Feeling In Love

Feeling In Love
Bertemu Orang Di Masa Lalu



Sopir itu memunggungiku namun sepertinya dia mengetahui bahwa ada seseorang di belakangnya dia pun menoleh ke belakang.


Deg!


Orang ini? Kenapa kenapa ada di sini? Dia dia? Rasanya aku ingin lari saja dari sini dan tak ingin berhadapan dengannya.


Dia tersenyum padaku. Senyum yang sama licik dan menyeringai seperti dulu. Wajahnya masih sama ada codet di sisi kanan dan tahi lalat di atas bibir kanan yang menyebabkan jikalau tersenyum bagaikan devil kegelapan yang membuat seseorang ketakutan dan bergetar. Badanku sudah sangat bergetar rasanya aku ingin lari saja dari hadapan orang ini. Apalagi sekarang dia menghampiriku, aku tak bergeming terlalu lemas untuk melangkah ke belakang.


"Ada apa nona?"


Deg!


Dan suara nya masih sama seperti dulu kala.


***


"Ada apa nona heum? Hahahahaha," orang itu tertawa yang menyebabkan kedua temannya ikut tertawa.


Rena gelagapan dia takut sungguh takut di sini cahayanya remang-remang dan di sini gelap hanya cahaya bulan yang menyinari.


Dan dia tidak tau apa yang tiga lekaki dewasa ini lakukan pada badannya yang dia tau adalah dia Takut saat ini ingin rasanya berteriak tapi rasanya sudah hampir 10 menit tidak ada orang yang mendengarnya yang dihadiahi gelak tawa dari orang orang dewasa itu.


Lelaki yang paling ia kenali adalah dia orang yang memiliki tubuh besar dan memiliki tahi lalat dan codet di pipi sedangkan kedua temannya tidak memiliki ciri ciri untuk mengingatnya karna wajah mereka bersih dan seperti bukan orang indonesia. Rena terus memperhatikan muka mereka merekamnya di dalam ingatannya agar ia bisa melapor pada kedua orang tuanya.


Orang itu terus menciumi muka Rena. Bahkan Rena sudah menangis histeris oleh perlakuan mereka. Dia takut apakah akan berakhir sampai sini kehidupannya yang selalu malang ini?.


"Jangan menangis sttts anak manis," ucap salah satu mereka sambil menciumi mata Rena.


"Jangan aku mohon kalian mau apa haaaah" bentaknya setelah lepas dari cekalan orang bercodet itu.


"Hahahaha kami ingin tubuh mu" ucap salah satu nya lagi yang berambut ke pirang pirangan.


"Apa yang kalian inginkan dari anak kecil seperti ku" jeritnya lagi bahkan Rena merasa tenggorokannya seperti tercekak.


"Bodoh kami sudah menjawabnya!!!" ucap si rambut coklat sambil memenggang tangan rena dengan kasar bahkan sampai terhuyung badan rena.


"Ayooo nikmati dia!!"


"Hahahaha ayo,"


Tidak ada percakapan lagi yang bisa Rena dengar semuanya menjadi gelap, yang ia ketahui adalah saat ia bangun matahari sudah menerpa wajahnya.


Namun ini berbeda di tempat sebelumnya ini seperti sebuah kamar. Renapun langsung terduduk dan menatap kesekeliling. Dia menangis mengingat kejadian semalam. Apa yang sudah terjadi pada tubuhnya? Rasanya menjeritpun sudah tak berguna semuanya sudah terjadi semuanya telah berakhir semuanya telah sirna.


Hingga terdengar suara pintu terbuka muncul sesosok orang yang dikira Rena seumuran dengan lelaki lelaki dewasa kemarin yang membawanya ke suatu wilayah yang sepi. Mengingat seorang lelaki dewasa membuat Rena menangis histeris dan bergetar.


"Hey cup cup jangan nangis anak manis sttts tidak akan terjadi sesuatu padamu"ucap orang itu sambil memeluk tubuh kecil Rena.


"Hikh... hiks... Apa yang mereka lakukan padaku?" tanya Rena pada pria itu.


"Mereka tidak melakukan apa apa percaya padaku!" ucap lelaki itu mengurai pelukannya.


"Berapa usia mu?" tanya Rena pada lelaki itu.


"20 tahun" jawabnya sambil mengambil minum dan diserahkan pada Rena.


"Tua sekali" ucap Rena dengan sesegukan karena tangisnya reda.


"Hei," respon lelaki itu karna tidak terima di bilang tua oleh gadis kecil yang berada di hadapnnya.


"Emang berapa usia mu adik kecil?" tanya lelaki itu sambil mengusap kepala Rena.


"Delapan tahun."


Deg!


Bahkan dia masih sangat kecil-batin lelaki itu.


"Baiklah baiklah kau mau ku antar pulang?"


"Kak,"


"Heum?"


"Apa yang mereka lakukan padaku?"


Deg!


"Tidak ada," ucap lelaki itu memberikan senyum manis agar gadis yang berada di hadapannya percaya.


"Tapi tubuhku mereka pelukan dan mereka menyiumi mukaku... Kenapa? Kenapa mereka melakukan itu padaku?" tanya Rena lagi dia kembali menangis, kejadian itu kembali berputar dikepalanya


"Sttts... bukankah sudah kakak bilang mereka tidak melakukan apa-apa. Kakak datang tepat waktu"lelaki itu mengusap kepala rena yang tertunduk.


"Jadi kakak yang menyelamatkan aku?"


"Euuum bisa di bilang begitu. Ayo kita pulang! Orang tua mu pasti khawatir," ajak lelaki itu.


Rena turun dari ranjang kecil menginjak lantai yang beralasan semen tidak seperti di rumah nya yang mewah dengan keramik keramik pilihan arsitek ternama.


Mengikuti langkah laki laki dewasa itu.


"Kak siapa nama mu?"


"Muhammad Ilhamsyah."


"Terimakasih kak Ilam," rena tersenyum lebar menunjukan deretan giginya.


Yang Rena pikirkan adalah orang yang berada di hadapannya adalah orang yang menyelamatkan nya maka rena akan selalu merekam muka orang itu di benaknya.


Dan akan menghilangkan muka orang yang sudah menyakitinya tadi malam. Termasuk orang yang bercodet dan bertahi lalat itu serta senyum seringainya ia akan melupannya tidak ingin memingatnya apalagi melihatnya kembali. Doa Rena dalam hati.


***


Kenapa doaku saat kecil tidak terkabul oleh Tuhan? Kenapa aku harus bertemu dengan orang ini lagi? Kenapa? Apakah takdir akan mempermainkanku lagi seperti dulu?


Bahkan sekarang kenangan itu seakan menyeruak ingin keluar dan kenangan orang itu kenangan orang yang menolongku seakan ingin mengambil alih kesadaranku. Aku pun menggeleng.


Dan menatap orang itu.


"Antarkan aku pulang!" ucapku datar sambil masuk kekursi belakang. Bersikap biasa saja agar orang itu tidak curiga.


"Jln. Jakarta barat perum mawar?" itu seperti pertanyaan yang terlontar.


Aku pun hanya mengangguk terserah dia mau melihat atau tidak yang jelas sekarang aku ingin cepat cepat pulang dan pergi dari orang ini.


"Apakah non ini anak nya Nyonya merry?" ucap orang itu seakan sengaja agar aku mau mengobrol dengannya.


"Ya" jawabku sambil melihat jalanan. Hal yang selalu aku lakukan sedari kecil saat pergi bertiga dengan orang tua ku.


"Sudah menikah ya non?"


Aku hanya mengangguk dan berdehem.


"Saya berkerja di rumah non hampir 1 minggu yang lalu, syulurlah keluarga non menerima saya dengan latar belakang saya yang kurang baik" ucapnya lagi yang aku yakin sesekali melirik ketempatku duduk lewat kaca spion mobil.


Aku enggan menimpali nya terlalu malas dan takut. Takut akan terjadi kembali sesuatu di masa laluku itu. Karna aku sudah mengetahui apa yang terjadi padaku di waktu kecil itu.


"Non kelihatannya melamun terus! Sedang ada masalah?"


"Hah...? Ah ti--tdak!" ucapku gugup dan bersyukur karna saat mata ku menatap ke depan. Ternyata ini sudah sampai di rumah mas Ilham akupun bergegas turun.


Mobil dan sopirnya pun pergi aku kembali menucap syukur dan alhamdulillah.


Tbc;