratara menghampirinya saat di sekolah. Hal yang selama ini langka terjadinya.
"Jadi loe otak semua ini? Loe ikut ngerencanain buat keroyok gua bareng mereka, trus tiba-tiba loe sok baik nyuruh orang buat nolongin gua? Mau loe apa sih? Biar image loe bagus gitu di depan orang-orang?" Kalimat tajam sepertinya memang bagian dari diri pemuda ini.
"Maksud loe apa sih?" Tanya Akira walau sudah paham arahnya ke mana. Gadis itu kemudian menyorot tajam ketiga oknum yang sedari tadi di depannya.
"Loe juga! Tunggu aja balasan dari gua! Julukan kalian boleh preman, tapi kali ini loe bermain dengan orang yang salah!" Ucap Ratara lalu meninggalkan keempat remaja itu.
Lagi-lagi gadis itu menciut ditimpa kenyataan. Entah mengapa niat baiknya selalu berubah menjadi persepsi buruk bagi Ratara. Padahal ia hanya duduk makan saat ini, belum setengah nasi dari piringnya berkurang, bahkan nafsu makannya telah menghilang saat ini.
Gadis itu menatap oknum penyebab masalah yang duduk di depannya.
"Aki.. gini.. maksud gua.. Gua khilaf Aki! Kami beneran udah berubah kok! Kemaren gua kesel aja lihat tuh cowo udah deket-deket Erika aja! Padahal gua aja susah deketinnya! Makanya gua nggak sengaja banget kecelakaan itu terjadi." Jelas Roi dengan wajah agak menyesal.
"Kecelakaan terjadi? Nggak sengaja? Tapi kenapa muka tuh cowo babak belur gitu?" Akira masih menahan amarahnya.
"Itu karena..." kalimat Roi terhenti.
"Udahlah! Kejadian kan? Yang ini juga nggak sengaja! Gua tiba-tiba jadi terdakwa tanpa tau apa-apa! Please pindah dari meja ini sekarang!" Akira mulai sedikit meninggikan suaranya.
"Akira sorry! Maafin gua! Loe masih mau kan bantuin gua deketin Erika, setelah ini gua janji nggak akan gangguin siapapun! Dan gua bakal bilang sama si Tara itu, ini bukan salah loe ya!" Roi masih melancarkan misinya.
"Nggak! Loe pikir dia bakalan percaya sama omongan loe?" Akira yang kesal ini meninggalkan meja itu dan pergi.
"Duh nasib gua gini amat sih? Sampai kapan tuh cowo salah paham mulu sama gua?" Pikur Akira sambil menyusuri lorong kelas.
"Eh wait! Kenapa gua harus sedih? Kan tuh cowo nggak akan membuat hidup gua berhenti! Tapi masalahnya gua terganggu! Like a fool person, gua nggak bakal bisa tidur nanti malam karna overthinking! Duh apa gua akhiri aja ya hidup gua?" Batin Akira berdebat dengan nuraninya.
"Istighfar Aki! Jangan mikir yang nggak-nggak!" Ucap Ryan yang menemukan Akira melamun sambil berjalan dan menyentuh bahu gadis itu.
"Gua nggak maksud mau mati kok!" Kata hati yang tak sengaja terucap oleh Akira katena terkejut hingga Ryan mendengarnya.
"Apa? Loe mau mati? Jangan tinggalin gua dong! Ayo mati sama-sama!" Candaan seram dari Ryan membuat Akira merinding.
"Apaan sih Ryan nggak lucu tau!" Sahut Akira.
"Makanya! Jangan main-main dengan kata-kata horor gitu! Loe kenapa sih? Bengong aja gua lihat dati tadi!" Tanya Ryan.
"Kalo gua cerita, apa yang akan loe lakuin?" Akira malah berbalik memberi pertanyaan.
"Mmm.. biarin aja sih! Gua mau dengar aja tapi nggak akan action apa-apa!" Sahut Ryan lalu mengangguk-angguk seolah perkataannya bermakna, padahal tidak.
"Kalo gitu gua juga bakal diam aja!" Sahut Akira.
"Gua bakal bantuin loe lah! Apalagi? Cerita sekarang!" Ryan mulai kehilangan kesabaran.
"Jadi gini..."
.
.
.
Tbc