Feeling In Love

Feeling In Love
Ambigu



Saat baru sampai di anak tangga ketujuh, getaran di saku celananya membuat ia menghentikan langkah dan menatap telepon yang berbunyi, Ilham pun mengangkat telepon itu.


"Halo."


'Iya den, ini si Mbok. Si Mbok cuman mau ngasih tau toh bahwa non Rena ada di sini dia lagi tidur'


"Ouh gitu bi, yaudah makasih ya sudah ngasih tau."ucap Ilham dan mengakhiri teleponnya.


Tumben? Itu lah kata yang ada di benak Ilham saat ini, biasanya Rena akan memberitahunya atau meminta izin saat akan melakukan sesuatu.


Kebiasaannya itu ia ketahui saat satu bulan ini mereka menikah.


Ilham pun akan kembali menaiki anak tangga namun kamar sudah terlihat gelap dan bisa jadi istrinya itu telah tertidur dan ia tidak ingin mengganggu tidur istrinya. Jadilah dia kembali turun kebawah dan masuk ke kamar Rena untuk tidur disana.


***


Jam menunjukan pukul 3 dini hari Rena terbangun dari tidurnya merasakan badannya tidak enak. Saat mengecek suhu tubuhnya ternyata terasa hangat, ia demam. Padahal semalam ia hanya kehujanan sedikit saat lari dari gerbang menuju rumah. Ia ingin pulang, takut mbak Ichanya mengkhawtirkan dirinya, belum lagi ia lupa meminta izin untuk menginap di rumah orang tuannya.


Rena turun kebawah, mendapati rumah yang terlihat sepi. Uh bahkan rumah ini memang selalu sepi, Rena pun berjalan menuju kamar ART. Ia mengetuk pintu dan mendapati si Mbok yang tengah melaksanakan solat sunah Rena tersenyum lalu masuk kedalam dan duduk di sisi ranjang.


"Mbok."panggil Rena. Si mbok yang tengah melipat mukena pun menoleh dan menghampiri Rena setelah menaruh sejadah di lipatan pakaian.


"Ada apa Ren?"tanya si mbok.


"Rena pulang ke rumah Mas Ilham ya mbok, takut mereka khawatir."


"Tapi Ren si mbok sudah... " belum selesai si mbok menyelesaikan kalimatnya. Rena sudah menyalimi si mbok sambil berucap, "Rena pulang mbok Assalaamu'alaikum."ujarnya sambil berlalu. Si mbok hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah nona mudanya itu dan mendoakan agar di jalan tidak terjadi apa-apa.


Sekarang Rena telah sampai di kediaman Ilham, ia berdiri di depan pintu menatap ragu pada benda mati tersebut. Bingung harus bagaimana, apakah ia harus menekan bel atau mengetuk pintu? Tetapi bila yang di dalam rumah jadi terganggu dan terbangun bagaimana? Ia pun mencoba memegang handel pintu dan merasa kaget sekaligus bersyukur karna pintu tidak di kunci. Ia pun kembali menutup pintu merasakan suasana rumah yang masih teramat sepi, tentu saja ini masih dini hari pasti Mbak Icha dan Mas Ilham masih tidur. Karna rasa kantuk yang kembali menyerang Rena pun berniat ke kamar untuk tidur.


Cklek


Rena dibuat kaget karna melihat seseorang tertidur di ranjang sebelah kanan. Karna penasaran ia pun menghampiri.


"Kenapa pake selimut nutupin muka coba?" monolog Rena dan tangannya baru saja akan menyibakan selimut tersebut namun sekelibat pikiran datang.


"Gimana kalo ini temennya Mas Ilham kan berabe? Mungkin di izinin tidur karna aku nggk ada di rumah."


"Ya udah deh keluar aja." belum sempat ia berdiri dari posisi jongkok karna tadi habis memperhatikan perawakan orang itu.


Orang tersebut kini merubah posisi tidurnya mengahadap Rena.


"Ebuset ini suamiku?!"gumam Rena terkejut.


"Kok bisa tidur di sini sih Mas?" tanya Rena tanpa sadar jari telunjuknya menyusuri setiap inci wajah suaminya yang terlelap dengan tengan itu. Ia pun bingung dari mana keberanian ini.


Deg


Deg


Deg


Entahlah apa yang di rasakannya saat ini? Bila di bilang cinta? Rena tidak tau, karna Rena tidak pernah merasakan itu.


Hingga tak terasa kantung yang tadi kini menyerang kembali membuatnya tertidur dengan posisi duduk dan tangan yang memegang pipi Ilham, pergi ke alam mimpi.


Ilham yang tersentak karena ada sesuatu yang panas menyentuh pipinya pun membuka mata dan betapa kagetnya ia mendapati Rena yang tidur di hadapannya dengan posisi duduk.


Ilham langsung duduk dan menatap Rena yang masih tertidur itu. Dipandangnya wajah Rena, wajah yang tentram saat tidur ia ingat Rena memiliki mata yang sedikit belo, dan pipi yang tembem, membuatnya terlihat imut. Ilham langsung geleng-geleng kepala karna tidak baik mendeskripsikan wajah orang, tanpa izin orangnya!


Tangannya terulur memegang dahi Rena dan benar saja dia merasakan panas.


Ilhampun turun dari ranjang dan menggendong tubuh Rena ke atas kasur.


***


"Eh iya Mas ada apa?" tanya Icha menguap, masih dengan setengah sadar.


"Euum."gumam Ilham ragu.


"Apa mas?" tanya Icha dengan kantuk-kantuk.


"Rena demam." jawab Ilham pelan.


"Hah? Demam?" tanyanya dengan wajah kaget, bahkan sekarang ia telah merubah posisi tidurnya menjadi duduk.


Ilham hanya mengangguk.


"Yaudah atuh Mas yang urus kan dia istri kamu." ucap Icha enteng, kembali tertidur dan menarik selimut.


Ilham langsung menggeleng cepat.


"Ih apa'an sih biasanya juga kalo aku demam Mas yang rawat."kata Icha sambil mengambil ancang-ancang untuk memejamkan mata kembali.


"Cha." guncang Ilham yang melihat Icha yang akan kembali ke alam mimpinya.


"Apa sih mas?" tanya Icha sebal.


"Rawat dia!?" ucap Ilham datar.


"Eh itu perintah atau pertanyaan tuh?"kekeh Icha.


"Cha" ucap Ilham kembali datar.


"Iya iya ih aku urus dia, dasar kamu gimana sih kan dia istri kamu bukan istri aku." kekeh Icha kembali sambil berlalu dari kamar.


Sedangkan Ilham? Jangan tanya! Sekarang orang itu udah molor lagi dengan posisi tepar.


***


"Euuung."lenguh Rena sambil sambil merenggangkan tangan dan kaki. Ia merasakan ada kain di dahinya, ia meraba kain itu sambil mangambil posisi duduk dengan wajah yang masih terasa mengantuk. Mata nya mencari sosok lelaki yang tadi tertidur di ranjangnya. Ia pun tersentak, bukannya tadi ia tertidur di bawah lalu siapa yang memindahkannya ke atas tempat tidur? Jangan bilang orang itu adalah Mas Ilham! Orang dianya aja tidak ada disini? Bagaimana bisa memindahkannya? Tapi bisa saja sih sebelum pergi ia memindahkan dirinya terlebih dahulu. Pipi Rena terasa memanas membayang kan itu namun sedetik kemudian ia langsung menggelengkan kepalanya dengan cukup keras. Sebab setelah ia mendapatkam mufakat dai musyawarah dengan syaraf-syaraf otaknya yang masih sehat wal afiat, Alhamdulillah. Dan jawabannya adalah 'TIDAK MUNGKIN" ia langsung tertawa jahat dalam hati.


"Eh Ren kamu udah bangun toh" ucap Icha yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar.


"Iya Mbak."ucap Rena sambil senyum-senyum.


"Demamnya udah turun toh."kata Icha pelan seperti berbicara pada diri sendiri. Sambil memegang dahi Rena yang tidak terasa panas lagi seperti sebelumnya.


"Mbak Rena mau susu." ucap Rena tiba-tiba.


"Eh apa Ren?" tanya Icha memastikan pendengarannya.


"Pengen susu!" ucap Rena lagi.


"Ya ampun kamu teh pengen susu apa? Susu sendiri juga ada." ucap Icha terkekeh.


"Eh iya Mbak nggak jadi deh." ucap Rena ikut terkekeh kikuk sambil garuk-garuk leher belakang.


"Lah kok nggak jadi sih?" tanya Icha penasaran.


"Soalnya aku lagi pengen susu onta yang di ambil langsung dari ontanya, dan ontanya itu harus dari gurun pasir yang ada di arab. Pengambilannya juga harus esklusif menggunakan tangan kosong" ucap Rena panjang kali lebar. Hingga dia melihat ekspresi cengonya lagi Icha.


"Hahahahha aduh aduh! Kamu ini ngomong apa si?" tanyanya masih dengan tawanya, bahkan tangannya sudah memegang perutnya. Mungkin takut cacing-cacingnya pada ikut ketawa jadi dia pegang. Apaan sih garing lu Ren;v


Tbc;