Eternity Love

Eternity Love
Mahar Pernikahan



Tok... tok... tok...


"Permisi, Ma," ucap Satya sembari melangkah masuk ke dalam kamar rumah sakit yang Rey tempati saat ini.


Satya masuk sambil menggenggam tangan kananku. Begitu Raisa melihat kami, ia langsung menghampiri kami dengan sangat antusias.


"Kalian udah dateng. Satya, ayo duduk dulu di sofa," sambut Raisa sambil tersenyum ramah.


"Sore, Ma," sapa Satya sambil tersenyum ramah.


Satya pun melihat keadaan Rey yang sedang tertidur lelap saat ini. Setelah itu, ia mengajakku untuk duduk di sebelahnya.


"Satya, Mama boleh minta uang ga? Mama lagi kekurangan uang buat bayar tagihan rumah sakit Rey," pinta Raisa dengan nada memelas.


"Bukannya Mama kekurangan uang buat bayar hutang kartu kredit Mama ke bank?" tanya Satya sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Oh, iya juga. Mama lupa," ucap Raisa sambil tersenyum kaku.


"Ma, kami pergi dulu ya. Aku lupa kalau aku masih ada urusan," sahut Satya sembari bangkit berdiri.


"Tunggu dulu! Satya, Mama butuh uang 50 juta lagi." Raisa mengucapkan kalimat barusan dengan nada tinggi, membuat Satya mengepalkan kedua tangannya untuk menahan emosi terhadap Ibu mertuanya saat ini.


"Ma, Mama udah sering minta uang ke Satya. Jangan minta uang lagi ke Satya," ucapku mengingatkan dengan nada tegas.


"Ngapain sih kamu ikut campur urusan Mama?" tanya Raisa dengan nada sinis dan raut wajah kesal.


Dia memang butuh uang untuk membayar hutang ke bank minggu ini, batin Satya. Satya masih menimbang-nimbang apakah ia akan membantu wanita paruh baya yang berdiri di sampingnya saat ini atau pura-pura tidak mendengar ucapan wanita itu.


"Oke, 50 juta itu sebagai mahar pernikahan dari aku buat Mama," kata Satya sembari menghela napas panjang. Aku pun langsung menarik lengan kanan Satya secara tidak sadar.


"Satya, kenapa kamu harus kasih mahar pernikahannya sekarang?" bisikku pelan. Satya hanya diam dan tidak memberikan respon apapun. Tidak lama kemudian, Satya menatap wajahku sekilas dan tersenyum kecut.


"Ayo kita pergi," ucap Satya sambil menggenggam lengan kananku.


Satya pun melangkah menuju ke pintu kamar sembari berkata, "Uangnya besok udah bisa Mama ambil di bank. Kami pulang dulu ya, Ma."


"Iya, Nak. Hati-hati nyetirnya ya," sahut Raisa sambil tersenyum senang. Saking senangnya, Raisa bahkan sampai memeluk dirinya sendiri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah sampai di rumah, aku langsung pergi ke dapur. Aku pun menuangkan segelas air untuk Satya dan segelas air lagi untuk diriku sendiri.


"Nih," ucapku sambil menyodorkan segelas air kepada Satya.


Satya masih berdiri mematung di depanku. Ia sepertinya sedang memikirkan sesuatu.


Bagaimana dia bisa mengutamakan orang lain lebih dari pada dirinya sendiri? Dia selalu sebaik itu? tanya Satya dalam hati.


"Kenapa diam aja? Kamu mau minum ga?" tanyaku dengan wajah kebingungan. Aku sudah menyodorkan gelas ini kepada Satya sejak tadi, namun Satya malah diam saja.


"Maaf," ucap Satya sambil mengambil gelas itu dari tangan kananku.


Satya segera meneguk air di dalam gelas itu sampai habis. Kemudian, ia meletakan gelas itu di atas meja. Aku pun menghabiskan air di dalam gelasku dan segera menyusul langkah Satya yang sedang naik lift untuk menuju ke kamar tidur.


"Sayang, aku minta maaf," ucapku begitu kami berdua baru saja memasuki kamar.


"Buat apa?" tanya Satya sembari menatap kedua mataku.


"Mahar pernikahan kita itu dibayar sama Papa aku ke Mama kamu, jadi memang sebelumnya Mama kamu belum terima mahar pernikahan dari aku," kata Satya menjelaskan.


"Kalau aku boleh tau, seberapa besar mahar pernikahan yang Papa kamu kasih ke Mama aku?" tanyaku penasaran. Satya langsung menatap wajahku sambil menghela napas panjang.


"2 miliar," ucap Satya pelan.


"Ternyata aku bahkan ga lebih berharga daripada uang 2 miliar di mata Mama," sahutku lirih.


Tanpa kusadari, air mata sudah menetes dari kedua pelupuk mataku. Aku hanya bisa terus menangis untuk menghilangkan rasa sesak di dadaku. Aku merasa hatiku begitu sakit dan keadaanku sangat menyedihkan secara bersamaan.


"Jangan bilang begitu," sahut Satya sambil menatap iba pada diriku yang menangis di sampingnya saat ini.


"Kenapa kamu harus nikahin aku? Kamu mau nikah sama aku karena Papa udah bayar mahar pernikahan kita?" tanyaku sambil terisak.


"Engga gitu, Sayang. Aku menikah sama kamu karena..."


Satya tidak mau melanjutkan kalimatnya lagi. Ia khawatir aku akan tambah sedih jika aku mengetahui fakta dibalik pernikahan kontrak diantara kami. Akhirnya, kami berdua tidak saling bicara selama beberapa waktu.


"Gapapa, ga usah ngomong kalau kamu ga mau ngomong ke aku," ucapku setelah dadaku tidak lagi terasa sesak seperti tadi.


"Pokoknya aku bukan menikah sama kamu karena Papa udah bayar mahar pernikahan kita ke Mama kamu. Beneran bukan karena itu," sahut Satya menegaskan.


"Iya, aku udah tau sekarang."


Aku pun mengangguk dan segera membuka jendela kamar. Aku langsung keluar ke balkon untuk merasakan udara malam hari yang menenangkan bagiku.


Satya masih berdiri mematung di dekat pintu kamar sambil terus menatapku dengan tatapan iba. Tidak lama kemudian, ia berjalan mendekat ke arahku. Lalu, ia memeluk pinggangku dari belakang dengan sangat erat.


"Ananda, maaf. Maafin aku, Sayang," ucap Satya lirih.


"Kenapa kamu minta maaf?" sahutku sambil menatap ke depan dengan tatapan kosong.


"Kalau pernikahan kita sangat menyakiti hatimu, aku bisa-"


"Aku ga mau bahas soal pernikahan kita sekarang," timpalku sambil menatap tajam ke arah Satya.


"Oke, tapi di luar dingin. Ayo masuk ke dalam," ajak Satya sambil memegang kedua tanganku.


Aku langsung menarik kedua tanganku dari genggaman tangan Satya dan kembali masuk ke dalam kamar.


Kami berdua tidak bicara dan kami juga masih berdiri dengan kaku di samping kasur.


"Kalau kamu ga mau tidur sama aku hari ini, kamu tidur aja di kamar ini," ucap Satya datar. Ia tahu bahwa aku masih ingin menenangkan diriku dan butuh waktu sendirian untuk sementara.


"Terus kamu tidur di mana?" sahutku penasaran.


"Aku bisa tidur di kamar lain," jawab Satya sambil membuka pintu kamar. Kemudian, ia segera pergi menuju ke kamar lain yang ada di sebelah kanan kamar tidur utama.


Bersambung......


Halo readers, pertama-tama Author mau bilang terima kasih udah mampir ke novel ini. Jangan lupa beri dukungan untuk novel ini melalui comment, like, dan tambahkan buku ini ke rak buku kalian ya kalau suka! Thank you ❤


Kedua, jika kalian mau memberikan kritik & saran bisa langsung comment aja bagian mana yang masih perlu author perbaiki lagi.


Terakhir, buat kalian yang tertarik dengan tulisan Author, boleh banget follow IG Author @bellakristyc_ yaa. Di sana Author bakal bagi-bagi tips menulis juga.