FIGURAN

FIGURAN
Piknik Dadakan



"Katanya bisa bawa motor!" Ucap gadis dengan helm pink mengapit kepalanya.


"Gua bisa kok! Cuman gua lagi males aja! Apalagi harus boncengin loe!" Sahut Ratara yang duduk di belakang motor Erika yang di bawa oleh Akira di jalan menuju taman.


"Alesan aja loe!" Sahut Akira dengan wajah datar.


"Harusnya loe bersyukur bisa naik motor bareng gua! Cewe lain aja banyak yang ngarep nggak akan dapat!" Ratara kembali berdebat.


"Apaan sih? Sok ganteng loe!"


"Lah emang gua ganteng!"


Akira hanya memasang wajah juteknya dengan ocehan penumpang di belakangnya.


...


Akhirnya mereka tiba di taman. Akira sengaja memarkirkan motor dekat dengan tempat ia biasa beristirahat di sana. Dan Ratara pun turun dari motor itu lalu mengangkat tangannya menepuk pelan helm di kepala Akira yang hendak dilepas itu.


"Ni anak cari perkara banget sih!" Gumam Akira lalu membuka helmnya, lalu menyangkutkan helm di spion motor. Karena rambutnya jadi acak-acakan, Akira mengibaskan rambutnya untuk merapikan sambil berkaca di spion motor.


"Udahlah! Bukannya loe jadi cantik juga!" Ucap pemuda itu lalu dengan sengaja memalingkan wajahnya dan tubuhnya setelah mengejek.


"Ryan sama Erik mana sih? Padahal tadi berangkat duluan, kok belum nyampe juga? Dia malah nitip orang ini lagi! (Ratara)," oceh Akira sembari melirik punggung lebar pemuda di depannya itu.


Ratara berbalik ke arah Akira lalu berkata, "loe!" Pemuda itu menatap tajam gadis yang belum turun dari motor itu.


Bola mata Akira ikut menatap pemuda itu namun sedikit menciut.


"Kenapa loe biarin Ryan berdua sama Erika sih?" Pertanyaan dengan nada kesal keluar begitu saja dari bibir si tampan itu.


"Lah? Emangnya gua yang nyuruh mereka? Bukan kan? Erika nya juga mau-mau aja, bahkan rela ngasih minjem motornya buat gua naikin! Artinya apa?" Sahut gadis berambut pendek itu sambil turun dari motor menuju kursi panjang di sana.


"Heh! Loe mau ke mana?" Ratara menatap punggung Akira yang mendahuluinya.


"Duduklah! Di situ! Gua capek bawa motor!" Akira mendekati kursi itu.


"Eh tunggu!" Ratara menghentikan yang membuat Akira menoleh ke belakang dengan wajah bertanya.


"Jangan duduk di situ! Biasanya bakal ada pengemis yang sering duduk di situ, jadi jangan gaunggu orang!" Jawaban Ratara membuat Akira sedikit berpikir.


"What? Pengemis? Yang dia maksud itu gua bukan? Ni orang apasih tujuannya? Mau ngejek gua atau gimana nih konsepnya?" Batin Akira lalu ia menjawab.


"Gua nggak gangguin siapa-siapa, kursinya lagi kosong juga!"


"Tapi nanti pengemisnya pas datang bakal duduk di situ! Loe bandel banget sih dibilangin!"


"Trus gua lesehan di rumput aja gitu? Nggak apa-apa?"


"Terserah loe! Kalo loe pengen baju loe kotor silahkan!"


Akira selalu diuji kesabarannya tiap menghadapi pemuda ini. Gadis itu menuju kursi panjang itu lalu duduk dan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Begitupun Ratara yang ikut duduk.


"Dasar! Cakap tak serupa bikin! Di dudukin juga kursinya tadi ngelarang orang!" Batin Akira tak tertolong.


Setelah beberapa detik, Ryan tiba bersama Erika dengan keranjang berisi makanan. Dan Ryan mengeluarkan gulungan tikar dari bagasi motornya.


"Apa nih?" Tanya Akira.


Akira mendekat dan membatun untuk beres-beres dengan membuka gulungan tikar lalu menyiapkan makanan.


"Kok tiba-tiba banget sih?" Tanya Akira lalu duduk di sana dan yang lain juga ikut duduk.


"Iya nih! Ryan tiba-tiba ngajak, katanya buat lepasin stress sebelum ujian!" Sahut Erika.


"Iya dong! Kapan lagi coba? Emang ada waktu yang tepat? Kalo dadakan itu selalu lebih terealisasi dibanding yang dibuat planning-nya hahah!" Sahut Ryan membuat kedua gadis di depannya tertawa.


"Iya loe bener banget lagi!" Sambung Erika sambil tertawa.


Di sisi lain, ada tamu yang seharusnya tidak diundang tapi sudah ikut, iyap Ratara. Pemuda ini hanya duduk diam dan makan, seolah berada di dunia yang berbeda. Namun dia tidak ingin kalah telak dari Ryan, Ratara inisiatif menaruh salah satu makanan di piring Erika, namun sayangnya Ryan juga melakukan hal yang sama di waktu bersamaan.


Kedua bola mata itu saling menoleh sesaat, namun Ryan melanjutkan aktivitasnya dengan menaruh makanan yang sama di piring Akira.


"Oh gitu cara kerjanya? Dekatin targetnya dan juga rebut hati sahabatnya? Dia memang jauh lebih lihai!" Batin Ratara.


Akira yang menyadari situasi, melirik Ratara yang menatap lurus Ryan. Lalu membatin sambil mengunyah, "kenapa gua kasian liat si Tara sih? Kalo dia tau yang sebenarnya gimana ya? Lah kok gua kasian sih? Nih orang kan ngeselin banget!"


Siang itu berlalu dengan ceria bersamaan langit biru, nyanyian burung bagai acapela merdu. Namun tak bertahan lama, satu jam kemudian hujan mengguyur tanpa kode dari langit. Keempat remaja dengan seragam sekolah itu berlari mencari tempat teduh.


Saat ini para remaja itu sedang berada di warung tak jauh dari taman itu, begitu air mata langit itu jatuh, Akira dan Ryan langsung bergerak mengambil motor, dan kedua orang lainnya menebeng, Erika bersama Akira, dan Ratara bersama Ryan. Begitulah bagaimana mereka sampai ke warung itu.


Segelas teh hangat di depan masing-masing di atas meja itu, di mana Akira duduk berhadapan dengan Ryan dan Erika berhadapan dengan Ratara.


"Seru ya! Apalagi pas hujan turun ya nggak sih!" Ucap Erika tampak puas dan bahagia.


"Iya loe bener!" Sahut Ratara lalu tersenyum ke arah gadis di depannya itu.


Ratara tiba saja melepas jaket yang sedari tadi ia pakai di atas seragam sekolah, lalu berkata


"Pakek ini! Loe pasti kedinginan!" Ucap Ratara namun jaketnya juga sudah basah walau hanya sedikit.


Tiba saja Ryan bangkit dari kursinya lalu menuju motornya dan membuka bagasi motor untuk mengambil sesuatu. Begitu kembali ke tempat duduk, pemuda yang tak kalah tampan itu berkata


"Aki, Nih buat loe!"


"Apa ini?" Tanya Akira dengan bola mata agak bingung.


"Itu beasiswa loe udah cair! Tadi wali kelas nitip ke gua! Katanya suruh cepat-cepat bayar SPP biar loe nggak ketinggalan ujian!" Sahut Ryan sambil duduk kembali.


"Iya Aki, gua dan Ryan juga sengaja buat piknik tadi biar loe dan kita semua bisa sebentar lupain masalah kita! Apapun yang terjadi ke depannya mari lakukan sama-sama ya!" Kalimat Erika membuat semua orang mengangguk lalu tersenyum.


"Dan mari terus bersama sampai akhir!" Sahut Ryan.


Akira mengangguk walau tak yakin, dia mendapati pertama kali dirinya dirasakan keberadaannya walau masih ber-status figuran.


.


.


.


Tbc