Feeling In Love

Feeling In Love
Dia Berubah



"Ini Mas nasi gorengnya" Rena menyerahkan piring nasi goreng yang terlihat acak-acakan, karena tadi dirinya memasak sendiri. Bagaimana tidak? tadi Daffa anak Tasya menangis, katanya dia lapar. Rena tidak bisa berbuat apa-apa untuk sekedar meminta bantuan kembali, jadi ia tetap memaksakan diri untuk membuat masakan yang diinginkan suaminya itu.


"Enak" komen Ilham. Eh tunggu dulu! Rena merasa sedang di permainkan. Jelas-jelas tadi saat dirinya mencoba rasa nasi goreng itu. Rasanya sangat campur aduk, antara manis dan asin sangat membuat lidah kelu. Bukannya ia ingin meracuni suami nya itu, tapi ia lebih takut bila nanti dirinya akan mendapatkan amukan karena tidak membuat nasi goreng.


Rena menatap Ilham ngeri!


"Boleh aku coba Mas?"


"Buat apa?" tanya Ilham tanpa menghentikan kunyahan nya.


"Buat nyobain Mas."


"Kan udah waktu masak pasti nyobain."


"Euum pengen tau rasanya."


"Ya rasanya sama seperti kamu mencicipinya."


Tuh kan ini Mas Ilham sengaja atau gimana sih kan aku jadi makin nggak enak, orang itu nasi goreng emang tidak enak kok. Gumam Rena dalam hati.


Malam pun tiba, Rena tengah duduk di sisi ranjang. Ia akan tidur, namun ia langsung ingat satu hal. Mas Ilham! Ia takut Ilham masuk dan mematikan lampu.


Rena pun berinisiatif, ia mengambil khimar di almari dan turun ke lantai bawah dimana Ilham dan suami sahabatnya itu tengah mengobrol di teras.


"Mas." panggil Rena.


Ilham hanya menaikan alisnya, tanda bertanya.


"Kapan tidur?"


"Euuum nanti dulu aku sedang membicarakan kerjasama yang akan kami lakukan."


"Bukannya Mas Burhan bos toko emas ya? Sedang kan kamu Mas kan jadi bos di perusahaan kok mau kerja sama?" tanya Rena bingung, ia berdiri di ambang pintu.


"Hahaha iya Re kita berinisiatif untuk bikin restoran." jawab Burhan.


"Dih aneh." ucap Rena bingung.


"Tak usah di pikirkan tunggu suksesnya saja." ucap Burhan lagi.


Rena hanya tersenyum dan meng-aamiin'kan, menanggapi ucapan Burhan. pandangannya kini beralih kepada suaminya.


"Hmmm... Mas nanti tidurnya jangan terlalu lama." pesan Rena lalu ia masuk ke dalam rumah.


Namun samar samar dirinya masih mendengar, percakapan itu.


"Ham tuh istri mu ngode buat nyusul."


"Apa'an sih?"


"Cepatlah bikin dede bayi. Istri ku saja sudah mau punya dede bayi lagi."


"Dia lagi hamil?"


"Yoi topcer ya gua?" terdengar Burhan tertawa. Ouh jadi ternyata Tasya sedang hamil lagi, pantes saja dia terlihat sensitif.


"Gua ke kamer."


"Buhaahahahaha mau ngapain? Mau buat Rere nggak tidur ya?" teriak Burhan.


Di dalam kamar Rena terduduk di atas tempat tidur, ia masih terjaga. Selang beberapa lama terdengar pintu di buka, dan itu Ilham.


Deg


Dia naik ke atas ranjang, tertidur di samping Rena lalu memeluknya. Sungguh benarkah ini suaminya, Ilham? kenapa dia berbeda dari yang dulu? lebih hangat!


Rena pun memejamkan mata meraih alam mimpi, dengan posisi tidur membelakangi Ilham yang memeluknya.


Dengan lampu yang menerangi ruangan ini.


***


"Rere sini sarapan. Euuum... nah duduk di sini."


Rena menghampiri Tasya dan Burhan yang sudah terduduk di meja makan dengan nasi goreng berada di piring masing-masing.


"Udah seger Re?... Gimana semalem tidur nyenyak?" tanya Burhan dengan nada yang aneh membuat Rena tak nyaman.


"Mas." suara Tasya terdengar bergetar.


"Loh loh kamu kenapa Mah?" tanya Burhan bingung.


"Tadi kamu nanya kaya gitu ke Rere maksudnya apa?" bentak Tasya.


"Duh Mah bukan itu maksud ku"


"Ah sudah Papa memang udah nggak sayang lagi sama Mamah. Papa jahat lebih jahat dari RANGGA." teriak Tasya, Rena yang sudah terduduk di hadapan mereka hanya diam, menyaksikan perdebatan romantis mereka.


"Duh Tasya kamu kok jadi kaya gini." ucap Rena, kala sahabatnya itu tak kunjung menghentikan tangisnya. Rena maklumi mungkin faktor kehamilan.


"Hiks biarin aja suami aku jahat dia berani nge-godain kamu."


"Siapa yang berani nge-godain Rena?" ucap seseorang yang sudah mulai Rena kenali suaranya.


"Mas Ilham suami ku hajat." adu Tasya.


"Iya, dia godain Rena." tunjuk Tasya pada suaminya sendiri.


Burhan yang mendapat tatapan tajam dari Ilham merosot dan mengatakan kata kata yang membuat Rena tertawa.


"Bunuh aku Ren bunuh! Liat lah orang orang disini menyudutkan ku."


Rena tertawa dan menaikan satu alisnya.


"Mah pleas jangan kaya gini." pinta Burhan, tangannya mengusap bahu istrinya yang masih saja menangis.


"Peluk dulu." ujar Tasya dengan manja.


"Uch istri ku ini." Burhan pun memeluk Tasya.


Rena yang melihat pasangan suami istri itu berpelukan membuat hatinya mencelos andai ia juga bisa di peluk seperti itu, ia ingin sekali.


Ia merasakan sebuah tangan memeluk lehernya. Ia mengadah ke atas dan mendapati Ilham yang tersenyum padanya.


Allah senyuman itu sungguh manis, apalagi perlakuan ini.


"Eumm mas" ucap Rena sambil memegang tangan Ilham.


"Pengen nasi goreng." ucapnya di dekat telinga Rena, perempuan itu di buat kelimpungan dengan jantung yang berpacu tidak seperti biasanya.


"Eh itu kan Tasya udh bikin nasi goreng." ucap Rena, matanya melihat nasi goreng yang tersaji di atas meja makan.


"Pengen buatan kamu."


"Aku mohon" ucap nya lagi membalikan badan Rena yang memang tadi sudah berdiri dengan Ilham yang masih memeluknya dari belakang.


Mata mereka bertemu, keduanya mencari apa arti dari tatapan mata itu. Seakan ada kerinduan di dalam nya, namun apa yang mesti di rindukan?


"Buatin ya." ucapnya sambil mengeluarkan puppy eyes nya dan sungguh itu membuat Rena ingin tertawa dan gemas padanya. Rena pun akhirnya mengangguk dan menuju dapur. Rasa rasanya, rasa takut itu menghilang karena senyuman Ilham.


***


Kelima orang kini tengah berada di dalam mobil, menuju tempat rekreasi.


"Nah jadi ini tuh jalan yang menuju bukit yang kita kita impi-impikan itu loh." ujar Tasya.


"Apa?" tanya Rena bingung, ia menatap kesamping di mana sang sahabat sedang sibuk menggendong Daffa, anaknya.


Mereka sedang jalan jalan saat ini, perjalan kali ini menuju kawah putih. tempat yang ingin sekali Rena datangi dan akhirnya sekarang akan tercapai.


"Bukit dua."


"Bukit dua?" tanya bingung, ia bahkan menyatukan kedua alisnya.


"Susu!"


Eh?! Rena menatap Tasya tak percaya, sejak kapan sahabatnya ini mempunyai pikiran mesum?


"Apaan sih kamu ngomong Tas..." sebal Rena, ia menatap ke depan dimana Ilham duduk di dekat kursi kemudi karena Burhan lah yang menyetir, meskipun ini mobil Ilham. Ilham menyuruh Burhan mengendarai, karena Ilham takut salah jalan.


Mereka terlihat tertawa dengan lelucon yang Burhan berikan.


"Gimana indahkan?" tanya Tasya.


"Iya MasyaAllah, indah." ucap Rena tanpa memindahkan tatapannya dari kawah putih yang kini berada di depan matanya.


"Ini!" ujar seseorang yang tiba-tiba berada di sisinya.


"Eh apa Mas?"


"Pakai nanti kalo kelamaan menghirup kawahnya tidak baik untuk mu." ucap Ilham memakaikan masker bergambar Hello kitty itu pada Rena. Entah dapat dari mana masker itu ia dapat Rena tidak tahu.


"Makasih."


"Cieee... Foto deh kalian, serasi banget tau" ucap Tasya yang kini sudah menggunakan masker bergambar doraemon dan Daffa menggunakan masker super hero nya.


"Mas fotoin mereka, cepetan! Nanti abis itu kita yang berfoto."


Burhan pun mengambil handphone dan menyuruh kita untuk berpose. Rena yang canggung, ia berpose dengan senyum tercetak di bibir yang tertutup kain ini.


"Deketan dong! Masa suami istri fotonya jauhan." komentar Tasya dengan posisi PASUTRI.


Lalu Ilham pun tiba-tiba memegang pundak Reba, dan berpose dua jari. Rena yang tak percaya akan hal itu tersenyum kerahnya dan ikut berpose sama seperti suaminya.


"Giliran kita." girang Tasya karna sekarang gilirannya, dan memberikan handphonenya pada Rena.


Satu


Dua


Tiga


Hitungnya dalam hati namun bukan jepretan yang dirinya lakukan tetapi diam cengo atas perlakuan orang yang berada di sampingnya.


Orang itu tiba-tiba mencium pelipis mata nya. Dan ya Ilham pelakunya dia menurunkan maskernya dan mencium istrinya. Sungguh Rena kaget bukan main. Ada apa ini? Kenapa sikapnya berubah?


Tbc;