Feeling In Love

Feeling In Love
Cemburu?



"Ya ampun Rena kamu cantik banget"suara lengkingan itu bukan dari sahabat yang sering Rena dengarkan, melaikan pria macho yang kini berada di hadapan gadis dengan pakaian yang baru itu.


"Apa'an sih" ucap Rena ketus.


Sedangkan orang yang berada di hadapanya ini dia hanya terus memperhatikan Rena, membuatnya risih bagaimana pun dia sudah memiliki suami tidak sepantasnya ada pria yang menatapnya intens itu sungguh membuatnya tak nyaman.


"Rena kau berbeda sekali" ucapnya lagi matanya masih memperhatikan Rena dari atas sampai bawah, menilai. Ah gadis itu ingin sekali pergi, bila perlu sebelum pergi ia ingin meninju perut pria tersebut.


"Udah si Reyhan nggak usah memperhatikanku seperti itu" ucap Rena akhirnya jengah dengan Reyhan yang terus menatapnya menilai. Ia sedikit bingung bagaimana seorang Reyhan yang dikatakan dari fakultas kedokteran bisa berada di fakultasnya. Dan kembali di buat bingung saat melihat seperti nya orang itu masih ingin mendekati dirinya, sepertinya tangan kirinya belum cukup untuk membuat pria berhodie merah itu kapok.


"Oh ya ya" ucapnya sambil bertepuk tangan dan tersenyum. Rena mengerutkan kedua alisnya, kenapa lagi orang ini?ujarnya dalam hati.


"Aku sekarang paham." lanjutnya semakin membuat Rena menyernyitkan dahi bingung.


Maksud dia paham apa si?tanya Rena dalam hati


"Jadi kamu nggak mau aku sentuh tangannya karna kamu mau hijrah kan? Hem hehehe kalo gitu sorry soal kemarin, kenapa tidak bilang sih aku kan kemarin bingung. Tapi aku dukung jalan kamu ini semoga istiqomah ya" ucapnya cengar cengir seakan kemarin tidak terjadi apa-apa. Rena memutar bola mata malas, namun ikut mengaminkan doa pria tersebut. Matanya tanpa sengaja melirik pergelangan tangan kiri pria tersebut, seperti dililit perban tidak begitu jelas karna tertutup lengan panjang."Eumm itu tangan mu sudah tak apa-apa kan?"tanyanya karna takut bila apa yang di perbuat suaminya melukai orang itu, mungkin memang kuku suaminya saat itu belum di potong hingga menyebabkan luka lecet pada pergelangan kiri Reyhan.


"Ini?" tunjuk Reyhan pada tangannya sendiri.


"Yaiyalah" ucap Rena kembali ketus.


"Hehehehe biasa aja kali neng"


"Dih apa'an sih, nung nang neng." kesal Rena dan kembali risih dengan Reyhan.


"Ih sensi nih, eum gimana sebagai permintaan maaf mu kita makan di restoran" ucapnya


Rena menampilakn ekspresi kaget yang tak terbaca,"Siapa yang mah minta maaf? Nggk mau ih" ujar nya langsung meninggal kan Reyhan yang sedari tadi duduk di kursi panjang depan kelasku.


Melihat itu Reyhan pun ikut berdiri, dan menyusul langkah Rena dengan lebar-lebar.


"Yah jangan gitu dong. Yaudah deh sebagai permintaan maaf ku aku yang teraktir kamu makan" katanya setelah berhasil mensejajarkan jalannya.


"Yaudah ayu" eh? Kenapa aku jadi mau di ajak sama dia padahal dari awal tadi aku ketemu sama dia udah gedeg.batin Rena bertanya-tanya tetapi setelah memikirkan ternyata otak kanan serasa mengatakan 'jangan' tapi otak kiri berucap 'ayo' dan otak tengah mengucapkan 'lumayan'. Kan jadi dilema.


"Ayo!"ujarnya berseru saat gadis itu tak kunjung mengikuti Reyhan yang sudah beberapa langkah di depan Rena.


"Lagi mainin apa si kok fokus banget sama hp nya?" tanya Reyhan saat mereka sudah berada di dalam mobil dan melihat gadis yang duduk di sampingnya sibuk dengan gawa.


Rena menoleh sekilas kemudian kembali fokus pada aplikasi chat, ia menunggu balasan dari orang yang tadi ia kirimi pesan namun balasan tak kunjung datang. Padahal dalam pesan itu ia berniat meminta izin untuk makan terlebih dulu di luar sebelum pulang ke rumah. Ah mungkin orang itu tidak memiliki kuota.


"Yeh ditanya malah bengong"ucap Reyhan dengan tangan yang melambai-lambai di depan wajah Rena. Membuat Rena memundurkan kepalanya kebelakang.


"Apa'an sih?" tanya Rena ketus, memasukan gawainya kedalam tas selempang yang tengah ia kenakan. Ngomong-ngomong tas itu di beli kan suaminya 3 hari yang lalu, entahlah ada angin apa, yang penting ia bersyukur bisa di belikan sesuatu oleh suaminya. Walau masih ingat dengan jelas, wajah yang datar saat menyodorkan bingkisan itu yang ternyata isinya sebuah tas.


"Ketus mulu perasaan" ucap Reyhan sambil berfokus pada jalanan yang lenggang.


"Ini mau makan dimana?" tanyanya setelah sepuluh menit mereka terdiam tak mengeluarkan suara.


"Euum terserah aja deh, tapi kok aku kaya yang mau makanan udang ya."ujar Rena dengan nada yang lembut tidak seketus tadi, masa bodo dengan apa yang di pikirkan pria tersebut mengingat dia baik hanya saat ada maunya.


"Hahaha" dia tertawa. Rena berusaha abai, ia yakin itu memertawakan sikap dirinya.


"Eumm aku tau deh dimana tempat yang enak" ucapnya saat tanyanya masih berada di ujung.


Rena tidak menjawab, ia asrah akan di bawa kemana yang penting ia makan gratisan.


"Ren udah nyampe"


"Eh iya?"kaget Rena karna sedari tadi ia memerhatiamkan tas selempang berwarna hitam itu. Dia menatap keluar mobil dan meilihat sebuah Restoran bertulisan "Savanah's Seafood." seafood ya? Tidak buruk juga. Guman Rena.


Rena dan Reyhan pun berjalan beriringan saat keluar dari mobil, Rena melangkah lebih cepat saat akan membuka pintu restoran namun rentina matanya terlebih dahulu menatap kedua pasangan yang terlihat romantis ia pun menunduk tak ingin melihat pemandangan yang entah mengapa menggores relung hatinya. Dia mengikuti langkah Reyhan dan terduduk di meja yang berada di tengah-tengah resto itu.


"Mau makan apa Ren?" tanya Reyhan yang sedang melihat menu makanan.


"Samain aja, tapi jangan yang pedes."entah kenapa rasanya Rena malas sekali untuk sekedar memilih makanan, padahal tadi ia mengatakan ingin makan udang. Matanya terus menatap pasangan itu yang berada di ujung tempat ini dan terpisah 4 meja dari temoat yang ia duduki.


"Euuum yaudah Mbak saya pesen 2 udang bakar sama minumnya teh hijau ya."ujar Reyhan ada pelayang yang sedari tadi setia menunggu Reyhan memesan makanan. Pelayan itu mengangguk.


"Dingin aja"jawab Rena sekenannya, hatinya sudah teriris untuk sekedar memilih.


"Teh hijaunya yang dingin satu yang anget satu ya mbak."


Tak lama sang pelayan itu pun pergi ke arah belakang.


"Kamu tuh liatin apa sih ren? Bengong aja"tanya Reyhan yang sedari tadi memperhatikan Rena tengah melamun. Gadis itu tersenyum kikuk, mengalihkan rentina matanya dari pasangan itu.


"Eh?"


"Engga kok" ucap Rena berusaha tersenyum agar ia tak di curigai.


"Ren kamu itu kenapa ngambil jurusan bahasa sih?" tanya Reyhan mengalihkan topik tadi mungkin ia paham Rena tak ingin membahas itu.


Rena hanya menaikan satu alisnya. Sejujurnya ia sedang malas sekali menjawab pertanyaannya, tetapi melihat wajah antusias ingin tahu membuat Rena tak tega, lagian dia berada di sini pun karna di traktir mana bisa ia bersikap kurang ajar.


"Hem... ya mau aja" ucap Rena acuh tak acuh padahal niatnya ia ingin menjawab sesuai pendapatnya tapi saat matanya melihat orang itu tertawa dengan pasangannya membuat nya kembali males.


Pasangan itu memang ada di hadapanĀ  Rena dan di belakang Reyhan.


Selalu romantis.


Ah kenaoa hatinya jadi sakit begini.


Tanpa sebab karna orang itu adalah suaminya dan istri pertama. Pantaskah aku menyebutnya suami ku? Sedangkan dia saja tidak menganggapku. Tanya Rena dalam hati.


"Ren" ucapan Reyhan berhasil membuat Rena kembali ke alam sadar.


"Eh apa'an sih Rey?" tanya Rena sebal bagaimana tidak tadi ia sedang melihat adegan Ilham yang mengecup pipi Icha, panggilan dari Reyhan berhasil membuatnya kaget.


"Dari tadi aku nyerocos sendiri tau. Kamunya malah bengong" ucapnya kesal.


"Lah ngapa kesal?" tanya Rena mendelik.


"Hadeh au ah gelap."


"Terang."


"Gelap."


"Terang."


"Ya aku maunya gelap sih."


"Orang masih siang jadi terang." ucap Rena tak mau kalah bahkan suaranya meninggi membuat beberapa pengunjung memperhatikan mereka.


"Ah iya deh Ratu mah nggk mau kalah." ucap Reyhan.


"Ratu?" tanya Rena bingung siapa yang bernama Ratu di antara mereka? Apakah nama samaran Reyhan?


"Iya Ratu di hatiku" ucapnya nyengir tanpa dosa.


Entah dapat nyali dari mana Reba menyonyor kepala Reyhan? Biarin di bilang tidak sopan, dan biarkan mereka mengosipkannya yang tidak tidak padahal penampilanya sudah tertutup. So mereka hanya bisa menilai dan menghardik bukan? Namun yang menjalani diri kita sendiri jadi jangan pernah takut bila di kritik oleh orang lain yang perlu kita lakukan adalah mendengarkan dengan baik itu saja cukup.


"Sadis ih" Reyhan menderamatiskan sambil mengusap-usap kepalanya.


"Hahahaha wleee" Rena ketawa dan menjulurkan lidahnya entahlah kenapa dirinya bisa tiba-tiba seperti ini yang jelas lucu saja melihat ekspresi Reyhan tadi.


Dan Reyhan pun entah kenapa mengikuti gadis itu ketawa setelah beberapa detik memperhatikan Rena dengan bingung.


***


Tanpa mereka sadari sedari tadi ada seseorang yang memperhatikan mereka dengan raut wajah yang tidak bisa di baca.


Untuk kedua kalinya kau tidak meminta izin padaku


Tbc;