Feeling In Love

Feeling In Love
Merasa Irikah?



Deras air hujan membasahi kota Jakarta. Akhirnya kota yang biasanya panas dan pengap itu sekarang mengeluarkan sejuk dan dingin.


Rena sedari tadi memainkan air hujan yang tertetes dari arah atap caffe tempatnya bekerja.


"Hemm pesen taksi online aja ya? Ujannya deres pasti nggak cukup setengah jam berhentinya." gumam Rena sambil mengotak-atikan handphone mencari aplikasi TO(taksi online).


"Ren belum pulang kau?"tanya seseorang sambil menepuk pundak Rena.


"Eh iya nih Mbak, belum berhenti juga hujannya." ucap Rena.


"Ya udah bareng Mbak aja. Noh Mbak Citra udah di jemput sama suami" ucap Citra sambil menunjuk pada sang suami yang melambaikan tangan pada Citra.


"Ah nggak usah Mbak lagian rumah kita beda arah." tolak Rena.


"Beda arah? bukannya sama ya? Rumahmu masih di perum anggrek no 14 kan?" tanya Citra memastikan.


Ah iya lupa teman kerjanya ini kan belum tau bahwa Rena telah menikah satu bulan yang lalu dan pindah rumah.


"Eh iya Mbak." jawab Rena dengan senyum kikuk.


"Yaudah ayu ah ini udah jam setengah sebelas, ujannya juga kayanya bakal lama reda. Udah ayu bareng Mbak pulangnya!"ajak Citra sambil menggandeng tanggan Rena.


"Eh emang nggak ngerepotin ya Mbak?"


"Udah masuk, ya nggak atuh orang kan rumah kita searah Ren." ucap Citra yang sudah duduk di samping pengemudi.


"Iya makasih mbak." ucap Rena.


"Sayang kamu nggak kebasahan kan?" tanya suami Citra pada istrinya.


"Engga kok ini cuman kecipratan aja." ucap Citra sambil menunjuk tangan kirinya yang kena basah karena tak tertutup payung saat ia berjalan ke sini.


"Gimana Putra dia udah tidur yang?" tanya Citra pada suaminya dengan lembut.


"Iya udah kok. Sekarang tinggal kamu yang harus nidurin aku, kan lagi ujan nih, jadi enak buat di grep grep"tawa suami Citra membahana karena melihat pipi istrinya yang bersemu.


"Ih apa'an sih kamu?! Nggak liat noh di belakang ada anak perawan."ucap Citra sambil memukul lengan suaminya.


Bagas nama suami Citra pun menoleh kebelakang, dan kembali tertawa.


"Hehehe maaf ya anak gadis, Mas lupa." ucap Bagas cengengesan.


Sedangkan Rena hanya memasang senyum palsunya. Jujur saja ia iri pada pasangan yang berada di depannya ini. Ia pun ingin merasakan keharmonisan dari rumah tangganya. Bukan berarti seorang madu harus di perlakukan seperti dirinya bukan? Yang tidak pernah di anggap ada oleh suaminya sendiri? Apakah semua madu sama seperti nya? Entahlah dia tidak bisa menjawabnya.


"Ren udah nyampe nih." ucap Bagas menoleh kebelakang.


Rena pun menatap rumah megah dan mewah milik orang tuanya itu.


"Eh iya Mas, Mbak makasih ya udah mau repot-repot nganterin aku." ucap Rena menganggukan kepala.


"Iya Ren sama-sama. Ya udah Mbak duluan ya. Dah" ucap Citra dengan tertawa sebab tadi suaminya itu membuat lelucon yang membuat Citra terus-menerus tertawa.  Mobil itu pun melenggang pergi dari pekarangan pagar tempat Rena berdiri.


Rena membuka pagar besar itu dan berlari menuju pintu utama bajunya sudah basah kuyup karna terkena air hujan yang makin ke sini makin deras.


Ting tong


Berulang kali Rena memencet bel namun belum ada yang membukakan. Badannya sudah mengigil karna dingin.


Tak lama pintu pun terbuka mempelihatkan wanita cantik yang sudah berumur.


"Ngapain kamu ke sini?" tanya wanita itu dengan nada tidak suka.


"Ma Rena mau nginep sehari dulu di sini boleh?" Rena menyalimi tangan wanita itu yang ternyata adalah ibunya.


"Dia di rumah, tadi Rena pulang kerja langsung ke sini karna dianterin sama temen Rena" jelas Rena yang sudah di persilahkan masuk oleh ibunya itu.


"Masih kerja kamu?" tanya ibunya tanpa menghilangkan nada cueknya.


"Iya mi." jawab Rena.


"Baguslah setidaknya kau masih Mandiri."


Mi? harus sampai kapan aku menunggu kata mandiri itu hilang dari mulut mami? sampai kapan aku harus menunggu, mi kata MANDIRI itulah yang membuatku jauh dari mu, kata mandiri itulah yang menyebab kan mami seperti itu. Mi aku sudah mandiri aku mohon jangan perlakukan aku seperti ini terus. Tak terasa air matanya mengalir tanpa bisa ia cegah, ia pun berlari keatas menuju kamarnya.


Sesampainya di kamar ia langsung mandi air hangat. Saat telah menyelesaikan ritualnya di kamar mandi Rena mendapati Si mbok dan secangkir susu vanila di atas nakas.


"Mbok." panggil Rena sambil menyalimi si mbok dan memeluknya.


"Sayang kau menangis?" tanya si Mbok saat merasakan tubuh Rena bergetar.


"Mbok sampai kapan? Sampai kapan kata mandiri itu lenyap dari mulut Mami Mbok?"racau Rena yang masih berada di pelukan Mbok Iyem.


"Rena tersiksa Mbok Rena tersiksa." jerit Rena dengan air mata yang sudah tersedak, sedari tadi di kamar ia menangisi kehidupannya, dan sekarang ia kembali menangis.


Si mbok yang tahu bahwa anak majikannya itu pasti sedang mengingat masa lalu yang mungkin akan sangat sulit di lupakan. Ia jadi teringat sikap majikannya yang memperlakukan anaknya hanya karna ingin anaknya ini dapat mandiri. Tapi bukan mandiri namanya, karna hanya luka yang tertoreh semakin parah.


"Cup-cup sayang, udah ya jangan menangis lagi kamu tenangin diri kamu, sekarang udah malam. Kamu tidur ya? Dan minum dulu susunya si Mbok sudah buatin susu hangat buat kamu" ucap Si Mbok sambil melepaskan pelukan itu dan menghapus air mata Rena yang terus mengalir.


"Di minum sayang." sodor nya menyerahkan susu hangat itu pada Rena. Rena pun mengambilnya dan meminumnya sampai tandas.


"Rena rena..."


"Sttts sekarang kamu tidur aja dulu ya, ini udah malem." si Mbok menutupkan selimut sampai ke dada Rena.


"Mimpi indah sayang." ucap si Mbok sambil ngecup dahi Rena dan melenggang pergi. 


Belum sempat jauh tangan si Mbok telah di cekal seseorang si Mbok yang tahu itu tangan siapa lalu menantap sang pelaku.


"Makasih Mah." ucap Rena menatap si mbok.


Si Mbok hanya tersenyum. Dia memang sering kali di pangil Mamah oleh Rena saat sang majikan tidak ada. karena, kalau sampai terdengar oleh telinga majikannya Rena pasti akan di beri hukuman. (Revisi)


Jauh di tempat Rena tertidur sekarang, ada seseorang yang mencemaskan dia sedari tadi.


"Mas Ilham ih cari Rena dong, dia belum pulang ini sudah hampir jam dua belas malem." ucap Icha khawatir dan menatap terus ke jam.


"Sudah sayang jangan khawatir, lebih baik kamu tidur dulu. Dia pasti pulang, atau tidak pasti menginap di rumah temannya seperti minggu kemarin." ucap Ilham sambil membaringkan tubuh Icha karna sedari tadi Icha duduk terus di atas kasur. Bahkan Icha belum tidur karna khawatir pada Rena.


"Ih Mas ini masa tidak ada khawatirnya si sama Rena dia kan istri Mas juga." ucap Icha dengan kesal dan duduk kembali.


"Iya nanti Mas coba telepon dia." ucap Ilham.


"Ih masa cuman di telepon doang si kamu mah Mas" Icha sudah ngomel-ngomel dan hendak berdiri, namun di lengannya di cekal Ilham.


"Cha kamu tidur ya. Aku akan cari dia ke tempat kerjanya." ucap Ilham akhirnya mengalah, ia tak bisa membiarkan istri tercintanya terus gelisah sampai tidak bisa tidur.


"Ini nih gara-gara kamu ngizinin dia untuk tetap kerja. Jadi aja kaya gini udah mah di luar lagi hujan deras lagi" Icha menatap Ilham terus mengomel.


"Iya ini Mas mau cari dia." Ilham berdiri lalu menuju lemari mengambil jaket dan memakainya.


Ilham menghampiri Icha dan mengecup keningnyanya lama. Lalu berbisik sebelum ia keluar dari kamarnya, "Jangan khawatir Mas akan cari dia, sekarang kamu tidur ok."  yang di hadiahi anggukan oleh Icha.


Tbc