
Kota bandung merupakan kota metropolitan terbesar di provinsi Jawa Barat, sekaligus menjadi ibu kota provinsi tersebut. Kota ini terletak 140 km sebelah tenggara Jakarta, dan merupakan kota terbesar wilayah pulau Jawa bagian selatan.
Dan kota bandung adalah kota yang sejak kecil ingin ia datangi. Kata orang kota bandung itu kota penuh kenangan para pahlawan.
Asri udaranya sejuk di rasa.
Di perjalan Rena diam membisu. Mereka sama sekali tidak mengeluarkan sepatah katapun untuk sekedar menghilangkan kecanggungan, hingga membuat Rena jengah dan lelah. Rena pun berusaha menutup matanya, ia bersandar pada kursi yang lumayan empuk karena di atas nya terdapat bantal yang biasa Icha pakai. Ya ia duduk di depan karena di paksa oleh Icha tadi saat mereka akan berangkat.
Namun baru saja mimpinya akan menjemput, ia merasakan mobil yang du tumpangi nya berhenti. menoleh ke kanan, dan mendapati suaminya yang kini turun dari mobil menuju kedai makanan.
Apa suaminya itu berniat untuk makan lagi? Bahkan ini baru jam 10 dan mereka tadi sebelum berangkat sudah terlebih dahulu sarapan. Apakah suaminya itu sudah kembali lapar? Ah tak ingin di tinggalkan ia pun ikut keluar dari mobil. Namun, sebelum dirinya dapat menyusul pria dengan kaos abu itu, tangannya terasa ada yang menarik. Ya ampun ini siapa yang narik narik? Batin Rena.
Rena menoleh kanan dan kiri, merasa tidak tahu dimana ia sekarang. Apakah dirinya sudah sampai di Bandung? Ia takut dengan orang yang kini memegang tangannya, apakah penjahat? Belum lagi batang hidung suaminya tak kunjung terlihat.
"Teh" Rena pun langsung menoleh kebelakang terkejut, dan ketakutan itu hilang kala retina matanya menangkap sesosok gadis cantik dengan kerudung syar'i nya.
"Eh iya?"
"Teteh terang jalan nuju ka Butik dukomsel?"
Rena hanya menyernyitkan dahi bingung.
"Itu loh teh cenah ti jl. Diponegoro terus lurus.. Tapi abdi hilap kamana kamana deui, soalna abdi sanajan tos tinggal di Bandung lami masih teu apal daerah eta... Hehehe wajar teh kota bandung luas... Teteh orang dieu kan?" itu seperti pertanyaan yang terdengar di pendengaran Rena dari logatnya gadis itu berbicara. Yang Rena jawab dengan ekspresi tidak mengerti.
"Teh?" ucap dia mengagetkan Rena.
"Eh iya apa?"
Gadis di depan Rena seperti tampak terkejut dan langsung tertawa.
"Aduh si teteh sanes orang Bandung nya?" nah kalo pertanyaan ini sepertinya dirinya sedikit mengerti.
"Iya hehehe" ucap Rena sambil menggaruk belakang lehernya canggung yang tertutup kerudung berwarna navy.
"Duh punten ya teh, dikira orang Bandung lagian teteh nya keliatan manis kaya gadis Bandung" ucapnya dengan cengengesan. Gadis? Masih pantaskah ia di sebut gadis?
"Eh iya dek nggak papa kok..."
"Kenalin teh nama saya Nisa" dia mengulurkan tangan.
"Renata" Rena menyambut uluran tangan itu.
"Temenan ya teh?" ucapnya dengan cengengesan.
Rena hanya mengangguk senang. Baru beberapa menit di daerah orang tapi sudah mendapatkan teman baru dan asik pula.
"Eh iya teh duluan ya." pamitnya saat mereka tadi sudah bertukaran nomor telepon.
"Wassalamu'alaikum teh." ucapnya mengangguk dan menaiki motor metiknya.
"Wa'alaikumussalam." jawab Rena melambaikan tangan pada gadis bergamis ungu. Gadis itu sudah mulai tidak terlihat lagi dan tertutup oleh pengendara yang lain.
"Ehemk."
"Eh emak itu jatoh." latah Rena karena kaget, lalu menoleh ke belakang dan ternyata dirinya mendapati Ilham yang sedang berdiri di hadapannya. Ah ia bahkan sampai lupa bajwa tadi akan mengikuti Ilham karena kejadian tadi.
"Eh Mas? Udah belanjanya?" tanya Rena saat melihat sekantung keresek di tangannya.
"Sini Mas aku bawain."
"Nggak usah." ucapnya saat tangan Rena sudah terulur mengambil kantong keresek tersebut.
"Emang kita mau kemana Mas? Bukannya ini udah di Bandung ya?" tanya Rena mengikuti langkah Ilham menuju mobil putihnya.
"Villa" jawab Ilham singkat.
"Eh villa?~~duh nggak usah di villa Mas, sayang kita kan cuman liburan berdua... Lagian aku udah chat sahabat yang udah 4 tahun losthcontak itu kok. Kata dia kita di suruh nginep di rumahnya rumah dia dekat Gedung Sate." jelas Rena, menolak untuk menginap di villa. Bagaimana bisa? Tujuan awalnya dia jalan-jalan ke sini kan, ingin bertemu sahabat lamanya itu.
"Tidak usah, kita hanya akan merepotkan." Ilham memasuki mobil nya dan menyalakan gas.
Rena cepat-cepat ikut masuk ke dalam mobil, kembali bersua, "Eh nggak kok! Dia juga udah minta izin suaminya Mas."
"Tetap saja merepotkan."
"Yah Mas boleh ya? Lagian aku pengen liburan ke Bandung juga pengen ketemu dia. Kan kalo kita tinggal di Villa aku ketemu dia nya cuman sebentar sedangkan kalo nginep di rumahnya aku bisa sedikit berlama-lama sama dia." bujuk Rena dengan ekspresi memelas mungkin.
"Nggak Ren, ngerepotin itu namanya."
Rena yang sejak tadi membujuk suaminya itu, menghela nafas saat dirasa keinginannya tak akan di penuhi. Ia uang sedari tadi menatap ke segala arah, kini memberanikan diri menatap suaminya.
"Mas boleh ya? Anak sahabat aku baru umur 1 tahun loh masih unyu unyu nya aku pengen liat."
"Kita bisa berkunjung."
"Ihh Mas?"
"Ren!!!" Bentak Ilham, Rena langsung terdiam dan menunduk. Ia merasa ini kecewa sekali, yang pertama tidak bisa berlama-lama bertemu dengan sahabatnya itu dan yang kedua adalah ini perdebatan pertama mereka, Rena cukup sedih mengingat itu. Ia memejamkan mata.
Tasya... Kayanya aku nggak bakal bisa lama bertemu dengan mu, suami ku tak mengizinkan untuk aku dan dia menginap di rumah mu. Padahal aku rindu sekali denganmu. Kamu adalah sahabat masa kecil ku yang selalu ada untuk ku. Begitu banyak yang ingin aku ceritakan tentang kehidupan ku padamu setelah tidak adanya dirimu di sampingku... Ah mungkin suatu saat nanti ya, saat aku untuk kedua kalinya main ke kota Bandung lagi, aku janji akan menghabiskan waktu bersamamu berdua hanya berdua Euuum mungkin bertiga deh dengan anak mu itu." ujar Rena dalam hati ia tersenyum dan menghapus air matanya yang tiba-tiba terjatuh. Ia merasa cengeng sekali padahal hanya masalah kecil seperti ini. Ia menguatkan dirinya untuk tidak bersedih lagi, dan menggumamkan kata kata yang harusnya dirinya bersyukur setelah 9 tahun dirinya tidak bertemu dengan sahabatnya itu, kali ini ia memiliki kesempatan untuk berjumpa, ya walau hanya sebentar, dan ia akan menysukuri itu.
Rena tetap memejamkan matanya, ia memutuskan untuk menjemput mimpi saja. Sehingga sebuah suara memaksa Rena untuk kembali membuka mata.
"Dari sini kemana?"
"Eh?" bingung Rena. Bukannya mereka akan menginap di villa? Lalu mengapa suaminya itu bertanya kemana pada dirinya, Rena sungguh tidak tau villa nya di mana.
"Abis ini kemana lagi?" tanya Ilham lagi yang masih membuat Rena memunculkan tanda tanya.
"Duh mas aku nggak tau tempat villanya di mana. kok, malah nanya aku sih?" tanya Rena bingung.
"Rumah sahabat mu dimana?"
"Lah emang ini mau kemana sih Mas?" ucap Rena masih malas meladeninya.
"Kau ingin menginap di Villa?" tanya Ilham dengan suara menyebalkan.
"Lah emang di mana lagi? Kan Mas pengen kita nginep di Villa. Kalo nggak di Villa kita nginep di mana? Di emperan kota gitu?" ucap Rena sebal langsung mengalihkan pandangannya ke sisi jendela dan menatap jalanan.
"Kau tidak lihat itu bangunan apa?" ucap Ilham menginstrumen kan Rena, agar istrinya itu sadar mereka sedang berada di mana. Awalnya Rena malas menoleh, namun ia tetap melakukannya. Dan betapa terkejutnya dirinya,"Mas itukan Gedung sate" ucap Rena girang menunjuk bangunan itu dari dalam mobil dan menatap Ilham bergantian.
"Jadi kita..."
"Dari sini kemana lagi?" tanya Ilham lagi.
"Eh iya bentar hehehe...Tasya udah ngirim lokasi nya deh di W'A... Nah ini Mas, Mas tau kan kemana jalannya?" ucap Rena sambil menunjukan handphone nya pada Ilham kemudian Ilham menyuruh Rena menaruh handphone itu di dekat pengemudi, Rena pun menurut.
Rena terus tersenyum sepanjang jalan sungguh saat ini Rena senang dan bahagia.
Tbc;