
Di kediaman rumah Muhammad Ilhamsyah, ramai sekali orang-orang yang kini tengah berada di ruang tamu. Penyebabnya adalah merayakan syukuran, hamilnya menantu dari keluarga Ilham tersebut.
Kemarin malam saat aku memberi tahu Mbak Icha bahwa aku hamil dia sangat gembira bahkan dia sampai jingkrak jingkrak saking senang nya, dan langsung menyuruh Mas Ilham pulang lebih cepat untuk memberitahukan kabar gembira ini yang tentu nya dihadiahi senyum manis dari bibir Mas Ilham.
Di rumah ini banyak sekali kerabat Mas Ilham, banyak juga anak-anak yatim yang akan kami santuni. Aku terus saja tersenyum melihat anak-anak kecil yang polos itu sambil mengamini doa yang sedang Ustadz bacakan di depan, sekaligus aku merasa sedih di usia mereka yang masih pada belia, mereka harus kehilangan kasih sayang orang tuanya.
"Kenapa Ren?" tanya Mbak Icha di sampingku.
"Nggak papa Mbak aku cuman sedih aja ngeliat para anak yatim itu" ucapku.
"Tenang saja Ren karena mereka pasti bahagia tinggal di panti asuhan dengan Bunda dan pengasuh pengasuh yang baik. Mbak tau itu Mbak pun merasakannya."
Aku menatap Mbak Icha yang terlihat sedih, panjangannya lurus ke depan menuju seseorang wanita tua tengah sibuk mengusapi kepala anak-anak, yang bisa kusimpulkan bahwa beliaulah yang panggil Bunda oleh Mbak Icha.
"Mbak," ucapku sambil merangkul bahunya.
"Mbak nggak papa Ren," ucapnya sambil tersenyum sedih. Mengerti tatapanku.
Panti asuhan yang kami undang untuk acara santunan ini memanglah tempat panti asuhan yang dulu Mbak Icha tempati, ini pun atas usulan Mas Ilham. Sekarang aku tau kenapa, karena Mbak Icha sedang merindukan Bunda yang sekarang sudah terlihat tua.
Acarapun selesai kami para kerabat dekat Mas Ilham sedang membersihkan peralatan yang tadi digunakan untuk makan para anak yatim.
"Eh ya ampun Rena kamu ngapain nyapu? Sini sini jangan capek-capek," itu suara ibu mertuaku aku sedikit canggung menghampirinya. Sebab ini pertama kalinya aku datang kerumah kediaman Mas Ilham. Jadi aku masih canggung pada orang-orang yang berada di sini.
"Iya Mah nggak papa kok Rena emang lagi pengen nyapu," ucapku setelah berada di hadapannya.
"Duh jangan nanti kamu capek kasian nanti sama kandungan kamunya," ucap ibu mertua ku dengan ekspresi yang sangat ketara khawatir nya padaku.
Aku tersenyum masam, mengingat mungkin saja ibu kandungku tak akan sekhawatir ini padaku.
"Mah," panggil ku dengan suara yang ku usahakan untuk tak terdengar parau, hatiku sudah berkecambuk dengan perasaan yang membuncah bahagia ini.
"Heum?" tanyanya menatapku sambil mengupas kulit apel di tangannya.
"Boleh aku peluk mamah?" ucapku takut takut.
Ibu mertuaku terlihat bingung dan detik berikutnya dia tersenyum menaruh apel di meja depan sopa dan merentangkan tangannya.
Akupun duduk di sampingnya dan memeluknya dengan erat, tak terasa air mataku mengalir, sebenarnya aku tak ingin menangis tapi tidak tau kenapa mataku bisa berair atau mungkin aku rindu pada Mami? Atau karena aku sedang hamil? Jadinya sangat sensitif.
Malamnya kami di suruh untuk menginap disini awalnya kami bertiga menolak tapi ibu mertua ku tetep kekeh menginginkan untuk kami menginap di rumahnya walau hanya sehari. Karena sudah seperti itu kami pun menuruti keinginan wanita paruh baya yang masih terlihat awet muda itu.
Aku pun memasuki kamar tamu. Aku tidak ikut tidur di kamar Mas Ilham karena Mbak Icha yang akan tidur dengannya. Lagian mana mungkin aku tidur dengan mas Ilham? Dan lagi pun aku memang ingin tidur sendiri tentu dengan lampu terang benerang.
Ckreek
Aku terperanjat mendengar suara pintu yang terbuka, akupun terpaksa membuka mata yang tadi sudah hampir menjemput alam mimpi, ku balikkan badan menatap siapa gerangan yang memasuki kamarku. Berapa kagetnya aku saat melihat raga mas Ilham yang menjulang tinggi di dekat pintu, lalu sosok itu menghampiri ku dan dengan gerakan cepat dia sudah berbaring di sampingku.
"Kenapa ngeliatin aja?" tanya mas Ilham dengan posisi badan yang menghadap ku, kita jadi saling berhadapan.
"Eh enggak itu kenapa euumm... Kenapa tidur disini?" tanyaku takut-takut.
"Disuruh Mamah sama Icha," ucapnya datar dan menutup matanya menggunakan tangan sepertinya dia sekarang sedang berusaha untuk tidur.
Aku hanya mengangguk paham, lagian apa lagi yang aku harapkan dari jawabannya? Mana mungkin suamiku ini dengan lapang dada menginginkan untuk tidur bersamaku. Ku ubah posisi menjadi terlentang sementara kepala ku menghadap sebelah kanan dimana letak jendela besar yang tertutup tirai coklat berada.
"Kenapa lagi belum tidur?" tanyanya yang membuatku menoleh lagi kepadanya, ternyata dia pun belum tidur.
"Mau sesuatu?" tanyanya lagi mungkin ia kira aku sedang meninginkan sesuatu atau semacam ngidam lah.
Aku menggeleng.
"Mas," panggil ku dengan suara pelan, aku pun mendudukkan badanku.
"Apa?" mas Ilham sudah kelihatan sekali mengantuknya, matanya merah saat menatapku dengan penuh pertanyaan.
"Lampunya jangan di matiin ya?!" mohonku.
"Iya! sudah sekarang kamu tidur kasian nanti kandungan kamunya," ucapnya sambil membantuku berbaring dan menutup tubuhku dengan selimut.
Aku pun memejamkan mata berharap hari esok akan tetap seindah hari ini.
***
"Kamu beneran hamil sayang?" tanya si Mbok dengan antusias.
"Iya Mbok"
"Alhamdulillah. Yaudah Mbok ke belakang dulu ya mau buatin kamu susu."
Jadi lah aku mendatangi si Mbok yang sedang tertidur pulas. Tak tega si membangunkannya tapi saat ini aku sedang ingin membagi kebahagiaan dengannya. Jadilah aku membangunkannya dan bercerita.
"Nih susu nya sayang." ucap si Mbok saat sudah kembali dengan segelas susu di tangannya dan menyerahkan padaku.
"Terimakasih Mbok,"
"Kamu kesini sama siapa heum?"
"Mas Ilham sama mbak Icha. Mereka sedang kondangan jadilah aku minta sekalian di anter ke sini," jawabku berbohong sebenarnya Mas Ilham dan Mbak Icha sedang tidak ada kondangan melainkan mereka akan melakukan diner berdua. Sedikit cemburu sih mengingat sekarang perasaan ku pada Mas Ilham yang ku ketahui adalah rasa suka. kalian jangan salahkan aku. Aku memiliki rasa pada suamiku sendiri, apa itu salah? aku rasa tidak! karna Mas Ilham adalah suamiku.
"Terus kamu pulang sama siapa?" tanya si mbok ikut duduk di sebelahku.
"Euuum mungkin naik taksi online Mbok," jawabku dengan ragu, aku juga bingung akan pulang dengan apa.
"Loh kok gitu emang nggak di jemput sama nak Ilham?" wanita paruh baya itu bertanya padaku dengan raut yang tidak dapat aku baca, namun ku yakini banyak perasaan campur aduk yang ia rasakan.
"Nggak Mbok kan lagi ada acara," ucapku menyimpulkan bahwa memang mas Ilham tak akan kesini untuk menjemputku.
"Terus kenapa kamu nggak di ajak?" rupanya si mbok sudah dapat mengalahkan wartawan terhandal di Indonesia, aku tersenyum dengan pemikiran ku sendiri.
"Euum ya kan itu karena yang mengundangnya adalah temen Mbak Icha nggak enak dong kalo Mas Ilham bawa aku juga" ucapku sedikit gelagapan karena harus memikirkan kebohongan yang lainnya. Benar kata orang kalo kita sekali saja berkata bohong maka akan ada kebohongan kebohongan yang lain menyusul.
"Hemm yasudah nanti kamu di anter si Nurdin ya!"
"Nurdin?" tanya ku karena baru pertama mendengar nama Nurdin sekarang.
"Iya! supir pribadi nyonya yang baru"
"Oh," aku mengangguk-angguk, syukurlah setidaknya aku jadi tidak bingung nanti akan pulang dengan siapa.
"Dia masih muda loh,"
Aku menaikan alisku sebagai tanda tanya dengan ucapan si mbok ini.
"Iya, mungkin seumuran suamimu." jelas si Mbok.
Aku hanya mengangguk-angguk sedikit tidak tertarik dengan pembahasan supir baru Mami. Entah kenapa.
Aku dan si mbok pun kembali membicarakan hal-hal lain, kita mengobrol bagaikan ibu dan anak. Aku senang sekali walau merasa tak mendapatkan sosok seorng ibu. Tapi ada si mbok yang dengan ketulusannya menggantikan peran itu.
Kulirik jam sudah menunjukan pukul setengah sepuluh, tidak terasa aku sudah di sini selama tiga jam. Sudah malam juga pasti mereka sudah pulang.
"Mbok,"
"Iya sayang?"
"Rena mau pulang dulu ya Mbok udah malam pasti mereka juga udah pulang," ujar ku, aku mengutak atik handphone dan memesan taksi online.
"Yaudah si Mbok manggil Nurdin dulu ya"
Ku lihat si Mbok sudah mau beridiri, namun segera ku cegah dengan mencekal pergelangan tangannya, "Nggak usah Mbok," cegahku.
"Kenapa?"
"Rena udah pesen taksi Mbok,"
"Boh ya jangan! Ya batalin aja ini udah malam takut terjadi sesuatu. Kan kalo Nurdin yang anter kamu terjamin selamatnya" ucap si Mbok dengan khawatir. Aku pun lupa bila beberapa jam yang lalu memang berniat untuk di antarkan oleh dia.
Aku yang tak tega pun mengiyakan. Si Mbok minta izin ke Mami yang sedang berada di ruang tv aku hanya mengikuti langkahnya dari belakang.
"Panggil aja sana nggak usah ribet ribet," ucap mami ketus melirik ku.
Si Mbok pun pergi kebelakang aku menghampiri Mami yang terus fokus pada acara dangdut Asia di suatu chanel tv. Aku tersenyum ternyata kebiasaan Mami tidak hilang dia memang sangat menyukai sesuatu yang berbaur dangdut.
"Mi Rena pamit, Wassalamualaikum," pamitku sambil mengambil tangan kanan nya untuk menyaliminya. Ia tampak enggan namun aku paksa hingga terkena bibir ku.
Aku keluar rumah karena mendengar suara mobil menyala.
Sopir itu memunggungiku namun sepertinya dia mengetahui bahwa ada seseorang di belakangnya dia pun menoleh ke belakang.
Deg!
Orang ini? Kenapa? kenapa ada di sini? Dia dia? Rasanya aku ingin lari saja dari sini dan tak ingin berhadapan dengannya.
Tbc;