
"Pagi Mbak" sapa Rena saat masuk ke dapur dan mendapati Icha yang tengah memasak di dapur.
"Pagi sayang." sapanya balik tanpa mengalihkan tatapannya dari wajan berisi nasi.
Rens tersenyum dan terduduk di meja makan. Gadis itu duduk dengan khitmad menatap Icha yang sibuk dengan alat-alatnya. Memang di rumah ini meja makan dan dapur di satukan dan hanya di pisah oleh prabotan masak. Katanya si sengaja biarĀ terlalu ribet dan memakan ruangan banyak.
"Masak apa Mbak?" tanya Rena basa-basi karna ia pun tau bahwa kini Icha tengah memasak nasi goreng. Ia bosan saja jadi ia mengajak Icha untuk mengobrol.
"Ini Ren masak nasi goreng."jawab Icha, tangannya sibuk memasukan sosis yang sudah dipotong-potongnya tadi.
"Euuum enyak nih kaya nya Mbak." kata Rena dirinya menghampiri Icha dan mencium wangi nasi goreng dengan mengibaskan tangan kehidung.
"Bukan kayanya! emang terbukti enak." suara bass itu menggema membuat Rena tersentak kaget, ia melihat Ilham tengah berjalan menghampiri meja makan.
Rena hanya mendelik. Iya atuh dia mah apa? Masak buat sendiri aja suka gosong apalagi buat suami. Bahkan selama dirinya tinggal disini sekalipun tidak pernah memasakan makanan untuk mereka.
"Eh Mas Ilham udah mandi udah rapi, tunggu dulu ya nasi gorengnya belum siap, duduk aja dulu. Kamu juga Rena duduk sana jangan ngerecokin mulu---ya ampun Rena jangan mainin gula. Kenapa juga dicomotin terus di makan gitu?"omel Icha saat melihat tingkah Rena yang absurd.
"Enak." ucap Rena sepontan sambil mengacungkan kedua ibu jari.
"Tutup aduh kamu ngerecokin mulu. Sana sana duduk." ucap Icha mengambil toples di tangan Rena lalu menutupnya kembali dan menaruh di lemari yang paling tinggi, membuat Rena mengerucutkan bibirnya. Ia kesal tempat itu terlalu tinggi untuk ia gapai, tubuhnya terlalu pendek.
Rena pun berlalu dari dapur menuju meja makan sambil menghentak hentakan kakinya.
"Apa liat-liat" tanya Rena tajam menatap Ilham, karna sedari tadi ia melihat ilham dengan ekor matanya bahwa dia memperhatikan dirinya.
Ilham hanya acuh tak acuh lalu memperhatikan Icha yang sedang sibuk masak.
"Sini liat aku." ucap Rena kesal.
Sedangkan pria dengan setelan jas lengkap itu hanya menautkan kedua alisnya merasa bingung dengan apa yang di ucapkan oleh gadis yang masih memakai baju tidur itu.
"Nggak usah liat-liat, ganjen banget liatin aku"ujar Rena lagi.
Ilham hanya mentap Rena dengan tatapan yang sulitku artikan. Lalu memikih kembali memperhatikan Icha.
"Ih aku bilang jangan liat kesana." ucap Rena lagi dengan nada kesal, Ilham menatap Rena dengan tatapan kesal juga.
"Ada apa si? Aneh banget" ucap dingin ia memilih untuk mengeluarkan gawainya dan asik dengan dunianya sendiri.
Rena gelagapan ia pun bingung kenapa setiap suaminya itu melihat Icha dia merasa kesal dan cemburu? Dia pun menyuruh Ilham untuk menatap dirinya, tetapi saat Ilham menatapnya rasa gedeg malah meluap. Ya ampun dirinya tidak dosa kan memiliki rasa itu pada suaminya? Entahlah sejak bangun tidur dan dirinya mendapati tengah tertidur di atas tempat tidur, ia ingin langsung mandi, tapi mendengar gemericik air di dalam kamar mandi. Ia membatalkan niatnya dan memilih ke dapur. Awalnya ia juga bingung bagaimana dirinya bis mempunyai kebernian untuk berbicara dengan Ilham, bahkan selama ini mereka bersama namun tak bersuara.
"Tada...! Makanan sudah jadi" rempong Icha yang masih menggunakan celemak masaknya.
"Ayo cepetan makan makan." ucap nya gembira.
Rena pun menyendokan nasi goreng yang terlihat lezat itu ke dalam mulut. Tatapi rasanya aneh! Dirinya tidak suka!
Ia langsung mendongkak dan menatap piring yang berada di hadapannya. Sedangkan orang yang berada di hadapannya asik memakan makanan buatan istri tercintanya.
"Euuuum"
"Ada apa ren?" tanya Icha
"Itu..."
"Itu apa?"
"Mas Ilham Rena boleh nggak makan makanan yang ada di piring Mas aja" ucap Rena takut takut sambil menatapnya.
Sedangkan Ilham hanya menyernyitkan dahinya bingung.
"Boleh ya Mas?" tanya Renalagi sambil mengatupkan kedua tangannya lalu membuat mata sememelas mungkin.
Terlihat Ilham menghela nafas. Jujur ia bingung, setan apa yang tengah merasuki istri keduanya ini? Hingga sedari tadi bersikap tidak wajar.
"Yasudah nih." Ilham pun menyodorkan piringnya
"Aaah makasiiiih..." ucap Rena sambil nyengir-nyengir dan langsung melahap nasi goreng bekas Ilham.
Nyam
Nyam
Nyam
"Ren?"
"Iya mbak?"
"Kamu kenapa kok malah makan bekas Mas Ilham sih?"
"Nggak papa kok Mbak, cuman pengen aja enak" ucap Rena dengan mulut penuh makanan dan mengacungkan kedua jari jempol nya seperti tadi di dapur.
"Hem baiklah...~Ren"panggil Icha lagi saat beberapa detik terdiam.
"Eh iya apa lagi Mbak?"tanya Rena lagi, sekarang Rena menghentikan makanya menatap Icha. Sebel aja dari tadi lagi makan di nganggu mulu.
"Kamu besok libur kan?"
"Iya"
"Gimana kalo kamu jalan-jalan"
"Jalan-jalan?" ucap Rena bertanya dan mengulangi kalimat Icha dengan nada gembira.
"Iya jalan-jalan... Kamu mau kemana?"
"Iya Rena mau, dan Rena mau ke Bandung Mbak... Rena itu udah lama banget pengen ke kota kembang. Rena pengen ketemu temen lama, soalnya dia pindah ke situ waktu usia kita 14 tahun. Rena pengen reouni sama dia. Ah pasti dia bahagia asiiik banget iiih" jelasnya.
"Euuum Bandung ya?"
"Iya"
"Yaudah sekarang kamu packing ya. Buat besok nanti okeh"
"Okeeeeee...." belum hilang suara Rena, perkataan Icha membuat nya kaget.
"Kamu juga ya Mas! Nanti kalian jalan-jalan berdua"
"APA?" teriak mereka berbarengan. Rena langsung memandang Ilham dengan sebal. Ilhampun melakukan hal yang sama.
"Apa sih cha? Mas besok ada meeting."
"Ya ampun nggak papa kali mas, cuman sehari doang kamu cuti dulu"
"Ya nggak bisa gitu lah cha... Ini meeting penting Mas"
"Cuman satu hari Mas cutinya"
"Sama kamu ya"
"No"
"Cha"
"No Mas!!"
"Kenapa nggak minggu aja?"
"Kan tadi Rena pengen ke Bandung, mana cukup cuman sehari, belum jalan-jalannya." ucap Icha.
"Sama kamu ya."ajak Ilham, karna ia tadi masih mengingat dengan jelas bahwa Icha menyuruhnya untuk jalan-jalan berdua dengan madunya.
"Ih nyebelin deh kamu Mas." ucap Icha yang mulai dongkol, bukan ini rencananya.
Saat piring di depan Rena kosong ia pun langsung berdiri. Dan kebelakang untuk mencuci piring. Ya memang bagian kerja rumah di sini adalah ~mencuci piring ~sapu halaman ~sapu rumah ~dan mengepel.
Kalo urusan memasak dan cuci pakaian itu tugas Icha, mereka sengaja membagi tugas agar lebih gampang. Sedangkan belanja keperluan dapur mereka sering bergantian.
Rena menoleh kepala ke belakang meninggalkan sepasang suami istri yang sedang berdepat.
Tbc;