Feeling In Love

Feeling In Love
Kehidupan Baru



Kini Rena tengah berada di kamar hotel yang di sewakan oleh keluarga untuk mereka berdua menginap.


Hotel di sini nyaman, ruangannya didekorasi sedemikian rupa klasik. Ia manatap keluar jendela pun langsung menunjukan pada pusat kota jakarta yang ramai. Bintang bintang terlihat sangat terang dari biasanya.


Ckreeek


Suara pintu terbuka berhasil mengalihkan fokus Rena. Ia mendapati Ilham yang keluar dari kamar mandi, berjalan menuju sisi ranjang dan menepuk kasur tersebut. Rena bergeming, ia bingung apa yang di maksud dari pergerakan tangan suaminya tersebut. Karena Rena tak kunjung bergerak dari dekat jendela Ilhampun bersua, "Ren.."


Merasa terpanggil ia pun langsung bergegas menghampiri. Berdekatan seperti ini membuat dia dapat mencium bau maskulin yang menyeruak masuk pada indra penciuman dirinya.


Dia mengusap kepala Rena, seperti membacakan sebuah doa.


Ya Allah aku sungguh deg deg gan saat ini.


"Kita selesaikan sekarang!! Agar kita bisa cepet pulang dan pekerjaanku selesai."ucapnya dingin.


Deg


Apa lagi ini kenapa rasanya sakit sekali saat ia bicara seperti itu. Rena berusaha keras untuk tidak mengeluarkan air mata.


"Matikan lampunya! Karna aku hanya ingin melihat dan memuja tubuh Icha saja." ucap nya sarkas.


Mereka pun melalukannya, melakukan tugas suami istri. Setidaknya Rena bersyukur lampunya di padam kan karna suaminya itu tidak dapat melihatnya mengeluarkan air mata sedari penglihatannya menggeekap.


***


"Loh loh kok kalian udah ada di sini aja sih?" tanya Gita saat melihat sahabat dan kakak iparnya yang kini berada di halaman rumah. 


Rena hanya diam. Bukan salah siapa-siapa saat tadi terbangun pagi ia sudah melihat Ilham dengan pakaian rapi, tidak seperti dirinya yang masih bergelung dengan selimut tebal. Setelah ia mandi, Ilham tanpa banyak bicara langsung chek-out dan meninggalkan hotel. Ia melirik suaminya, sedangkan Ilham langsung nyelonong masuk tidak menghiraukan tatapannya dan pertanyaan sang adik ipar.


Gita yang melihat wajah Rena sendu dia pun menghampiri sahabatnya itu dan memeluknya.


"Please jangan kaya gini! Jangan tunjukin muka sendu lu. Gua nggak kuat! Kemana Rena yang strong itu? Ayolah Ren." oceh Gita di pelukan Rena.


Rena langsung di buat ngakak. "Dih apa'an sih Git? Holang aku baik-baik sahaja kok." ucap Rena sambil terkekeh memegang perut nya.


Gita menunjukan muka peperangan "jadi tadi muka di tekuk itu cuman buat bohongin aku." ucap nya geram.


"He'eum?" tanya Gita tangannya sudah mau mengambil ancang ancang mengelitiki Rena.


"Iya." Rena menjulurkan lidahnya. Gita pun langsung menyerbu Rena dengan gelitikan di pinggangnya.


Mereka pun berlarian sambil tertawa.


'Tertawalah dengan lepas Rena karna aku tidak ingin sekalipun melihat kau sedih ataupun menangis lagi' Gita tersenyum masih dengan aksi kejar kejarannya.


"Hey kalian! Udah gede juga masih aja mainannya kaya anak kecil." lerai Icha saat mereka berdua melakukan aksi kejar kejarannya sampai ke dapur.


"Ini nih mbak si Rena nya nyebelin."kesal Gita masih dengan tangan yang berusaha mengpapai pinggang Rena. Yang sekarang malah bersembunyi di belakang tubuh Icha.


"Bohong itu mbak, ya padahal kan Rena cuman ngerjain dia doang, mainnya kelitikan kan Rena nggk kuat." ucap Rena mengutarakan apa yang ada di pikirannya dengan plong padahal biasanya ia akan melakukan itu terhadap orang yang sudah dekat dengannya saja, seperti Gita dan Mbok Iyem, apakah dia juga sudah menemukan sisi nyamannya dengan Icha?


"Huawal orang mah sahabatnya kawatir" sungut Gita kesal karna sedari tadi badan Rena tidak bisa ia gapai.


"Udah dong Rena kan capek, dari tadi kejar kejaran mulu Git." nego Rena yang sudah lelah menghindar dari Gita. Rena pun berlari karna tadi Gita hampir saja menangkapnya kembali. Bisa berabe tujuh belas ini mah. Kan Rena suka kejang kalo udah di gelitikin di pinggang.


"Bodo sini nggak." ucap Gita.


Hup! Ketangkap. Rena tertangkap oleh Gita. Dan seisi dapur pun terpenuhi oleh suara tawa Rena, Gita, maupun Icha yang melihat aksi tingkah konyol mereka.


Ilham keluar karna merasa terganggu oleh suara tawa itu.


Mereka bertiga pun menghentikan tawanya tak terkecuali Rena yang masih sedikit terkekeh.


"Berisik."ucap Ilham pada Rena yang sedari tadi tidak berhenti juga tertawa.


"Mas" tegur Icha.


"Buatkan mas kopi Cha" setelah mengucapkan itu Ilham langsung ngacir lagi ke ruang kerjanya.


"Euuum gimna kalo Rena aja yang buatin kopi buat mas Ilham."Icha berusaha memecahkan keheningan yang terjadi.


"Buatkan mas Ilham kopi." Gita yang menjawab.


Rena hanya menggeleng. "Mbak aja kan mas Ilham pengennya mbak yang buat"


"Nggak papa coba aja, gih!" ucap Icha namun tidak membuat Rena beranjak dari duduknya.


"Ren."


"Eh! Iya mbak."


Setelah membuatkan kopi Rena menuju ruang kerja Ilham ia pun tak lupa mengetuk pintunya yang di hadiahi kata 'masuk' dari dalam.


"Ini mas kopinya." ucap Rena sambil menaruh kopi itu di atas meja kerja Ilham.


Ilham hanya melirik sebentar ke gelas yang berisis kopi hitam pekat kesukaannya namun ia hanya melihat dan tidak berminat untuk meminumnya. Ia terpokus kembali pada laptopnya.


"Ngapain masih di situ?" tanya Ilham yang lebih tepat seperti usiran.


"Eh enggg... Yaudah mas aku keluar dulu jangan lupa kopinya di minum." tidak ada responan dari orang di depannya ini. Rena pun meleos pergi keluar dengan perasaan yang tidak bisa di artikan.


***


Makan malam yang biasanya di jalani dengan seorang diri tanpa ada seseorang yang menemani kini terasa hangat menyambut debaran hati Rena. Karna berbeda dengan sekarang ada orang yang berada di meja makan bersama nya, melakukan kegiatan yang sama dengannya.


"Ren ini banyak-banyakin makan sayurannya loh, masa itu makan sedikit banget sih." omel Icha saat melihat piring yang berada di sampingnya hanya berisi lauk pauk yang sedikit sekali.


"Nggak ah Mbak, aku udah kenyang nih." Rena tersenyum kikuk menolak ucapan Icha, ia pun menatap orang yang berada di hadapannya dengan sendu.


Seakan menyadari bahwa ada yang memperhatikannya orang itu pun menengok dan tersenyum pada Rena.


"Git."ucapnya


"Heum?"tanyanya berdehem, sambil meminum air yang berada di gelas kaca.


"Emang kamu nggak bisa ya tinggal di sini aja?" tanya Rena sendu saat mengingat kembali pembahasan sore tadi, bahwa sahabatnya itu akan berpindah tempat.


"Ya nggak, aku udah niatin buat ngekos Ren" ucap Gita.


"Tapikan sebelum ada aku kau tinggal di sini Git." ucap Rena terus menatap Gita.


"Ya ampun kau ini... Sudah lah kalau aku tinggal di sini pasti di bilang mas Ilham punya bini Tiga lagi..." Gita ketawa ngakak.


Sedangkan yang lainnya...


Kriiik kriiik kriiik...


"Arrgh oke oke itu tidak lucu" ucap Gita menahan malu. Rena yang tadinya memasang muka malas jadi ikut tertawa...


Sekarang kok malah jadi dirinya yang di perhatikan. Rena jadi tersenyum kikuk.


"Ehem" itu deheman seorang pria satu-satunya yang sekarang berada di meja makan ini.


"Git, nanti mas yang akan antar jemput kamu ke kampus. Biar nggk olok ongkos kamu."


"Eh nggak usah mas, nanti Gita naik ojek aja"


"Nggak papa Git." ucap Ilham dengan keputusan bulat.


"Eum yaudah deh mas, makasih." ucap Gita dengan sungkan.


"Besok kamu pindahannya kan Git? jangan lupa kamu jaga baik-baik ya diri kamu. Terus jangan mentang-mentang udah dewasa kamu pulang nya malem karna nggak ada yang mengawasi." ceramah Icha keluar karna mengkhawatirkan adik satu satunya itu.


"Hem mulai deh singa betina nya keluar." ucap Gita ngakak.


Rena yang dari dati diam. Ikut menarik sudut bibirnya ke atas.


Tbc