
"Sebelum kamu menikah sama aku, siapa yang pakein dasi kamu setiap hari?" tanyaku sambil memakaikan dasi itu.
Satya menghela napas panjang, kemudian ia menjawab pertanyaanku.
"Belinda."
"Kamu masih suka sama dia?" sahutku sambil menatap kedua mata Satya.
Satya terdiam sejenak sebelum akhirnya ia membuka mulutnya lagi.
"Aku udah coba hapus dia dari ingetan aku, tapi tetep aja aku selalu kebayang wajah dia kalau aku lagi ga sibuk."
"Satya," panggilku dengan suara pelan.
"Hmm," sahut Satya sambil menatap wajahku.
"Boleh ga aku kasih kamu saran?" tanyaku sambil tersenyum. Satya pun mengangguk setuju.
"Jangan coba hapus sesuatu dari ingetan kamu. Semakin kamu ga mau pikirin, semakin hal itu akan terus terbayang di pikiran kamu."
"Jadi aku harus gimana?" tanya Satya bingung.
"Cobalah untuk berdamai sama pikiran dan perasaan kamu di masa lalu," jawabku sambil tersenyum.
"Terima bahwa Belinda pernah ada di hidup kamu di masa lalu, tapi bukan hidup kamu di masa sekarang," imbuhku setelah aku selesai memasangkan dasi itu di dalam kerah kemeja putih Satya.
"Oke. Aku berangkat ke kantor dulu. Bye," sahut Satya sambil tersenyum. Satya langsung mencium keningku dan segera keluar dari kamar.
Kenapa aku membiarkan Ananda menggantikan peran Belinda di hidupku? Ananda, maafkan aku. Aku yang terlalu egois, ucap Satya dalam hati.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tidak lama setelah mobil sport Satya keluar dari pintu pagar rumah mewah ini, aku mendapat telepon dari Sean.
"Halo, Sean. Ada apa?" tanyaku penasaran.
"Na, coba liat ke jendela deh," jawab Sean dengan nada antusias.
Aku pun mengernyitkan keningku sambil bergumam pelan, "Jendela?"
"Iya," jawab Sean.
Aku pun melangkah dan membuka tirai jendela di kamar utama. Aku sangat terkejut mendapati bahwa mobil sedan Sean yang berwarna hitam sudah berhenti tepat di depan pintu pagar rumah ini.
Aku pun segera turun ke bawah menggunakan lift dan buru-buru membuka pintu pagar dan pintu rumah untuk menyambut kedatangannya.
"Kenapa kamu dateng ke sini pagi-pagi? Ayo masuk," ajakku seraya mempersilakannya untuk duduk di sofa ruang tamu.
Aku langsung menuju ke dapur untuk membuatkan minuman untuk Sean.
Kebetulan sekali, Bi Siti sedang membuat kue di dapur.
"Bibi lagi bikin kue apa?" tanyaku penasaran.
"Oh, Bibi lagi bikin kue bolu keju, Nona Muda," balas Bi Siti sambil terus memegang mixer untuk membuat adonan kue bolu keju.
"Aduh, Bi. Kenapa Bibi juga manggil aku Nona Muda sekarang?" sahutku malu. Kedua pipiku mendadak berubah menjadi warna merah.
"Itu perintah dari Tuan muda Satya untuk semua orang, Nona Muda," jawab Bi Siti sambil tersenyum.
"Oke," ucapku sambil berjalan menuju meja makan untuk mengambil satu bungkus teh seduh.
"Nona muda mau bikin apa? Biar Bibi aja yang bikin," tawar Bi Siti sembari berjalan menghampiriku.
"Ga usah repot-repot, Bi Siti. Ini udah jadi kok tehnya, tinggal tambahin gula aja."
"Tapi itu sudah tugas saya untuk membuat teh, Nona Muda," ucap Bi Siti yang merasa tidak enak karena melihatku membuat teh manis sendiri untuk Sean.
"Nona Muda bisa aja. Nanti bolunya Bibi antar ke kamar Nona Muda," sahut Bi Siti sambil tersenyum senang karena aku sudah memujinya barusan.
"Oke, Bi. Aku nyambut tamu dulu ya," ucapku sembari berlalu pergi dari dapur.
"Sekarang adanya cuma teh manis aja, gapapa?" tanyaku sembari memberikan gelas di tangan kananku kepada Sean.
"Gapapa kok. Makasih ya, Na," jawab Sean sembari mengambil gelas itu.
Sean pun segera menghabiskan teh buatanku itu.
"Oh, iya. Di mana Satya?" tanya Sean penasaran. Ia belum melihat sosok Satya sejak tadi.
"Dia barusan berangkat ke kantor," jawabku datar.
Sejujurnya, aku paling malas saat ada orang yang membahas nama 'Satya' di depanku.
"Oh, aku juga udah mau berangkat ke kantor. Aku mampir ke sini karena sekalian lewat," ucap Sean sambil tersenyum senang.
"Terus kamu mampir ke sini buat apa?" tanyaku bingung.
"Buat ketemu kamu sama Satya dong," sahut Sean semba
"Tapi Satya ga ada di sini sekarang," ucapku sambil menghela napas panjang.
"Ya udah, tolong nanti kasih ini ke Satya ya. Ini souvenir natal dari aku. Tolong bilangin ke dia kalau aku harap kerja sama antara aku dan dia bisa terus berlanjut sampai hari natal di tahun-tahun berikutnya," ucap Sean sambil memberikan sebuah kantung berwarna merah kepadaku.
"Oke, makasih, Sean," sahutku sambil tersenyum.
"Aku juga ada hadiah natal buat kamu," ucap Sean sambil mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna biru tua dari dalam kantung jasnya.
"Apa itu?" tanyaku penasaran. Aku pun membuka kotak kecil itu untuk melihat isinya.
"Gelang emas. Aku inget pas kamu masih SMA dulu, kamu selalu pengen beli gelang emas ini, tapi kamu ga berani minta ke orang tua kamu karena waktu itu mama kamu lagi dirawat di rumah sakit," ucap Sean yang langsung mengingatkanku akan kejadian sewaktu SMA.
"Itu udah hampir 10 tahun yang lalu. Kamu masih inget aja."
Aku menggelengkan kepala karena tidak percaya kalau Sean masih mengingat kejadian sewaktu aku dan dia masih duduk di bangku SMA dengan detail.
"Hahaha. Aku ga akan pernah lupa soal keinginan kamu dari masa SMA karena kamu selalu ngadu ke aku kalau kamu lagi pengen beli sesuatu," ucap Sean sambil tertawa.
"Itu semua udah berlalu," balasku sambil tersenyum senang saat mengingat semua kenangan itu.
"Iya, kamu bener, tapi persahabatan kita ga akan pernah berlalu, 'kan?" tanya Sean memastikan.
"Pasti," jawabku sambil tersenyum.
"Kalau gitu, aku pergi dulu ya. Bye," ucap Sean sembari melambaikan tangan kanannya kepadaku.
Aku pun mengantarkan Sean sampai ke depan pintu rumah. Sebelum keluar dari rumah ini, Sean mengelus kepalaku sebentar sambil tersenyum karena memang tindakannya ini sudah menjadi kebiasaannya sejak kami masih di SMA.
Setelah itu, ia segera masuk ke dalam mobilnya dan pergi dari halaman rumah ini. Aku pun kembali membuka kotak perhiasan yang diberikan Sean kepadaku.
Gelang emas yang diberikan Sean benar-benar sesuai dengan keinginanku sewaktu SMA. Namun, gelang emas ini harganya sangat mahal. Aku pun segera memakai gelang emas ini di pergelangan tangan kiriku.
Tunggu, kok Sean bisa tau alamat rumah ini ya? Perasaan aku ga pernah kasih tau ke dia deh. Mungkin Satya yang kasih tau alamat rumah ini ke Sean, ucapku dalam hati.
Bersambung......
Halo readers, pertama-tama Author mau bilang terima kasih udah mampir ke novel ini. Jangan lupa beri dukungan untuk novel ini melalui comment, like, dan tambahkan buku ini ke rak buku kalian ya kalau suka! Thank you ❤
Kedua, jika kalian mau memberikan kritik & saran bisa langsung comment aja bagian mana yang masih perlu author perbaiki lagi.
Terakhir, buat kalian yang tertarik dengan tulisan Author, boleh banget follow IG Author @bellakristyc_ yaa. Di sana Author bakal bagi-bagi tips menulis juga.