Feeling In Love

Feeling In Love
Spesial Part (Ilham)



Ilham pov


Memiliki kekasih yang dicintai ada di samping kita bukankah itu adalah anugrah terindah? Namun, apa jadinya jika keluarga tanpa kehadiran seorang malaikat kecil yang bisa membawa kita kesurga-Nya? Tentu! mungkin aku akan ikhlas karna bagaimana pun sesosok anak itu titipan dari yang Kuasa bila kita belum di berikan amanah untuk memiliki anak, Harus kah kita mengeluh? kejer kejer? Tidak! intinya, seharusnya kita bersabar menghadapinya, itu bukan ujian tapi cobaan agar yang di Atas tau betapa besar keinginan kita untuk memiliki malaikat kecil itu. Namun sayang pasangan ku tak memiliki kesabaran saat usia pernikahan kita bahkan menginjak 14 tahun. Apakah ia lupa pengorbanan yang kita lalui dan hadapi. Namun, nyatanya ia goyah memintaku untuk menikah lagi, yang sebenarnya aku tak habis pikir. Jujur aku tak ingin menikah lagi biar lah rumah tanggaku tanpa kehadiran sesosok anak yang penting aku tak melukai hati seorang wanita yang aku cintai.


Nyatanya istriku tetap memaksaku untuk menikah lagi dan yah aku menikahi seorang wanita yang umurnya 12 tahun di bawahku dan parahnya lagi dia adalah sahabat ipar ku.


Andai waktu bisa di ulang aku tak ingin mengenal nya, 'Di suatu pesta ulang tahun pernikahan ku yang ke 7 tahun bahkan usianya saat itu masih remaja, adik ipar ku membawanya. Membawa gadis itu dengan penampilan yang berantakan dan itu menarik perhatian semua tamu disana. Adik ipar ku pun membawanya masuk kedalam dan kejadian yang tak terduga  pun terjadi saat dirinya berpenampilan bugil keluar dari kamar mandi di hadapanku, Gila! mungkin ia tak tahu bahwa itu kamar ku, sehingga dirinya bisa keluar tanpa sehelai handuk. aku tak habis pikir di situ. Dan sejak saat itu dia tidak pernah mau bertemu denganku lagi.


Dan semuanya terjadi begitu saja aku memilikinya namun tidak dengan hatiku dia tak memiliki hatiku karna hatiku telah di tempati oleh seseorang yang paling berharga.


Aku tidak bisa memaksakan cinta ku untuknya, seberusaha apapun itu.


Aku tidak pernah memiliki niat untuk bersikap cuek padanya, semua itu terjadi begitu saja.


Sekarang kita akan ke kota Bandung untuk jalan-jalan.


Fyuhh! dan sebenarnya sekarang aku malas untuk liburan bahkan pekerjaan di kantor sedang banyak sekali. Tapi apalah dayaku yang tidak bisa melihat istri tercinta ku sedih atau pun marah. terserah kalian mau menilai ku suami takut istri itu semerdeka kalian. Aku hanya tidak ingin melihatnya sedih karna diriku sendiri.


Saat di perjalan bahkan aku tidak mengeluarkan sepatah katapun. Aku berhenti di suatu kedai makanan untuk membeli cemilan. Namun saat aku kembali aku melihat istri kedua ku sedang berdiri menghadap jalan.


Saat kami akan melanjutkan perjalanan dia tiba-tiba memintaku untuk menginap di rumah sahabatan nya itu. Tentu saja aku tidak mau, karena kita pasti hanya akan merepotkan sahabatnya itu, lagi pula aku tidak ingin bertemu dengan sahabatnya karna bisa saja aku di nilai tua berdamping dengan Rena. Tidak tidak itu tidak akan tejadi... Huft enak saja ada orang yang memanggil ku tua. Kesalku dalam hati.


Tapi saat dia sudah pasrah dan menerima keputusanku untuk menginap di villa. Dia seperti lesu dan tak bergairah dia selalu menatap pinggir jalan?~huft setampan itu kah pinggir jalan di bandingkan aku_-. Oke back to topik.


Tak selang beberapa lama dia mengusap pipinya? Apakah dia menangis? Nyes rasanya seperti ada yang mencelos di dalam hati ku bukan sakit karena mencintainya. Tapi aku paling tidak bisa melihat wanita menangis. Aku pun mengubah jalur nya dan menunju tempat bangunan itu berada. Apakah dia tidak menyadarinya?


"Abis ini kemana?"tanyaku padanya.


"Eh?" dia bingung sambil melihat ku.


"Abis ini kemana lagi?"tanyaku padanya lagi.


"Duh Mas aku nggak tau tempat villanya di mana. kok, malah nanya aku sih?" tanya nya bingung sambil mengerutkan alisnya dan tidak lupa dengan nada sebalnya. Hahaha membuatku ingin tertawa saja.


"Rumah sahabat mu dimana?"tanyaku lagi dengan sabar.


"Lah emang ini mau kemana sih Mas?"ucapnya dengan malas. Wah nih bocah emang nggak tau diri. Di kasih hati malah minta empedu.


"Kau ingin nginep di villa?"tanyaku dengan nada malas dan bosan juga karena dia tidak sadar-sadar.


"Lah emang di mana lagi? Kan Mas pengen kita nginep di vila. Kalo nggak di villa kita  nginep di mana? Di emperan kota gitu?" ucapnya sambil memanyunkan bibirnya dan menoleh ke pinggir untuk menatap jendela. Uhk untuk kesekian kalinya lagi😢 sepertinya pinggir jalan memang lebih tampan dibandingkan denganku😢😢.


"Kau tidak lihat itu bangunan apa?"ucapku gemas dan memberikan clu siapa tau dia langsung konek.


Dia seperti malas dan enggan namun tetap menatap kedepan, dan selang beberapa detik senyum sudah tercetak di bibirnya.


"Mas itu kan Gedung sate." ucapnya girang menunjuk patung itu dari dalam mobil dan menatapku bergantian.


"Jadi kita..."


"Dari sini kemana lagi?" tanyaku mengangkat sebelah alisku.


"Eh iya bentar hehehe...Tasya udah ngirim lokasi nya deh di W'A... Nah ini Mas, Mas tau kan kemana jalannya?" ucapnya sambil tertawa dan menunjukan handphone padaku, aku pun menyuruh nya untuk menaruh handphone itu di dekat kemudi agar aku lebih mudah melihatnya.


Dia pun mengikuti perintahku dan terduduk dengan khidmat sambil terus tersenyum. Entah kenapa aku pun ikut tersenyum. Walaupun hanya di dalam hati.


***


Kami telah sampai, tapi ku lihat sepertinya Rena tertidur. Ku guncangkan pundaknya agar dia terbangun. Tidak tega sih, sepertinya dia lelah tapi aku harus gimana? Orang ini sudah sampai di depan gerbang rumah yang katanya sahabat Rena.


"Eungh" akhirnya dia bergumam dan bangun setelah aku terus mengguncangkan badannya.


"Ini di mana Mas?" halusinasi nih bocah!


"Turun!" perintah ku.


"Udah nyampe?" tanyanya lagi masih dengan mengucek ucekan mata dan menoleh kanan kiri.


Aku hanya mengangguk dan turun terlebih dahulu untuk membuka pagar agar sang satpam membukakan pintu, sebenarnya tadi aku sudah klakson beberapa kali, tapi sepertinya tak ada yang dengar.


Kami pun masuk ke dalam rumah yang sedikit besar di bandingkan tetangga-tetangga yang lainnya.


"Assalamualaikum." Rena mengucapkan salam sambil mengetuk pintu bercat coklat itu.


"Wa'alaikumussalam... Sebentar!" ucap orang di dalam sana saat rena mengetuk pintu.


Krieeet...


Orang yang membukakan pintu hanya menatap kami bingung. Sedangkan Rena dia sudah menunjukan ekspresi bahagia.


"Siapa ya?" tanya orang itu.


"Eh---kamu nggk kenal aku Tas?"


Orang itu masih bingung dan menatap Rena menilai.


"Ih aku nggak kenal."


Detik berikutnya saat aku melihat Rena ternyata dia telah menurunkan cairan bening dari matanya.


"Tatas Jahat" ucap Rena dengan menyusut hidungnya. Sedangkan aku diam dan menatap aneh Rena, dan orang yang berada di dalam pintu yang terbuka itu pun makin menunjukan kebingungannya.


"Tuh kan Tasya nggk inget Rena... " dia diam sejenak.


Detik berikutnya hanya suara teriakan Rena yang terdengar.


"Huaaaaa hisk hisk hisk... Tatas Jahat" dia terduduk seperti anak kecil. Aku pun tak tinggal diam aku ikut jogkok karna orang itu terus menatap ku bingung.


"Ren udah! kenapa jadi kaya anak kecil sih?" ucap ku mengusap pundaknya.


"Nggak bisa gitu Mas." dia tiba-tiba menyusut ingusnya pada lengan kaos panjang ku. Iiih kok jorok sih nih bocah?


"Terus?"


"Jangan panggil aku anak kecil paman."


"Hah?"


"Nama ku Rena."


Setelah itu ada suara tawa keras membeludak di telinga. Dan ternyata tersangkanya adalah orang yang mempunyai rumah ini.


Rena seketika diam dan aku pun tercengang melihat mereka langsung tertawa dan berpelukan. Aku berdiri, hanya bingung melihatnya.


"Tatas jahat."


"Rere lebih jahat."


Deg


Rere? Nama itu seakan familiar di telingaku.


"Tatas lupain Rere."


"Engga Rere yang lupain Tatas."


"Rere nggak lupain Tatas kok."


"Nggak lupain? Tapi kenapa Rere nggak dateng ke acara pernikahannya Tatas."


"Kan Tatas nggak ngundang Rere."


"Sok tahu!"


"Iya kok."


"Ehem,"dehemku saat mereka tetap berdebat sambil berpelukan.


"Huaaaa." mereka pun menangis bersama. Aduh! Ini mereka kenapa sih? telat minum obat kali ya?.


"Sayang ini obatnya belum di minum."


Eh suara siapa itu? Nahkan bener belum minum obat.


"Loh loh kok kamu nangis Mah?" tanya seorang lelaki yang baru keluar dari dalam rumah.


"Pah ada yang nyakitin Mamah." gadis yang sekarang kita ketahui bahwa memang dirinya lah sahabat Rena, melepas pelukan itu dan memeluk lelaki yang tadi mungkin bisa kita ketahui bahwa dia adalah suami sahabat istrinya ini.


"Siapa Mah yang nyakitin kamu?"


"Dia." Eh kok malah nunjuk aku. Lelaki yang berada di hadapanku pun melepas pelukannya dan menghampiri ku. Aku hanya menaikan alisku bukan menantang hanya bingung tapi sepertinya dia salah arti.


Dia mencengkram kerah baju ku. Aku hanya diam malas menanggapi.


"Dia nyakitin kamu gimana sayang?" tanya lelaki itu menengok kebelakang, menatap istrinya.


"Hiks." Dia malah menangis kembali.


Pukulan pun mendarat di pipiku. Ah sudah ku bilang malas aku untuk menginap di sini dan benar saja aku di sambut oleh pukulan.


"Mas Ilham!" jerit Rena, aku hanya memutar bola mata malas! Ada apa lagi ini? Apa kah sedang di adakan syuting drama dadatakan?


"Cepat katakan sayang dia berbuat apa?" ucap lelaki ini geram dan menatap wajahku marah.


"Dia... Dia..."


Rena ikut nangis memeluk Tasya. Sudah kubilang apa? Ini sepertinya memang sedang di adakan syuting drama.


"Dia udah kawinin Rena tanpa izin aku..  Huaaaa."


"Huaaaa." Rena ikut menimpali.


Detik berikutnya lelaki di hadapanku langsung jongkok dan mengkeplak jidatnya sendiri sambil menatap istrinya nanar yang sedang menangis menjerit di pelukan sahabatnya itu.


Tbc;


Terbongkar sudah kenapa Rena sangat malu akan pertemuan pertama mereka! Namun benarkah itu pertemuan pertama mereka?😂