Feeling In Love

Feeling In Love
Jangan Sentuh Dia



Sudah seminggu Rena resmi menyandang status istri kedua Ilham dan ia pun harus menjalani aktivitas-aktivitas seperti biasanya, setelah sepekan ini cuti.


Dan sekarang ia sedang berada di kampus. Sebentar lagi akan ada bimbingan namun ia tak melihat sahabatnya, Gita. Apa suaminyaa telat menjemput? Hmmm kalau kalian bertanya mengapa dirinya duluan berada di sini. Itu karena dirinya lebih memilih naik angkutan umum di bandingkan harus berduaan dengan suaminya. Itu tidak baik bagi jantungnya.


"Hei sendirian aja?" tanya seseorang yang ikut duduk di kursi panjang yang Rena duduki sedari tadi.


Rena menoleh kesamping dan ternyata ada Reyhan cowok yang dikenal nya beberapa minggu lalu di tukang mie ayam.


"Iya!"


"Hmm... Ada kelas?" tanyanya


"15 menit lagi, dan kenapa kau bisa di sini bukannya ini bukan jurusan mu?" tanya Rena masih dengan fokus pada buku yang berada di genggamannya.


Reyhan hanya tersenyum sebab kalimat tadi yang di ucapkan Rena adalah kalimat pertama yang berjumlah banyak.


"Hahaha aku hanya main-main saja di fakultas ini." ucap Reyhan yang terus menatap wajah Rena.


"Maaf Rey! Tapi tidak pantas kau memandangku seperti itu. Aku bukan muhrim mu" ucap Rena sambil berdiri.


Namun pergelangan tangannya malah di cekal oleh Reyhan. Sungguh maaf kan Reyhan karna ia sebenarnya tidak tahu bahwa Rena telah menikah mangkanya dia berani berbuat seperti itu. Mungkin:v?!


"Lepasin Rey." ucap Rena datar.


"Tapi aku mau bicara sesuatu." ucap Reyhan semakin mengeratkan genggamannya.


"Lepasin" Rena terus berusaha melepaskan cekalan itu dengan menggerak-gerakan tangannya.


"Ren aku cuman mau bil..." belum selesai Reyhan menyelesaikan ucapannya, kalimatnya sudah terpotong oleh suara bass yang terdengar angkuh dan datar.


"Lepaskan dia!" tangan Reyhan pun mengendur, Rena tidak menyianyiakan itu dia langsung menarik tangannya dan menghampiri Gita. Yang memang tadi berada di sisi Ilham.


"Jangan sentuh dia lagi" ucap Ilham masih dengan datarnya.


"Hei memang siapa kau melarangku untuk menyentuhnya?" tanya Reyhan dengan beraninya membusungkan dada pada Ilham.


"Kau ingin tahu siapa aku?" tanya Ilham dengan mengankat satu alisnya.


"Hah tidak peduli lah siapa kau, yang jelas jangan pernah berani melarang apa yang sedang aku inginkan" Reyhan menunjuk nunjuk dada Ilham dengan jari telunjuknya.


"Begitu kah?" ucap Ilham meremehkan.


"Jangan bodoh, sudah kau pergi saja, urusanku bukan dengan mu!" Reyhan dengan nada so nya.


"Yakin?" tanya Ilham dengan mengejek.


"Hahahaha sudah lah kau pria tua tidak usah ikut campur urusanku."


Ilham yang naik pitam karna di sebut tua itu marah, bahkan icha saja selalu menganggap Ilham muda, ya walaupun memang sekrang umurnya 35 tahun. Dia kalap dan memelintir tangan kiri Reyhan.


"Arrrgh." ringis Reyhan.


"Masih beruntung kau hanya tangan kirimu yang ku patahkan


"ucap Ilham sarkatis, "Jangan pernah menantangku atau pun menganggap ku tua."lanjutnya~ini emang ilhamnya yang nggk tau diri dia tidak mengakui bahwa dia telah tua?!


"Arrrghhh!!" rintihan Reyhan makin keras karena Ilham yang tidak juga melepaskan pelintirannya.


Rena dan Gita yang melihat itu langsung saling tatap dan bergidik ngeri. Pasalnya mereka berdua belum pernah melihat Ilham seperti itu, bahkan Gita yang adik iparnya saja tidak pernah menemukan ekspresi seperti itu saat ada seseorang yang melukai kakaknya.


"Mas Ilham." ucap Rena sambil memegang lengan kiri Ilham.


Ilham hanya menoleh namun tak melepaskan tangannya di tangan Reyhan.


"Kasihan Mas, lepasin. Dia itu calon dokter kan nggk lucu kalo tanggannya terpelintir." ucap Rena yang membuat gelak tawa Gita. Lah dikira nih si Rena bakal ngebelain tuh temen cowoknya tau tau cuman ngasih pendapat doang.


Ilham cukup lama memandang Rena dan akhirnya melepaskan tangannya dari tangan Reyhan.


"Jangan pernah dekati Rena lagi!"perintah Ilham dengan datarnya.


Reyhan yang masih kesakitan itu hanya mengangguk dan pergi begitu saja dari hadapan mereka.


"Wih Mas Ilham ini jago ya, belajar dari mana si?" tanya Gita


"Mas pernah latihan wushu." jawab Ilham.


"Wah hebat ya, ih nanti ajari Rena ya."ujar Rena. Namun sama sekali tidak di tanggapi oleh Ilham. Ilham hanya diam dan langsung pamit ke pada Gita.


"Ah ayu ke kelas Ren, nanti kita telas lagi." ajak Gita sambil merangkul sahabatnya itu.


***


"Pulang nya bareng ya Ren?" ucap Gita saat mereka keluar dari kelas.


"Eh engga deh, kan aku harus ke caffe." ucap Rena.


"Lah? Masih kerja di sana?" tanya Gita heran.


"Ya iya atuh, entar biaya kuliah dari mana?" Rena terkekeh.


'Kamu tuh ya dari awal masuk kuliah biayanya dari kamu, padahal punya orang tua kaya'ucap Gita dalam hati


"Ya mas Ilham atuh." jawab Gita greget.


"Dia siapa aku?" tanya Rena dengan nada sok polos.


"Koplok suamimu nak!" jawab Gita kesel ples greget sambil nyonyor kepala Rena.


"Aih... Iyaya hahahahah." ngakak Rena.


"BTW kamu tadi kok kesininya nggk bareng Mas Ilham si?" tanya Gita penasaran, saat tadi ia membuka pintu kostsan dan hanya mendapati kakak iparnya saja tidak dengan sahabatnya yang juga memiliki tujuan searah dengan dirinya.


"Nggk baik buat jantung." ucap Rena dengan pelan.


"Hah?"


"Eh engga maksudnya aku lagi kangen sama tukang ojek online langganan aku jadinya aku naik ojek, iya naik ojek" alibi Rena.


"Yakin?" Gita memicingkan matanya.


"Dih apaan sih?!" tangan Rena mengusap wajah Gita dengan kilat.


"Ih... eh itu Mas Ilham udah jemput." tunjuk Gita pada Ilham yang sedang bersandar pada mobil dengan setelan jasnya.


Bos mah bebas! Padahal sekarang masih jam setengah dua. Si dia malah bolos, bos yang tak patut di tiru!


"Kesana dulu ya." ajak Gita sambil menarik tangan Rena yang otomatis membuat Rena mengikuti di belakangnya.


"Mas." lambai Gita pada Ilham.


Ilham yang tadinya terfokus pada genggaman hanphonenya pun langsung menoleh pada sumber suara dan memasukan handphone ke sakunya.


"Sudah pulang Git?" tanya Ilham.


Sekali lagi dia tidak pernah menganggap ku ada-batin rena


"Eh iya nih mas, ayu pulang. Ayu Ren ikut!" ajak Gita.


Rena hanya menggelengkan kepala sambil memelas.


"Ayu" ucap Gita kembali. Sedangkan Ilham dia sudah duduk ganteng di kursi pengemudi.


"Aku nggk ikut kalian aku kan mau ke caffe Git." jelas Rena memelas pada Gita agar dia mengerti.


Gita yang di tatap seperti itu hanya pasrah. Tadi dia hanya ingin menciptakan waktu berdua untuk Rena dan Ilham setelah Ilham mengantarkan dirinya ke kosannya.


Rena menghampiri Ilham. Ilham hanya menaikan satu alisnya tanpa melirik Rena sekalipun.


"Mas." panggil Rena namun tak ada respon yang di berikan Ilham.


Itu menarik perhatian Gita sungguh hatinya sakit, lalu apa kabar dengan hatinya Rena? Gita tidak bisa membayangkan itu.


"Euuum Rena mau kerja di caffe mungkin pulangnya akan malam sekitar jam 10 malem Mas." tetap tak ada respon dari Ilham. Ya ampun ini Rena lagi ngomong sama manekin idup kali ya? Kok kaga ada suara nya.


"Euuum bilang ke Mbak Icha jangan khawatir, dan jangan kunci pintu dulu ya." ucap Rena dengan di akhir kalimat mengecil.


Dan Rena mendapat respon sungguh itu untuk pertama kalinya. Ya walaupun hanya anggukan.


Mobil mereka pun keluar dari pekarangan kampus. Gita yang melihat ke belakang terdapat Rena yang menatap mobil ini dengan sendu. Sungguh Gita prihatin dengan keadaan yang menimpa sahabatnya itu andai andai saja saat itu Gita tidak memperkenalkan Rena pada kakak dan kakak iparnya mungkin Rena tidak akan menjadi korban. Andai andai itu hanya sebuah kata andai.


Tbc