
Aku pun terbangun dengan keadaan tubuh yang terasa lemas. Sekilas aku melihat Satya yang masih tertidur dengan nyenyak. Kemudian, aku melangkah ke kamar mandi secara perlahan-lahan agar tidak membangunkannya. Setelah mandi, aku berdiri dan menatap pemandangan Kota Paris pada pagi hari melalui jendela kamar hotel.
Tanpa kusadari, Satya sudah bangun dari tidurnya. Ia bangkit berdiri dari kasur sambil mengamatiku.
"Kenapa kamu liatin jendela terus daritadi?" tanya Satya sembari berjalan menghampiriku.
"Siang ini kita pulang ke Jakarta. Aku pengen liatin pemandangan Kota Paris sepuasnya sebelum balik ke Jakarta," jawabku tanpa menatapnya karena ia bahkan belum memakai pakaiannya.
"Bulan madunya kurang lama, ya?" tanya Satya cemas.
"Engga kok, udah cukup."
"Tapi kamu masih belum rela buat ninggalin Kota Paris, 'kan?" sahut Satya sambil tersenyum. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban. Kemudian, ia langsung memeluk tubuhku dari belakang.
"Sayang."
"Apa?" sahutku bingung.
"Kamu beneran ga disuruh sama Ayah aku buat nikahin aku?" tanya Satya penasaran.
"Ga, memangnya aku gila mau nikah sama orang yang aku ga kenal?" cetusku kesal.
"Iya sih. Yaudah deh, jangan sebel. Nanti muka kamu jadi jelek," kata Satya sambil mencubit pipi kananku. Kemudian, ia segera mandi dan merapikan barang-barang kami.
"Udah ga ada yang ketinggalan, 'kan?" tanya Satya sambil menatapku.
"Ga ada."
"Ok, ayo kita pergi," ajak Satya sambil membawakan koper kami berdua sebelum pergi dari hotel.
Aku dan Satya pun tiba di bandara. Selama menunggu jam keberangkatan menuju ke Bandara Soekarno Hatta, Satya menyuruhku untuk menunggunya di kursi selagi ia membelikan croissant untuk kami berdua. Namun, kali ini ia membelikanku rasa red velvet cream cheese, sedangkan ia sendiri membeli yang rasa cokelat.
"Kamu doyan croissant rasa cokelat?" tanyaku penasaran.
"Iya."
"Satya," panggilku ramah.
"Apa?" sahutnya yang langsung menatap kedua mataku.
"Makasih buat croissant-nya. Enak banget!" seruku sambil tersenyum.
"Sama-sama." Satya tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya. Lalu, ia menatap ke arahku. Kemudian, Satya mengusap bibirku yang penuh dengan krim keju dengan jari telunjuknya.
"Ada tisu kering ga di dalem tas kamu?" tanya Satya yang masih tersenyum ke arahku. Aku pun sadar dari lamunanku dan segera mengeluarkan satu bungkus tisu kering dari tasku dan memberikan beberapa lembar tisu itu kepada Satya.
"Makasih," kata Satya sembari membersihkan jari telunjuknya yang kotor karena mengelap bibirku barusan.
Apa yang kamu pikirin, Ananda? Sadarlah! Dia bukan menikah denganmu karena cinta. Jangan sampe kamu jatuh cinta sama cowo kayak Satya! bentakku kepada diri sendiri di dalam hati.
"Kita udah bisa naik pesawat sekarang. Ayo pergi," ajak Satya. Ia kembali membawa dua koper kami di sisi kiri dan kanannya. Saat akan menaiki pesawat, tiba-tiba tas kami dibawakan oleh seorang petugas yang berjaga di bandara. Akhirnya aku menyadari bahwa Satya memesan tiket business class dalam perjalanan pulang kali ini.
Setelah menaiki pesawat, aku sangat takjub dengan bangku di business class ini. Bangkunya begitu luas dan nyaman sehingga penumpang bisa meluruskan kaki mereka untuk beristirahat. Ada selimut, TV, dan yang terpenting adalah bisa makan sepuasnya.
Begitu aku selesai menyantap salah satu makanan, pramugari akan datang dan menawarkan makanan yang lain.
Semua makanan di sini dibuat oleh chef terbaik yang sudah memiliki sertifikat internasional. Mereka juga memberikan anggur mahal yang bisa aku minum sampai merasa kembung. Pelayanan mereka yang luar biasa membuatku senang sampai tidak sadar bahwa aku sudah tiba di Jakarta.
"Gimana rasanya naik pesawat di bangku business class?" tanya Satya begitu kami turun dari pesawat.
"Nyaman banget. Aku bisa makan sepuasnya," jawabku sambil tersenyum senang.
"Dasar tukang makan."
"Kamu tukang makan," jawab Satya sembari menjulurkan lidahnya untuk meledekku.
"Kalau bukan karena kamu yang bayar tiket pesawatnya, aku pasti udah pukul kamu."
"Kalian udah pulang dari bulan madu, ya. Selamat," kata seorang wanita paruh baya dengan ramah.
"Mama kenapa bisa ada di sini?" tanyaku kaget.
"Apa maksud kamu kenapa? Mama di sini buat jemput kalian," jawab Mamaku, Raisa.
"Makasih, Ma. Tapi kami udah dijemput sama supir keluarga aku di lobi," kata Satya sopan.
"Oh, begitu. Boleh ga Mama ikut sama kalian?" tanya Raisa dengan nada memelas dan wajah penuh harap.
"Bukannya ga boleh, tapi ada orang tua aku di dalem mobil. Kebetulan kami dijemput pake mobil yang cuma bisa muat buat 5 orang."
"Oh, oke. Kalau memang ga bisa, nanti kamu kasih alamat rumah aja ke Mama. Mama mau sering-sering ngunjungin kalian," balas Raisa sambil tersenyum.
"Mama bercanda, ya? Harusnya aku sama Ananda yang ngunjungin Mama, bukan sebaliknya." Satya pun melirik ke arahku yang mematung saat ini.
"Kalau gitu, kalian sering-sering ngunjungin Mama, ya."
"Pasti, Ma. Kami permisi dulu," sahut Satya sambil menggenggam tanganku dan membawaku ke lobi bandara untuk masuk ke dalam mobil.
"Tadi Mama kamu dateng ke bandara, kenapa kamu kaget banget?" tanya Satya bingung.
"Gapapa, aku ga nyangka aja dia bisa tau kalau kita baru pulang dari bulan madu," jawabku sambil menghela napas panjang.
"Jadi, kamu ga kasih tau Mama kamu kalau kita bulan madu ke Paris?" sahut Satya penasaran.
"Ga."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Habis mandi kamu langsung istirahat aja, ya. Kamu keliatan cape banget hari ini," kata Satya begitu kami memasuki kamarnya.
"Oke," sahutku sambil mengangguk.
Aku pun segera membersihkan diri dan langsung berbaring di atas kasur. Namun, aku penasaran dengan Satya yang tiba-tiba keluar dari kamar 5 menit yang lalu sehingga aku segera mencarinya.
"Sayang? Kamu ngapain ke sini?" tanya Satya yang begitu terkejut setelah melihatku masuk ke dalam ruangan kerjanya.
"Gapapa kok. Maaf udah ganggu kamu." Aku pun membalikkan tubuhku dan berniat untuk kembali ke kamar, tapi Satya memegang lengan kananku.
"Kamu harus dihukum karena udah gangguin aku," kata Satya sambil tersenyum licik.
"Dihukum?" sahutku pura-pura tidak mengerti ucapan Satya barusan.
"Iya. Kamu harus-"
"Hoam, aku ngantuk banget. Aku balik ke kamar dulu ya, Sayang. Bye," kataku sambil tersenyum. Aku segera berlari dari ruangan itu sebelum Satya menahanku.
"Istriku lucu banget," gumam Satya sambil senyam-senyum sendiri.
Bersambung......
Halo readers, pertama-tama Author mau bilang terima kasih udah mampir ke novel ini. Jangan lupa beri dukungan untuk novel ini melalui comment, like, dan tambahkan buku ini ke rak buku kalian ya kalau suka! Thank you ❤
Kedua, jika kalian mau memberikan kritik & saran bisa langsung comment aja bagian mana yang masih perlu author perbaiki lagi.
Terakhir, buat kalian yang tertarik dengan tulisan Author, boleh banget follow IG Author @bellakristyc_ yaa. Di sana Author bakal bagi-bagi tips menulis juga.