
Di pagi yang cerah, Rena masih saja bergelung dengan manja di atas tempat tidurnya. Hingga suara alarm mengagetkannya, ia terduduk dengan mata yang masih terpejam. Ia menatap jam walker yang menunjukan pukul 07:15. Ah dirinya telat! Kuis akan di adakan 30 menit lagi. Harusnya selepas solat subuh ia tidak usah tidur lagi.
Dengan tergesa, dirinya siap-siap. Dan saat keluar hanya mendapatkan Icha yang tengah membaca majalah di sofa ruang tengah.
"Pagi mbak." sapa Rena.
"Pagi." ujar Icha kembali menyapa.
"Rena ke kampus dulu ya."
"Iya hati-hati di jalan"
"Okeeeeh... Wassalamualaikum Mbak."
"Waalaikumsalam."
***
"Cieee yang abis jalan-jalan berdua."
"Apa'an sih Git nggak usah ngeledek gitu..." ucap Rena dengan nada sebal, padahal baru 3 menit dirinya sampai di kampus. Sudah di kejutkan oleh suara lengkingan Gita, membuatnya malu saja.
mengangguk paham tidak membahas soal itu, "Tumben datang telat?" tanya Gita, saat melihat jam tangan menunjukan pukul 07:40 WIB. Untung kuis belum di mulai.
"Oh itu. Iya nih tadi ada kecelakaan lalu lintas." jelas Rena, dirinya telat bukan hanya karena bangun kesiangan.
"Inalillahi... Terus korbannya gimana?"
"Nggak tau sih yang aku denger mereka udah di bawa ke rumah sakit."
"Eh Ren muka kamu kok pucat sih?"
"Hah engga ah biasa aja." ucap Rena mengaca di layar handphone nya yang sengaja di matikan.
"Beneran deh... Mau ke rumah sakit aja? Kamu si baru aja pulang dari Bandung tadi malam malah langsung kuliah," khawatir Gita.
"Ya kan sekarang ada kuis... Eh ke kelas yu bentar lagi dosen masuk nih. Ntar telat lagi"
"Beneran nggak mau kerumah sakit? Yaudah ayu" Gita berjalan duluan.
Baru beberapa langkah jalan rasanya kepala nya pening sekali badannya pun lemas. Tidak tau kenapa saat bangun tidur rasanya kepalanya pusing sekali.
Siang harinya.
Rena kini berada di dekat koridor kampus, rasanya pening nya tak kunjung hilang padahal tadi dirinya sudah sempat minum obat di kantin sebelum masuk MATKUL.
Rena terhuyung hampir saja jatuh, kalau saja tidak ada orang yang menahannya.
"Ya ampun Rena. Kamu kenapa?" tanya orang itu.
"Tidak tidak apa-apa aku hanya pening saja." ucap Rena menjauh dari orang pria yang tadi menolongnya.
"Bagaimana kalo kita kerumah sakit saja?"
"Nggak usah Reyhan aku hanya pening saja." ya orang itu adalah Reyhan. Entah bagaimana dia bisa kembali berada di fakultas Bahasa.
"Kamu tau aku calon dokter aku tau itu bukan sekedar pening Ren. Terlihat dari raut mukamu." jelas Reyhan pada Rena dan menahan saat melihat gadis dengan khimar panjang itu akan kembali melanjutkan langkahnya.
"Tapi aku masih ada kelas Rey. Sudah lah aku mau ke kelas dulu." kekeh Rena melepas cekalan tangan Reyhan.
Namun baru beberapa langkah ia berjalan, Rena merasakan kepalanya kembali pening. Dirinya hampir saja terjatuh lagi bila Reyhan tak kembali sigap menahan tubuh Rena.
"Tuh kan mau jatuh lagi, yaudah ayo kita ke rumah sakit."
"Tapi-"
"Nggak ada tapi tapian Ren" ucapnya sambil menggiring badan Rena ke arah parkiran. Sungguh peningnya kembali menyerang lagi rasanya matanya gelap sekali ia ingin tidur.
Di rumah sakit.
Di rumah sakit Rena kini tengah duduk di hadapan dokter wanita yang memeriksanya tadi. Reyhan tidak ikut, itu permintaan Rena. Kemudian diagnosa dokter itu sungguh membuat Rena tidak percaya, perasaanya campur aduk, ada haru biru di sana. Ia memegang perutnya, yang di kata ada sosok mahkluk yang kini hidup di dalamnya. Malaikat kecil yang nanti akan mewarnai harinya. Ya! Dokter itu mengatakan dirinya hamil. Sekitar 1 bulan, dan pening nya itu wajar di rasakan setiap ibu hamil. Dirinya tidak merasakan kontraksi katanya itu juga hal yang wajar sebab tak semuanya orang yang hamil mual-mual atau sering kita sebut morning sick. Rena hanya mengangguk paham, namun ada satu pernyataan yang kembali membuat dirinya tercengang.
"Ibu saya beritahu bahwa di rahim ibu terdapat kista."
"Apa?" responnya kaget, ia tak percaya itu.
"Iya bu... Mungkin kandungan ibu sangat lemah karna ada nya kista ini dan itu pun akan membahayakan ibu karna jenis kista ini bisa berbahaya untuk ibu. Saya pribadi mengusulkan untuk ibu tidak mempertahankan kandungan ibu.
Begini memang kista yang berada di rahim ibu saat ini adalah jenis kista yang bisa ganas bisa tidak seiring berjalannya waktu namun bila kista ini ganas maka ini akan benar benar membahayakan ibu." jelas dokter wanita itu, ber-name tag Dessi.
Rena hanya meresponnya dengan gelengan, ia tak sanggup bila malaikat kecil nya yang bahkan baru ia ketahui harus di gugurkan.
"Tidak apa-apa ibu. Mungkin kalau ibu mengambil keputusan tidak mempertahankan kandungan itu maka kami akan melakukan tidakan lanjut dan mengambil kista itu dari rahim ibu. Dan ibu pun masih bisa memiliki anak lagi." jelas dokter Dessi serius.
"Tidak dok saya tidak ingin menggugurkan anak ini." ucap Rena sambil memegang perutnya yang masih rata.
"Tapi itu akan membahayakan ibu Bu dan anak ibu. Bisa jadi kalau ibu terus mempertahankan kandungan itu kalian harus memilih salah satu yang harus di pilih."
"Tidak apa dok saya akan memilih untuk mempertahankan anak ini walaupun taruhannya nyawa saya sendiri" kekeh Rena.
"Baiklah ibu sepertinya itu memang keputusan ibu. Tapi ibu pun harus membicarakan dengan suami ibu. Suami ibu yang ada di luar kan?"
"Dia bukan suami saya dokter." ucap Rena cepat.
"Oh maaf- baiklah ini tebus obatnya di apotek."
"Tidak apa. Baik dong terima kasih dok." ucap Rena berdiri dan menyalimi dokter Dessi.
"Sama-sama bu."
Saat baru membuka pintu, untuk keluar. Pemandangan pertama yang Rena lihat adalah seorang pemuda yang kini menatap nya khawatir.
"Bagaimana apa kata dokter?" tanya Reyhan, pemuda tersebut.
Apakah dirinya harus jujur? Toh tidak akan ada ruginya kalo Reyhan tau bahwa dirinya hamil.
"Aku hamil Rey."
"Astagfirullah"kaget Reyhan ia langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Ka... Kamu hamil sama siapa Ren?"
Baru saja Rena akan berbicara, pemuda itu sudah nyerocos duluan.
"Ja.. Jangan bilang kamu korban pemerkosaan? Bilang sama aku siapa yang berani melakukan hal sebejat ini sama kamu bilang?" tanyanya dengan suara yang sudah naik satu oktaf dan mengguncang-guncangkan bahu Rena.
Kenapa dia sekhawatir ini padanya? Apa dia marah mengetahui hal ini? Kenapa mukanya merah sekali.
"Bilang Ren! bilang! siapa yang melakukan itu? Akan aku hajar dia sampai babak belur, bila perlu akan aku bawa ke Rana hukum."
Reyhan terlihat frutasi bahkan dia menjambak jambakan rambut kepalanya sendiri.
"Reyhan." ucap Rena mencegah perbutan itu, yang terus memukul kepalanya.
Dia menaikan alisnya menunggu jawaban Rena.
"Yang berbuat itu--" ucap Rena menggantung.
"Siapa?" tanya Reyhan antusias.
"Suamiku" jawab Rena tenang. Seketika Reyhan tercengang dan merosot duduk di bawah.
"Ya ampun Rey." Rena berusaha membangunkan Reyhan yang masih menatapnya tak percaya.
"Jadi kamu sudah menikah?"
"Iya" jawab Rena.
"Kok bisa?" tanyanya yang membuat Rena ingin tertawa, karena pertanyaan konyol itu, ya jelas bisa lah.
"Ya bisa lah, orang udah ijab qobul" ujar Rena, ia terkekeh di akhir kalimat.
"Berarti aku keduluan dong. Kapan kamu nikah?" tanyanya sambil mengambil kertas yang berisikan resep obat yang harus Rena beli.
"Eum satu minggu setelah kamu tiba-tiba memperkenalkan diri padaku."
Reyhan langsung menatap Rena, ternyata benar dirinya keduluan. Ah rasanya sakit sekali mengetahui orang yang sedang kita doa kan dalam diam ternyata sudah memiliki kekasih halal.
"Jadi waktu itu kamu masih sendiri?" tanya Reyhan memastikan.
"Iya."
"Dan kamu tidak mengundangku?" geramnya menunjukan ekspresi yang lucu.
"Hahahaha maaf karna saat itu kita tidak terlalu dekat bahkan sekarang pun sama." ucap Rena sambil terkikik geli melihat ekspresi yang lucu yang sedang Reyhan tunjukan.
"Dan sekarang aku ingin menjadi orang yang dekat walaupun hanya sekedar sahabat." pinta Reyhan dengan mata memohon meminta persetujuan.
"Heum? Ya baiklah hanya sekedar sahabat" ucap Rena. Tidak ada salahnya hanya sekedar sahabat bukan?
"Ya sudah ayu kita tebus obat nya!" ajaknya.
"Ayu" Rena pun mengikuti langkah Reyhan.
Ia bahagia bisa memiliki sahabat baru, setidaknya untuk saat ini ia bisa sedikit melupakan kecemasan tentang penyakitnya.
***
"Rey makasih ya udah mau repot-repot nyampe nganterin ke rumah" ucap Rena setelah keluar dari mobil berwarna hitam milik Reyhan. Ia kini tengah berdiri di depan rumah. Ya rumah suaminya, biasanya bila teman-temannya mengantarkan dirinya pulang, ia akan pulang ke rumah orang tuanya. Tapi kali ini tidak, karena tidak Reyhan sudah mengetahui status nya untuk apa di tutup-tutupi lagi?
"Iya sama-sama, jangan lupa di minum ya resep obatnya sesuai aturan." nasihat Reyhan dari dalam mobil.
"Iyah" kekeh Rena saat mengingat Reyhan yang sedari tadi terus mengingatkannya untuk tidak lupa meminum obat dan vitamin ibu hamil.
"Ya udah aku masuk dulu. Kamu hati-hati di jalan, dan sekali lagi makasih." ucap Rena kembali.
"Iya sama sama aku pulang. Wasalamu'alaikum." pamit Reyhan dan mbil pun meninggalkan pekarangan rumah Ilham. Rena masuk kedalam.
"Aku kira perjuanganku masih panjang mengingat kau yang bersikap cuek padaku, ternyata cueknya dirimu untuk menjaga hati orang lain. Kenapa rasanya sakit? Tapi aku akan mudur perlahan sekarang! karna aku tau batasan dalam memperjuangkan rasa 'Lebih baik menyadari dari awal bukan? dari pada makin menyesal saat sudah waktunya'" batin Reyhan dengan senyum kepiluan. Mengingat ia belum melakukan usaha untuk merebut hati Rena.
Tbc;