Eternity Love

Eternity Love
Rahasia Di Balik Pernikahan



Aku pun segera membersihkan diriku. Setelah aku selesai mandi, Satya langsung masuk ke dalam kamar mandi. Sembari menunggu Satya selesai mandi, aku mulai memikirkan perkataan Mamaku di kamar rumah sakit.


Apa aku jelasin ke Satya aja, ya? tanyaku dalam hati.


"Sayang." Aku langsung memanggil Satya begitu ia keluar dari kamar mandi.


"Hmm, kenapa, Sayang?" tanya Satya dengan perasaan senang. Ia segera datang menghampiriku yang sedang duduk di atas kasur.


"Sebenernya, tadi Mama aku kasih tau sesuatu tentang pernikahan kita."


"Oh, memangnya Mama kamu bilang apa?" sahut Satya sembari duduk di sebelahku.


"Mamaku kerja sama dengan Papa kamu buat nikahin kita berdua," jawabku sambil menghela napas dalam-dalam.


"Oh, terus apalagi?" Satya terlihat begitu santai, seolah-olah ia sudah tahu mengenai aliansi antara Papanya dengan Mamaku.


"Kok kamu biasa aja sih? Memangnya kamu udah tau?" sahutku sembari menatap kedua matanya dengan tatapan curiga.


"Sebenernya, Papa udah pernah kasih tau ke aku tentang kerja sama itu."


"Terus kamu main terima aja walaupun Papa kamu mau nikahin kamu sama aku?" tanyaku dengan kedua mataku yang membelalak.


Masih ada ya orang seaneh dia di muka bumi ini yang mau aja dinikahin sama orang yang ga dia kenal! seruku dalam hati.


"Habisnya kamu udah mau umur 25 tahun. Nanti kamu ga laku lagi," sahut Satya sambil tersenyum.


"Apa kamu bilang barusan? Kamu bilang aku ga laku? Dasar cowo sialan!" seruku sembari memukul bahunya dengan tangan kananku. Satya segera memegang lenganku dan menarikku ke dalam pelukannya.


"Maaf, Sayang. Aku cuma bercanda." Ia langsung mencium keningku dan meletakkan kepalanya di atas kepalaku.


"Ceritain dong Papa kamu ngomong apa ke kamu," pintaku kepadanya.


"Hmm... ceritain ga ya?" tanya Satya yang sengaja menggodaku.


"Ga usah cerita kalau ga mau," jawabku datar.


"Sebenernya, seminggu sebelum kamu menikah sama aku, Papa dateng ke kantor aku buat jelasin tentang pernikahan kita."


"Saat itu aku juga ga bisa terima kalau tiba-tiba aku harus menikah sama kamu, orang yang aku ga kenal. Tapi karena Papa memohon dengan alasan penyakit Mama, mau ga mau aku menikah sama kamu," imbuh Satya sembari menunduk. Kedua matanya menatap ke arahku dengan tatapan kosong.


"Terus kamu culik aku gara-gara ga terima kalau kamu tiba-tiba harus menikah sama aku?" sahutku penasaran.


"Aku udah selidikin semuanya tentang kamu. Dan aku yakin kamu bisa jadi Istri yang baik buat aku dan anak-anak kita nanti. Makanya aku nikahin kamu, Sayang."


"Anak-anak kita? Kamu mau punya anak dari aku?" tanyaku sambil menatap ke atas, melihat wajah tampannya yang sedang tersenyum ke arahku.


"Iya, Sayang. Kamu mau punya dua anak 'kan? Anak sulung cowo sama anak bungsu cewe?" balas Satya sambil memegang kedua pipiku.


"Kamu bener-bener selidikin hidup aku, ya," jawabku kesal.


"Kalau gitu, ayo kita bikin sekarang," sahut Satya sembari membaringkan tubuhku dengan lembut di atas kasur.


"Udah sembuh, 'kan?" Satya menatapku dengan senyuman liciknya.


"Belum. Jangan macem-macem ya!" seruku dengan nada tinggi. Satya hanya terus tersenyum. Kemudian, ia menyelimutiku dan mencium bibirku.


Sial, dia bikin aku salting aja malem-malem, batinku.


"Good night, honey."


"Kesambet apa kamu sampe bisa so sweet kayak gini?" tanyaku sembari mengalihkan pandanganku ke arah lain. Wajahku mulai memerah karena malu setelah bibirku dicium oleh Satya tadi.


"Hah? Engga kok, aku ga kesambet apa-apa," elak Satya sambil tersenyum.


"Terserah kamu aja," ucapku dengan nada ketus. Aku pun segera tertidur lelap. Sementara itu, Satya kembali membaca dokumen mengenai latar belakang keluargaku di sampingku.


Satya menghembuskan napasnya dengan kasar saat tahu bahwa Raisa adalah Mama tiriku. Dan Papa kandungku memang sudah tahu bahwa Raisa tidak menyukaiku sejak awal. Namun, ia sengaja membiarkan Raisa menyiksaku sejak kecil hingga saat ini.


"Bagaimana bisa Papanya diam saja padahal dia tau kalau anak kandungnya disiksa?" gumam Satya sembari menatap ke arahku. Satya mulai merasa empati dengan keadaanku di masa lalu.


"Ananda, kamu tenang aja. Sebagai suami kamu, aku pasti ga akan biarin kamu ditindas sama orang lain, termasuk Mama tiri kamu sendiri." Satya mengepalkan kedua tangannya dan bertekad untuk melindungiku.


Tapi aku menikah sama Ananda karena Papa bilang bakal kasih warisan berupa seluruh aset perusahaan. Papa juga bilang kalau pernikahan ini diatur supaya aku bisa melupakan Belinda. Tapi sampai saat ini, aku masih ga bisa lupain Belinda. Apa aku juga orang jahat yang menindas Ananda secara ga langsung? tanya Satya dalam hati.


Ia tidak mengerti apa yang ia rasakan saat ini, tapi ia merasa bersalah karena sudah menikahiku demi keuntungannya sendiri. Satya pun mengacak-acak rambutnya karena perasaan bersalah itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Sayang, nanti malem aku jemput kamu di rumah sakit ya," kata Satya saat aku hendak turun dari mobil di depan lobi rumah sakit.


"Oh ok, Sayang. Makasih ya udah anterin aku," sahutku sambil tersenyum.


Aku pun segera menuju ke kamar pasien untuk melihat keadaan adikku saat ini.


"Kok tumben kamu udah nyampe jam segini? Biasanya kamu baru sampe di sini jam 8. Kamu naik apa ke sini?" tanya Raisa dengan tatapan mata penuh selidik. Waktu masih menunjukkan pukul 6:30 pagi begitu aku tiba di dalam kamar.


"Tadi aku dianter sama Satya, Ma. Oh, ya, dokter bilang apa soal penyakit Rey? Rey harus dirawat sampe kapan, Ma?" tanyaku yang dengan sengaja mengalihkan topik pembicaraan dari Raisa.


"Waktu itu habis kamu keluar dari kamar ini, dokter bilang ke Mama kalau operasinya udah berjalan dengan lancar. Tumor di otak Rey juga udah diangkat. Tapi Rey masih harus dirawat beberapa minggu di rumah sakit sampe dia bener-bener ga ngerasain sakit lagi di kepalanya."


"Oh gitu, baguslah," sahutku sambil menghembuskan napas lega.


"Tapi uang Mama kurang buat bayarin biaya kamar rumah sakitnya, Ananda. Boleh ga kamu minta uang lagi ke Satya?" tanya Raisa dengan nada memelas. Kedua tangannya dirapatkan di depan dada dan ia menundukkan kepalanya, memohon kepadaku untuk kembali meminta uang kepada Satya.


Bersambung......


Halo readers, pertama-tama Author mau bilang terima kasih udah mampir ke novel ini. Jangan lupa beri dukungan untuk novel ini melalui comment, like, dan tambahkan buku ini ke rak buku kalian ya kalau suka! Thank you ❤


Kedua, jika kalian mau memberikan kritik & saran bisa langsung comment aja bagian mana yang masih perlu author perbaiki lagi.


Terakhir, buat kalian yang tertarik dengan tulisan Author, boleh banget follow IG Author @bellakristyc_ yaa. Di sana Author bakal bagi-bagi tips menulis juga.