
"Nah jadi kamu tidurnya di sini untuk malam ini."
"Berdua?"
"Eh berdua sama siapa maksudnya?" tanya Tasya pada Rena bingung.
"Sama Mas Ilham."
"Duh ya iyalah Rere kamu teh kunaon?"
"Nggak ada kamar lagi emang?"
"Lagi marahan?"
"Enggak." jawab Rena sungkan.
"Lah terus?" Tasya menatap bingung sahabatnya, ada apa dengannya? Apakah mereka sedang bertengkar? Atau kah pernikahannya tidak harmonis? Atau kah? Ah tidak tidak! Ia menggelengkan kepala tidak ingin berpikir yang tidak-tidak.
Rena menunduk, jujur sebenarnya ia sedikit takut untuk tidur berdua dengan suaminya itu. Ia takut kejadian kemarin tentang lampu di matikan akan terulang lagi. Ia memiliki ketakutan akan kegelapan. Bila kalian bertanya mengapa saat malam pertama dirinya tidak takut, jawabannya adalah, karena dirinya lebih takut akan apa yang terjadi saat itu.
"Yeh malah ngelamun." Tasya menepuk bahu Rena, saat dirinya merasa sahabatnya itu tengah melamun.
"Eh engga kok" ucap Rena tersentak.
"Yaudah gih masuk beresin barang barangnya. Eh, tapi kok kamu cuman bawa dua tas doang sih?"
"Kan aku cuman nginep malam ini. Besok sore juga pulang"
"Yah kok gitu sih Re, sebentar banget aku kira kamu bakal nginep setahun gitu." ucap Tasya sedih menatapku.
"Kan aku sudah bilang sebelumnya." ucap Rena, sedikit terkekeh akan kalimat terakhir Tasya.
"Iya sih tapi dikira cuman bercanda." ucap Tasya sendu sambil duduk di atas tempat tidur.
"Euuum udah dong jangan murung. Aku kan dateng ke sini bukan untuk liat sahabat kecil ku murung." ucap Rena memegang pundak kanan sahabatnya dan ikut terduduk di atas tempat tidur.
"Kamu banyak berubah ya Re. Lebih terlihat ceria." ucap Tasya tiba-tiba.
"Ah iya." jawab Rena kikuk, ia bingung apanya yang berubah.
"Aku kangen sama kamu Re."
"Sama Tas aku juga rindu." ucap Rena tanpa terasa mengeluarkan cairan bening dari kedua matanya, entah kenapa sejak pertama melihat Tasya semua rasa yang ia rasakan bercampur aduk menjadi satu. Ia sungguh bahagia setelah sekian lama selalu memanjatkan doa di setiap selesai solat, agar dapat berjumpa lagi dengan sahabat kecil yang sudah terpisah lama. Kini doa itu benar benar di kabulkan, dirinya merasa bahagia.
"Banyak yang ingin aku ceritakan Re."
Rena tersenyum saat tangan sahabatnya itu mengusap pipi kirinya.
"Aku akan mendengarkan."
"Dan harus bercerita juga Re!"
"Hem baiklah tapi aku ingin jalan-jalan." ujar Rena setuju, ia pun tak melupakan keinginan jalan-jalannya.
"Besok saja ya. Kamu kan pulang nya besok sore dan masih ada waktu jadi aku mohon manfaatin waktu kita ini. Setelah sekian lama aku mengharapkan bisa ketemu kamu lagi."
Rena hanya mengangguk saat Tasya bicara seperti itu.
"Pokoknya hari ini hari kita berdu...."
"Mamah dede nya mpup" teriakan itu terlebih dahulu menghentikan ucapan Tasya.
"Astaga anak itu sepertinya cemburu padamu. Dia tidak ingin mamah nya di monopoli oleh mu. Hahahaha." racau Tasya sambil tertawa Rena pun ikut tertawa.
Mereka keluar dari kamar dan mendapati ruang tengah yang berantakan.
Sementara itu Rena tercengang melihat Ilham. Dia... Dia... Sungguh berantakan, mukanya yang berantakan penuh dengan coretan tidak ada bedanya dengan Burhan~suaminya Tasya.
Rena pun tertawa ngakak sementara itu Tasya sudah pergi kebelakang untuk membersihkan anaknya yang belum sempat Rena lihat dan gendong.
"Duh duh..." ucap Rena sambil memegang perut dan duduk di single sofa.
"Kurang ajar kamu de." umpat Burhan menatap Rena kesal.
"Dih apa'an orang Rere ngetawain Mas Ilham kok." sontak Ilham langsung menatap dirinya, Rena langsung menghentikan aksinya.
"Kualat kamu sama suami."
"Dih suami aku kan Mas Ilham bukan kamu Mas" Rena kembali tertawa melihat muka sebal Burhan. Kenapa mereka seperti akrab? Sebenarnya tidak juga! Karena suami Tasya ini orangnya humoris dan suka bercanda seperti tadi waktu di teras. Dia langsung tiba-tiba pingsan melihat ulah Tasya, dan ternyata itu hanya pura-pura. Sungguh Tasya dan Burhan ini sepertinya pasangan yang serasi dan saling melengkapi. Umur Burhan juga ternyata tidak jauh beda dari Ilham dia berusia 33 tahun. Dan berbeda 10 tahun dengan Tasya dan juga dirinya. Ternyata selera Tasya tua juga, sama seperti dirinya, eh?
"Hiks."
"Eh kenapa Mas Ilham?"
"Kau tidak memperhatikanku." wajah Rena langsung menunjukan ekspresi tidak percaya, dirinya merasakan pipinya memanas, ia ingin tersenyum, mengangkat kedua sudut bibirnya saat mengetahui suaminya cemburu, mungkin.
Tetapi detik berikutnya.
"Buahahahhaha" tawa menggelegar Burhan dan Ilham. Sontak membuat Rena bingung dan menunduk, rasanya kebahagiaan itu seketika lenyap dari nya.
"Eh Ham liatin tuh istri lu langsung murung hahahaha."
"Aku ke kamar mau beres-beres" pamit Rena pada mereka.
"Ren." panggil seseorang saat Rena sudah berbalik.
"Eh iya?"
"Pengen nasi goreng."
"Hah?" Rena menunjukan ekspresi bingung untuk sekian kalinya saat mengetahui sikap suaminya sedikit berbeda.
"Nasi goreng." ucap Ilham lagi.
"Aduh Re tuh, suamimu ngidam nasgor katanya." timpal Burhan yang sedang membersihkan mukanya.
"Euum iya aku ke dapur dulu ya." Rena pun pamit dan langsung bergegas ke dapur.
Tiba di dapur, Rena sangat kebingungan. Ia tidak bisa memasak bagaimana dirinya akan masak nasi goreng. Tidak mungkin juga dirinya meminta bantuan Tasya, sementara sahabatnya itu kini tengah sibuk mengurusi anaknya.
"Loh Re kenapa ada di sini"tanya Tasya saat melihat sahabatnya terlihat bingung di depan kompor. Dia mengendong bayi nya yang sedang tertidur di gendongannya.
"Mau buat nasi goreng." jawab Rena tersirat nada kecemasan dan kebingungan.
"Ouh yaudah atuh, tinggal ke depan ya."
Duh gimana dong minta bantuan Art juga nggak bisa orang Tasya nggak punya art. Minta bantuan Tasya aja ya?-guman Rena
"Euum Tas."
"Eh apa?" dia berbalik melihat Rena.
"Bantuin!" pinta Rena, mengangkat dua butir bawang merah.
"Hah?" Tasya menunjukan muka kagetnya.
"Yaudah aku taro Daffa di kamar dulu ya Re."
Rena mengangguk senang, selang beberapa menit Tasya pun kembali menghampiri Rena.
"Emang kamu nggak bisa masak nasi goreng Re?" tanya Tasya.
Rena menggeleng.
"Bukannya kamu itu pinter banget masak ya? Malahan kamu itu suka jadi juara masak di sekolah dulu, kok malah nggak bisa masak nasi goreng sih? Kamu ngetes aku ya? Mentang mentang aku nggak bisa masak, tapi sekarang aku udah bisa masak loh Re. Kamu cuman masak nasi goreng juga kaya yang mau bakar dapur aja." kata Tasya terkekeh ia mengambil wajan di lemari.
Deg!!!
"Kenapa kamu bakar kompornya lihat rumah kita jadi terbakar. Dasar anak kurang ajar tidak tahu malu". pukulan terus di dapat oleh tubuh Rena.
Rena terus menangis dan menatap nanar rumah yang berada di depannya itu menyala nyala oleh kobaran api.
Dia yang salah, harusnya dia tidak usah mencoba resep baru yang ia dapat dari ekstrakulikulernya.
"Mami maaf Rena nggak sengaja nginjek lapnya Mami, Rena minta maaf." Rena terus bersujud di kaki sang ibu. Dia takut karena melihat pancaran kemarahan dari mata sang ibunya itu.
"Sana kamu anak kurang ajar!" ucap sang ibu murka sambil mengangkat kakinya yang di pegang Rena.
"Papi papi Rena minta maaf papi Ampuuuuuun." tamparan keras menyapu pipi Rena yang sudah basah oleh air mata.
"Pergi kamu jangan pernah tunjukin lagi muka kamu di hadapan kami!!"
Dengan perasaan kalut dan takut Rena keluar dari gerbang yang banyak orang sedang mencari air untuk memadamkan api yang masih berkobar. Jalannya mundur matanya melihat rumahnya yang terlahap oleh api.
Dia pergi dari rumah dengan perasaan takut dan sedih, andai saja dia tidak menjatuhkan wajan dan terpeleset karna ada lap itu mungkin rumahnya tidak akan terbakar, andai saja dia tidak usah sok sok kan ingin bikin kue untuk ibunya yang sekarang bertepatan hari ibu, andai saja waktu bisa di ulang. Namun, itu hanya kata andai yang bisa terucap namun tak bisa di ubah.
Dia menatap malam yang sunyi hari ini pun bertepatan dengan ulang tahunya dia berusia 15 tahun dia kira ia akan mendapat kejutan bahagia dari kedua orang tuanya melihat ia pernah mengobrol dengan mereka kemarin. Namun ini kejutan yang ia dapat yaitu di usir dari rumah.
Andai sahabtnya masih ada di jakarta mungkin ia akan lari ke rumahnya dan tertidur di rumahnya. Bukan tidur di samping ruko ini. Matanya menutup dan terbayang nama Tasya di benaknya.
"Re kamu kenapa hah kok malah ngelamun?" tanya Tasya sambil menangukup kedua pipi Rena.
Rena tak bergeming, ia masih membayangkan kejadian saat dirinya dulu membakar daerah dapur rumahnya.
"Mata kamu" "ya ampun aku minta maaf, aku pasti telah berbuat salah sama kamu."
Rena hanya menggeleng kepala dan tersenyum.
"Aku nggak papa. Ayu lanjut masaknya nanti Mas Ilham nunggunya lama." kata Rena mengambil minyak, dan menetralkan degup jantungnya yang terus berdebar tak karuan.
Rena akan menyalakan kompor namun tangan nya kembali terdiam.
"Tasya kamu saja yang nyalain." ujar Rena
"Loh kenapa Re?" tanya Tasya bingung, saat ini dirinya tengah mengambil nasi di magicom.
"Nggak papa tolong kamu aja" pinta Rena.
Tasya hanya menatap sahabatnya itu bingung lalu melakukan tugasnya untuk membantu menyalakan kompor.
Tbc;