
Episode 2 – hukuman
Mita sudah sampai di dalam gedung dia duduk di baris ke 3 dari belakang. Dia tidak duduk sendiri kok, disitu sudah ada Ruri temannya yang 1 tahun lebih mudah darinya, dia itu anak dari bosnya pemilik café tempat mita
bekerja selama setahun ini.
‘’ selamat pagi cantik, kamu kenapa kaya habis lari maraton aja’’ sapa ruri sambil melihat mita yang kelelahan
‘’ biasa gue terlalu cantik, makanya disuruh lari maraton
dulu sama petugas keamaanan di depan tadi’’ celetuknya dengan santainya
Mendengar hal tersebut ruri hanya tertawa kecil takut
didengar para panitia didepan kalau kedengaran yah bisa berabe.
‘’Permisi, apa boleh aku duduk disini ? ‘’ vani Tanya sopan kepada mita dan dia mengiyakan
Setelah itu mereka mulai berkenalan dan saling mengobrol
walaupun mita hanya banyak diam, yah karena dia tidak terlalu terbiasa
berbicara dengan orang yang baru ditemuinya
OSPEK dikampus ini sistemnya campuran atau digabung dengan jurusan lain. Untuk tahun ini Jurusan Manajemen dan IT karena gedung jurusan mereka berdekatan mungkin.
‘’Waohh ganteng bangat ‘’ suara para cewe
‘’Gila kakak senior itu gantang bangat, gak sia-sia gue
masuk kampus ini’’ ruri dengan nada bahagianya melihat senior tampan yang masuk ke ruangan tersebut
Siapa lagi yang masuk kalau bukan Delon dan Dimas sambil
membawa perlengkapan untuk presentasi nanti, hari ini Delon bertugas untuk menyampaikan materi OSPEK.
‘’ emangnya dia ganteng, biasa aja tuh’’ guman mita dalam hati
Setelah pemberian materi kepada para maba tiba saatnya untuk
mereka melakukan kegiatan selanjutnya, para maba sebelumnya sudah diminta untuk
memecahkan teta-teki yang diberikan oleh para panitia dan harus membawanya,
jika tidak membanya maka harus mendapatkan hukuman
‘’ ada apa?’’ Tanya ruri kepada vani yang tampak khawatir
‘’ sial, gue lupa bawa Susu basi dalam kaleng ‘’ vani dengan
expresi yang hamper menangis
‘’ nih ambil punya gue aja’’ jawab mita sambil memberikan
Susu brearband
‘’ gak usah, nanti kamu dapat hukuman lagi gara-gara aku’’ tolak vani
Sementara itu para maba yang tidak membawa teka-teki tersebut , sudah maju kedepan untuk siap-siap
tersebut pada vina sambil berjalan kedepan
‘’ nih ambil ‘’ mita dengan santainya memberikan kaleng susu pada vani
Didepan mereka ditanya kenapa tidak membawa teka-teki
tersebut, ada yang jawab lupa dan lain-lain, Sama halnya dengan mita. Para
panitia sepakat memberikan hukuman berupa push up 15 kali atau harus meminum
Susu beruang tersebut sebanyak 3 kaleng. Tentu saja para laki-laki lebih
memilih push up dan para wanita lebih memilih meminum susu tersebut.
‘’ lebih baik gue push up dari pada minum tuh susu basi, 3
kaleng pula bisa-bisa gue muntah’’ celutuh maba laki-laki yang mendapatkan anggukan dari
para lelaki lain yang sama-sama kena hukuman
Para laki-laki sudah bersiap untuk push up tentu saja mita
juga sudah bersiap untuk push apa. Melihat hal tersebut membuat orang-orang
dalam ruangan tersebut keheranan .
‘’ kamu kenapa berdiri disitu? Kamu mau push up juga?’’ Tanya dimas heran pada mita
‘’ iya ‘’ hanya itu jawaban mita dengan datarnya
‘’ sudah dimas biarin aja dia, ntar juga nangis karna gak
sangup’’ jesikka
Cewe aneh tadi, iya benar-benar cewe aneh. Ada yang gampang malah mau yang susah. Guman delon dalam
hati sambil melirik mita
Sebenarnya mita itu anak karate, dia sudah mulai belajar
bela diri sejak kelas 2 SMP . sejak dia punya inisiatif untuk keluar dari rumah
keluarganya. Dia memutuskan Belajar karate untuk melindungi dirinya dari para
laki-laki, kenapa? Karena dia berfikir mereka akan sama saja dengan ayahnya jika udah bosan pasti akan
meninggalkan begitu pikirnya.
‘’ 15, udah kak. Udah boleh balik kan? ‘’ Tanya mita kepada seniornya
‘’ silahkan balik, dan jangan ulangi lagi kesalahan kamu, besok datang lebih awal jangan terlambat dan bawa teka-teki yang diminta’’ jawab delon dengan tatapan tajam dan memang tadi pagi dia melihat mita berlarian
‘’ baik kak’’ jawab mita berjalan kembali ke tempat duduk
‘’cewe aneh, Tadi udah lari-larian sekarang push up 25 kali pula apa dia baik-baik aja, hebat juga kamu jadi cewe.’’. guman delon.
To be continued