
Matahari seolah balas dendam kepada rakyat bumi yang kerap mengeluh apapun cuacanya, bagaimana tidak masih pagi namun cahayanya sudah luar biasa. Akira dengan setelan samaran itu tampak sedang banyak pikiran menuju taman tempat biasa ia melarikan diri dari rumahnya.
Begitu tiba di kursi panjang tempat biasa ia istirahat di taman itu, awalnya ia tidak menyadari bahwa seorang pemuda sudah mendahului-nya. Ia sedikit terkejut saat baru menyadari begitu melihat pemuda itu sedang tidur di kursi panjang itu.
"Ratara? Gua males banget ketemu dia!" Batin gadis itu, ia kemudian mengambil langkah besar namun perlahan untuk pergi dari sana.
"Pengemis! Mau ke mana loe?" Tanya Ratara yang begitu gadis itu menoleh ia sudah duduk di sana.
"Gua mau pulang!" Sahut Akira yang berpakaian setelan pengemis bagi Ratara itu.
"Sini duduk!" Perintah pemuda itu, Akira sempat menolak namun apalah daya seolah dirinya terjebak dalam lingkaran hitam yang ia buat sendiri. Lingkaran siklus ketidak-enakan dengan orang lain.
Kini, Akia telah duduk di samping pemuda itu.
"Gua mau tanya, loe sekolah kan?" Tanya Ratara yang ingin membenarkan perkataan ayahnya.
"Iyalah! Setidaknya gua nggak punya harta, gua bisa punya ilmu!" Sahut Akira yang kerap kali memberi alasan atas jawabannya.
"Jangan-jangan selama ini loe mikirnya gua nggak sekolah?" Sambung Akira.
Pemuda itu hanya mengangguk pelan dengan wajah datar itu. Sedangkan Akira memasang ekspresi tak percaya dan kehabisan kata-kata.
"Sekarang giliran gua yang nanya! Loe kenapa jadi sering ke sini sih?" Akira yang penasaran kenapa dirinya selalu diganggu.
"Karna gua tinggal di daerah sini!" Sahut Ratara santai tanpa menatap gadis dengan kaca mata hitam itu.
"Loe nggak nganggep gua teman loe kan? Yang gua denger itu cuman isu aja kan?" Tanya Akira yang ingin memastikan apa yang pernah ia dengar.
"Iya! ... itu cuman isu! Untuk apa gua nganggap loe teman gua?" Pemuda itu menjawab tanpa menoleh.
"Makasih ya, udah jujur!" Akira tampak lega, setidaknya memang sifat pemuda ini yang buruk, bukan Ratara hanya buruk padanya.
"Itu bohong! Gua memang anggap loe teman gua! Gua merasa aman aja kalo cerita apapun sama loe, loe nggak kenal detail siapa gua, dan loe juga bukan ancaman bagi gua!" Kalimat Pemuda itu yang mematahkan keyakinan Akira.
Gadis itu melebarkan bola matanya lalu memejamkan matanya pasrah selama dua detik dan menghela berat.
"Ternyata Akira asli satu-satu nya yang dia benci! Aki pengemis saja lolos permainan takdir! Apa jadinya kalo dia tau siapa gua sebenarnya?" Batin Akira.
...
Pagi cerah menyapa lagi, Akira baru turun dari bus lalu memasuki gerbang sekolah. Tampak para anggota OSIS sibuk membawa perlengkapan karena adanya kegiatan ekstrakulikuler yang menyediakan banyak lomba antar siswa baik dari segi olahraga dan hiburan.
Akira tiba di kelas dan mendapati kelasnya kosong, ia kembali keluar untuk mencari setidaknya satu orang yang ia kenal. Dari kejauhan, ia mendapati hampir semua teman sekelasnya berjalan menuju kelas bersama, entah dari mana asalnya.
"Hai Aki! Harusnya loe datang lebih awal, hari ini bokap nya Tara ngajak kita sarapan bareng lagi!" Ucap Ayna yang ingin pamer begitu ia tiba di pintu kelas.
Akira sedikit minggir saat yang lain memasuki kelas lalu kembali berdiri di samping pintu. Pemeran utamanya datang bersama Erika sambil mengobrol. Akira yang sadar diri kembali minggir dengan keluar sebentar, namun bahunya tertabrak agak kasar menyentuh bahu pemuda itu.
Akira hanya sedikit mengernyit dan menyentuh bahunya yang terasa sakit.
"Kalo gua ngeluh dan nyalahin dia, pasti Ratara bakal makin benci sama gua! Energi gua bakal habis untuk perdebatan yang nggak akan gua menangi! Mending gua diam aja!" Batin Akira.
Di sisi lain, langkah Ratara terhenti sebentar sekitar dua detik, lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju ke tempat Erika.
Tak lama Ryan muncul dengan segera lalu membuat pengumuman di kelasnya.
Namun kelas itu senyap tanpa jawaban,
"Tapi Ryan! Kan hampir semua punya lomba sendiri!" Sahut Ayna.
"Erik, loe kan pinter badminton, loe bisa ikut?" Tanya Ryan pada Erika.
"Tapi gua harus latihan untuk lomba hiburan hari ini!" Sahut Erika.
Akira yang tadinya di luar sibuk menahan rasa sakit bahunya, kini memasuki kelas tanpa tahu apa yang terjadi dan memegangi bahunya. Suara langkah sepatu yang menggesek lantai membuat Ryan yang berdiri di depan meliriknya.
"Aki! Loe aja ya! Okey fix Aki yang bakal gantiin Reina!" Ucap Ryan lalu tersenyum karena masalahnya teratasi.
"Apanya? Apa?" Akira tampak bingung.
Pemuda itu dengan segera meraih pergelangan tangan Akira lalu menarik gadis itu bersamanya sambil berkata, "ikut breafing bareng gua sekarang!"
Di sisi lain, Erika tampak terguncang. Gadis itu melewatkan kesempatan untuk bersama Ryan yang sibuk. Dan di tengah semua itu, Ratara menyadari tatap Erika yang mengarah pada kedua remaja tadi yang sudah pergi. Ia selalu penasaran akan tatap Erika yang selalu berbeda saat menatap Ryan.
...
Di tengah perkumpulan atlet, Akira merasa dirinya hanya serpihan kertas yang di sobek, namun ikut duduk di sana untuk mendengar pembahasan perlombaan yang akan di laksanakan mulai besok. Sedangkan Ryan merupakan salah satu anggota OSIS yang menjadi panitia penting, sekaligus akan mengikuti perlombaan juga.
Pembagian Regu, dan penentuan lawan untuk setiap babak di tentukan.
"Reyna perwakilan badminton kelas XI Mia 2 akan digantikan oleh Akira ya? Yang mana Akira? Tolong bangun!" Ucap salah satu panitia yang bertugas memberi arahan.
"Saya Akira!" Sahut gadis itu sambil bangkit dari duduknya. Dan entah bagaimana perhatian semua orang tertuju padanya saat ini.
"Kamu seorang atlet juga?" Tanya panitia.
"Saya bukan atlet!" Sahut Erika yang gugup akan perhatian yang tertuju padanya, karena sebelumnya ia tidak pernah menghadapi audiens yang sebanyak ini.
"Okeh silahkan duduk!" Ucap panitia itu dan Akira si penurut langsung duduk.
"Ada lagi perwakilan badminton yang bukan atlet?"
Di sisi lain, Ryan malah tersenyum melihat ekspresi gugup Akira yang terlihat lucu baginya.
"Dia kenapa imut banget gitu sih?" Batin Ryan.
Usai breafing, orang pertama yang di cari Akira untuk dimarahi adalah Ryan, bagaimana tidak Akira bahkan tidak tau apa yang akan dia lakukan di sana. Seolah jiwanya di rampas tanpa notifikasi. Namun di sisi lain, ia mendapati Erika yang tampak melirik kiri kanan menuju lokasi breafing itu.
Usai berafing untuk para atlet, sekarang saat nya untuk breafing lara Artis/seniman untuk lomba hiburan. Erika tampak langsung bahagia saat menemukan Ryan dan langsung mendekati pemuda itu. Gambaran kebahagiaan juga muncul di wajah tampan Ryan yang menggoda itu.
"Apa yang gua pikirin sih? Kenapa gua mulai berharap lagi untuk hal yang nggak pasti? Gua pasti udah g*la!" Batin Akira.
.
.
.
Tbc