Feeling In Love

Feeling In Love
Mencoba Hijrah



Senyum terus tercetak pada wajah manisnya, tidak lupa dengan bingkisan yang banyak ia bawa di kedua tangannya.


"Loh loh? Abis dari mana nih kok bawa belanjaan banyak?" tanya Icha saat dua gadis baru saja masuk kedalam rumah.


Satu gadis langsung nyelonong duduk di sofa, yang di situ juga terdapat Ilham yang sedang duduk sambil meminum kopi tidak lupa koran yang ia baca.


"Abis dapet rezeki nomplok." jawab Rena si gadis satunya yang membawa banyak jingjingan itu, cengengesan sambil nunjukin jingjingan di tangannya.


"Rezeki nomplok matamu?" tanya Gita dengan nada tak bersahabat.


"Yeh lu dek, harusnya seneng dong sahabatnya lagi dapet rezeki." bela Icha yang saat itu melihat Rena mau bicara.


"Madumu ngerampok adikmu kak." jawab Gita dengan membela diri, tatapannya sudah menatap tajam pada Rena.


"Lah?" tanya Icha tak paham, tangannya sibuk menaruh cemilan di hadapan Gita dan Ilham.


Sedangkan Rena ia masih berdiri di dekat sofa itu.


"Noh dia beli baju nggk nanggung nanggung, 10!" jawab Gita dengan menunjukan kesepuluh jarinya persis seperti Rena tadi sore di toko baju.


"Urusannya sama kamu apa dek?" tanya Icha yang sudah duduk di samping Ilham sedangkan Gita duduk di sofa single nya.


"Pake uangku." jawab Gita dengan nada kesal yang tidak hilang sejak keluar dari toko busana muslimah di Mall.


"Ren?" tanya Icha memastikan.


"Eh iya Mbak soalnya tadi Gita bilang mau traktir shopping" jawab Rena kikuk.


"Maksa lu, kalo nggak ada adegan mewek juga gua kagak mau bayarin lu yang belanja nggak nangung-nanggung."Gita menyenderkan badannya sambil ngemil kripik yang tadi di bawa oleh Icha.


Ilham yang tadinya fokus kekoran di tangannya langsung menatap Rena yang sedang berdiri dengan baju yang amat kusut dan kotor. Aneh deh perasaan udah malam lah dia malah baca koran bukannya pagi-pagi sambil ngadem di teras depan rumah dengan segelas kopi susu eakkk.back to topik Ilham terus menatap Rena yang sedang menggerak-gerak kan badannya kekanan ke kiri seperti anak kecil yang ketauan nyolong buah tetangga dan lagi dihukum sama emaknya. Oh tentu tanpa sepengetahuan Rena ia sedang memperhatikannya. Karena Rena dari tadi terus sibuk ngitungin ubin.


"Nanti Mas ngantiin uang kamu." ucap Ilham tanpa mengakihiri tatapan dari Rena.


Rena pun mengangkat kepalanya. Mata mereka pun bertemu namun belum beberapa lama mereka saling tatap, Ilham telah memutuskan tatapan itu dengan menatap Icha yang berada di sininya itu.


Nyes!


Itulah rasa yang di rasakan oleh Rena, sakit tapi nggak berdarah. Padahal Rena pikir tatap-tatapannya itu akan bertahan lama. Karena jujur Rena merasa teduh menatap tatapan itu. Seakan tatapan itu pernah ada dan pernah di berikan pada Rena oleh seseorang.


"Eh nggak usah Mas." tolak Gita nggak enak. Huh padahal mah kalo di sodorin duit itu mata langsung ijo. So so nolak lu Git, kesal Rena dalam hati.


"Nggak usah tanggung tanggung gantiinnya bila perlu lebihin hehehehe..."lanjut Gita sambil cengengesan.


Nah kan apa ku bilang~batin Rena.


***


Gadis cantik tengah meraba atas kepala yang kini telah tertutup kain, senyuman mengembang takala ia melihat penampilan yang sungguh berbeda. Gamis berwarna toska danbkerudung segi empat yang sebatas menutup dada. Ia ingin merubah sedikit-sedikit penampilannya menjalankan kewajiban yang sudah lama sekali ia tinggalkan. Air mata tak terasa menetes merasa perih saat mengingat dosa-dosa yang ia perbuat. Semoga Allah mengampuni dosanya dn mengistiqomahkan niat di hatinya yang ingin hijrah.


Di depan cermin ia melihat penampilannya, hingga matanya menatap jam dinding yng berada di pojokan kanan.


08:30


Astagfirullah telat ngampus nih~batin gadis itu. Ia menyambar tas yang berada di atas tempat tidur dan mengambil tumoukan buku yang berada di atas meja berwarna hijau toska, warna kesukaan sahabatnya, Gita.


Saat keluar dari kamar ternyata ia melihat Icha dan Ilham tengah berada di ruang tamu, mereka sedang pelukan. Ia pun menghampiri, bukan untuk merusak momen tetapi untuk meminta izin keluar rumah.


"Mbak" ujar gadis itu saat berada di depan sofa tamu, pekukan mereka pun terurai.


"Eh iya Ren?" tanyanya sedetik kemudian matanya melebar melihat penampilan gadis itu. Rena hanya tersenyum kikuk, apakah ada yang salah dengan tampilannya saat ini?


"Iya Mbak Rena pamit ke kampus dulu ya Rena udah agak telat nih" ucap Gadis itu menyalimi tangan Icha menghiraukan rasa yang campur aduk.


"Kamu berubah Ren?"


Awalnya Rena bingung apa maksud dari pertanyaan Icha tapi melihat tatapannya yang terus memperhatikan dirinya, ia pun mengerti.


"Eh iya Mbak, pengen sedikit-sedikit buat deketin Sang Khalik." jawab Rena menunjukan cengir kuda.


"Syukurlah, semoga kamu tetap istiqomah ya Ren" kata wanita yang tengah menguncir rambutnya menjadi satu dan berdiri di hadapan Rena lalu memeluk gadis itu, ia pun tak segan memberikan kecupan di atas kepala Rena, karna Rena yang memiliki postur yang pendek membuat Icha tak kesusahan melakukan itu.


"Iya Mbak, do'a in ya. Yaudah Rena pamit ya" ucap Rena sambil mengangguk.


Ia pun menghampiri suaminya yang sedari tadi diam.


"Mas" panggilnya sambil meminta tangan.


"Eh iya" dia menjawab dengan gelagapan. Entahal mungkin dia hanya syok dengan penampilan baru Rena.


Rena mengambil tangannya


Deg!


Itulah yang Rena rasakan, sebab ini adalah kedua kalinya ia mencium tangan suaminya. Yang pertama saat ijab kobul danbyang kedua sekarang, sebelumnya Ilham tak pernah memberikan tangannya untuk ia kecup saat akan berpamitan keluar. Entah ada angin apa, saat Rena mengambil tangan suaminya tidak menarik tangannya untuk tak di kecup oleh Rena.


Saat di jalan, teriknya matahari pagi begitu menyengat membuat Rena yang belum terbiasa mengenakan pakaian tertutup merasa kegerahan. Namun ia tahan, karna ini proses nya untuk terbiasa. Ia menunggu taksi di pinggir jalan, tetapi sudah 15 menit ia menunggu taksi tak kunjung lewat. Jam sudah hampir menunjukan pukul 9, dimana ia akan mengikuti kuis yang di adakan di kampusnya saat ini. Saat akan mengeluarkan gawai untuk memesan ojek online sedetik kemudian ia menepuk dahinya karna merasa lupa bahwa sejak kemarin ia belum mengisi kuota.


Ia terus celingukan menatap kenanan dan kekiri berharap ada angkutan umum yang melewat ataupun ojek pangkalan yang lewat tetapi sama sekali tidak ada. Hingga mobil putih berhenti tepat di hadapannya, membuat Rena menautkan kedua alisnya merasa bingung. Taksi disini berwarna birusilver apakah mobil itu taksi?


"Ayu masuk"suara itu terdengar datar berbarengan dengan kaca mobil yang di turunkan membuat gadis dengan tumpukan buku di tangan itu mengetahui siapa pemilik mobil tersebut.


Ternyata suaminya, ia semakin di buat bingung bukannya tadi ia pergi menjemput Gita yng juga kesiangan. Lalu mengapa bjsa ada disin?


"Cepet mau masuk nggak? Nanti kamu telat loh!" ucapnya mengangetkan Rena.


"Bukannya kamu lagi ada kuis sebentar lagi, cepet masuk angkot nggak akan ada yang narik, mereka lagi demo."lanjutnya


Sungguhkan para pengemudi taksi sedang berdemo, hingga dari tadi tidak ada satupun taksi yang melewat?


"Mau nggak?"tanyanya lagi yang sudah menstarter mobilnya.


Gadis itu pun langsung masuk ke dalam mobil karna takut benar perkatanaanya itu. Tetapi baru saja ia hendak terduduk di kursi belakang ada suara yang mengagetkannya


"Ngapain di belakang?" tanyanya.


"Eh?"


"Depan! Kamu kira saya supir taksi" ucap pria dengan stylean kantor itu ketus dan datar.


Rena langsung membuka pintu depan dan duduk di situ dengan khitmat.


"Good"


Dia tiba tiba mengusap puncak kepala Rena yang tertutup kerudung ini.


Membuat perasaan absurd tercipta.


Rena langsung menoleh kesamping kearah suaminya. Namun orang itu sudah menatap lurus kedepan.


Tbc;