Feeling In Love

Feeling In Love
Jalan-jalan



"Yeh malah mesra mesra an... Ih cepetan fotoin kita... Mesra-mesraannya nanti abis pulang aja." protes tasya saat melihat sahabatnya itu di perlakukan romantis oleh suaminya. Sampai saat ini Rena tidak percaya akan perlakuan suaminya. Benarkah itu suaminya yang kini tengah bersikap cuek, padahal tadi sudah berhasil membuat jantung Rena hampir keluar dari tempatnya.


Tujuan ke dua kami adalah kebun teh.


"Rena fotoin."


Lagi duduk.


"Rena fotoin"


Lagi jalan.


"Rena fotoin."


"Ren~ren~ren."


Dan seperti itulah seterusnya sedari tadi Tasya selalu meminta perempuan dengan gamis berwarna navy itu untuk memfotonya. Sebenarnya Rena kesal ia keberatan sekali, dan setiap akan protes Tasya selalu bilang, "Udah deh Ren kamu itu bidikannya bagus banget kaya fotografer handal."


Aneh! Itu lah yang di rasakan Rena, padahal ia merasa tidak sama sekali memiliki bakat fotografer.


Walaupun dulu dirinya memang pernah sekali waktu masuk SMA ikut ekskul fotografer tapi itupun hanya berlangsung satu bulan karena dia merasa tidak cocok dan tidak nyaman di ekskul itu. karena ternyata usut punya usut kata temen temen nya, pembimbing ekskul itu suka padanya pantas saja dirinya di perlakukan beda oleh pembimbingnya itu. Yang biasanya teman-teman membidik foto 20 menit dalan satu pertemuan dirinya malah di berikan waktu 30 menit, jadi lah dirinya terus berlama-lama di dekat pembimbingnya itu. Dan itu membuatnya tidak nyaman, jadilah dia keluar dari kegiatan itu setelah mendapat 1 bulan pengalaman yang minim.


"Yeh malah ngelamun. Cepetan ini fotoin lagi."


Rena dengan malas memfotonya, dan lagi lagi diberikan fose yang sama oleh Tasya.


"Eh btw Re kamu udah lama berubah?" tanya Tasya menghampiri Rena yang terduduk di suatu balai.


"Berubah?"


"Iya berubah. Sejak kapan kamu memakai kerudung?"


"Oh ini toh. Eumm... belum lama ini si, satu minggu sesudah menikah, aku mengenakan hijab. Aku sadar bahwa aurat seorang perempuan itu harus di tutup, bukan malah di umbar-umbar kan. Dan sekarang pun aku sering ikut kajian kajian di kampus." jelas Rena.


"What?! Kampus? Kamu masih kuliah?"


"Iya. Semester akhir."


"Kok bisa?"


"Ya bisa lah. Orang belum wisuda jadi masih kuliah."


"Maksud ku bukannya umur mu 23 ya udah tua lagi."


"Kan semester akhir, aku masuk kuliah waktu umur 20 tahun. Segitu aja aku bisa terbilang pinter loh" bangga Rena.


"Hadeh percaya dirimu masih saja tinggi."


Perempuan itu tertawa.


"Eh kok mendung ya?" ucap Reba sambil mengadahkan kepala ke atas.


"Jam berapa si? Ouh udah jam 2 yaudah aku cari Mas Burhan dulu ya... Nih titip anak aku." Tasya tiba-tiba menaruh Daffa di pangkuan Reba.


Dia pun melenggang pergi. Rena menatap Daffa yang terlihat mirip sekali dengan Tasya. Kata orang, kalo anak kita mirip salah satu dari orang tuanya berarti orang itulah yang paling mencintai pasangannya. Dan berarti pula Tasya sangat mencintai Mas Burhan hahaha pemikiran Rena aneh sekali.


"Bu... bu... bu..." celetoh ria Daffa sambil menepuk -nepukan tangannya menatap orang yang dirasa asing.


"Uluh apa sayang Daffa? Pengen ketemu bunda heum?" Rena mengajak ngobrol bayi gembul itu, walau ia tau bahwa Daffa tidak mungkin mengerti ucapannya. Tapi mengajak bicara anak sejak dini adalah suatu kegiatan yang amat sangat positif karena itu bisa membuat sang anak kian bisa berbicara.


"Liat ke sana yu banyak daun-daun hijau." Rena menggendong di depan bayi lucu itu.


Sudah hampir sepuluh menit Tasya tidak kunjung datang, Rena sudah celingak celinguk mencari nya.


"Ciee yang siap jadi ibu nyampe di perhatiin suami juga nggak sadar" ucap Tasya mengagetkan Rena. Saat sudah 20 menit mereka tak kunjung datang.


Rena menengok ke belakang dan benar ada mereka bertiga yang memperhatikannya.


"Kemana aja sih?" tanya Rena khawatir sekaligus kesal.


"Nih para laki malah main di bawah. ya kan jauh nyusulnya." kesal Tasya sambil menjiwir telinga suaminya.


"Yasudah ayu pulang." ucap Ilham jalan terlebih dahula dari yang lain.


Rena menyerahkan Daffa pada Tasya karena dari tadi Daffa terus ber-celetoh 'enen enen'


Saat mereka telah sampai di rumah Tasya Rena pun langsung membereskan barang untuk pulang kembali ke Jakarta. Huft rasanya berat harus meninggal sahabat lamanya. Belum rasa kangen yang masih membelenggu, padahal sudah bertemu. Suasana yang sejuk ini yang mungkin tidak akan dirinya dapatkan di ibu kota metropolitan.


Kini Rena tengah membungkus oleh-oleh untuk di bawa pulang ke rumah. Saat pulang dari kebun teh mereka menyempatkan membeli oleh oleh agar tidak ribet kalo mendadak membelinya.


"Beneran nih nggak besok aja pulangnya?" Tanya Tasya dengan sendu kala Ilham dan Rena akan berpamitan Tasya sendu saat kami akan berpamitan.


"Iya nih Tas soalnya besok aku ada kuis wajar lah semester akhir jadi sibuk." jelas Rena pada sahabatnya itu dan memeluk dengan hangat.


"Udah sayang jangan sedih nanti kita kapan kapan main ke jakarta" Burhan menghibur istrinya yang terlihat sedih.


"Kamu si!"


"Loh kok jadi aku sih mah?" tanya Burhan dengan muka bingung.


"Kan aku udah pernah beberapa kali ngajakin kamu ke Jakarta, tapi kamu nya nggak mau bilang nya nanti aku kepincut sama laki di sana."


"Loh loh kapan aku bilang gitu Mah?" tanya Burhan lagi dengan memelas karna mendapatkan tatapan tajam dari Tasya.


"Waktu itu... Euuum 2 hari 5 jam 3 detik saat kita resmi jadi suami istri."


Tawa Rena pecah mengetahui sahabatnya itu ingat dengan detail, entah sungguhan atau hanya berbohong.


"Udah pokoknya Mamah marah sama Papah. Gih cari bini lain."


Rena menatap Tasya tak suka, walau hanya bercanda. Tapi ucapan seperti itu tak patut di ucapkan. Apalagi dirinya tengah hamil. Rena tidak ingin apa yang di rasakan dirinya si rasakan juga oleh sahabatnya. Tasya seperti nya harus lebih banyak belajar untuk mengontrol ucapannya.


"Kok gitu sih mah? Mamah nggk kasian sama anak anak kita nanti kehilangan bapaknya yang cakep ini."


"PD lu." Timpal Ilham, yang sedari tadi diam membisu.


Burhan hanya mencebik kesal.


"Yaudah ya Tas ini udah sore. Kami pulang dulu ya. Jangan rindu biar..."


"Dilan ajah... Receh ah... Gua kemaren waktu syuting nya nonton tuh si Ikbal imut" potong Tasya.


"Masih imutan Papah, Mah."


"Idih dari mana nya ya Pah?" tanya Tasya.


"Pantat"


Tawa mereka pun pecah saat Burhan melontar kan kata kata itu.


"Yaudah ih kami pulang ya Tas. Jangan..."


"Rindu" potong Tasya lagi.


"Ih aku belum selesai ngomong di potong terus" ucap Rena dengan kesal.


"Uluh uluh marah. Apa atuh sok mau bicara apa aku dengerin."


"Udah ah nggak jadi aja. Nggak penting"


"Dih marah~cepetan ih apa?"


"Nggak penting Tatas aku mau pulang." ucap Rena turun ke bawah dan berniat membuka pintu mobil.


"Dasar sensitif lagi hamil ya?"


Deg.


Hamil? Hahaha dasar si Tatas ngelakuin itu aja cuman sekali. Mana ada bisa langsung hamil. Gumam Rena dalam hati.


"Apa'an sih. Kamu tuh yang sensitif awas lo itu anak yang di perut di jaga jangan di ajakin yang sesat sesat mulu." nasehat Rena saat sudah duduk di samping kemudi.


"Apa? Emang aku ngelakuin apa Rere?" teriak Tasya.


"Suka godain laki orang." ucap Rena asal. Dirinya hanya ingin mengerjainya, rasanya sudah lama kita tak saling bercanda.


"Mah" itu suara Burhan meminta klarifikasi.


"Ya sudah kami berangkat dulu~. Wassalamu'alaikum..." Ilham pun menjalankan mobilnya.


"Wa'alaikumussalam."


Rena menatap kebelakang dimana ada Burhan dan Tasya seperti sedang debat. Hahaha maaf kan sahabat mu ini Tas bukan bermaksud ingin membuat rumah tangga mu goncang. Tapi aku tau kok bahwa Mas burhan amat sangat mencintai mu. Aku bersyukur karna kau mendapatkan yang terbaik~senyumku. Dan kamu pun mebuktikan ucapanmu untuk menikahi seseorang yang sangat mencintaimu.


Tak terasa air mata nya menetes ia pun langsung menghapusnya agar Ilham tak melihatnya.


Tbc;