
Saat panas matahari menyengat ubun-ubun seperti saat ini memang terasa enak bila memakan ataupun meminum yang dingin-dingin, tetapi berbeda cerita dengan dua perempuan yang kini berada di kantin dengan mie ayam level pedas menemani mereka.
"Huuh! duh pedes banget ini Git."ujar gadis dengan baju dres selutut yang memiliki renda di atasnya berwarna putih sedangkan bawahnya berwarna merah. Mulutnya di gerakan kedepan dengan gerakan tangan yang mengibas-ngibaskan benda yang sudah memerah itu, berharap angin yang keluar dari gerakan itu dapat meredakan panas mulut yang di rasa.
"Gila gua juga pedes nih."ucap gafis datunya tak kalah ia pun melakukan aksinya memajukan bibir kedepan.
"Ah gimana ini?"tanya gadis berdres itu menyeka air matanya yang bahkan kini telah mengalir. Ini memang gila tidak seharusnya ia memesan makanan super pedas di siang bolong seperti ini. Tapi rasa ingin terlalu mendominasi hingga ia memaksa sahabatnya untuk ikut makan dengan vorsi dan takaran yang sama. Walau sempat dapat penolakan gadis itu tidak mau di bantah, membuat sahabatnya, Gita. Mengatakan iya dengan pasrah.
"Lu sih Rena, gua bisa bisa balik dari sini langsung auto kamar mandi ini mah."kesal Gita pada gadis berdres itu. Gadis berdres itu hanya tersenyum tanpa dosa.
Tanpa terasa air mata Rena kembali mengalir dengan perihnya.
"Eh koplak malah nangis lu!" kata Gita sambil menepuk kepala Rena, membuat kepalanya terhuyung kebelakang sedikit.
"Ish sapa yang nangis sih? Pergi sana hayati sakit hati kau berbuat tidak baik kepada kepala hamba dengan tangan kotor mu itu" ucap Rena memegang sebelah dada kiri dengan dramatis.
"Tangan kotor?"tanya Gita.
Rena dengan tampang polosnya mengangguk, berniat menjahili.
"Tangan kotor lu bilang?"tanya Gita lagi dengan ekspresi yang tidak bisa di baca.
Rena mengangguk sekali lagi. Lalu ia melihat Gita mengoleskan tangannya sendiri dengan kecap yang berada di atas meja makan mereka.
Dan tanpa di aba-aba pula tangan itu sudah mendarat di baju dres Rena, membuat Rena menjerit kesal dan menghindari tangan sahabatnya yang masih saja mengelap pada baju nya itu.
"Mamam tuh tangan kotor." kesal Gita yang masih mengelap-elap tangannya pada baju Rena, akhirnya gadis dengan rambut panjang itu hanya pasrah melihat kelakuan menyebalkan sahabatnya.
"Iiih gita bau amis"teriak Rena melengking bahkan orang-orang yang sedang berada di katin langung melirik ke tempat merema berdua duduk.
"Nih nih nih tanga kotor nih." Gita lagi-lagi memeperkan tangannya pada baju Rena yang sudah kumel karna banyak kecap.
Tiba-tiba tangan Gita langsung berhenti saat merakasakan benda jatuh mengenai tangannya.
Lah ini kok kayak air ya?batin Gita. Ia pun langsung mendongkakkan kepalanya saat tadi ia hanya sibuk menunduk.
Kaget, itulah yang Gita rasakan.
Renanya menangis.
***
Disinilah mereka berada sekarang di dalam Mall, blok E4 ruko-ruko yang menjual berbagai macam pakaian wanita.
Namun tidak biasanya kedua gadis dengan tas punggung yang mirip memasuki busana muslim wanita.
Tadi saat melewati ruko ini, tiba-tiba Rena merengek ingin masuk dan membeli baju yang berada di dalam sini.
Gita yang merasa bersalah karna membuat nangis sahabatnya tadi di kantin kampus pun menurut.
"Ehem Git." kata Rena manja-manja gemesin.
"Apa?" tanya Gita sewot.
"Eum dua ya." ucap rena sambil mengangkat dua baju gamis dengan corak dan style yang berbeda.
"Iya sok." ucap Gita yang masih fokus ke hp nya. Masih dua ini kalem kan uang jajan masih ke sisa.
"Git" ucap Rena menggerak-gerakkan tangan Gita.
"10 ya" jawab Rena sambil menunjukan kesepuluh jarinya tepat di depan muka Gita.
"Eh bujung buseng! Gile luh uang gua kagak cukup, sana luh ngegembel dulu!" kesal Gita sambil marah-marah.
"Ih kok kamu gitu sih, kan tadi kamu yang bilang bakal belanjain aku" manyun Rena.
"Ya iya sih." jawab Gita. Tadi itu pas kejadian masih di kantin kampu Rena nangis tidal henti-henti. Padahal Gita sudah mengeluarkan segala cara buat ngejempein si Rena tapi tetep aja tuh anak mewek kaga berhenti sampe sampe Gita frustasi~cieelah gayanya frustasi lu Git:v~ terus langsung ngomong asal ceplos bahwa dia akan membelikan baju untuk menebus kesalahannya, maka dari itu selepas dari kantin berhubung tidak ada kelas lafi mereka langsung ke Mall. Tetapi bila seperti ini, ia merasa frustasi sungguhan, dia tidak akan bisa jajan sampai sebulan sebelum gjinya turun bila Rena meminta sepuluh pasang baju.
"Jadi?" tanya Rena menunjukan harapan yang sangat jelas di mata belonya.
"Jadi apa?" tanya Gita balik.
"Sepuluhnya?" tanya Gita sambil menunjuk kesepuluh baju yang kini berada di kerangjang, rupa-rupanya Rena sudah memilih kesepuluh baju itu untuk di bawa pulang. Rena pun mengangguk mengiyakan.
"Kagak!" ucap Gita tegas.
"Dih apaan sih katanya iya?" kesal Rena harapannya seakan di musnahkan dalam sekejap.
"Kapan?"
"Tadi"
"Bomat gua kaga mau beliin tuh sepuluh baju buat lu"
"Dih aku aduin ya ke Mas Ilham." ucap Rena mengancam.
"Sabodo teuing."jawab Gita acuh.
"Ntar aku aduin biar dia nggk usah jemput kamu lagi."masih dengan ancamannya.
"Sabodo teuing."
"Biar Mas Ilham nggak usah ngasih uang jajan ke kamu."
"Sabodo teuing."
"Ntar Mas Ilham bakal marahin kamu."
"Sabodo teuing."
"Aku ngambek ya. Pokoknya ntar aku bakal bilang supaya dia nggk usah tuh merhatiin kamu lagi." Rena udah bener-bener kehabisan kata kata niatnya ingin menjahili sahabatnya dengan membeli banyak baju sebanyak itu. Tapi dia malah kepancing emosi gara-gara jawaban Gita yang katanya itu 'sabodo teuing' sudah mah dengan muka ngajak berantem lagi.
"Emang Mas Ilham peduli sama kamu?"
Deg!
Pertanyaan yang terlontar dari mulut Gita sungguh membuat Rena sakit. Entah tapi rasanya sakit sekali bahkan sekarang ia menunduk kepala kaku, menatap dres baju yang sudah kotor oleh kecap. Sebenarnya ia malu untuk ke mall dengan keadaan seperti ini tetapi saat Gita mengatakan ingin menganti dengan pakaian yang di beli ia pun harus menahan rasa malu itu agar dapat mendapatkan pakaian baru.
Ia mengerjap kan matanya berulang kali berharap cairan yang sudah mengunuk dalam matanya itu lenyap tak jatuh.
Tetiba Rena merasakan seseorang memeluk tubunya dari samping. Ia melihat sahabatnya itu memasang ekspresi bersalah. Tetapi jujur ia sama sekali tidak marah Gita mengatakan seperti itu, karna jawabannya memang Ilham tidak perduli sama sekali pada dirinya. Tapi perkataan itu seolah mengingatkannya untuk mengetahui siapa dirinya sebenarnya hingga berani berbangga diri menjadi suami seorang Muhammad Ilhamsyah. Walau jujur ia sebagai istri pun ingin di perdulikan dan di khawatirkan bukan hanyabistri pertamanya saja.
Rena sesegukan membuat Gita semakin mengeratkan pelukannya dengan mulut yang terus bergumam, "Maaf aku menyesal."
Tbc;