Feeling In Love

Feeling In Love
Shoping



Sekarang Rena sedang tiduran di kamar Gita, yang mungkin besok akan menjadi kamarnya. Rena jadi merasa tidak enak pada Gita karna ia yang akan tinggal dirumah ini menyebabkan Gita harus pindah ngekos. Di rumah ini memang hanya memiliki dua kamar, satu kamar utama di atas dan satu kamar di bawah yang di tempati Gita.


"Git."


"Heum?"


"Maaf."


"Lah kok maaf sih?"Gita menutup bukunya yang sedari tadi sedang di bacanya itu.


"Ya gara-gara aku."ucap Rena sendu.


"To the point."ucap Gita greget.


"Ya gara-gara aku tinggal di sini, jadi kamu yang harus keluar dari rumah ini, padahal aku udah minta untuk tinggal di kontrakan aja, atau nggak kita bisa ko tidur berdua."ucap Rena sendu.


"Aduh lu itu gimana si Ren? Kan yang istrinya mas Ilham itu kamu. Sedangkan aku di sini hanya numpang jadi kamu tinggal di sini itu adalah hak kamu Ren."jelas Gita sambil menggenggam tangan Rena.


"Paham?"tanya Gita memastikan.


Gelengan yang Gita dapat, membuatnya gemas seketika.


"Apa yang nggak kamu paham?" tanya Gita pelan-pelan. Gita tahu Renanya itu tidak bodoh tapi saat ini Renanya sedang berada di masa kebimbangan yang mendalam.


"Aku maunya kamu disini aja bareng aku, kan ntar kita bisa tidur berdua terus Git." jelas Rena sambil mengembungkan pipinya yang membuat Gita gemas.


"Aish"Dia langsung menempelkan tangannya pada pipi Rena.


"Bobo berdua?" tanya Gita memancing.


Rena memangguk.


"Sama mas Ilham kan udah, udah di grep-grep lagi." ucapnya sambil tertawa. Sedangkan Rena hanya menunduk malu bagaimana pun ucapan Gita itu benar.


"Cieee yang udah jebol."goda Gita.


"Iih apaan sih Git, nggak usah bahas itu ahhh." ucap Rena sambil mendorong-dorong punggung Gita. Yang membuat Gita semakin ngakak dan jahil mengodanya.


"Gimana tuh rasanya?"


"Rasa apa?" tanya balik Rena dengan sewot.


"Di lobangin."


Buuukh


Bantal melayang cantik tepat ke depan muka Gita.


Gita hanya cemberut.


"Sakit kali Ren."


"Itu rasanya." sungut Rena kesal.


"Ouh ternyata rasanya di bolongin itu sakit t.." belum sempat Gita menyelesaikan ucapannya.


Rena telah berteriak dengan kencang.


"Gitaaaaaaaaaaaaaaaaa."


Yang membuat Gita ngakak.


***


"Baik-baik ya sayang di sini, jangan nakal mentang-mentang nggak ada mbak, kamu pokoknya harus jaga diri." ucap Icha sambil memeluk adik kesayangannya dengan berlinang air mata. Bagaimana pun ia tak pernah pisah dari adiknya sedari kecil sampai sekarang, rasanya melepaskan adiknya untuk hidup mandiri membuat relung hatinya menjerit. Walau ia tahu saat bersama ia sering kali cek-cok dengan sang adik. Tetapi bila sudah seperti ini, rasa tak rela lebih besar dari rasa kesalnya sebagai kakak. Ia menatap Gita dengan sendu sedangkan sang adik nerusaha untuk tak mengeluarkan cairan bening. Rena yang melihat itu sungguh tidak tega. Betapa jahat nya dirinya? kehadirannya malah memisahkan kedua kakak beradik itu. Tak terasa air mata nya pun ikut menetes tapi ia langsung menghapusnya segera.


"Iya Mbak Gita kan udah gede." ucap Gita menenangkan Icha.


"Yaudah Mbak ini udah siang lagian barang-barang juga udah pada di beresin di dalam."


Rena menghampiri Gita dan langsung memeluknya terus membisikan kata 'maaf' padanya.


"Sudah ya kamu nggak salah Ren, jangan nangis aku mohon." ucap Gita mengurai pelukan mereka.


"Jadi perempuan yang terus kuat aku mohon." nasihat Gita seperti permintaan, Rena hanya mengangguk dan berpamitan padanya tidak lupa mengucap salam sebelum pergi.


Di perjalanan hanya Icha dan Ilham yang berceletoh ria, Rena hanya diam menatap lurus jalanan yang renggang. Tumben jakarta tidak semacet biasanya.


"Mas mumpung Mas masih cuti kerja. Gimana kalo sekarang kita jalan-jalan ke mall." ucap Icha dengan antusias, menatap suaminya di samping, yang mendapatkan senyuman manis dari Ilham. Rena yang melihat itu dari sudut matanya hanya tersenyum kecut. Bahkan ia merasa tak berhak untuk senyuman manis suaminya itu.


"Yayayayay Mas, ayo dong jawab!" rengek Icha.


"Iya sayang."


"Yeay... Nanti kamu temenin Mbak Icha nge spa ya." ucapIcha menenggok ke belakang.


"Ren?"


"Eh iya mbak?" tanya Rena sedikit kaget bingung ada apa? Sebab tadi ia sedang melamun.


"Anterin Mbak spa'an."


"Iya Mbak." jawabnya sambil menatap jalanan lagi.


Setelah sampai di mall mereka pun langsung berspa di suatu salon yang cukup mewah dan salon ini khusus untuk perempuan yang mebuat Rena lega, entah kenapa sejak menikah ia serasa ingin menjaga jarak terus pada cowok yang bukan mahrom, setelah selesai mereka pun berkeliling dan berjelajah dari toko ke toko lain dan tentu saja dengan mereka berdua yang berada di depan Rena dan dirinya di belakang sendiri.


Saat berjalan mata nya tak sengaja melihat satu toko yang menjual pakaian-pakain an muslim, membuat Rena tertarik ingin mdmbelinya. Tetapi saat sadar ia tidak membawa uang, membuaynya mengurungkan niat untuk membeli pakaian yang menurutnya sedikit langka.


Icha yang merasa Rena tidak mengikutinya pun menengok kebelakang dan mengikuti sudut pandang Rena.


"Kesana dulu Mas " ajak Icha sambil menarik tangan Ilham.


"Loh Ren, kok berdiri disini sih?" pancingnya.


"Eh nggk! Ayu Mbak lanjut jalan-jalannya."ucap Rena mempersilahkan mereka berdua untuk duluan dengan gerakan tangan.


"Ih kamu dari tadi ngeliatin baju gamis itu ya? Kamu mau? Ih kenya bagus deh kalo kamu make itu." tunjuk Icha pada gamis yang memang tadi ia pandangi terus.


"Yaudah Mas yuk kedalem kita beliin buat Rena." Icha terus menarik narik tangan Ilham. Ilham hanya ikut saja saat di seret masuk seperti itu.


Rena pun ikut mengekori mereka.


"Ihhh ini beneran bagus tau Ren."


Rena tersipu malu dan tersenyum senang karna berpikir Ilham akan membelikan baju itu untuk dirinya.


"Yaudah Mas beliin buat kamu aja Cha."


Deg!


"Dih apaan sih Mas kan Rena duluan yang mau"ucap Icha sambil mengeplak lengan Ilham.


"Eh nggk papa kok Mbak kalo emang Mbak mau gamis itu." ujar Rena berusaha mengalihkan raut wajah yang sendu ke arah baju-baju yang tengah terpasang di manekin.


"Engga kali Ren soalnya aku jarang ke pengajian keluar rumah aja jarang, kan kalo kamu itu bisa ikut pengkajian di kampus, iya kan?"Icha masih terus memperhatikan gamis berwarna putih dan berkerudung merah muda itu.


"Iya si tapi ya buat Mbak aja." ucap Rena mengalah karna ia tahu bahwa icha sebenarnya menginginkan baju itu.


Ilham yang biasanya acuh tak acuh dengan Rena. Dia memperhatikan raut wajah Rena yang sendu seakan mata itu sudah terbiasa membohongi dirinya sendiri. Dia pun berdehem karna terlalu lama memperhatikan Rena.


"Itu buat Rena saja, nih kamu yang ini aja Cha kayaknya bakal cantik banget deh kalo kamu yang pake." ucap Ilham yang menunjuk gamis berwarna hijau toska itu tidak lupa di padu padan kan dengan kerudung syar'i berwarna serupa.


Icha pun hanya tersenyum bahagia karna pujian Ilham, dia pun menyetujui untuk membeli baju itu.


Rena yang mengetahui itu hanya bisa tersenyum sedikit, setidaknya ia bisa di bolehi untuk membeli gamis yang ia sukai.


Tbc