
Matahari mulai turun ke arah barat, begitupun tetesan bening masih jatuh dari langit menyentuh bumi. Setelah beberapa menit, Akira yang tadinya menagis sudah berhenti, dan Ratara masih memegang payung di tengah-tengah antara dirinya yang duduk agak jauh di samping Akira.
"Udah makan?" Tanya pemuda itu menoleh ke arah gadis itu. Namun si gadis membungkam mulutnya.
"Ini cowo kenapa sih? Nggak orang lagi sedih, lagi baik-baik aja, gangguin aja kerjanya!" Batin Akira yang menilik dengan ujung mata dari balik kacamata hitam itu.
"Eh pengemis! Loe kenapa sih?" Ratara dengan rasa penasaran tak tertahan itu.
"Ada cowo egois yang nuduh orang sembarangan! Cowo aneh yang ngikutin gua tapi benci sama gua, orang yang ngomong sesukanya tanpa tau kebenarannya! Gua benci banget!" Sahut Akira berterus terang karena ia tahu betul Ratara tidak mengenali dirinya dengan tampilan pengemis.
Di sisi lain, pemuda itu hanya menatap gadis yang ia anggap pengemis itu lalu bertanya,
"Maksud loe gua?" Pertanyaan yang membuat Akira menoleh dengan panik karena takut jika sebenarnya Ratara akan mengenalinya.
"Iya loe! Loe juga anggap gua pengemis hanya karna tampilan gua buruk! Loe bahkan nggak tau gimana hidup yang gua jalanin!" Sahut gadis itu.
"Singkirin aja payung loe dari gua! Lagian gua udah basah juga!" Gadis itu bangkit lalu menarik tudung hoodie ke depan.
"Loe mau ke mana?" Tanya Ratara.
"Kabur! Lari dari kehidupan!" Sahut Akira asal lalu pergi.
"Pengemis tunggu!" Panggil Ratara lalu menyusul gadis itu.
"Gua harap loe bisa jadian sama gebetan loe tanpa harus nyakitin orang lain! Tolong jangan jadi orang seperti orang yang gua kenal (Loe)!" Ucap Akira lalu pergi.
***
Minggu pertama ujian, sayangnya gadis berambut sebahu itu sedang mengejar bus yang berjalan menjauh darinya. Bagaimana bisa dirinya bahkan terlambat bangun di hari pertama ujian.
"Kalo nunggu angkot lain tetap telat nih! Gimana ya?" Gumam Akira yang saat ini berdiri di halte. Ia melirik kanan-kiri namun tak ada tanda-tanda kendaraan umum yang bisa naiki.
Alhasil, ia memutuskan untuk pergi ke warung untuk sarapan dan melewatkan sekolah hari ini.
Gadis dengan seragam sekolah itu kini menggunakan topi hitam dan kacamata-nya untuk menyamar agar tidak ada yang mengenalinya. Namun, seseorang melihat dirinya dan menyapa.
"Akira?" Seorang pria dengan setelan jas baru selesai membeli nasi bungkus.
"Huh? Bapak kenal saya?" Sahut Akira yang tidak bisa percaya ada yang mengenalinya bahkan setelah menyamar.
"Iya! Awalnya saya ragu, tapi kamu memang mirip Akira, beneran Akira ternyata." Pria itu tersenyum lalu kembali berkata,
"Sejak saya sarapan bareng kamu di sini waktu itu, saya jadi suka beli di sini, makanan nya enak!" Ucap Hendra ayahnya Ratara.
"Ah iya pak! Kalo gitu saya juga mau sarapan dulu." Akira tampak canggung lalu melepas kacamata nya untuk terlihat lebih sopan.
"Kamu nggak sekolah! Kalo kamu sarapan dulu, bakal telat nanti! Saya dengar juga hari ini ujian pertama kan?" Hendra terdengar perhatian.
"Iya pak! Tadi bus nya udah lewat pak, angkot juga baru datang sekitar 10 menit lagi, nanti saya ikut ujian susulan aja pak!" Sahut Akira si paling pasrah.
"Jangan dong! Ikut saya aja ayo! Biar sekalian saya pergi ke kantor, kamu turun di sekolah nanti ya!" Sahut pria paruh baya itu.
"Tapi saya nggak enak pak!" Gadis itu merasa serba salah.
"Ayo ikut aja!"
Akira berakhir di dalam mobil ayahnya Ratara, iyap gadis itu duduk di kursi depan di samping pak sopir. Sampai di sekolah, gadis itu turun dan berterimakasih. Begitulah dirinya tidak terlambat hari ini dan berhasil mengikuti ujian pertama dengan lancar.
Seperti biasa pandangan kelas di mana Erika menjadi sorotan dan dihampiri semua orang dan Akira yang layaknya hantu penunggu di samping Erika. Semua murid sibuk mencocokkan jawaban ujian mereka dengan milik Ryan dan Erika. Akira yang optimis dan terkadang keyakinan runtuh, hanya mendengarkan pendapat dan jawaban orang-orang.
Dan pandangan lainnya adalah Ratara yang cari perhatian pada Erika, entah dengan mengajak makan, mengajak ke perpus atau ajakan lainnya agar perhatian gadis itu teralih padanya. Di sisi lain Ryan fokus pada tugas nya sebagai ketua kelas. Pemuda yang selalu tampil keren dan pintar selalu menarik perhatian tanpa usaha yang besar.
...
Pulang sekolah, Akira menikmati hidupnya dengan nyaman hari ini.
"Aki, loe langsung pulang?" Tanya Erika setelah membereskan tasnya.
"Iya! Seperti biasa!" Akira tampak ceria dengan senyuman yang tulus itu.
"Mau bareng gua? Tapi loe yang bawa motor, gimana? Deal?" Erika lalu memamerkan senyum cantik itu.
"Iya deh boleh! Biar bisa hemat ongkos hehe!" Ucap gadis itu, lalu keduanya berjalan menuju tempat parkir.
Kedua remaja itu menoleh lalu saling tatap selama dua detik dan kembali menatap seorang pemuda di depan mereka.
"Tapi gua bawa motor kok Tara!" Sahut si cantik.
"Nggak apa! Motor loe biar dibawa pulang aja sama dia! Kita pergi makan yuk! Sambil belajar buat besok!" Ratara dengan segala usahanya.
Erika tampak berpikir lalu melirik Akira yang diam saja.
"Nggak apa lain kali aja ya Tara! Gua udah duluan janji sama Aki," Erika menjawab sambil tersenyum.
"Hai Erik, Aki! Mau ke mana nih? Ngumpul?" Sapa Ryan yang baru tiba di sana.
"Mau pulang aja kok!" Sahut Erika yang ceria.
"Loe Aki?" Tanya Ryan lagi.
"Gua mau ke rumah Erika sih!" Sahut gadis manis itu.
"Yaudah ayok!" Ucap Ryan lalu tersenyum.
"Huh? Ayok? Ke mana?" Tanya Akira.
"Ke rumah mertua, hehe!" Si ketua kelas itu tertawa kecil lalu melanjutkan katanya, "nggak, gua bercanda! Ayok pulang, jangan lupa belajar buat ujian besok ya! Semangat semuanya!" Pemuda itu menyelesaikan kalimatnya lalu pergi.
Di sisi lain, Erika tampak menyembunyikan senyumnya karena candaan Ryan yang membuatnya seolah memiliki harapan akan perasaannya. Dan Ratara yang menatap sinis Akira. Dan Akira yang tidak akan membantu lagi Ratara akibat perkataannya hari itu.
"Yaudah ayo pulang Erik!" Ucap Akira lalu menuju tempat parkir.
...
Malamnya, Ratara sedang makan malam bersama keluarganya. Ia duduk di depan ibunya dan Ayahnya di tengah-tengah mereka sebagai kepala keluarga.
"Tara, tadi papah bantuin teman kamu! Kasian dia ketinggalan bus, apalagi tadi ujian kan?" Ucap Hendra.
"Ohya? Pasti anak cewe kan? Papah keingat Tari lagi ya?" Ucap wanita paruh baya di depan Ratara itu.
"Siapa pah?" Tanya Ratara malas tapi penasaran.
"Akira, entah kenapa tiap kali ketemu anak itu, papah selalu teringat sama Tari mah!" Sahut Hendra.
"Anak itu mirip sama Tari ya?" Tanya ibu Ratara.
"Nggak! Sama sekali nggak mirip! Papah jangan terbuai gitu dong! Gausah nolongin sembarang orang, dia juga bukan teman Tara pah!" Pemuda itu merasa kesal.
"Tapi kalian kan sekelas! Kan papah udah bilang jangan pilah-pilih teman! Anak itu baik kok, jangan berprasangka buruk begitu!" Hendra menjelaskan dengan tenang.
"Pah, tolong jangan ikut campur masalah teman-teman aku!" Pemuda itu masih kesal.
"Kenapa menurut kamu anak itu nggak baik? Hanya karena ada hal yang nggak kamu suka, jangan salahkan dia sepenuhnya, kita nggak tau kehidupan seperti apa yang dia jalanin kan?" Hendra masih menjelaskan dengan lembut.
Namun Ratara bangkit dari kursinya lalu pergi ke kamarnya. Pemuda itu langsung melempar tubuhnya ke ranjang dengan kasur empuk itu.
Tiba saja ia teringat kata-kata si pengemis tentang
"Ada cowo egois yang nuduh orang sembarangan! Cowo aneh yang ngikutin gua tapi benci sama gua, orang yang ngomong sesukanya tanpa tau kebenarannya!"
Ratara juga terbayang bagaimana Akira yang selalu diam saja kapanpun itu, selalu tak ingin ikut campur dan pasrah pada apapun. Namun di sisi lain, Akira tidak mengeluh dan selalu tersenyum walau terkadang tampak jelas senyum itu dipaksa.
"Apa gua terlalu kejam sama Akira?" Gumam pemuda itu.
"Loh kok gua jadi mikir si cewe itu sih?" Gerutu Ratara lalu menutup matanya mencoba tidur.
.
.
.
Tbc