Feeling In Love

Feeling In Love
Trauma



Krik krik krik


Suara jangkrik di luar rumah sedikit mengganggu tidur gadis cantik yang kini tengah bergelung di bawah selimut. Ia sudah berusaha memejam kan matanya sejak satu jam yang lalu. Tapi tak kunjung tertidur padahal dirinta sudah mengantuk sekali dan sering menguap namun entah mengapa ia tak kunjung menjemput alam mimpi.


Ia sudah membolak balikkan badan, karna sedikit jengah ia pun bangun dan berjalan menunju jendela. Mungkin bisa dibilang ini lantai bawah tapi saat diri kita mengadahkan kepala ke atas betapa indahnya pemandangan malam hari, banyak pepohonan rindang yang memang sengaja di tanam agar membuat rumah ini sejuk dan tidak panas.


Kriiiet


Rena lansung menoleh kebelakang kala mendengar suara pintu terbuka dan ia menemukan Ilham yang kini berada di ambang pintu, menunjukan ekspresi kagetnya sama seperti Rena. Berinisiatip Rena pun menghampirinya.


"Euuum ada apa Mas?"tanya Rena bingung ada apa gerangan suaminya mengunjungi kamar dirinya.


"Saya akan tidur di sini."


"Hah?" Rena sangat terkejut mendengar jawaban itu bagaimana bisa? Bukannya Ilham selalu tidur di kamar Icha nggak salah dengerkan ia tadi? Ilham mengatakan akan tidur di kamarnya? Bahkan sudah satu bulan ini suaminya itu tidak pernah tidur sekamar lagi sejak kejadian di hotel.


"Kenapa?" tanya Ilham ketus ia sudah nyelonong masuk ke kamar yang bernuansa warna biru, dua minggu yang lalu dirinya di buat senang karna Icha merekomendasikan untuk merubah warna cat kamar sesuai keinginan Rena, suasana menjadi terang benderang karna lampu yang masih menyala dan pantulan dari cat warna.


"Nggak papa kok Mas."Rena langsung menggeleng kepala dengan cepat menutupi rasa gugupunya ia pun menutup pintu yang tadi masih terbuka lalu menghampiri suamya yang kini terduduk di atas kasur.


"Saya mau tidur ini sudah malam."ujar Ilham ia merebahkan badannya di sisi kanan menghadap langsung pada dinding.


Dan Rena hanya mengangguk saat melihat Ilham memejamkan mata.


Rena berjalan kearah lemari mengambil selimut, bukan apa, karena selimut yang selama ini aku pakai hanya muat untuk satu orang. Selimut itu adalah hadiah dari Mbok Iyem saat usia nya menginjak 18 tahun, sudah usang memang tapi ia selalu mendapatkan kenyamanan dan kehangatan di situ saat ia selalu tidur sendiri dan merasakan kesepian.


Renapun menyelimuti badan Ilham. Dia sedikit kaget karena Ilham tiba-tiba membuka kembali matanya yang tadi tertutup.


"Matikan lampunya." ucapnya.


"Hah?"


"Kau itu dari tadi hah hah terus, masih muda udah budeg." ucapnya menatap Rena dengan tajam.


Rena yang merasa kesal karna di bilang budek pun berjalan kearah saklar lampu. Tetapi badannya sekan bergetar dan lemas, karna jujur ia sngat takut sekali kegelapan, maka dari itu ia tak pernah mematikan lampu saat tertidur. Namun titah Ilham tak bisa ia bantah, sekuat tenaga ia lawan rasa takut itu.


Ctek.


Deg! Kedua tangannya langsung bergetar, rasa rasa nya ia ingin sekali menangis dan menjerit saat rentina matanya menyambut kegelapan.


Baru saja ia berjalan sampai meja dirinya langsung melorot duduk dilantai, sekelibat bayangan duku seakan kembali terngiang-ngiang fi kepalanya. Gadis dengan baju tidur Mickey Mouse itu memeluk lututnya dan menenggelamkan wajahnya disana. Ia terus berusaha memejamkan mata berharap kenangan yang kini hinggap lenyap tertelan bumi.


***


Saat itu Rena kecil sedang bermain dengan gembira dengan pembantu rumah tangga orang tuanya.


"Mbi Ena engen ain ambar ambaran" ucap Rena kecil sambil menunjukan beberapa kerayon yang ada di tangannya, kerayon untuk mengambarnya di PAUD.


"Ya main aja toh sayang." ucap si Mbok rumah tangga yang sibuk menyapu lantai.


"En di inding" tunjuk Rena kecil pada dinding berwarna putih ruang tamu, ia terduduk di karpet tebal dekat sofa dengan banyak peralatan sekolah berserakan disana, ia masih berusia 3 tahun tetapi sudah di masukan kesekolah PAUD.


Si mbok yang mengetahui keinginan Rena kecil pun di buat bingung, karna ia takut anak majikannya itu di marahi oleh sang nyonya saat mengetahui tembok rumah kotor.


"Heeeum... Ena sayang gimana kalo kita main gambar gambarannya di kamar mbi" ucap pembantu rumah tangga itu yang sekiranya berusia 39 tahun, sambil mengangkat Rena kecil kedalam gendongannya.


Rena mengangguk antusias.


Setelah masuk kekamar pembantu, Rena kecil langsung berlari ke arah dinding dan menggambar di dinding dengan tangan kecilnya. Tangannya terus bergerak kesana kemari. Merasa sudah selesai Rena kecil berlari kearah mbi tersayangnya yang sedang melipat pakaian.


"Mbi mbi ntu ambalannya agus kan" ucap Rena kecil sambil mengguncangkan lutut Mbok iyem. Si mbok pun melihat gmbaran itu dan betapa tercubitnya dia saat melihat apa yang di gambar oleh Rena kecil. Di situ terdapat dua orang dewasa dan satu anak kecil. Ia mengerti masuk dari gambar itu, mungkin anak majikannya ini sangat merindukan kasih sayang orang tuanya mengingat orang tuanya seperti tak mengharapkan kehadiran Rena. Karna sejak Rena masih bayi yang merah si Mbok lah yang mengurusnya. Tak terasa si Mbok meneteskan air mata.


"Mbi apa angis?" panik Rena kecil.


"Ah tidak sayang mbi hanya terharu... Sini peluk mbi."


Malam pun tiba Rena kecil saat ini sudah tidur bermuara di alam mimpi namun mimpinya itu langsung lenyap kala ia tersadar saat ada seseorang yang mengguncangkan tubuhnya dengan kasar.


"Euum Mami?" tanya Rena kecil sambil mengucek ucek matanya dengan tangan.


"Kamu ini hah?! Ngapain itu kamar si bibi kamu coret-coret?!!"teriak orang itu yang di panggil Mami oleh Rena kecil.


"Ntu ena ingin ambar." Rena kecil lalu duduk saat tangan sang Mami memaksanya untuk duduk.


"Kan jadi kotor dasar anak nggak berguna!!!"


Rena kecil hanya mengerjap-ngerjap kan mata saat Maminya terlihat sangat marah seperti ini.


"Sini kamu" bentaknya sambil menarik tangan Rena agar mengikuti langkahnya.


Rena kecil yang kewalahan hanya bisa pasrah saat tanganya terus di tarik-tarik, bahkan ia beberapa kali tersandung kakinya sendiri.


"Mami ena au di emanain?" tanya Rena kecil yang mulai terisak.


"Jangan nangis kamu!" teriaknya masih dengan menyeret tangan Rena kecil.


Bugh


"Ah mami akit." ucap Rena kecil memegang lutut dan tangannya yang terasa skit, akibat ulah ibunya yang mendorong Rena masuk kesuatu ruangan yang penuh dengan barang-barang kotor dan bekas.


"Diem kamu di sini!"


"Mami."panggil Rena kecil sambil terisak.


"Ini sebagai hukuman!" sang ibu sudah mulai memegang gagang pintu.


"Mami" Rena merangkak mendekati sang ibu.


"Jangan sekali kali kau kotori rumah ku" geramnya mengatupkan rahang.


Blam


Deg! Rena kecil terus menangis saat pintu itu telah di kunci. Ruangan ini sangat gelap bahkan Rena tidak bisa melihat apa-apa hingga suara benda jatuh menimpa kepalanya sangat keras membuat Rena langsung terbaring kesakitan sambil menangis memegangi jidatnya.


Si Mbok yang melihat itu merasa kasihan pada Rena. Apa yang salah dengan anak kecil itu ia hanya ingin bermain.


Dan sejak saat itu setiap Rena melakukan kesalahan ia selalu di kurung di tempat itu, tempat yang sumpek dan gelap. Rena benci itu.


***


Ilham yang sejak tadi berusaha memejamkan mata namun tak jua menjemput ke alam mimpi, dia merasa tempat tidurnya tidak bergerak sedikitpun sedari tadi lampu di matikan, itu berarti Rena belum naik ke tempat tidurnya.


Dia bingung lalu bangun dan terduduk. Ruangan sudah gelap, matanya mencari sosok Rena dan betapa terkejutnya saat ia melihat sesosok orang yang terduduk di dekat meja.


Ilham pun menghampiri sosok itu dan bingung. Ia mengoncangkan bahu Rena, namun Rena tak kunjung mengangkat kepalnya yang tertunduk. Apakah ia tidur?~batin Ilham.


"Ren" panggil ilham.


Ilham yang tak mendapat respon pun langsung mengangkat tubuh Rena dan menaruh nya di atas kasur sedikit aneh karna posisi Rena yang langsung meringkuk.


Ilham pun berinisiatip untuk menyalakan lampu.


Ctek


Ilham dibuat bingung kala matanya menangkap wajah Rena yang berkeringat dn bahkan sudut metanya terlihat berair.


Di selimutinya Rena, ia merasa tubuh Rena tak sebergetar tadi. Ia pun ikut tertidur di sampingnya dengan keadaan kamar yang terang.


Tbc;